
"Oh ya... junior aku pengen di fhoto sama sepeda ini (lalu merogoh di di kantong samping celananya) nah ini kamu fhotoin ya", Junior memberikan hasil jepretan.
"Siap tuan Putri.. ia pun mundur beberapa langkah untuk mendapatkan potret yang pas. siap aku itung 1 2 3, dihitungan ke 3, kamu siap berfose", Junior mengatur kamera yang pas.
"1 2 3, cekrek. 123, cekrek, 123,cekrek. ‘Nah udah jadi’ lalu ia menghampiri Cinta, nih Cinta bagaimana, baguskan", ucap Junior memberikan hasilnya.
"Keren Junior, aku baru tau ternyata kamu berbakat", Cinta memuji Junior.
Kring.... suara penjual es melintas di hadapan mereka berdua.
"Bang beli es...", Cinta berteriak memangil dengan nada sedang.
Penjual itu memberhentikan lajunya dan kembali di hadapan mereka.
Siap non, nih ada kacang ijo, coklat, vanila, susu", penjual es memperlihatkan variant rasa.
"Jun, kamu mau yang mana?..", tanya Cinta ke Junior.
"Aku terserah kamu aja", ucap Junior.
"Hem.. aneh, seterah kamu aja...", Cinta dengan wajah cembetut.
"Yaudah aku yang rasa kacang ijo", Cinta memilih sendiri es.
"Mang es rasa kacang ijo 2", ucap Cinta.
"Kacang ijo 2. ", Tukang itu memberikan es rasa kacang ijo kepada mereka.
Lalu cinta memberikan uang dan penjual tersebut merogoh kantongnya untuk mencari kembalian.
"Ngak usah bang, sisanya ambil aja", Cinta memberikan kembalianya.
"Maksih non, permisi", tukang es itu melanjutkan perjalanan.
"Jun kalau berdiri ngak enak, nah disitu ada bangku kosong, Yuk kita duduk disana sambil istirahat", ucap Cinta sambil memberikan saran.
__ADS_1
Mereka berdua bejalan mendorong sepeda menuju bangku yang berukurang panjang, berwarna putih untuk beristirahat melepas lelah.
Di hari sabtu pagi, Junior membantu ibunya dengan menyapu di halaman rumahnya sambil memegang sapu lidi ‘srek...srek..srek.
"Junior... Junior...", suara memanggil.
"Ada suara yang memangil, badanya yang membungkuk ke bawah, melihat daun daun yang berserakan di tanah, perlahan-lahan kedua bola matanya meninggikan pandangan tepat di hadapan bangunan tua, yang sudah tidak terawat lagi di masa peninggalan kolonial belanda. ada seorang wanita yang berpakian serba putih melaimbaikan tanganya dan memangil namanya Junior...Junior...Junior.
Tak melihat jelas panggilan siapa, ia mulai mendekat ke arah itu dan beberapa langkah melangkah dengan kaki mengesek tanah yang ia pijak srek...srek...srek.
Dengan mata telanjang melotot, ia mengenali sosok itu mirip dengan ibunya, yang ia tau ibunya ada di dalam rumah, dan gedung itu tidak ada yang berani mendekat apalagi memasuki.
Tak percaya dengan apa yang ia lihat, lalu ia menoleh ke arah belakang posisi rumahnya, namun dia melihat dari kejauhan, terlihat dari kaca ibunya sedang memasak nasi, ia di buat bingung siapakah yang di dalam gedung tua itu, lalu ia memberanikan diri menegok ke arah gedung tersebut. Namun yang ia lihat sebelumnya telah hilang, sosoknya hanya akar dan tumbuh-tumbuhan yang berdiri hidup di dalam rumah itu.
Mendapat kejadian yang aneh dari luar rumah dan gak ingin terjadi apa-apa, ia meninggalkan tempat itu sambil berlari ke rumahnya.
Dengan mendorong pintu yang tertutup terbuat dari kayu, ‘dar...’ menoleh ke arah ruangan tidak seseorang, menelusuri ke dapur namun ia tidak menemukanya dan mencari keseluruh sudut ruangan tidak menemukan ibunya.
Wajahnya semakin panik, tetesan air keringat mengucur di keningnya tak tau mau mencari dimana lagi, di pundaknya dari belakang ada yang menyentuh dengan 5 jarinya, dingin sekali sentuhanya seperti batu es di kutub utara.
Wajahnya berubah 100% menjadi bahagia, karna yang menyentuhnya adalah ibunya , lalu melepaskan nafasnya yang begitu berat yang tidak teratur.
"Kenapa wajah kamu kaya lihat setan", tanya ibunya.
"Aku mencari ibu, tapi di luar gedung tua itu, ada yang menyerupai ibu, keanehan dengan hal itu, lalu menoleh lagi ke rumah di bagian dapur aku melihat ibu sedang memasak, Dan memastikan kejadian ini, lalu ku melihat ke gedung tua itu, wanita yang menyerupai itu hilang sekejab. Aku berlari ke dalam rumah, memastikan yang ada, ternyata ibu tidak ada, hal itu membuatku panik. Dan ternyata ibu dari belakang mengkagetkan ku", ucap Junior sambil menceritakan.
"Tadi ibu dari belakang , nyapu-nyapu bala bangeet di belakang, sampahnya udah menunpuk", jawab ibunya dengan senyum.
"Kamu udah makan lum?", tanya ibunya.
"Belum bu...", jawab Junior dengan tangganya memegang perut.
"Kebetulan ibu habis ngerebus ubi, pasti kamu suka", ucap ibunya sambil merangkul pundaknya.
"Ya, pastilah... apapun yang ibu masak pasti aku suka", dengan semangat Junior menjawab.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati ubi rebus di atas piring yang di taru di lantai sambil mengobrol dan bercengkraman.
Ke esokan paginya junior, pamitan dengan ibunya untuk pergi ke sekolah. mencium tagangan ibunya lalu menatap wajahnya dengan wajah berbinar-binar.
Ada apa kamu nak, sedih kelihatanya?... ", tanya ibunya.
"Aku, enggak mau berangkat sekolah hari ini ?... jawab Junior dengan wajah cemberut.
"Kenapa enggak berangkat, kamu sakit..", tanya ibunya.
"Aku merasakan hal ini adalah hal terakhir... bu?... ", wajah Junior bersedih.
"Maksud kamu apa Junior?", tanya ibunya dengan alasan anaknya itu.
"Junior kefikiran hak yang aneh kemarin sore", ucap Junior mengigat hal kemarin.
"Junior kamu itu kebanyakan nonton filem horor indonesia, jadi begini nih.. hayalan , kamu anggap jadi nyata. Yaudah kamu berangkat sana nanti telat lagi", ibunya menyuruh berangkat.
(Junior menatap wajah ibunya dengan seksama)
"Kamu percaya kan, sama ibu... tidak akan terkadi apa-apa", ibunya meyakinkan anaknya.
Junior akhirnya mengoes sepedanya, sesekali menoleh wajah ibunya dengan perasaan sedih dan kembali mengoes.
Tiba di depan gerbang sekolah ia mendorong sepedanya untuk memakir kendaraanya, (srak) sepedanya terjatuh dengan dirinya. kesakitan dan melihat yang mendorongnya, tidak mengenal sosok peria bertubuh besar itu, lalu ia berkata.
"Hay... kamu yang namanya Junior", tanya peria itu itu.
"Benar sekali namaku Junior, lantas apa yang menbuatmu mendorong ku, aku tidak pernah berbuat salah kepadamu, bertemu saja baru", Junior menahan rasa sakit.
"Memang kamu belum pernah kenal dengan saya, tapi kamu telah lancang mendekati pacarku", jawab Andrea.
"Tidak, saya tidak pernah mengoda ke kasih orang lain", Junior membela diri.
"Kemarin saya melihat cinta sedang bersama kamu, sangat dekat. Kamu tau... cinta itu kekasih saya...!, sekali lagi saya melihat kamu mendekati dan mencoba menggoda. sepeda ini dan kamu akan hancur. Ingat itu", Andrea mengancam Junior dan sekali menendang sepeda yang sudah terkapar.
__ADS_1
Andrea pergi dan meninggalkan Junior yang kesakitan, lalu junior berdiri dan mendirikan sepedanya sambil kesakitan. memakirkan sepedanya dan masuk ke ruanganya.