CREATION

CREATION
Berawal dari Penghianatan


__ADS_3

'‘Tapi ... aku ingin main pak, seperti anak-anak lain", sahut Junior.


"Kalau kamu main bersama mereka, kamu mau jadi apa",tanya Alex bapaknya junior sambil menendang kaki anaknya itu.


"Aduh ... pak sakit", Junior menahan sakit.


"Ada apa dengan kaki kamu... coba angkat", ucap bapak.


"Tidak ada apa-apa pak?"  jawab Junior.


"Kenapa kaki kamu Junior?", bapaknya menarik kaki anaknya.


‘Tidak pak", sahud Junior.


"Kamu jangan bohong, bapak tidak pernah mengajari anaknya untuk tidak jujur ... ini kenapa Junior", ucap Alex, bapak Junior sambil menahan emosi.


"Tadi aku main sama anak anak ngejar layangan putus, tidak sengaja kaki ku terkena paku pak...", jawab Junior dengan nada rendah.


‘'Apah ?... sudah di bilang jangan main sama anak kampung sini, mainya enggak bener", Alex bapak Junior, lalu mengampar wajah anaknya.


    (Ibu junior dari dapur menghampiri keduanya untuk memberhentikan tindakan suaminya yang menghukum anaknya)


"Pak sudah jangan terlalu berlebihan memberi hukuman, gini juga anakmu anak kita. Kasiankan pak kalau nanti Junior bisa cidera. Yang susah nanti kita juga...", Mariam ibu Junior sambil menenagkan ibunya.


"Ini akibat kamu terlalu memanjakan anak, ini efek main diluar. Lihat kaki Junior dia terkena paku", Alex bapak Junior, lalu masuk mengambil bethadin dan allkohol.


"Kenapa kamu junior", tanya Mariam ibu Junior, dengan sedih.


"Aku tadi terkena paku pas ngejar layang-layang bu”, jawab Junior.


(Ibunya melihat luka kaki kiri anaknya)


"Kamu kurang hati-hati sayang", ucap Mariam ibu Junior.


    (Bapaknya menghampiri Junior membawa wadah yang berisikan air panas dan mengangkat kaki anaknya itu dengan paksa)


"Ayo Junior jangan cengeng jadi laki", ucap Alex bapak Junior.


"Tidak pak, aku takut", jawab Junior ketakutan kakinya akan di rendam air panas.


"Kalau berani berbuat kamu harus berani tanggung jawab", ucap bapak lalu memaksakan kaki anaknya ke wadah.


"Sakit... pak.... sakit... pak", Junior mengeluh kesakitan sambil menahan.

__ADS_1


"Jangan menangis kamu Junior, kamu lelaki bukan banci ‘camkan itu",ucap Alex bapak Junior.


(Setelah itu mengoleskan alkohol disertai bethadin agar tidak terinfeksi)


"Ingat pesan bapak jangan main lagih sama anak-anak sini. Mengerti kamu", ucap Alex bapak Junior, sambil mengancam.


"Baik pak, Junior faham. Dan tidak akan menggulang kesalahan lagi", Junior mengiakan nasehat bapaknya.


    1 minggu berlalu kaki Junior yang terluka akhirnya sembuh. Ia mengintip dari kaca rumah melihat teman-temanya sedang bermain asik. Ingin rasanya bergabung bersama mereka tapi.. hal itu sudah tidak mungkin bisa-bisa dihukum kembali.


"Yasudahlah aku menonton tv aja menemani ibu sambil menjahit pakian yang sobek", ucap Junior bicara dalam hati.


"Ibu bapak kerjanya pulangnya lama enggak?", tanya Junior ke ibunya.


"3 hari lagih bapak pulang dari kota, ada apa kamu bertanya seperti itu!", tanya Mariam ibu Junior, ke anaknya itu.


"Tidak bu", Junior mengelengkan kepala sambil menunduk.


"Alah kamu boong. Pasti kamu pengen main lagih... jangan!", ucap Mariam ibu Junior.


"Apa salahnya Junior main bersama mereka", Junior mempertanyakan ke ibunya.


"Tidak ada yang salah dengan kamu dan mereka. bapak khawatir, takutnya terjadi tidak diinginkan. Dia itu sangat sayang sama kamu... kalau enggak sayang mana mungkin dia memperdulikan kamu", Mariam ibu Junior sambil menasehati.


"Tapi kalau sayang kenapa aku dimarahin bahkan suka digebuk pakai gesper hingga meninmbulkan berkas di tubuh?..." tanya Junior yang tak percaya.


"Ia bu.. Junior sekarang faham bapak orangnya tegas dalam mendidik", Junior mengiakan nasihat ibunya.


    Ke esokan harinya diperjalanan pulang dari sekolah Junior berjalan sendiri, dari arah belakang ada yang memangil Junior. Lalu menoleh ke arah belakang ingin mengetahui siapa yang memanggilnya dengan wajah tersenyum menyapa teman-temanya.


"Hay... aku kira siapa", sahut Junior.


(Salah satu meraka bernama Laki menjawab)


"Kamu tidak apa-apa soal kemaren", tanya Laki.


'‘Santai aja aku enggak kenapa-kenapa", Junior menjawab dengan santai.


"Oh, ya syukurlah. kamu taukan Joni kelas sebelah ngajakin bertanding sepak bola besok, ya kita kekurangan 1 anggota kalau kamu ikut, kita pasti seneng banget", ucap Laki dengan wajah gembira.


"Oh ya aku ikut bertanding dengan kalian", Jawab Junior dengan penuh semangat.


    Keesokan harinya jarum jam berjalan ke arah jam 3 siang.. suasana rumah begitu sepi hanya 2 orang ia dan ibunya, melihat ibunya yang sedang tertidur pulas berbaring di lantai. Ditambah situasi aman karna bapaknya yang akan pulang 1 hari lagi. Bergegas memasukan peralatan perlengkapan ke dalam tas, berjalan mengendap-ngedap agar tidak menganggu, Ku tutup pintu perlahan agar tak terdengar, Menoleh kembali ke arah rumah melihat dari kaca luar rumah masih dalam keadaan yang sama.

__ADS_1


(Junior berlari dengan cepat arah lapangan sepak bola, melihat teman-temanya sudah menunggu)


"Hay... ma’af aku datang terlambat", sapa Junior kepada temanya.


'‘Tidak Junior yang terpenting kamu datang. Yasudah kamu pakai seragamnya 5 menit lagi akan dimulai jangan lupa pemanasanya biar enggak cedera", jawab Laki dengan tersenyum.


    Prit... wasit membunyikan pertanda pertandingan di mulai. Suasana permainan sangat seru, saling serang menyerang namun hal tak diinginkan terjadi. Junior yang mendapatkan operan bola dari temanya abas mengiring bola, dihadapanya ada peluang untuk menembak menjadi sebuah gol, dengan keras ia melepaskan bola dari kakinya. Begitu cepat bola melaju ke arah kiper dan berhasil di tepis, bola muntah dari Junior dimanfaatkan oleh temanya yang bernama Laki dan menembakan dengan kencang dengan arah tidak jelas dan meleset memecahkan kaca jendela yang berada di sekitar lapangan. Semua pasang mata tertuju kepada dimana arah bola itu terdiam semua.


"Kita dalam masalah besar kaca pecah", sahut dari tim lawan.


Dari bangunan rumah yang terkena lemparan bola keluarlah seorang lelaki separuh baya dengan membawa cerurit dan berteriak.


"Siapa yang melakukan ini", sahut pak Emon dengan nada emosi tinggi.


(Laki yang menendang bola tersebut berteriak dengan kencang)


Dia pak.. Junior yang melakukanya", teriak Laki menunjuk ke Junior.


"Apah... kata Junior. Kamu yang menendang bukan aku", Junior membela diri.


"Kamu Junior yang menandang dan mengakibatkan kaca pecah", Laki mempersalahkan kembali Junior.


"Aku yang nendang tapi di tepis, lalau kau melanjutkan tendangan yang keras melaju bola itu mengenai kaca", ucap Junior menjelaskan.


"Kamu Junior yang salah", sahut Laki.


(Semua yang ada di situ tidak tau siapa yang menembak, mereka hanya ikut-ikutan menyalahkan Junior)


"Kamu yang salah Junior", semua menyalahkan Junior.


    Pak Emon Pemilik rumah itu berjalan semakin mendekat dan semua bergegas meninggalkan lapangan. Junior yang mati langkah tidak bisa bergerak bapak itu langsung menangkap Junior yang di tinggalkan temanya


"Mau lari kemana kamu bocah ", ucap pemilik rumah.


"Bukan saya yang menendang pak", ucap Junior.


"Alah kamu.. mana ada orang jujur jaman sekarang. Ngaku aja kamu", pak Emon tak percaya.


"Beneran pak, bukan saya yang melakukanya", ucap Junior sambil membela.


"Saya tidak percaya. dimana rumah kamu?", pak Emon menanyakan ke Junior.


"Jangan pak, nanti saya bisa dihukum", Junior memohon.

__ADS_1


    Pemilik rumah itu yang bernama Emon yang membawa Junior ke rumahnya untuk dipertanggung jawabkan.


Bapak separuh baya itu mengetok-ngetok pintu ‘tok tok tok.


__ADS_2