CREATION

CREATION
Hukuman Pertama


__ADS_3

    Sore itu sambil menonton tv di dampingi oleh ibuku sambil menjahit celana yang sudah robek, sambil melihat jarum jam yang berjalan perlahan-lahan mendekati ke angka 4, hati ini mulai resah ingin rasanya meminta ijin ke ibu untuk bermain bersama teman-teman sabaya di luar sana, rasa dan takut menghantui, bibir ini pun terkunci namun keinginan ini semakin kuat.


    Tidak beberapa lama suara langkah bersama-sama dari luar semakin terdengar sangat jelas, menoleh ke belakang melihat bayangan dari pintu rumah ada segelombolan menuju melangkah ke kediaman.


    Ingat sekali kemarin telah berjanji dengan teman-teman untuk sore ini mengejar layang-layang. Tidak beberapa lama suara teriakan mereka memanggil namaku untuk keluar, ibuku yang sedang asik menjahit menoleh ke hadapan ku dan seraya berkata


    “Jim itu ada yang nyamperin sepertinya itu teman kamu”, tanya ibu Junior sambil menjahit.


    “Ya bu... . itu teman aku yang mau... mengajak main layang-layang, lalu beliau”, Junior menundukan pandangan dan berkata kurang jelas.


    Berkata lagih yasudah kamu samperin teman kamu di luar sana, kamu mau mainkan”, sahut ibu Junior.


    “Ya bu aku main layang-layang dengan teman-teman,Tapi bu... kata bapak jangan main sama anak anak kampung nanti katanya aku jadi nakal”, jawab Junior dengan nada pelan.


    “Main layang-layang kan, enggak main yang aneh-aneh”, ibu dengan tersenyum memandang penuh kasih sayang.


    “Ia bu, tapi kalau bapak tau aku main sama teman-teman kampung ini bisa di marahin apalagi main layang-layang di luar rumah bisa dihajar lagih”, jawab Junior dengan wajah ketakutan.


    “Ya sudah kamu mainya jangan kelamaan, ingat waktu kalau sudah jam 5 sore kamu langsung pulang cepat-cepat biar bapak enggak tau kamu main sore ini, tenang aja junior bapak pulangnya jam 05.30. Tapi ingat sama waktu jangan keasikan mainya bisa-bisa kamu di hukum lagi, ibu enggak kuat melihat kamu di marahin dan di hukum”, jawab ibu Junior sambil mengelus kening anaknya itu.


    “Makasih ya bu atas pengertianya dan ijinya, Jimi berjanji akan ingat waktu dan sebelum jam 5, sudah sampai kembali disini”, junior mengulurkan tanganya dan bersalaman.


    Lalu menyapa mereka dan datengin mereka di luar sana yang beberapa menit lalu sudah menunggu.


    "Ma’af ya.. sudah membuat kalian menunggu lama”, ucap Junior kepada temanya.


    "Santai aja bro... masih lama ini sorenya", secara bersama-sama mereka menjawab bersama-sama.


    ‘'Ah lega mendengar jawaban kalian semua. Ku kira enggak jadi", ucap Junior.

__ADS_1


    “Ya jadilah Junior ngak mungkin enggak jadi apalagih kita udah rencanakan dari kemaren", sahut Laki.


    Akhirnya kita semua jalan bersama-sama menuju lapangan sambil bercerita-cerita. 20 langkah berjalan dari mereka soleh bertanya kepadaku dengan wajah penasaran.


    “Junior kok muka lo aneh banget kaya ketakutan gitu, lo enggak habis ngelihat setan kan?", tanya Deni.


    "Tenang aja ngak ada apa-apa, lo terlalu kebawa perasaan aja. Gue habis makan ama tembang", Junior jawab dengan santai agar mereka tidak mengetahui kejadian asli.


    ‘'Oh gitu.... udah minum air putihkan?", Laki bertanya lagi.


    "Udah... lah ku jawab. Emang ada apa brooo...", jawab Junior.


    "Enggak apa-apa Junior kita Cuma ngigetin doang soalnya kita bakalan lari mati-matian ngejar layangan putus", ucap Laki sambil memberi tahu.


    "Siap bos ku", jawab Junior dengan semangat sambil memegang pundaknya dan memberi sambutan senyuman.


    Lalu percepat langkah kaki kami agar sampai di tujuan, seluruh pasang mata melihat ke atas langit-langit menyaksikan bertaburan layang-layang sedang mengadu membuktikan siapa yang jago.


    Dengan cepat kami mengejarnya dengan lari sekuat tenaga, tak melihat ke depan hanya fokus melihat ke atas langit kemana ia jatuh, sepertinya terbangnya makin tinggi karna hembusan angin sore itu sangat kencang hingga jarak turunya semakin menjauh tak peduli jauh atau dekat yang terpenting memperolehnya.


    Sepertinya layang itu akan jatuh turun ke rumah yang sedang di bangun, mereka semua menurunkan tempo kecepatan larinya, enggak tau karna terlalu memposir kekuatanya


Lalu ku menambah speed lari, melompat yang sangat tinggi untuk memperoleh layang dan akhirnya mendapatkanya.


    Aw...tak tau telapak ini menyentuh benda apa . Lalu melihat telapak kakinya terkena paku. Langsung darah ini naik 100% menahan rasa sakit yang tak terasa menancap di telapak kaki kirinya.


    Darah pun semakin banyak menetes, teman-temanya melihat temanya yang terluka dengan cepat mendekati dan membahu membantu.


    Rasa panik dan ketakutan makin menjadi-jadi aku tak bisa berdiri normal seperti sebelumnya. Tak kuat rasanya untuk bangkit, lalu ku duduk sambil menatapi terluka kakinya uang tertancap.

__ADS_1


    Mereka semua lalu membantu menggangkat untuk mengantarkan ke rumah. Rasa was-was tak ingin bapak melihat hal seperti ini. Bisa-bisa masalah kecil kaya gini bisa kadi kasus besar dan akan menambah pusing kepala.


    Berjalan semakin dekat hingga di depan pintu menatap ke arah depan rumah, menghembuskan nafas dalam-dalam untuk persiapan antara lolos tidak papasan ketemu bapak atau bakalan hari ini bisa di hukum.


    Berjalan selangkah menuju pintu tiba-tiba bayangan seorang lelaki besar keluar untuk menyapa dengan wajah tak senyum seakan menahan emosi lalu mendekat.


    Ada apa dengan kamu?", tanya Alex bapak Junior.


    “Ma’af pak aku kena musibah terkena paku”, jawab Junior dengan wajah ketakutan.


    (Bapak Junior Alex, Lalu ia memberikan pertanyaan lagih)


    "Kok bisa kena paku, apa kamu jalan tidak melihat, punya matakan!", tanya bapak Junior dengan ketus.


    (Junior Lalu ku jawab pertanyaan dari bapak)


    "Ia pak aku tadi lari-larian ngejar layangan tak sengaja nginjek paku hingga kaki kiri ini terluka berceceran darah", sahut Junior.


    Lalu bapak tidak bertanya lagi dan membalikan badanya masuk ke dalam rumah. Rasa ada yang aneh pun menyangkut di fikiran


    Tidak seperti biasanya emosi marah-marah, rajin banget aku memikirkan hal kecil itu. Beberapa lama bapak keluar sambil memegang gesper yang terbuat dari kulit dan menghampiriku.


    Seraya hati ini makin takut. Bapak menarik tangan untuk menyingkirkan dari kerumuan teman-teman. Dengan suara yang keras lalu menyuruh untuk melepaskan baju


    Tidak terpikirkan bapak melayangkan gesper itu ke tubuh berkali-kali. Agar aku kapok atas perbuatan yang udah dikerjakan. Ku berteriak menahan sakit atas cambukan yang membuat badan ini menjadi merah


    Lalu ia memberhentikan cambukan itu dan mengigatkan ku, agar tidak akan main lagi dengan anak- anak kampung itu.


    Akupun mengiakan agar tak dicambuk lagi. Teman-teman melihat aku sedang di hukum oleh bapak. mereka semu dengan wajah ketakutan pergi meninggalkan dengan lari terbirit-birit.

__ADS_1


    Menoleh ke arah mereka lalu berjalan masuk ke rumah dalam keadaan menahan sakit sambil menangis.


‘'Kamu udah dibilang jangan main keluar bersama anak-anak kampung", ucap Alex, bapaknya Junior dengan suara keras penuh amarah memarahi.


__ADS_2