
Arania berangkat bersama Gerald hari ini. Banyak pasang mata yang memandang mereka berdua. Ada yang memuji kalau mereka berdua cocok, ada juga yang tidak suka dengan hubungan mereka.
Tiba-tiba Athaya datang menyapa. "Hai Ra! Hai kak!"
Arania sedikit bingung karena kemarin ia sehabis bertengkar dengan Athaya.
"Kalian ke sekolah bareng?" Tanya Athaya.
"Ya." Jawab Arania singkat.
"Eh kakak namanya siapa?" Athaya mengabaikan jawaban Arania.
"Gerald."
"Namanya bagus, orangnya juga! Emm katanya kakak tuh pinter banget yaa? Aku mau dong di ajarin." Ujar Athaya memohon.
Gerald memandang Arania tetapi Arania menatap lurus kedepan. Sekarang posisinya Gerald berada ditengah-tengah, sisi kanan ada Arania, sisi kirinya ada Athaya.
"Kak? Mau kan ngajarin aku?"
Gerald tersentak pelan. "Ya."
"Apaan sih ni orang? Caper banget." Gerutu Arania dalam hati.
"Kelas kakak dimana?" Tanya Athaya lagi.
"Lantai dua."
"Ohh."
Arania merasa diabaikan jadi memilih pergi duluan. "Aku duluan." Arania berlari meninggalkan Gerald dan Athaya.
"Gue juga." Gerald ingin mengikuti Arania.
Athaya menahan Gerald. "Lohh? Kakak sama aku aja, aku takut nyasar."
"Nyasar pantat lo. Orang dikit lagi sampe." Batin Arania saat mendengar ucapan Athaya.
Arania masuk kedalam kelas dengan perasaan dongkol. "Kenapa Ra? Dateng-dateng mukanya ditekuk gitu?" Tanya Sarah.
Arania diam sambil memperhatikan pintu. Sarah mengikuti pandangan Arania, ternyata ada Athaya bersama Gerald.
"Makasih ya kak udah nganterin aku sampe sini." Ujar Athaya sambil tersenyum.
Arania memalingkan wajah. "Ya iyalah di anter sampe sini. Orang kelasnya Gerald aja diatas," gerutu Arania dengan wajah yang tidak senang.
Sarah memperhatikan Arania lalu menghela napas. "Athaya berulah lagi." Ucapnya dalam hati.
Dari luar, Gerald memandangi Arania tanpa menjawab ucapan Athaya. Lalu ia pergi dari tempat itu.
...***...
"CIEEE ADA YANG BARU JADIAN!!!!" Baru masuk kelas Gerald sudah disambut dengan teriakan Nathan.
"Pj dong om," Adit cengengesan.
"Gerald jadian sama siapa?" Tanya Alya.
"Sama adik kelas. Arania namanya." Adit menjawab.
"Arania? Yang waktu itu dibully sama anak kelas IPS ?" Alya bertanya lagi.
__ADS_1
"Iya."
"Ooo.. selamat ya Rald. Moga aja hubungan lo sama dia awet," Ujar Alya.
"Alya." Adit memajukan mukanya depan muka Alya. Tidak terlalu dekat tetapi mampu membuat Alya panik.
"A-apa sih?"
"Kalo lo kapan mau jadi pacar gue?"
"Ga tau.." suara Alya hampir menghilang.
"HEH ADIT MAU NGAPAIN ITU?!"
Adit dan Alya sama-sama kaget. Alya menundukan wajahnya malu, sedangkan Adit cengengesan tidak jelas.
...***...
Bryan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sedang terburu-buru hari ini. Sialnya, Lampu kembali merah, jalanan macet membuat Bryan berdecak kesal.
Setelah lampu kembali hijau Bryan langsung melajukan mobilnya. Dari arah kanan, sebuah truk besar berjalan ugal-ugalan dan juga sangat cepat. Bryan melihatnya kemudian berusaha mengerem mobilnya, tapi rem itu tidak berfungsi. Bryan mencoba membuka pintu untuk kabur tetapi terkunci dan tidak bisa dibuka. Air mata keluar dari sudut mata Bryan, ia memikirkan adik-adiknya jika tanpa adanya Bryan.
Kendaraan-kendaraan dibelakangnya mengklakson berkali-kali untuk memperingati Bryan, Bryan tahu. tapi sayang. Mobil Bryan terdorong truk tadi. Kaca mobilnya pecah, pandangan Bryan menggelap, sekujur tubuhnya sakit, akhirnya ia memejamkan matanya.
...***...
Arania sedang istirahat, kali ini ia istirahat bersama Sarah,Gerald,Adit,dan Nathan.
Arania makan dengan gerakan yang lesu, tidak ada semangat hari ini. "Ra? Masih ngambek?" Bisik Gerald.
"Engga Rald. Cuma hari ini kayak ga ada semangat-semangatnya aja."
"Iya."
Selang beberapa detik Athaya datang dengan membawa sepiring siomay ditangannya. "Hai, boleh duduk sini ga?"
"Apasih? Lo ga diajak. Udah sana," Sarah mengusir Athaya, Sarah merasa suasana menjadi rusak karena kehadiran Athaya.
"Sarah, jangan galak-galak." Ujar Gerlad memperingati.
"Boleh kan kak, kalo aku duduk sini?"
Gerald menghela napas. "Ya. Dit, lo duduk sini aja. Biar dia duduk situ."
Saat Adit hendak berdiri, Athaya langsung menahannya. "Aku aja yang duduk sini, kakak duduk situ aja." Cepat-cepat Athaya duduk disebelah Gerald.
Selera makan Arania menghilang, ia kesal karena Athaya selalu saja mencoba mendekati pacarnya. "Gue kenyang." Ia berdiri lalu mengambil ponselnya yang berada di meja.
"Ga diabisin dulu?" Gerald menatap Arania.
"Aku mau bal–" Ucapannya terpotong karena ponselnya berdering.
"halo kak? Kenapa?"
"Abang kecelakaan Ra.." ucapan Vanya melirih.
"Jangan bercanda kak..." Jantungnya berdegup kencang, napasnya terasa sesak.
"Gue beneran! Sekarang gue nemenin dia dirumah sakit Pelita yang arah ke kampus Abang. Lo buruan kesini!" Vanya berbicara sambil menangis.
Arania mematikan teleponnya, air matanya tidak bisa ditahan lagi dan akhirnya ia berlari keluar kantin.
__ADS_1
"RA! LO MAU KEMANA?!" Gerald berteriak kencang tetapi Arania tidak menjawab.
"Kakak sini aja. Palingan dia mau ke kelas." Athaya mencekal pergelangan tangan Gerald yang hendak pergi.
Gerald menghempaskan tangan Athaya kencang. "Ga usah nahan-nahan gue."
Semuanya meninggalkan Athaya sendiri. "Kenapa sih?! Mereka selalu aja merhatiin cewek galak itu?!" Gerutu Athaya.
Gerald keluar gerbang sekolah. Ia melihat Arania seperti menunggu angkutan umum. "Lo kenapa?" Gerald menangkup pipi Arania yang basah karena air mata.
"A-abang kecelakaan hiks.. a-aku takut Rald.." Arania terisak pilu.
"Tunggu sini. Gue ambil motor dulu." Gerald berlari menuju parkiran. Kebetulan disitu ada Nathan dan Adit.
Gerald melempar kunci mobilnya ke arah Nathan. "Motor lo gue pake bentar buat nganter Arania. Mana kuncinya?"
"Nih tangkep!" Gerald menangkap kunci itu lalu segera mengendarai motor Nathan.
Sampai diluar Gerald langsung memanggil Arania. Arania naik ke motor itu.
"Pegangan gue mau ngebut."
...***...
Arania masuk kedalam rumah sakit tanpa memperdulikan Gerald. Gerald menghela napas melihat Arania.
Ponselnya berdenting lalu Gerald langsung mengeceknya.
Ini akibat dari hubunganmu dengan dia. Saya yakin, kamu tidak akan bisa melihat orang yang kamu sayangi terluka, kan? Tenang, ini baru pembukaan. Saya akan buat kamu dan dia hancur sehancur-hancurnya.
Gerald mengepalkan tangannya kemudian memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya, ia marah, sangat marah. Siapa korban dari kelakuan jahat pamannya selanjutnya?
Gerald masuk menyusul Arania. Ia melihat Arania dan kakaknya disitu. Arania menangis sekencang-kencangnya, Vanya terlihat tenang tetapi hatinya terluka melihat abangnya yang kecelakaan dan adiknya yang masih menangisi abangnya.
"Kak.. Abang pasti bangun kan?! Iya kan!"
"Ra. Lo tenang dulu ya? Kalo Lo kayak gini gue ga kuat liatnya." Ujar Vanya memohon. Rasa bencinya kepada Arania kini menghilang.
Gerald datang menghampiri Arania. "Ara, udah ya nangisnya? Lo doa'in aja biar abang cepet sadar. Jangan nangis ya?"ujar Gerald sambil memegang bahu Arania.
"Tapi kenapa harus Abang yang kayak gini? Kenapa?" Arania masih saja menangis.
"Ini musibah Ra.. ga ada yang tau." Gerald menghapus air mata Arania menggunakan ibu jarinya.
...***...
Sepulang sekolah ini Sarah,Adit, dan Nathan langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Bryan.
"Lu udah tau kan tempat Abangnya Arania dimana?" Tanya Adit kepada Sarah.
"Udah. Tadi kan gua udah nanya ke Arania lewat chat. Udah yuk langsung ke atas aja." Ujar Sarah lalu diangguki oleh Adit dan Nathan.
Arania sedang memandangi Abangnya lewat kaca. Kaki kanan Bryan patah, pelipisnya robek, dan sekujur tubuhnya yang luka-luka memberikan kesan yang mengerikan. Selang-selang rumah sakit juga menempel di tubuh Bryan.
"Ra, gimana Abang lo?" Sarah datang menghampiri disusul oleh Adit dan Nathan.
Arania menghela napas berat. "masih belum sadar."
Sarah meringis saat melihat Bryan, ia jadi merinding. "Semoga bang Bry cepet sembuh ya,"
"Aamiin"
__ADS_1