CREATION

CREATION
Mobil Sedan Berwarna Merah


__ADS_3

(Tok...tok...tok; suara ketukan pintu)


Mendengar suara ketukan pintu, bu Mariam bergegas beranjak dari tempat tidur, dengan cepat ia membuka slot yang mengunci pintu itu tertutup.


Sudah berdiri seorang lelaki yang berseragam sesuai suaminya bekerja, walau tak mengenal orang yang berhadapanya itu, perlahan-lahan orang itu yang menunduk ke lantai menghadap ke wajah bu Mariam, seolah tak kuasa melihat bahkan berkata sepatahpun.


"Ada yang bisa saya bantu, sapa bu Mariam kepada orang tersebut.


"Apakah betul ini rumah pak Alex", tanya lelaki itu.


"Ya, benar dan saya sendiri istrinya", sahud bu Mariam dengan agak aneh.


"Ini ada uang bu, dari perusahaan suami ibu bekerja, mohon di terima. walau enggak seberapa", memberi kan amplop yang berisikan uang.


"Ma'af bapak siapa, saya tidak mau menerima tanpa alasan dan sebab", jawab bu Mariam dengan penuh curiga.


"Saya Adam teman suami ibu, ini uang terimakasih dari perusahaan, karna selama ini telah bekerja", ucap orang itu.


"Suami saya di pecat?, sekarang dia dimana pak", tanya Mariam.


"Ibu yang kuat dengarnya, suami ibu terkena musibah tertimpa besi baja, dan ma'af tak bisa tertolong", ucap pak Adam.


"Tidak...tidak, saya tidak percaya. itu bohong kan pak", tanya bu Mariam dengan histeris.


Pak Adam mengeserkan tubuhnya , dan bu Mariam yang menangis histeris dengan sekejap ingin berteriak namun tak mampu, bibirnya seakan dibekap.


Dia melihat di belakang pak Adam sudah banyak rombongan dengan mobil ambulance menurunkan jenajah suaminya itu.


Mendengar suara ibunya yang menangis. Junior terbangun dan keluar di mana ibunya meronta-ronta di hadapan ambulance yang membawa orang yang telah mendidiknya dengan keras.


(Ia pun berlari menghampiri ibunya)


"Bapak... jangan tinggalkan Junior, Junior berjanji tidak akan nakal... tapi bapak bangun, jangan tinggalkan Junior", ucap Junior dengan menangis.


"Junior, bapak sudah tiada", jawab ibunya seaya tak kuat.


Setelah kejadian itu, suasana di rumah ini begitu sangat berbeda, tidak sama seperti dulu. dimana ada suara jeritan tanggis seorang anak di pukul, di hukum oleh bapaknya atas kesalahanya dan aku rindu masa itu.


Matanya melirik tak tau arahnya pandanganya yang kosong, tertawa kadang kala menangis sambil duduk di tempat paforitnya di ruang tamu sambi menonton tv, menunggu apa yang tidak akan pernah kembali kadang ku melihatnya sangat sedih hati ini seperti di gebuk gebuk ingin menjerit namun tak bisa.


Setelah kepergian almarhum itulah keadaan ibu ia tak bisa move one atas ketiadaan beliau padahal sudah 4 tahun lalu dan kini aku sudah duduk di bangku Sma, sambil membantu keuangan untuk kehidupan sehari-hari dan menunjang pendidikan aku bekerja part time setelah pulang sekolah walau gajinya tidak seberapa tapi alhamdulilah mampu menutupi semua.

__ADS_1


Setiap setelah pulang kerja aku selalu menyuapi makanan. Senyuman, keceriaan dan nasihatnya tidak ada lagi terpancar sekarang hanyalah sekarang ku merindukanya bahkan sangat, aku percaya suatu hari nanti ia kembali seperti dulu... tinggal menunggu proses.


Dia sma inilah aku mengenal dia... cantik,manis,anggun, berambut panjang yang di kuncir menjadi 2 bagian tersenyum dengan gigi kawat membuat keturunan Adam mabuk kepayang kalau bicara membuat tentram dunia dan seisinya.


Pagi itu sekitar pukul 06.40 berhentilah mobil sedan berwarna merah mengkilap di depan gerbang sekolah, di bangku barisan penumpang. pintu belakang terbuka, keluarlah seorang wanita dari mobil itu lalu menutupnya kembali sang pengemudi ketika itu mentancap gasnya dan meninggalkan lokasi depan gerbang sekolah.


Tak sengaja aku yang berangkat menaiki sepeda ontel tua melihat gadis itu di jalan menuju pintu gerbang yang jaraknya 5 meter, ia pun berjalan masuk dan aku hanya terpanah menyaksikan ia berjalan dengan gemulai.


Naluri lelaki ku berkata, kau harus kenalan, minta no. Handphone kalau masalah jodoh itu urusan di atas, tugas ku mencoba ikuti kata hati ini, Mencoba mendekat untuk mengejarnya.  tidak memperkirakan di pintu gerbang muncul 3 orang lelaki yang menghadang perjalanan ku... dia adalah budi lelaki yang tingginya 165 cm rambutnya keribo dan yang satu lagi daniel tingginya 166 cm rambutnya agak ikal orang berdua itu teman sekelasku yang anaknya songgong dan suka ngebulliy dan yang satu lagi adalah Andrea yang ganteng dengan sisir ke belakang.


Berjalan.. Tatapan ini menunduk ke bawah tepat ke arah roda ontel yang berputar ku dorong maju tak ingin meladeni mereka yang biasanya mencari perkara, kedua kaki mereka yang horizontal menghalangi menghentikan langkah ini, terkaget dengan hal ini, ku menatap wajah keduanya yang mengekpresikan sebuah tantangan.


"Kalian ada apa....aku ingin masuk!", sahud Junior dengan nada ku tahan.


(Hahaha..... mereka mentertawakan)


"Lewat kemana?", tanya Andrea.


"Kalau mau lewat sah-sah aja... asalkan lo bayar ke kita", tanya mereka lagi.


"Ngapain bayar ini jalan umum, lagian kalian siapa", jawab Junior dengan menahan nada emosi.


"Daniel ini anak boleh juga nyalinya, enaknya kita apain ya", tanya Budi.


Emang gue takut sama kalian... sama-sama makan nasi", ucap Junior yang tak ingin di remehkan.


Mendengar jawaban junior yang tidak takut dengan ancaman lalu Daniel melayangkan tangan kananya ke arah Junior, belum sempat mengena ke arahnya ‘ KALIAN...’ suara teriakan dari belakang mereka berdua menegok ke arah suara.


tatapan mata dan tanganya menuju mereka semua, dia adalah pak Hartono satpam sekolah ini.


(Lalu ia mendekat ke 3 siswa itu)


"Kenapa kalian belum masuk, bel udah berbunyi apakah enggak denger... punya telingga kan?", tanya pak Hartono satpam sekolah.


"Saya mau masuk pak tapi.. " Budi dan Daniel, menjawab suara tertahan.


"Ini pak saya Cuma ngigetin teman saya Junior, tugas bahasa inggrisnya udah selesai di kerjain apa belum", sahud Daniel sambil meneruskan.


"Sebenarnya pak", ucap Junior, dengan ucapanya di potong.


"Yasudah kalian masuk sana", sahud pak hartono, satpam sekolah.

__ADS_1


(Menyuruh siswa masuk, namun semua melamun ke arah wajahnya)


"Kalian masuk... sana", teriak pak Hartono menyuruh mereka semua.


Tersadar lalu bergegas meninggalkan pagar depan sekolah, di dalam menuju ruangan dengan suara kecil budi mendekat ke samping Junior.


"Awas loh...kali ini selamat kalau besok-besok udah lewat lo", Budi sambil mengancam


Tidak menghiraukan apa yang di ucapkannya di berjalan masuk.


Jam pertama pelajaran sudah selesai, hari ini aku lupa bawa bekel. di kantung celana kiri ku rogoh ada uang lembaran 2000, di bilang kurang ya kurang tapi ini udah alhamdulilah... berjalan mengarah ke kantin suasana sangat ramai, di meja-meja hampir semua makan mie, atau bakso se porsi menahan iri karna mereka adalah mereka bukan saya, dia dibekali orang tuanya yang cukup lebih sedangkan ku tidak, in aja harus menghabisi part time.


"Beli apak dek?", tanya bu atun penjangga kantin.


Mendengar sapaan itu membuat hati ini makin lemah sambil menunduk ke arah meja kasir.


"Aku beli lidih-lidihan", Junior dengan menjawab lemas.


"Berapa dik?", tanya bu Atun dengan ramah.


"1 aja", ku jawab sambil menunjukan jari tangan.


"Cius... nanti kurang lagi", tanya bu Atun


Mengeles biar mereka tidak tau aku enggak punya uang lebih.


1 aja cukup mbak", Junior dengan mata berkaca-kaca.


Ua pun mengembalikan uang 2000, dengan lembaran 1000 dan koin 500 lalau ku terima dan ku buntal-buntal dan masukan ke dalam kantong sisanya buat besok lagi. Berjalan 4 langkah melewati mereka yang sedang asik menikmati makanaan di mangkuk. Berjalan menunduk malu, tak menyangka dari salah satu mereka menyentang kaki membuat ku tersungkur jatuh di lantai.


Mereka yang sedang asik mengobrol sambil menyantap makanan melihat ku tersungkur terjatuh secara bersama-sama mentertawakan.. (hahahaha)


Wajah dan seragam yang ku pakai menjadi kotor sambil menahan rasa malu lalu berdiri dan menghiraukan apa yang di lakukan sambil memegang lidi-lidian yang diatasnya terkena debu lantai.


Ku bersihkan bagian atasnya agar bisa untuk di makan, sebaga penganjal rasa lapar ku gigit (krutug,krutug,krutug... garingnya) di teras kelas sambil menahan sedih... 2 orang itu yang mengerjai daniel dan budi datang di hadapan lalu berkata.


"Rasain tuh", sahud mereka berdua.


'‘Ini belum seberapa lain kali akan lebih parah", sahud Budi


"Apa salah aku ke kalian semua, aku enggak pernah berbuat ke kalian tidak usil ke kalian.. tapi kenapa kalian selalu membully ku setiap hari", ucap Junior dengan kesal.

__ADS_1


"Karna muka lu tuh pantes di bully di hajar dan lo anak miskin", mendengar ucapan Junior lalu mengangkat kerah bajunya.


__ADS_2