
Malam ini Gerald sedang berada di balkon, pikirannya kini tertuju pada gadis pagi tadi yang tak ia ketahui namanya, lebih tepatnya memikirkan kata-kata gadis tadi. Gerald mengusap wajahnya gusar.
"Kenapa jadi mikirin cewek gila itu sih?" Batinnya.
Tiba-tiba ponselnya berdenting lalu Gerald mengecek ponselnya. Ada pesan masuk dari mantannya.
Gerald selalu bersikap manis jika bersama Sarah walaupun sudah putus, karena ia berteman baik dengan Sarah sejak menginjak kelas 4 SD. Walaupun dekat tetapi Sarah tidak tahu sisi kelam Gerald.
Ia berjalan memasuki kamar lalu mengambil jaket dan kunci motornya lalu segera menjemput Sarah. Lelaki itu mengendarai dengan kecepatan tinggi agar Sarah tidak menunggu terlalu lama karena jarak rumahnya ke rumah Sarah lumayan jauh.
Sekitar dua puluh menit ia menempuh perjalanan akhirnya sampai di depan kediaman Sarah, tak lama kemudian perempuan itu keluar.
"Kamu udah lama nyampe sini?" Tanya Sarah sambil menatap wajah Gerald.
"Gak, baru sampe." Jawab Gerald sambil senyum tipis.
Sarah manggut-manggut kemudian berujar, "berangkat sekarang aja yuk!"
Gerald mengangguk kemudian memberikan Helm nya kepada Sarah. Sarah memakai helm-nya kemudian naik ke motor Gerald.
"udah?" tanya Gerald memastikan.
"iya, udah."
Diperjalanan Gerald sama sekali tidak bersuara, hanya Sarah yang sedang bersenandung sambil menopang dagunya di bahu Gerald. Gerald nyaman diposisi seperti ini, begitupun dengan Sarah.
"Mau beli buku apa?" Tanya Gerald yang tidak terlalu didengar oleh Sarah karena bisingnya suara kendaraan.
"APA GERALD?!"
"MAU BELI BUKU APA?!"
"BUKU TENTANG SEJARAH."
Kini mereka Sampai di toko buku. Sarah turun dari motor dengan hati-hati. "Kamu mau tunggu sini atau ikut masuk?" tanya Sarah kepada Gerald.
"Disini aja."
"oke deh!" Setelah itu Sarah langsung masuk kedalam toko Buku tersebut.
Sambil menunggu Sarah, Gerald mencari toko yang menjual minuman karena tenggorokannya terasa kering. Langkah kakinya terhenti, Matanya membulat kemudian Gerald berbalik badan dan mengurungkan niatnya untuk yang membeli minuman karena gadis yang ia temui tadi pagi juga berada disitu,dia Arania.
Disitu alis Arania berkerut karena merasa aneh dengan lelaki yang ia lihat, "Napa tuh orang? takut Ama gue kali ya? eh tapi kok gue liat-liat postur tubuhnya kayak kenal ya?"
Gerald memilih masuk kedalam toko buku berharap Arania tidak melihatnya. Matanya gencar mencari Sarah, setelah menemukan Sarah ia berjalan menuju Sarah.
"Eh? kamu katanya mau nunggu di luar?"
"ga jadi."
"Sebentar ya Rald, bukunya belom ketemu. kamu mau nungguin kan?"
__ADS_1
"iya. Ayo gue bantuin biar cepet."
Sarah tersenyum, "makasih ya."
Gerald ikut tersenyum mengangguk lalu mengusap kepala Sarah, "ayo cari lagi."
mereka berdua kembali mencari buku. Sarah menemukan buku yang ia mau lalu memanggil Gerald yang posisinya sedikit lebih jauh dari dirinya. "Rald! Sini!"
Gerald menoleh kemudian berjalan ke arah Sarah. "udah dapet?"
Sarah mengangguk lalu menunjukkan bukunya, "nih udah. sekarang tinggal bayar."
Mereka berjalan menuju kasir, lalu sesampainya di kasir Gerald mengatakan sesuatu kepada Sarah, "Sar, Gue di luar ya."
"oh iya Rald."
Gerald keluar dengan hati-hati takut Arania masih berada di sekitar sini, tapi ternyata tidak. Setelah itu Sarah keluar sambil membawa sekantong plastik yang berisi Buku.
...***...
Di pagi yang cerah ini Arania tidak terlalu bersemangat sekolah, karena dari kemarin ia pulang dan pergi berjalan kaki membuat kakinya sedikit sakit, dan hari ini ia harus mengalah dengan kakak perempuannya jadi abangnya harus mengantar kakaknya.
Napas Arania terengah-engah, ia berharap ada teman satu sekolah yang memberikan Tebengan kepadanya.
Tinn Tinn
Arania terkejut kemudian menoleh ke belakang. Ada sebuah mobil berhenti di belakangnya, Arania menunggu orang itu keluar.
Sang pemilik mobil membuka kaca mobil, "Ra! ayo bareng gue!"
"belom, ayo sini naik biar gak telat."
Arania berjalan ke arah mobil lalu masuk kedalam mobil. mereka hanya diam saja diperjalanan tak ada yang membuka suara.
Setelah sampai ia masuk kedalam kelas bersama. Banyak lelaki yang menyapa mereka berdua ada juga yang cari perhatian, Sarah tersenyum ramah sedangkan Arania memasang muka datar karena malas meladeni.
Arania dan Sarah duduk bersebelahan lalu Arania berujar, "Sar, kalo ada guru yang masuk bangunin gue ya. Gue mau tidur bentaran,"
Sarah mengangguk kemudian bertanya, "lo capek ya?"
"hm." kemudian Arania melipat kedua tangannya dimeja lalu mulai memejamkan matanya.
Sekitar sepuluh menit Sarah menunggu lalu guru bahasa Indonesia memasuki kelas, Sarah mengguncangkan pundak Arania. "Ra bangun, Pak Danang masuk."
"diem gue ngantuk."
"Tapi pak Danang udah masuk Ra. Nanti lo dimarahin."
Arania diam tak menjawab dan tetap tidur sehingga gurunya itu mendekat. Pak Danang mencolek bahu Arania sampai 4 kali.
"Diem lo Sar. Gue ngantuk." Ucap Arania tanpa melihat siapa yang mencoleknya.
"Ekhem!" Deheman dari pak Danang membuat Arania kaget lalu segera mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"eh bapak? kapan dateng pak?" tanya Arania sambil menyengir.
"sudah mimpi sampai kamu?"
Arania memasang wajah berpikir, "bapak maunya sampe mana?"
Pak Danang mendengus, "sudah-sudah kamu cuci muka sana biar gak ngantuk."
"wokeyy!" Arania berjalan keluar kelas untuk mencuci muka, ia melihat anak kelas XI IPA 1 sedang bersiap-siap melakukan pelajaran olahraga.
Setelah selesai cuci muka ia kembali ke kelasnya tetapi saat ia melihat seorang lelaki yang ia temui kemarin ia kaget. "jadi dia sekolah disini? berarti dia kakak kelas gue dong?!" pekik Arania.
"emang ya, jodoh itu gak bakal kemana!" Katanya lalu berlari kembali ke kelas.
Sarah memandang Arania bingung karena Arania terus saja tersenyum. "lo kenapa senyum-senyum?"
Arania menoleh, "gapapa kok hehe."
"Ohh. yaudah itu tugas yang tadi kerjain." kata Sarah.
"ya."
...***...
.
Bel istirahat berbunyi, para murid keluar berhamburan keluar kelas. Arania sebenarnya diajak istirahat bersama Sarah tetapi karena ia punya niatan lain ia menolak ajakan Sarah.
Arania memesan makanan agar perutnya terisi lalu memakan dengan lahap, setelah habis ia mencari lelaki kemarin yang tidak diketahui namanya.
Arania menuju lapangan untuk melihat-lihat apakah yang ia cari ada atau tidak. Arania terus berjalan dan...
Dukk!
Ia bertabrakan dengan seseorang, "Kalo jalan liat-liat do– eh? ketemu lagi kita!" Arania tidak jadi marah karena sosok yang ia cari sudah didepan mata.
Gerald terkejut tapi tak lama kemudian ia memasang muka datar kembali lalu meninggalkan Arania.
Belum ada lima langkah tiba-tiba tangan Gerald dicekal oleh Arania. "lepas." kata Gerald.
Arania menggeleng, "kan gue udah bilang kemaren. kalo kita ketemu lagi berarti kita harus pacaran."
"Gue ga kenal sama lo. Jangan ganggu gue." Kata Gerald dengan nada tidak suka.
"Makannya kenalan dong hehe," ucap Arania sambil tersenyum
Gerald makin kesal lalu menarik tangannya kencang, "Gak usah sok asik. Gue gak tertarik."
Senyum Arania pudar, digantikan dengan senyum miring membuat wajahnya terlihat galak. "Yakin?"
"Ya."
"Kalo suatu saat lo tertarik sama gue gimana?"
__ADS_1
Gerald terkekeh, "Gak bakal." Setelah berbicara Gerald langsung meninggalkan Arania. Arania juga tidak menahannya lagi.
Arania membaca nama yang berada di Jersey yang dipakai Gerald. "Gerald Sanjaya. Gue bakal berusaha ngedapetin lo." Gumam Arania.