
"Aku hanya berharap kamu masih akan tetap seperti Anandita yang aku kenal" kata Adrian. "Aku hanya percaya penantianku nggak akan salah dan akan ku dapatkan buah dari kesabaranku" kata Adrian lagi
drrttt drttt drttt
"Hallo mami" sapaku
".............."
"Baiklah. An turun" kataku
"Mami dan om Hendra sudah datang. Mereka nggak jadi mampir, mau langsung ke rumah. Ditunggu papa dan mama" kataku
"Baiklah" kata Adrian.
Adrian dan An sama-sama turun dari lantai 2 cafe itu dan menuju mobil om Hendra yang sudah menunggu di depan cafe.
"Selamat sore, Bang. Selamat sore, Bu" sapa Adrian
"Hmmm" jawab om Hendra
"Sore, Adrian" jaawab mami. Kamu nggak ikut kami?" tanya mami
"Nggak, Bu. Ada yang harus saya selesaikan" jawab Adrian
"Selesaikan semua masalahmu baru kembali untuk mendekati keponakan saya. Ingat itu!" kata om Hendra dengan wajah serius.
"Siap, Bang" jawab Adrian seraya bersikap tegap dan hormat
"Aku pamit ya, Adrian" kataku.
SEtelah pertemuan dengan Anandita. Adrian pulang kerumahnya, dan disana sudah ada Jesica yang sedang menunggunya.
"Akhirnya kamu pulang juga" kata Jesica sinis
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Adrian
"Kamu ingin batalkan pertunangan kita kan. Oke, aku sudah bilang ke orang tuaku dan juga orang tuamu kalau aku mau batalin pertunangan ini" kata Jesica
"Baguslah" jawab Adrian
"Aku tahu aku salah dan sudah membuatmu malu. Tapi aku hanya tidak ingin ada wanita lain disisimu,Adrian" kata Jesica.
"Tidak ingin wanita lain disisiku? Apa aku nggak salah dengar, Jes?" tanya Adrian. Bukannya kamu sering jalan dengan siap namanya itu, Theo atau siapalah namanya" lanjut Adrian
"Adrian, maafkan aku" jawab Jesica tertunduk
"Selama ini aku berusaha menjaga kamu dengan baik. Mengikuti segala kemauanmu dan selalu ada untukmu walau kadang aku harus mengorbankan tugas dan tanggung jawabku bahkan waktu istirahatku dan waktuku bersama keluargaku. Dan bahkan aku mencoba memahami akan adat istiadat unruk menkahimu" kata Adrian mulai emosi. "Dan kamu hanya bilang maaf? Aku kehilangan kesabaranku tapi aku tetap menjaga kewarasanku, Jesica. Karena aku menghormati kedua orang tuamu dan juga oarng tuaku. Aku tidak ingin mereka malu atas kelakuanmu tapi ternyata, aku salah" kata Adrian lagi.
"Adrian" kata Jesika memelas
"Cukup, Jesica" Adrian menahan amarah. "Mari akhiri hbungan ini. Dan kamu jalanilah apa yang kamu anggap baik dan bahagialah dengan apa yang pilih sekarang. Aku nggak mau terus bertahan dan lebih menyakiti orang tua kita karena terus-terus menutupi semua yang kamu lakukan. Ternyata setia bersamamu tidaklah cukup" kata Adrian.
__ADS_1
"Maafkan aku, Adrian. Terima kasih untuk pengertian dan kesabaranmu bebrapa tahun ini bersamaku. Semoga kamu bahagia bersama gadis itu" kata Jesica. "Aku pamit ya" kata Jesica lagi dan meninggalkan Adrian yang duduk termenung dengan semua yang terjadi. Tapi disudut hatinya terasa senang dan berbunga-bunga.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
"Enak banget kamu ya, San. Nggak ada otaknya atau gimana sih?" kata mama ke mami
"Loh kok kakak gitu sih ke aku? Emang salahku di mana?" tanya mami
"Oh, kamu sekarang udah mulai main belakang dari kakak ya? Enak aja masa semuanya yang harus tau duluan itu kalo bukan Anindita, kak Bayu. Lalu kamu pikir kakakmu ini apa?" tanya mama
"Udah deh kak. Jangan mendramatisi keadaan deh. Lagian kan orangnya udah di depan mata kakak" kata mami
"Mama ini kenapa sih? Kan orangnya udah ada di depan. Udah nggak rahasia lagi kan" kata papa
"His, apa-apaan sih ni orang tua?" kataku
"Kamu juga, main rahasia sama mama" kata mama. "Berapa kamu di bayar sama mami dan om kamu ini hah?" tanya mama
"Bayarannya ya ma?" tanyaku. "Shoping, makan-makan + uang jajan yang lumayan lebih gede dari yang diberikan papa dan mama" kataku sambil nyengir kuda
"Oh begitu ya" kata mama langsung di sambut tertawa mereka.
"Udah kak nggak usah marah-marah, rilex ya" kata om Hendra
"Kamu dari dulu doyan bikin kakak gemes, Ndra" kata mama.
Ya, om Hendra sangat dekat dengan mama. Karena semenjak mama menikah dengan papa yang adalah ajudannya papa om Hendra. Orang tua om Hendra sangat sayang sama papa dan mama bahkan semua keperluan om Hendra di serahkan ke papa dan mama yang sudah dianggap anak.
"Kok bisa ya, ada lelaki seperti ini? Tentara, macho yang manjanya minta ampun" kataku
"An. Kamu mau tahu ngak?" tanya mama
"Om Hendra ini dari kecil manjanya minta ampun ke papa dan mama. Sampai-sampai om Hendra nggak bisa tidur kalau nggak di pegangin bajunya mama kamu" kata papa
"Hah?" mataku membelalak
"Mami sampe heran sama ni lelaki" kata mami. "Kadang mami sampe berantem sama nih orang karena memperebutkan kak Ria. Dan satu lagi yang harus kamu tahu, An. Si lelaki yang kamu bilang macho ini dulunya suka cengeng" kata mami lagi sambil tertawa
"Awas kamu, Yang. Godain aku terus" kata om Hendra. "Kak Ria ini kakakku. Kamu itu hanya numpang" kata om Hendra lagi
"Terus aja melukin istriku. Lama-lama aku tabokin juga ni anak" kata papa
"Eits, kaka Danu jangan macem-macem ya. Awas Hendra ngasih hukuman sikap tobat karena melakukan kekerasan ke atasan" kata om Hendra membuat kami semua ketawa.
"Dari pada dengar ocehan kalian, aku mau nyiapin makan malam. Ayo San, An bantuin mama di dapur" kata mama
Nggak lama aku kembali ke ruang keluarga untuk panggil papa dan om Hendra makan malam. Setelah makan malam, kami bercengkrama di ruang keluarga.
"An gimana kelajutannya?" tanya mami
"Kelanjutan apa, mi?" tanyaku
__ADS_1
"Kamu dan Adrian" kata mami
"Mi. An dan Adrian hanya berteman. Nggak lebih deh" kataku
"Okelah kalau begitu" kata mami. "Terus gimana kelanjutan kuliahmu. Mau ambil Ners di sini atau melenggang ke Jakarta?" tanya mami
"Ya nanti liatlah, mi. Kan masih lama juga kan" jawabku
"Sayang. Ini nggak lama lagi. Sekarang kamu udah praktek kan. Sambil praktek ini udah siapin bahan untuk proposal dan setelah itu ajuin judul skripsi" kata mami
"Proposalku masih dikerjakan, mami sayang" katakau
"Paling tidak kamu udah nentuin kampus mana yang akan kamu tuju untuk ambil profesi Ners nantinya kan?" tanya mami
"Ia, sayang. Mama pengen nanya ini dari kemarin-kemarin tapi lupa mulu" kata mama
"An sih pengennya di Jakarta aja mama dan mami" jawabku
"Kenapa nggak disini aja?" tanya papa
"Sekali-kali ijinin An merantaulah, pa. Jangan disini mulu" kataku
"Tapi apa An bisa sendiri di sana?" tanya papa
"Nanti aku dan Sany yang antarin An ke Jakarta, kak. Nggak usah khawatir" kata om Hendra
"Lah kalian nggak dinas?" tanya papa
"Ya, ijinlah kak" kata mami
"San sebenarnya Aninditta ini anakku dan Ria atau anakmu sih? Dari dia kecil sampai sekarang semua-semuanya kamu yang urusin" kata papa
"Ya mau gimana lagi. Siapa yang suruh coba nyerahin anak kalian ke aku?" tanya mami
"Tapi kan nggak semuanya kamu yang harus urusin, dek" kata kak Danu
"Udah nggak usah merasa nggak enak. Dari dulu coba nggak enakannya" kataku
"Ya sudahlah. Terserah kamulah. Kami mana baiknya. Lagian anaknya kalo sama kamu nggak akan membantah" kata kak Danu
"Ya ampun. Mules perut An dengerin para orang tua" kataku. "An mau tidur aja deh" kataku lagi dan beranjak tinggalkan ruang keluarga
"An, besok pulang prakteknya jam brp?" tanya mami
"Jam 2, mi" jawabku
"Besok temani mami jalan ya" pinta mami
"Oke" jawabku
"Nggak usah bawa motor nnti mami jemput di tempat praktek ya" kata mami
__ADS_1
"Oke, mi" jawabku dan masuk ke kamarku.