CREATION

CREATION
Strategi Fitnah dingin


__ADS_3

Memasuki ruangan tampak ramai melihat teman-teman sudah mengisi tempat duduk masing-masing yang tersedia, masuk dengan menahan rasa sakit sambil berjalan agak menger lantai, bu sutikno hari ini yang mengajar bahasa indonesia.


Dengan kedatanganku ia menyapa ku dan meninggikan frem kaca matanya ke atas dengan telunjuk jarinya, pandanganya begitu tajam, berjalan ku mendekat beliau dengan hati agak was-was rasa akan di marahin.


Menunduk di hadapanya satu langkah jaraknya dengan beliau, hati ini makin deg degan ketika ia mengucapkan satu kata.


"kamu dari mana saja ?", tanya bu Sutikno.


Pandangan yang mengarah ke lantai langsung berubah 100 derajat ke wajahnya, tak tau apa yang membuat bibir ini seakan akan menjadi kaku, ku berkata ma’af bu, saya terlambat’ sambil menutupi celana yang kotor dengan tas, agar beliau tidak bertanya lagih kenapa celana yang ku pakai terkena kotoran.


Ku tarik nafas perlahan-lahan untuk menerima jawaban bu sutikno. Dalam hati berkata (pasti ia menghukum atas keterlambatan) setelah ia mengucapkan kata-kata yang membuatku perasaan ini lega. oh.. dengan wajah tak percaya dia mempersilahkan untuk duduk.


"Broo, lo kenapa celana pada kotor, habis jatoh?", tanya johan dengan membisik.


Temanya menganguk-nganguk, mengiakan atas jawaban Junior.


Setelah jam pelajaran hari ini selesai, melihat jarum jam pendek dan panjang menempel ke angka 12, ku cepat-cepat menuju dimana sepeda ku di parkir di samping berjejer motor.


Dengan badan yang tegap, kepala agak menunduk ku ayunkan sepeda ontel ini, beberapa goesan, Junior..Junior...Junior terdengar suara meneriaki ku, namun ku tak menoleh ke arah belakang karna ku tahu itu suara Cinta.


Entah dia yang salah atau aku yang terlalu Percaya diri, bahkan mungkin aku di bodohin oleh wanita cantik seperti cinta, boleh jujur hati ini sangat sakit setelah tahu ia sudah memiliki kekasih.


Sambil mengoes dengan suara kecil menahan kekecewaan ‘dasar bodoh... dasar bodoh..mau saja di kerjain sma cewe, mau aja di mainkan Cinta, mana mungkin cowok semiskin ku di hargai bahkan di cintai oleh dia orang yang berada.


Ku tambah kecepatan sepeda, suara itu sudah tak terdengar lagi. Kuberanikan menoleh ke arah belakang, terhenti lari cinta untuk mengejarku, ku melihat wajahnya, ku pandang sejenak lalu kembali fokus melihat ke depan sambil menahan kekecewaan ini.


Tapi air mata ini tak kuasa menahanya, meneteskan air di kedua mata ku, mengigat hari kemarin dan sekarang begitu singkat, begitu bahagia dan begitu pilu.


Oh tuhan amat perih takdirmu ini kau berikan kepadaku, tak sanggup rasanya menerima beban yang kau uji.


Ku parkiran sepeda ku, di samping depan toko tempat dimana ku bekerja dengan pak Ahmad, dia sedang sibuk melayani para konsumen, Alhamdulilah hari ini nampaknya begitu ramai.


Ku mendekat untuk membantu melayani di depan.


"Ini bapak udah catat di nota, atas hamba Allah pesan semen 200 sak, totalnya Rp. 7.400.000. nah yang kirim si Eki, kamu bilangin kalau idah sampai ke lokasi, kalau di tanya sama pengurus mesjidnya bilangin hamba allah yang nyumbang, ingat hamba allah ya, siap pak", ucap Junior mengerti ucapan bosnya.


"Yaudah kamu bantu awasin, si eki ngangkut semen biar sesuai dengan pengiriman, bapak takut ia tak jujur, bapak cuma mempercayai mu saja", ucap pak Ahmad.

__ADS_1


(Junior mendekati eki yang sedang mengangkut semen sambil mengawasi)


"Wah kesempatan emas nih buat melengserkan bocah yang sok tau" ucap dalam hati Tedi menghampiri mereka berdua.


"Jun, coba kita lihat ke gudang, masa stoknya kayu di belakang tinggal sedikit, takutnya ada konsumen yang pesan banyak, kita bisa kualahan dan ia akan lari ke toko bangunan lain", Tedi memberi saran.


"Nah ini tugas lo.. untuk catata biar si bos oder lagi, tapi cek dulu aja ...", ucap Tedi.


"Hyo...", ucap Junior dengan semangat.


"Lo.. yang ngecek dulu sana, nanti gue nyusul, gue pastiin nih eki masukin barang yang bener", tedi dengan mengeles.


(Junior meninggalkan mereka berdua menuju gudang dan Tedi mengediplan kedua matanya, memberikan isyarat kepada Eki)


Nah lo, lebihin barangnya. Tapi...ingat main yang cantik", Tedi menyuruh eki.


"Siap bang",jawab Eki kepada Tedi.


(Junior, melihat dan menghitung stock kayu di gudang)


"Bang Tedi...stock barang masih banyak?...", tanya Junior.


"Masih banyak... (mengaruk-ngaruk kepala) oh iya, ya masih banyak... ma'afin gue, gue yang salah. Tapi kalau kaya gini lo bisa tau stock yang tersedia jadi bisa jaga-jaga", Tedi mengeles.


"Yaudah bang gue tinggal dulu, mau ngontrol bang Eki buat pengiriman", sahut Junior.


"Siap... Tedi Memeberikan tanda jempol.


(Eki yang bersandar di belakang truck, karna telah selesai memasukan barang)


Junior menghitung kembali stock yang di masukan ke atas truck, (1,2,3,.... dari kejauhan Tedi melihat junior menghitung barang.


''Waduh bahaya nih kalau di biyarin, bisa-bisa ketawan barang yang di bawa lebih...", lalu tedi menghampiri untuk mengalihkan pandangan Junior untuk menghitung.


"Jun, nah di depan rame banget, kasian si bos kewalahan, lo bantuin sana, tenang aja masalah yang kaya gini, serahin ke gue. Nanti datanya gue kasih ke Lo ... percaya ama gue Kan, apalagih gue udah senioran", sahut tedi meyakinkan Junior.


Tanpa berfikir panjang Junior yang percaya dengan ucapan tedi karna ia lebih senior dari nya, pergi meninggalkan menuju ke depan membantu melayani konsumen.

__ADS_1


"Kok lo, kesini emang udah selesai?... ", tanya pak Ahmad pemilik toko.


"Beres bos... ucap Junior sambil memberikan tanda jempol.


Eki mengantar pesanan semen ke mesjid, setelah itu barang-barang sisa yang ia lebihkan ia taru ke rumah peribadinya. Setelah selesai, ia datang kembali ke toko, yang sudah menunggu Tedi menjambutnya di gudang.


"Gimana, udah beres?..", tanya Tedi.


"Beres bos... jangkrik", sahut dengan wajah percaya diri.


"Hahaha... (ketawa kecil), kita tunggu aja bom yang akan membuat anak so tau itu.. terdiam dan keluar", Tedi dengan wajah sinis.


"Hehe.. ", Eki mnganguk-ngnguk dengan wajah nyengir.


5 hari telah belalu, pak Ahmad pemilik toko bangunan hari ini mendapatkan orderan 50 sak untuk dikirim, ia menyuruh Eki mengambil barang di gudang.


Setelah itu ia kembali ke hadapan pak Ahmad dan berkata


"stock semen habis pak", jawab Eki.


Mendapat jawaban dari anak buahnya itu, membuat ia sangat tak percaya.


"Masa?... yang bener kamu?.. ", tanya pak Ahmad dengan tidak percaya.


"Bener pak, kalau kurang yakin bisa kita cek bersama di belakang", Eki eyakinkan pak Ahmad.


Mereka berdua mengecek barang di gudang, pak Ahamd melihat, benar yang di katakan anak buahnya itu. Lalu kembali ke depan toko, mengecek kembali buku transaksi penjualan. Tidak sesuai dengan stock produck.


"Ini kenapa bisa terjadi... jangan-jangan kamu eki, kamu maling ya", ucap pak Ahmad dengan kekesalan.


"Mana mungkin saya pak", eki dengan raut wajah ketakutan.


"Benar, pak ini tidak mungkin ia pelakunya dan mana bisa ia melakukanya, yang dapat melakukanya hanya junior karna ia yang mengontrol barang masuk dan keluar. Kalau eki ini pak orang bodoh mana bisa ia korupsi", Tedi membela temanya itu.


Pak Ahmad masuk dalam hasutan si Tedi, beberapa saat Junior akhirnya datang, semua mata terpana melihat wajahnya, ia pun bersalaman dengan pak Ahamd, namun bosnya itu tidak mengulurkan tangganya.


"Hay Junior.. bapak enggak habis fikir kamu ini, bapak udah menganggap kamu sebagai anak sendiri, tapi kenapa kamu tega merusak kepercayaan bapak, yang selama ini selalu baik terhadap kamu dan keluarga kamu", ucap pak Ahmad dengan menahan emosi.

__ADS_1


__ADS_2