
"Apakah ada bukti tambahan untuk memperkuat tuduhan ?", tanya pak polisi kembali.
Sejenak mereka berdua terdiam, saling menoleh satu dengan yang lainya.
"Em... hi.hi...", ibu Junior menangis kecil sedih.
Tangan kanan anaknya itu mengusap air mata ibunya sambil menenenagkan.
"Tenang bu, ada junior selalu di samping menemani", Junior sambil menenagkan.
“Saya di perkosa pak, tidak mungkin saya berbohong!", ibunya mencoba menjalaskan.
“Ok. Saya percaya dengan Pengaduan kalian. Karna ini belum melewati waktu 24 jam, tugas kalian menunggu saja”, ucap polisi itu berbicara dengan enteng.
“Kapan pelakunya bisa di adili atas perbuatanya ?”, tanya junior dengan wajah berbinar-binar.
"Kalu itu, saya tidak bisa memastikan waktunya, tapi saran saya buat kalian, tapi jangan marah ya, diterima syukur, enggak di terima enggak apa-apa, mending kamu, bawa ibumu jangan ke kantor polisi, itu kurang tepat (dengan wajah ngeledek), bawa saja ke pesikiater atau yang lebih baik lagi ke rumah sakit. Kali aja ibumu ini seorang psikopat atau punya ganguan kejiwaan", polisi itu dengan suara mendekat ke wajah 2 orang itu.
Mendapat perlakuan yang tak semestinya, Junior tak bisa menahan emosi, meja di depanya lalu di geprak dengan kencang oleh tanggan kananya ‘prak..’ membuat polisi itu di buat terkejut oleh ulahnya.
“Hay kamu, Polisi...! tugas anda seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat, bukan semena-mena mempunyai jabatan malah memainkan perasan orang miskin", Junior sambil menunjuk tangan ke arah petugas.
"Kamu beraninya melawan petugas penegak hukum, keluar kamu!", sahut Polisi dengan amarah.
"Petugas !", atasan itu, memanggil anggotanya, 2 anggota datang ke ruangan itu.
"Siap pak", 2 anggota itu mengayunkan tanganya di samping kepalanya menandakan hormat kepada atasanya.
__ADS_1
"Kamu bawa 2 orang yang enggak jelas ini keluar, jangan sampai ia masuk kembali. Jik ia berhasil masuk ke dalam ruangan ini, maka posisi kamu tidak ada lagi disini. Camkan itu... ", ketua kepala itu mengancam bawahanya.
Ke dua anggota itu, membawa Junior dam ibunya keluar dari ruangan dan mendorongnya.
"Dek dan ibu jangan kembali lagi kesini, ini tempat untuk pengaduan yang benar-benar kasus terjadi, bukan tempat mengadu domba, ingat itu bu. Di daerah ini semua tau dengan pak ahmad, dia orang terpandang tidak mungkin melakukan tindakan tidak terpuji yang kalian adukan", ucap anggota Polisi sambil memberitahu.
''Ingat sekali lagih para anggota yang mengatasnamakan negara, suatu hari nanti kamu akan menarik ucapan anda terhadap saya, namun hal itu tidak bisa, karna kematian akan datang dan tidak bisa di tunda dalam satu detik pun", Junior sambik mengancam.
"Hahah.... ku tunggu, ku tunggu. Jangan kelamaan ya, aku sudah tidak sabar menungunya", para Polisi tertawa terbahak-bahak atas ancaman Junior.
Junior dan ibunya meninggalkan kantor polisi itu, dengan berjalan menggunakan sendal jepit sambil menyeret-nyeret tanah sret..sret..sret, air keringat mengucur di wajahnya di atas matahari yang seakan-akan mencela mereka.
Kring...kring...kring, suara sambungan telephone di meja kepala polisi, mendengar itu, lalu ia mengangkat telephone yang berbunyi selama 3 kali panggilan, matanya menatap fokus, hembusan nafasnya seperti memiliki insting kuat, mendengar baik suara yang menelpon.
"Hahaha... (tertawa lepas), jangan pernah bilang saya dengan nama pak kasutri, jika hal ini tidak baik terlaksana. Apalagih cuma mengurus kecoa-kecoa kecil", ucap pak Kasutri komandan polisi.
Di dalam gubuk kecil itu, Junior menyuapi nasi ke ibunya yang dalam keadaan sangat pilu, memberikan semangat agar ibunya bisa ceria seperti dulu, namun di balik ceria tanda tawanya itu di dalam hati ia menyimpan banyak masalah yang sangat mengikat hatinya, pujaan hatinya yang sudah di milikiboleh orang lain. Dan ia sudah tidak di pecat oleh pekerjaanya.
"Esok, aku harus mencari pekerjaan baru dan cepat di terima untuk keberlangsungan, kalau tidak, ibu bisa curiga aku tidak bekerja lagi", ucap Junior bicara dalam hati.
"Jun...Jun...Jun... Junior", ibunya memangil anaknya yang sedang melamun.
"Oh ibu... ku kira siapa?.. bikin aku kaget aja", jawab ku sambil mengeles atas pertanyaan.
"Kamu kenapa melamun?...kan kamu ajarin ibu, untuk happy, kamu sendirinyalah memikirkan kaya banyak masalah gitu...", ibunya bertanya lagi.
Beberapa hari Junior mencari pekerjaan baru belum di dapatkanya, pas hari ke 4, perjuanganya menuai hasil. Ia mendapatkan pekerjaan separuh waktu dan tidak jauh dari sekolahnya.
__ADS_1
Di hari pertama, ia mendapatkan upah harian dan upahnya di tempat kerja hang Baru ini tidak sebesar perusahaan awalnya. Namun ia bersyukur bisa membantu kehidupan sehari-hari.
Di dalam perjalanan mau pulang ke rumahnya, sambil membawa sebungkus nasi padang untuk makan bersama dengan ibunya.
"Pasti ibu bakalan seneng banget, karna hari ini kita bisa pesta makan-makan bersama hehe", ucap Junior dalam hati.
Cuaca sore itu sangat gelap, lebih gelap tak seperti biasanya. Suara burung jalak bersuir-suir, kepercayaan orang dulu, menandakan akan ada kematian di lingkungan suara itu.
Beberapa langkah akhirnya sampai di rumahnya, tanganya ingin membuka pintu yang tertutup rapat, mata kirinya melihat amplop yang berwarna putih, telapak tanganya meraba-raba amplop itu, yang sepertinya ada kertas atau uang di dalam.
Lalu ia buka pelekat yang menempel rapih, ada sebuah lembaran yang berisikan tulisan-tulisan yang bergaya huruf sambung.
Namun aku mengenal gaya tulisan ini yang sangat family, ia ini gaya tulisan ibu ku, hem..." pasti ia menuliskan surat cinta dan itu buatku, hemm... ternyara ia masih meiliki sifat romantis di dalam kediamanya yang amat susah di tebak siapapun, bahkan aku sebagai anaknya saja., masih keliru.
Membaca tulisan yang di buka dari amplop itu, bacaan ini semakin cepat, mata ini naik turun, nafas ini mendadak terhempit seakan-akan tidak ada ruang untuk menghirup udara.
Ku buka pintu, dengan cara menedang dengan kaki kanan, lalu ku berteriak sekeras mungkin, menghadap ke atas atap langit, melihat orang yang paling ku cintai, orang yang akan ku ajak makan enak bersama, makan nasi padang yang ku beli hasil kerja pertama ku. Dia sedang berdiri tergantung oleh tali yang mengikat di keliling lehernya dan tetesan darah yang menyentuh ke wajah sambil memandang.
Ia, ibuku telah pergi meninggalkan ku dengan cara yang tidak terpikirkan sama sekali, tergantung bunuh diri. Ku berteriak sekeras mungkin " ibu........ibu... sambil memeluk kaki ibunya.
"Mengapa kau begitu cepat pergi" aku bawakan makanan enak bu.. nasi padang", ia berbicara sendiri di hadapan jasad itu.
Lalu ia keluar rumah memanggil dengan cara mengetok-ngetok beberapa pintu, meminta pertolongan kepada tetangganya. Mengetok terus ke beberala rumah, namun tak ada satupun yang membuka pintu.
Tak putus asa dengan usahanya ia mengetok pintu terus ke hampir seluruh kampung namun ia tak mendapatkan satu rumah yang membuka pintunya, sampai di titik di mana ia mulai putus asa.
"Hay orang-orang kampung kalian pura-pura tidak mendengar ketukan ku, begitu kejamnya kalian terhadap orang miskin yang lagih tertimpa musibah. Suatu saat kalian berteriak tidak ada satu pun yang keluar untuk membantu kalian, di saat kalian sedang menerima ajal dari seorang baik yang kau ciptakan menjadi seorang yak tak mempunyai belas kasih dan sangat begitu kejam", teriak Junior sambil bersumpah.
__ADS_1