
"Tidak bu, kalau di tunda .. sayangkan rezeki di buang sia-sia manfaatin waktu aja dari pada di rumah", ucap Alex bapak junior.
"Tapi, pak", sahut Mariam ibu junior.
"Tidak bu, ini sudah tugas bapak sebagai kepala rumah tangga, untuk menafkahi", jawab Alex bapak Junior.
"Hay Junior.. ingat kamu jangan nakal lagih. Bapak pesan jaga ibu kamu", ucap Alex bapak Junior.
"Junior berjanji akan menjaga ibu dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama dan akan membanggakan keluarga", sahut Junior sambil berjanji.
"Bapak yakin ke kamu, anak bapak ini akan menjadi orang hebat yang akan mengharumkan nama keluarga", Alex bapak Junior mengulurkan tanganya untuk salam ke anaknya.
"Sayang, aku berangkat dulu yak",Alex bapak Junior mencium kening istrinya.
Berjalan melangkah pergi meninggalkan, kami melambaikan tanggan untuk kepergianya, walau karakternya yang keras ia mencintai keluarganya, sangat bertanggung jawab dengan keluarganya. Lalu kami menutup pintu yang terbuat dari kayu dan menselotkan kunci. Berbalik arah dan duduk di ruang tamu yang berukuran kecil, duduk disamping ibu seraya mengelus rambutku;
"Junior, kamu adalah satu harapan keluarga, ayah dan ibu berharap agar kamu kelak menjadi seorang sukses", pesan Mariam ibu Junior.
"Baik bu, Junior tau hal itu", jawab Junior.
"Kamu jangan berbuat onar lagih kasian bapak jauh-jauh mencari uang hanya untuk kamu, jika kamu mengecewakan ia akan sangat terpukul", ibunya sambil menasehati.
Jangan khawatir bu, hal kemaren tidak akan terulang kembali", Junior menatap wajah ibunya.
Dari ruangan yang di soroti lampu yang redup, melihat kedua bola mata ibunya yang menganguk-nganguk pulas ketiduran tidak ingin menganggu ibunya yang tertidur ia pun membaringan ibunya ke lantai yang sudah di sarapin selimut.
Lalu diatas menatap wajah ibunya, membuka kedua telapak tangganya dan bermunajat kepada tuhan ‘ ya tuhan lindungilah orang yang kusayangi hingga suatu hari nanti ku bisa membalas budinya walau tak seberapa.
Ku mengusap-ngusap mata, pandangan ini nampak benar-benar tidak jelas, ingin rasanya untuk bangun namun kantuk ini sangat berat ku putuskan untuk tidur agar lebih optimal dalam menjalankan aktifitas, sekitar beberapa menit ku paksakan untuk bangun ternyata sudah pagi, melangkah dan membuka jendela yang masih menutupi kaca jendela perlahan-lahan ku buka, ada beberapa ayam sudah ada di halaman memakan kotoran yang tercecer di atas tanah yang tidak rata.
__ADS_1
Menguap ke atas langit dan tangan kiri ini menutup ke mulut agar uapan kantuk ini bisa ku kontrol, kata ibu kalau tidak di tahan setan-seta akan teetawa. Itu pesanya benar atau tidak tidak masalah aku yakin ibuku selalu memberikan nasihan kepada anaknya ini semata-mata untuk kepentingan anaknya ini.
Ku menoleh ke arah samping atas menempel jam dinding yang berukuran bulat yang jarum pendeknya sedang menempel di angka 6 dan jarum panjangnya melewati angka 7.
"Aduh sial", ucap junior melihat jam.
Itu sudah menandakan jam 06.35 tak ingin terlambat ke sekolah lalu ku dengan cepat mandi dan sarapan dengan satu potong tempe sambil berjalan menuju sekolah.
Melihat gerbang sudah rapih dan terkunci, berdiri tegak penjaga sekolah dengan siaga matanya melihat keseluruh penjuru memperhatikan yang di hadapanya. Lalu ku berhenti melangkah menuju depan gerbang, memutarkan badan dan berlari meninggalkan menuju ke belakang gedung sekolah.
Tepat di jendela kelas ku melihat pak Satria yang berkaca mata sedang asik mengajar, teman teman di kelas memperhatikan dengan seksama, lalu mendekat ke jendela paling belakang melihat situasi aman tidak ada yang memperhatikan karna suasana belajar begitu kondusif .
Ku ketuk kaca jendela secara pelan-pelan agar yang lain tidak memperhatikan ke arah belakang. 'Seno... Seno...Seno' aduh sial ia tidak mendengar ketukan ku.
Dari arah depan kelas pak satria menoleh ke arah dimana aku berada tanpa berpikir panjang lalu aku jongkok menghindar, agar ia tak menoleh. 'aduh untung aku selamat ia tidak melihat.
Ku beranikan lagih untuk mengintip di kaca jendela melihat situasi benar-benar aman. Dewi fortuna berpihak kepadaku pak Satrio .mengarah berjalan keluar aku tak tau yang ia mau lakukan dengan cepat ku memberikan tanda isyarat 'syut...' kepada teman-teman yang di belakang agar tak berisik memperhatikan kedatangan ku.
Kring' hari ini telah selesai lalu ku berlari ke luar dari kelas untuk pulang sendirian berjalan kaki, mendengar ada suara kaki secara bersamaan , suaranya makin jelas. Tak ingin berlarut dalam hati yang penasaran lalu ku menoleh ke arah belakang, ku mendapati sahabatku yang kemarin ngajakin bertanding sepak bola. Dengan hati tidak punya perasaan memfitnah ku, hingga harus mengganti kaca yang pecah.
Aku tidak melakukanya namun aku harus bertanggung jawab. Dasar teman tidak setia, namun kata teman tak pantaa ku keluarkan dari mulut. Tepatnya JAHANAM.
ah... aku terlalu terbawa emosi. Bodo amat dengan mereka, aku sudah peduli dengan mereka namun sutu hari nanti hal yang terjadi padaku akan terjadi kepadanya. bahkan lebih parah
"Junior... Junior", teman-temanya memanggil.
(Tak menghiraukan panggilanya. Salah satu dari mereka yang bernama Laki ia akhirnya berbicara)
"Cie... yang habis mecahin kaca jendela", Laki Dengan nada mengejek.
__ADS_1
(Ku tetap berjalan tak menghiraukan ejekan mereka)
2 langkah berjalan mereka tak putus asa mengejek kembali.
"Hay Junior kamu tuh temen kita yang paling bodoh", lalu melanjutkan ucapanya.
"Mau aja dikadalin", ucap Laki.
Hati dan perasaan ini yang awalnya tak memperdulikan ejekan, akhirnya tak mampu menahan sabar. Lalu mendekat ke arah wajah mereka, menegakan badan lalu berkata dengan nada tinggi.
''Hay kalian pecundang dasar banci", ucap Junior dengan lantang.
Mendapat ucapan yang tak enak di dengar mereka mulai geram dengan menatap wajah Junior dengan penuh emosi. Junior pun mengangkat kerah laki lalu memukulnya bertubi-tubi. Melihat hal itu teman-temanya lalu bantu memukul Junior.
Terjadilah perkelahian di jalana tidak berselang lama, ada beberapa kendaraan bermotor datang menghampiri untuk memisahkan perkelahian. Tanpa di sadari Dari belakang satgas pelajar ada dan membawa mereka semua untuk di adili ke sekolah.
'‘Dia yang memukul’ tak terima dengan ucapanya lalu ku membela diri ‘dia yang mengeroyok terlebih dahulu’', teriak Laki dan temanya.
Semu mata yang berada di lokasi melihat ke arahku, dengan rasa yakin pasti mereka bisa menilai siapa yang disalahkan namun faktanya berbeda di lapangan.
(Dari salah satu mereka berkata)
"Hay bocah kamu jangan mencari perkara", salah satu pengendara motor.
‘'Alhamdulilah akhirnya mereka membela yang benar", ucap Junior dalam hati.
Tapi ucapan itu ternyata bukan membantu malah untuk manjatohkan diriku seorang.
Dan akhirnya semua pengendara menyalahkan diriku, aku mengelak membela diri namun semua tetap menyalahkan, dengan berat hati aku mengalah demi kebenaran. Kalau tidak percuma saja, bisa-bisa masalah ini bisa panjang dan aku bisa dilaporkan ke orang tuaku.
__ADS_1
Ku menegok ke arah belakang ( kalian memang licik, suatu hari nanti aku akan balas semua)
‘'Hay Junior jadi orang jangan jadi jagoan nyari perkara, kita semua tau lo jago.... tapi lo jangan songong seenaknya, lo anak sekolahkan?... punya etika!... Emangnya sama ibu lo, enggak di ajarin Sopan santun tata kerama kepada orang lain", tanya Laki sambil memancing emosi.