
"Kita mau jalan dulu atau langsung ke rumahnya Rony?” tanya Adrian.
Aku hanya diam saja sambil membuang pandanganku ke luar. Tanpa mendengar apa yang dikatakan Adrian.
“Hei, Nona” seru Adrian.
“Haaa?” tanyaku.
“Kamu melamun?” tanya Adrian.
“Oh, nggak” jawabku
“Lah, dari tadi aku nanya loh” katanya.
“Kamu nayain apa?” aku nanya.
“Ya, itu kan. Kamu melamun, An. Sampai aku nanya tapi kamu nggak dengar”
“Maaf. Aku hanya mikir. Bisa ya, Rony ngelakuin ini sama aku” kataku.
“An, kita temenan kan? Kita sahabatan kan?” tanyanya.
“Emang kenapa, kok nanya kek githu” kataku.
“Kalo kamu nganggap aku temen dan sahabat berarti kamu akan ceritain apa saja ke aku” katanya.
“Aku belum siap untuk menceritakan apapun tentang hubunganku dengan Rony sama orang lain” kataku.
“Nggak papa, aku akan menjadi temen dan sahabat yang akan selalu ada dan siap mendengar curhatan kamu” kata Adrian.
“Kita mau jalan – jalan dulu atau mau lansung ke rumah Rony?” tanya Adrian.
“Kita ke rumahnya Rony aja” jawabku.
2 jam lebih perjalanan ke rumah Rony. Ya, selama dia bertugas di kesatuan Brimob. Dia tinggal sendiri alias ngekos dan diakhir pekan, dia akan pulang ke rumahnya.
Sesampainya dirumah, hanya ada adik perempuan satu – satunya. Sedangkan papa dan mamanya sedang keluar. Kakaknya yang berprofesi yang sama juga sedang tugas piket.
“Selamat sore” sapaku.
__ADS_1
“Selamat sore” jawab seseorang dari dalam rumah.
“Kak Ananditha? Dengan siapa?” tanya Amelia, adiknya Rony.
“Kakak sama teman, Mel” jawabku.
“Kakak mau ketemu kak Rony?” tanya Amelia.
“Kalau nggak salah, tadi kak Rony sudah keluar dengan mobil mau ke bandara menjemput seseorang” jawab Amelia.
“Kakak Cuma mau nitip ini aja, Mel” kataku sambil menyodorkan 2 paper bag dan 1 kardus yang dari tadi aku bawa.
“Kakak nggak nungguin kak Rony pulang dulu?” tanya Amelia.
“Nggak usah, Mel. Kakak masih ada keperluan lagi. Dan ini, amplop ini jangan lupa di kasih ke kak Rony ya Mel” kataku lagi sambil menyodorkan sebuah amplop putih ke tangan Amelia.
“Apa ni, kak?” tanya Amelia.
“Nanti di kasih aja ke kak Rony ya sayang” kataku sambil mengelus rambut Amelia.
“Kakak pamit ya, Mel. Nitip salam ke papa dan mama ya” kataku.
Aku keluar dari pekarangan rumah Rony menuju ke mobil Adrian yang terparkir disebelah jalan.
Aku membuka pintu mobil dan masuk, duduk di samping sang pengemudi.
“Kita mau kemana lagi, Nona?” tanyanya.
“Aku mau makan” jawabku.
“Ke tempat makan biasa?” tanyanya.
“Ya” jawabku.
Adrian melajukan mobilnya k salah satu mall ternama di kotaku dan setelah memarkirkan mobil, kamipun masuk ke dalam mall.
Ketika kami sedang berjalan bersama. Tiba – tiba seorang wanita memanggil Adrian.
“Sayang” ucap wanita itu membuatku berbalik.
__ADS_1
“Siapa nih?” tanya wanita itu sambil menunjuk padaku.
“Oh, Aku Ananditha” sapaku sambil mengulurkan tanganku.
“Jesica. Pacarnya Adrian” ucapnya.
“Ananditha ini sahabatku, pacar dari letingku” kata Adrian kepada pacarnya.
"Oh" ucap Jesica.
"Anterin aku pulang dong" pinta Jesica.
"Aku makan dulu, An juga mau makan. Sekalian aja, baru ku antar pulang" kata Adrian.
"Ya, sudah. Aku ikut!" jawabnha ketus.
Aku berjalan mendahului mereka masuk ke tempat makan yang biasa aku dan gang's aku makan.
"Makan disini?" tanya Jesica.
"Kenapa? Kamu nggak mau?" tanya Adrian.
"Nggak, nggak papa" jawabnya.
"Kalian duduk ya. Aku pesankan makan" kata Adrian.
"Kamu pacarnya Roni kan?" tanya Jesica.
"Hmmm, i, iya" jawabku.
"Kamu nggak tahu ya kalau Roni bakalan nikah sama sahabatku?" tanya Jesica.
"Yang aku tahu dia memang mau menikah tapi aku nggak tahu siapa wanita yang akan dia nikahi" jawabku.
"Berarti benar dong kata mereka. Karna Roni mau menikahi orang lain makanya kamu dekati pacarku" katanya membuat aku bergidik.
"Maksud kamu, aku dekati Adrian untuk menjadi pacarku? begitu?" tanyaku.
"Ia" jawabnya.
__ADS_1
"Dengar ya, Jes. Aku bukan tipe cewek yang seperti kamu bilang. Aku dan Adrian hanya bersahabat. Tidak lebih dari itu" kataku.