
Di kelas Gerald sedang jam pelajaran matematika, ia suka dengan pelajaran itu, Sejak SD ia sering mengikuti olimpiade matematika. Dia pintar disemua pelajaran, bisa saja ia lompat kelas karena kepintarannya. Tetapi Gerald tidak mau.
"Buka buku paketnya halaman 32, kerjakan Romawi 1 sampai 2. Saya tinggal sebentar, Adit kamu seksi keamanan. jadi jaga kelasnya." Perintah guru itu kemudian keluar dari kelas.
"Bisa-bisanya elu yang suka bikin kelas heboh malah jadi seksi keamanan," cibir Nathan kepada Adit.
Adit terkekeh, "ngiri ya, lu?"
"Hah? Apaan? Iri? Gak lah! Udah bagus-bagus jabatan gue jadi wakil ketua kelas, yakali gua ngiri ama lu," jawab Nathan dengan muka angkuh.
"Iya-iya! Terserah lu aja dah."
"Ya emang terserah gue,"
"Kalian diem dong! Berisik tauu!" Omel Sabrina– Pacar Nathan, ia terganggu belajarnya karna Adit dan Nathan.
"Ututu tayang jangan marah dongg nanti cepet tua lohh! Emang mau?" Goda Adit.
Muka Sabrina memerah karna kesal, ia mengambil sepatunya lalu menimpuk Adit. Saat itu juga hidung Adit mengeluarkan darah.
Nathan menggebrak meja, "Lo jadi cewek baperan banget sih? Cuma kayak gitu aja sampe ngelukain temen gue!" Bentak Nathan marah, ia tak peduli Sabrina pacarnya atau bukan.
"Ka-kamu bentak aku?" Mata Sabrina berkaca-kaca menahan nangis.
"IYA! GUE BENTAK LO! KENAPA EMANG?!"
Gerald menutup bukunya, ia mencoba menenangkan Nathan. "Udah Than, dia cewek, dia pacar lo."
"BIAR AJA! BIAR DIA SADAR KALO OMONGAN ORANG JANGAN TERLALU DI ANGGEP SERIUS, APALAGI DIA GAMPANG BAPERAN!" Nathan tidak bisa menahan emosinya.
Sabrina menunduk, "maaf," katanya sambil menangis.
Nathan menghela napas berat, "Kita udahan ya?"
Sabrina tersentak lalu mengangkat kepalanya, "tapi kenapa?" Lirihnya.
"Gua gak bisa bertahan sama sikap Lo yang begitu." Jawab Nathan.
"Tapi aku bisa perbaikin ini semua Nathan!" Ujar Sabrina dengan nada tinggi dan sedikit bergetar.
"Jangan putusin aku..." Lirih Sabrina memohon.
Nathan mengusap wajahnya kasar, "gue kasih waktu 2 minggu buat Lo berubah. Kalo tetep ga bisa yaa terpaksa, kita harus selesai."
"Iya aku bakal berubah, makasih udah kasih waktu buat aku."
Seisi kelasnya menatap mereka berdua, ada yang mendukung hubungan Nathan dan ada juga yang kesal karna Nathan tidak jadi mengakhiri hubungannya dengan Sabrina.
"Apa Lo liat-liat?! Mau gue colok mata lo?"
...***...
Bel istirahat berbunyi, seluruh murid berbondong-bondong keluar kelas, tak sedikit juga yang menetap dikelas.
__ADS_1
"Sar, ini jaket punya siapa?" Tanya Arania, ia pura-pura tidak tahu untuk memastikan apakah jaket itu benar punya Gerald atau bukan.
Sarah yang sedang memasukan bukunya kedalam tas berhenti sejenak lalu melihat jaket tersebut, "punya Gerald Sanjaya, kelas sebelas anak IPA." Jawabnya lalu memasukkan bukunya.
"Ohh gitu ya. Lo mau anterin gue ngembaliin jaket ga?"
Sarah diam. Sebenarnya ia ingin bertemu Gerald juga, tetapi semakin sulit juga ia melupakan Gerald kalau harus bertemunya.
"Engga deh, gue laper, mau langsung ke kantin aja." Jawabnya sambil tersenyum paksa.
"Yaudah deh," kemudian Arania berdiri sambil mengambil jaket Gerlad.
Ia berjalan keluar kelas. Kemudian ada dua orang kakak kelasnya yang bernama Nayara dan Rachel. Mereka berdua menghampiri Arania, Arania sedikit jaga-jaga karna ia takut kakak kelasnya melakukan hal yang tidak-tidak.
"Oh ini yang bikin temen kita dikeluarin dari sekolah," Ujar Rachel sambil memainkan rambut Arania.
Arania menepis tangan Rachel sambil menatap sinis, "jangan sentuh gue!" Desis Arania.
Nayara mengelus rambut Arania, "jangan galak-galak dong dek," ujarnya sambil tersenyum.
Arania mendelik tajam ke Nayara, "jauhin tangan Lo dari rambut gue, kakak kelas sinting."
Nayara yang kesal langsung menjambak rambut Arania dibantu oleh Rachel membuat mereka bertiga menjadi tontonan.
"Ini akibatnya kalo lo ngelawan gue!" Bentak Nayara kemudian menarik rambut Arania lebih kencang.
"Lepasin tangan lo." Perintah seseorang.
"Gak! Gue bakal kasih pelajaran buat adik kelas kayak gini!" Bantah Nayara.
"Lepas gue bilang!" Orang itu Gerald, ia sedikit menaikan oktaf suaranya.
"Ga mau Gerald! Kenapa lo belain dia sih?! Dia aja ga ngehormatin gue!" Ujar Nayara kesal.
Arania yang sejak tadi diam kemudian membuka suara, "Lo aja ga ngehargain gue!! Ngapain gue ngehormatin lo?! Dasar! Kakak kelas gila hormat! Jadi tiang bendera aja lo, biar dihormatin terus!"
Rachel dan Nayara melotot, kemudian dia mengambil ancang-ancang untuk memukul Arania. Tetapi Naya kalah cepat, tangannya ditahan oleh Gerald.
Gerald mencekal pergelangan tangan Naya cukup kuat sehingga kuku-kuku panjangnya menusuk pergelangan tangan Naya.
"KENAPA SIH BELAIN DIA TERUS?! EMANG DIA SIAPANYA LO?! TEMEN BUKAN! SAHABAT BUKAN! SODARA BUKAN! PAC–"
"Pacar gue. Dia pacar gue." Sela Gerald cepat. Arania mematung ditempatnya. kenapa Gerald berucap seperti itu?
"P-p-pacar? Hahaha! Sejak kapan selera lo jadi turun? Cewek kayak dia lo pacarin? Ga salah denger, gue?" Nayara menatap Arania menilai, hal yang sangat dibenci oleh Arania.
Adit yang dibelakang Gerald mulai kesal, "Emang kenapa kalo Arania jadi pacar Gerald? Merasa kalah saing lo?" Ujar Adit.
"Emang sih, cantikan lo daripada Arania. Tapi sayang, lo ga punya adab." Timpal Nathan.
Murid-murid sekitar menertawakan Nayara. Nayara mengepalkan tangan kirinya, ia malu. Kemudian ia menarik tangan kanannya yang sedari tadi di cekal Gerald. Nayara menggigit bibir bawahnya menahan sakit karena kuku Gerald menembus dagingnya.
"Ayo kita pergi!" Ucap Nayara pada Rachel lalu pergi dari tempat itu, mengabaikan tatapan- tatapan orang.
__ADS_1
Setelah Nayara dan Rachel pergi, Arania menghampiri Gerald. Ia menyodorkan jaket yang dibawanya tadi, "nih, punya kamu kan? Makasih ya udah nolongin."
...***...
Sarah keluar dari bilik kamar mandi dengan hidung yang merah, matanya sembab. Ia menatap dirinya di cermin. Ia habis menangis, ia sempat dengar saat Gerald mengatakan bahwa Arania pacarnya. Ia salah paham sekarang.
Sarah menepuk-nepuk dadanya, "kenapa sesek banget sih?"
"Kenapa Arania gak pernah cerita sama gue juga?"
"Kenapa harus jadian sama sahabat gue?"
Sarah menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, "Gapapa Sarah! Lo udah janji bakal lupain dia, lo bisa Sar!" Ujarnya sambil menghapus air matanya.
Kemudian ia membasuh wajahnya walaupun mata sembabnya masih terlihat. Ia keluar, dan saat itu juga dia bertepatan dengan Arania.
"Eh? Gue kira lo di kantin," ujar Arania.
"Engga, ini gue baru balik dari kantin." Jawab Sarah.
Suara serak dan mata sembab Sarah membuat Arania curiga, "Lo.. abis nangis?" Tanya Arania memastikan.
Sarah berdehem agr suaranya tidak serak, "engga kok, ngapain gue nangis?" Jawabnya berbohong.
"Mulut lo emang bisa bohong Sar, tapi mata lo ga bisa. Jujur sama gue, Lo kenapa?" Arania tahu kalau Sarah berbohong, Karena mata Sarah berusaha tidak menatap wajahnya.
"Udah, lo mau ke kamar mandi kan?" Sarah berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan ngalihin pembicaraan, Sarah." Nyatanya rasa ingin buang air kecilnya hilang begitu saja karena mengobrol dengan Sarah.
Sarah menghela napas pelan, ia tak bisa berbohong lagi. "Iyaa gue nangis."
"Ihhh kenapa nangis?"
'karna tau lo sama Gerald jadian.' jawabnya dalam hati, tak mungkin ia akan menjawab seperti itu.
"Ih kok diem?"
"Kalo gue jawab jujur, Lo masih mau temenan sama gue ga?"
Arania mengernyit, "hah? Kenapa sih?" Ia jadi bingung karena Sarah balik bertanya.
"Gue cemburu."
Agaknya Arania semakin bingung, "gimana sih maksudnya?"
"Gue cemburu pas tau Lo sama Gerald pacaran. Gue juga kesel karna Lo ga pernah cerita sama gue." Jawab Sarah jujur.
Arania melotot kemudian tertawa geli, "Apaan sih, lo! Gue aja ga pacaran sama Gerald." Ujar Arania masih tertawa. "Tapi gak tau deh kalo nanti,' lanjutnya dalam hati.
Tawa Arania kemudian sirna, ia meminta sesuatu kepada Sarah. "Sar, gue harap kita ga pernah berantem cuma karena cowok, ya?
Sarah terpaku, tak lama kemudian ia mengangguk, sedikit ragu.
__ADS_1