Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
8- Jauhin Gue, Ra


__ADS_3

"Saya kakak kandungnya."


Ibu panti itu terkejut, "kamu serius?"


"Saya serius,Bu. Dimana dia sekarang?"


"Dia sekolah di kota, dia kesini kalau ga sibuk. Saya punya alamatnya, kamu mau?" Ujar ibu panti itu.


"Iya Bu gapapa, nanti saya cari sendiri."


"Sebentar ya,"


Gerald mengangguk sembari menunggu, ia harap bisa bertemu dengan adiknya nanti.


Arania datang menghampiri Gerald. "gimana?"


"Dia pindah ke kota."


"Jadi... Dia ga disini?"


Gerald mengangguk kemudian ibu panti datang membawa kertas yang berisi alamat. "Ini ibu liat dia cuma kasih alamat sekolahnya aja, kos-kosannya saya nggak tau,"


Gerald menerimanya kemudian mengucapkan terima kasih. "Kalau begitu saya pamit dulu ya bu," Gerald menyalami tangan ibu panti.


Arania ikut menyalimi. "Loh Arania?" Nampaknya ibu itu terkejut, karena sejak tadi ia tidak melihat keberadaan Arania.


Arania cengengesan, "iya bu, ini saya."


"Kamu kesini bareng dia?" Ibu itu menunjuk Gerald.


"Hehe iya,"


...***...


Sejak di dalam mobil, Arania terus menerus menatap Gerald kagum. Gerald yang ditatap seperti itu merasa risih kemudian dengan sengaja ia mengerem mendadak.


Duk!


"Sakit tauuu! Kenapa lagi sih?" Tanya Arania kesal, dahinya terasa nyeri.


"Kepo."


"Ihh! Kenapa sih? Kalo sama aku jawabnya singkat-singkat? Mana kadang ketus banget lagi! Pasti beda kan caranya kamu nanggepin aku sama Sarah? Iya kan? Iya kan?"


Mendengar nama Sarah, Gerald langsung menatap Arania dingin. "Apa hubungannya sama Sarah?"


"Sarah kan mantan kamu! Mantan kesayangan kamu! Kemarin aja kamu bilang sayang sama dia kan? Iya kan?" Kali ini Arania tidak bisa mengontrol ucapannya.


"Diem atau gue turunin?"


Arania diam, tersadar bahwa omongannya tidak bisa dikontrol. Dalam hati ia mengutuk dirinya, bisa-bisanya ia keceplosan.


"Asal lo tau ya. Gue nolak lo bukan karena Sarah atau siapapun. Itu karena gue ga suka, ga cinta sama lo, gue nolong lo waktu itu karena gue kasihan bukan suka. Bedain mana kasihan sama suka. Dan mungkin sampai kapanpun gue ga bakal nerima lo."


"Mulai sekarang, jauhin gue." Lanjut Gerald.


"Tapi kenapa?"

__ADS_1


"Jauhin gue. Dan sekarang jangan cari tau tentang gue lebih dalam."


"Kenapa?"


"Nanti lo nyesel,"


Arania semakin bingung. "Nyesel kenapa? Emang kenapa kalo aku mau kenal kamu lebih jauh? Salah?"


Gerald diam kemudian menghentikan mobilnya. "Turun."


"Eh? Kok disuruh turun? Aku salah ngomong ya? Maaf deh! Jangan turunin aku disini," Ujar Arania memohon.


"Udah sampe."


Arania melihat sekitar, dan benar saja ia sudah sampai di dekat pos hansip yang sama seperti pertama Gerald mengantarnya.


"Makasih ya," Arania keluar mobil lalu meninggalkan Tempat itu.


Gerald menatap sosok Arania yang lama-lama makin menjauh. Tiba-tiba ponselnya berdering, melihat nama kontaknya saja membuat Gerald malas.


"Halo?"


'ingat baik-baik, jangan sampai kamu jatuh cinta dengan dia. Kalau kamu melanggar, akan saya hancurkan bunda kamu.'


Sudah diduga, orang itu selalu mengintai Gerald.


"Saya ga bakal jatuh cinta dengan dia. Dan jangan lukai bunda saya sedikitpun." Kemudian Gerald mematikan teleponnya sepihak.


"Lo suka sama orang yang salah, Ra." Gumam Gerald.


...***...


"Abang pulang jam berapa?" Tanya Arania tiba-tiba.


Vanya melirik Arania sekilas, "ga tau. Udah diem jangan ganggu,"


"Ck, gue nanya doang." Ujar Arania memutar bola matanya malas. Kemudian ia menyalakan ponselnya hanya untuk melihat jam.


Arania melotot. "Lah udah jam tujuh?! Gue belom mandi astaga!" Ia bangkit lalu membawa ponselnya dan berlari menaiki tangga. Ia masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam kamar tidurnya.


Tak lama kemudian Arania keluar dengan tubuh yang menggigil, ia mencari remote AC kemudian mematikan AC itu. Arania mengambil selimut tebalnya dan membungkus tubuhnya menggunakan selimut.


Andai saja ia tidak lupa untuk mandi saat sore, pasti tubuhnya tidak menggigil seperti ini.


Ia memejamkan matanya agar tertidur.


...***...


Pagi harinya. Dimeja makan hanya ada Bryan dan Vanya yang sedang menyantap roti dan segelas susu.


Bryan bingung karena sejak tadi Arania belum juga turun. "Arania kemana?"


"Di kamar kali." Sahut Vanya.


"Tengokin sana, dari tadi ga turun-turun. Suruh makan." Perintah Bryan.


Vanya merubah wajahnya menjadi kesal. "Males ah! Palingan juga bentar lagi turun."

__ADS_1


"Jangan ngebantah. Sana panggil adik lo,"


Vanya berdecak kesal lalu bangkit dari duduknya, ia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Sampai di atas, Vanya membuka pintu kamar Arania yang kebetulan tidak dikunci. Ia melihat adiknya yang masih bergelung dalam selimut.


Vanya menghampiri Arania lalu menepuk-nepuk pelan lengan Arania. "Ra, bangun."


Arania tak kunjung bangun membuat Vanya sedikit dongkol. "Bangun Raaaa,"


Arania mulai mendengar suara Vanya tetapi ia tidak segera bangun karena badannya terasa remuk.


"ARANIA BANGUN!" Vanya menaikkan oktaf suaranya.


"Dingin..." Lirih Arania.


Alis Vanya berkerut kemudian tangannya terulur untuk mengecek suhu badan Arania. "Ra? Lo sakit?"


"Dingin kak..."


"Makan dulu gih, abis itu minum obat." Vanya yang galak berubah menjadi perhatian. Vanya mengambil ponselnya milik Arania lalu mencari kontak teman terdekat Arania.


WhatsApp


Sarah


^^^Arania sakit, dia ga masuk. Tolong bilangin ke gurunya ya.^^^


^^^–Vanya^^^


Setelah itu Vanya meletakkan ponsel Arania, ia berjalan keluar kamar Arania dan berjalan turun ke bawah. Hari ini Vanya tidak sekolah karena guru-gurunya sedang ada rapat dari pagi hingga siang.


"Kok dia ga ikut turun?" Bryan meletakkan gelasnya saat melihat Vanya.


"Dia sakit. Obatnya dimana?"


Bryan tersenyum aneh membuat Vanya bingung. "Mana bang?" Tanya Vanya sekali lagi.


"Cari aja dikotak obat. Tapi kasih makan dulu,"


Vanya bergumam lalu segera mencari obat yang dibutuhkan adiknya. Setelah menemukan ia mengambil dua potong roti untuk Arania.


Bryan memandangi Vanya seraya tersenyum kecil. "Lo itu sayang sama Arania, tapi lo ga pernah mau ngakuin itu, Nya." Ucap Bryan dalam hati.


Bryan melirik jam tangannya. "Gua berangkat ya?" Ia berpamitan ingin berangkat kuliah.


Vanya menoleh. "Oh? Berangkat pagi?" Bryan mengangguk kemudian berdiri.


"Hati-hati."


"Iya,"


Bryan berjalan mengambil kunci mobilnya kemudian segera berangkat. Sebenarnya ia sangat lelah jika berkuliah sembari bekerja, mengurus perusahaan almarhum ayahnya. Kalau disuruh memilih, Bryan tidak ingin mengurus perusahaan itu, tetapi tanggung jawabnya disana sangat besar sejak kepergian ayahnya.


Sosok Bryan sudah menghilang, Vanya segera kembali ke kamar Arania. Vanya membuka pintu lalu meletakkan nampan berisi makanan serta obat yang dibawanya. Ia kembali membangunkan Arania.


"Ra, bangun. Minum dulu obatnya,"


Arania membuka matanya perlahan, "hmm?"

__ADS_1


"Sarapan nih, terus minum obatnya."


...****...


__ADS_2