CREATION

CREATION
Menjaga Nama


__ADS_3

    Pancaran mata ini sangat kuat memandang mereka semua sambil menahan emosi kedua tangan ini mengepal sangat kencang dalam hati ‘sabar ini ujian mendengar ucapan Laki yang tak dapat di terima menghina ibuku. Tanpa sadar, tidak basa basi ku berlari di hadapan mereka. lalu terbang menghajar Laki yang berdiri paling depan diantara temanya.


    Mereka semua menahan ku dengan menarik badan hingga baju ini sobek. tak goyah tanpa peduli membabi buta menghajar orang yang menghina ibuku.


    Dari arah belakang seorang pengendara motor menariku dan memisahkan kita berkelahi dan membubarkan.


"Hay, semua untuk apa berkelahi... apalagih kalian masi kecil, tugasnya hanya belajar", pengendara motor sambil menasehati.


"Dia pak yang memulai dan mengeroyok", sahud Junior ke pengendara motor.


"Ia berbohong pak, kalau tidak percaya tanya orang yang ada di sini semua, Pasti jawabanya sama", Laki mengelak kembali.


"Saya tidak peduli siapa yang menang atau salah, Kalian semua bubar", teriak Pengendara motor dengan keras.


"Tapi pak....", Laki membela diri.


"Jangan tapi.. kalian bubar semua", pengendara motor memutuskan ucapan Laki.


    Akhirnya semua membubarkan diri kerumunan. Ku berlari Dengan cepat meninggalkan mereka semua tak ingin terjadi ejek mengejek mengakibatkan perkelahian kembali.


(Pas di depan pintu ku mengetok pintu)


'‘Tok...tok. assalamualaikum", sahud Junior tak ada yang menjawab.


    lalu ku memberikan salam sekali lagih mungkin ibu sedang di dapur tak mendengar salam, dengan suara lebih keras.


"Asalamualaikum...", Junior memberikan salam tak juga ada jawaban juga dari dalam.


    Penasaran dengan hal itu lalu ku mulai mendorong, belum ku tekan kencang pintu yang terbuat dari kayu itu pun terbuka seperti tak terkunci atau emang sengaja di tutup saja


    Mata ku melihat keseluruh ruangan tamu tak ada seseorangpun, time pun makin panas ku lepaskan sepatu dengan menaro di rak di sudut pojok ruaangan.

__ADS_1


    Memeriksa dapur... namun jawabanya sama tak ada ibu hanyalah suara air mendidih di dalam panci, air keringat mengucur di kening membuat semakin gelisa ku menegok ke arah kamar mandi namun tak ada juga yang ku cari.


Rasa penasaran yang tak henti yang berujung terputus asaan. Melihat atap atap langit seraya berkata kepada tuhan ‘dimanakah dia aku sangat kangen’...


    Di telinga kiri mendengar suara seseorang sedang menyapu makin terasa arahnya dari belakang. Lalu dengan cepat keluar rumah dan memutar ke arah belakang rumah, pas sampai akhirnya mendapakan jawaban yang meresehkan beberapa menit lalu. Ia ibuku sedang menyapu mengumpulkan sampah berserakan dan menabun (membakar).


    Tak sampai 2 detik, rasa was-was berubah menjadi sebuah senyuman dan di dalam hati berkata ‘terimakasih tuhan’. Lalu mendekati ia dan ibu dengan wajah tercengang melihat ku namun tak seperti biasanya tanganya menyentuh dan mengelus ke wajah. Sepertinya sudah lam sekali hal ini tidak terjadi ia masih memperhatikan.


"Wajah kamu kenapa Junior?", lalu Mariam ibu junior bertanya.


Rasa amat berat untuk mengucapkan dengan jujur. Sekitar 15 menit membisu tak memberi jawaban.


"A..a..aku...tadi, ini bukan apa-apa Bu", ucap Junior dengan ketakutan.


Semakin tajam menyoriti wajah lalu berkata.


"Kamu tidak bisa berbohong apalagih ibu kamu ini sudah mengenal sejak masih dalam kandungan", tanya Mariam ibu Junior yang tak percaya.


Ibupun memberi jawaban yang sama


"Jujur sama ibu", tanya Mariam ibu Junior.


Lalu ku menjawab dengan apa adanya.


"Jujur tadi aku berkelahi dengan teman dan aku di keroyok hingga babak belur melukai wajahku", jawab Junior dengan lepas.


    (Ibunya kaget setelah mendengar ucapan anaknya itu, seraya berkata)


"Junior kamu berulah lagih... sudah ibu bilang jangan kamu membuat onar lagi", ucap ibunya dengan berinang air mata.


"Tidak bu, Junior tidak membuat ulah tapi Junior hanya membela diri karna....", ucap Junior dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Karna apa nak?...", tanya Mariam ibu Junior.


"Karna dia telah menghina ibu macam-macam, tidak pernah mengajari sopan santun kepada anaknya... hal itu tidak dapat di terima bu...", sahut Junior dengan menahan sedih.


"Kamu salah... kamu meladani dia...", ibunya menangis.


"Boleh dia menghina Junior sesuka hati mereka tapi tidak demikian mereka seenak-enaknya menghina orang yang paling Junior cintai di dunia ini", jawab Junior dengam bergetar.


    Melihat anaknya itu selalu mengelas atas pertanyaan ibunya, lalu ibu yang memiliki anak semata wayang itu pergi dari kebun masuk ke dalam rumah.


    Melihat hal itu, Junior lalu mengejarnya ke dalam rumah, mendorong pintu seluas-luasnya, suara tangis yang berasal dari belakang pintu, lalu ia membukanya dan melihat ibunya sedang menangis di sudut ruangan yang berukuran kecil itu.


"Ma’afin Junior bu, anak mu ini berjanji tidak akan mengulang kembali bertengkar berkelahi dengan siapapun", Junior menunjukan jari ke atas langit.


"Tidak, kamu selalu bilang janji namun selalu mengingkari terus, kejadianya berakhir seperti ini. Ibu sudah tidak percaya dengan ucapan mu", ibunya sambil menangis.


    Iapun ibunya, itu membalikan badanya ke arah dinding tak ingin melihat kelakuan anaknya yang berulang kembali sambil menahan tangis


"Tidak bu, Junior berjanji akan baik, tidak berkelahi kembali. Ibu pernah bilang cerita tentang agama kepada Junior ‘jika ada seseorang mengusik mu, agamamu, melukai tugasmu adalah menegornya dan itu adalah salah satu fisabililah. Ibu masih ingatkan dengan nasihat itu", Junior sambil mengigatkan ajaran ibunya dulu.


Lalu ibunya membalikan badanya mencium keningnya dan memeluk tubuh anaknya itu dengan erat.


‘'Maafkanlah ibumu ini, kamu benar anak ku sayang. Jika ada yang mengusik tugasmu adalah membela diri. Kamu ma’afkan ibu kan?...", ucap ibunya seraya menangis.


"Apa yang ibu lakukan kepada diriku aku terima, apalgih hanya memafkan. Tapi kenapa ya bu... keluarga kita selalu di uji seakan-akan tuhan tidak adil kepada kita. Yang lain selalu bahagia kita selalu menderita, junior selalu cemburu dengan apa yang mereka terima", tanya Junior kepada ibunya.


"Anaku sayang tuhan itu cinta, saking sayangnya ia pilih hambanya yang mulia untuk di uji. Jika tak sayang maka ia tak akan memperdulikan hambanya. Maka atas itu kita patut bersyukur ataa apa yang telah di berikan mau itu kecil atau tidak sama sekali. Jangan pernah melihat yang tinggi dari kamu, lihat orang sekitar di bawah kamu... agar kamu lebih mensyukuri nikmat yang telah tuhan beri", jawab ibunya.


"Oh ya bu, Junior selama inikufur nikmat. Tidak menyadari pemberian tuhan yang begitu nikmat, tinggal kita mampu mensyukuri nikmat tersebut", ucap Junior sambil menyesali.


    Ke esokan harinya sekitar pukul 17.35 terdengar suara wiwik ... wiwik sangat merdu sekali terdengar, burung apa gerangan yang singah semakin jelas suaranya, penasaran dibuatnya ku mendorong pintu yang tertutup udara sore ini sangat enak sekali di hembuskan mata ini melijat ke arah pepohonan yang berada di halaman sekitar rumah menegok ke kanan ke kiri atas hingga bawah tak satupun burung yang hinggap dari dalam rumah terdengar mendayu-dayu setelah disini suaranya menghilang ‘ah mungkin burungnya telah terbang pergi.

__ADS_1


__ADS_2