
Setelah dari makan siang bersama.
Aku memilih pulang lebih dahulu dan mampir ke tempat biasa aku dan Roni biasa ke sana.
“Rujaknya, mbak cantik?” tanya salah seorang ibu penjual rujak langganan kami.
“iya, bu. Boleh” jawabku.
“Nggak bareng pacarnya, mbak?” tanya ibu itu.
“Nggak, bu. Dianya lagi tugas keluar alias pindah tugas bu” jawabku.
“Pindah kemana mbak?” tanya ibu itu lagi.
“Pindah ke pulau seberang, bu” jawabku.
“O, jadinya mbak kangen toh sampai kesini” katanya lagi.
‘Iya, bu. Kangenlah. Kan pacarannya udah lama, bu” jawabku.
“Udah berapa lama, mbak?” tanyanya lagi.
“Udah hampir 3 tahun, bu” jawabku.
“Lama juga, mbak” katanya.
“Iya, bu” jawabku.
“Silahkan rujaknya, mbak” ucap sang ibu.
“Makasih ya bu” jawabku.
Tanpa kusadari sepasang mata sedang mengawasiku dari arah belakangku.
Karena merasa risih dan tahu sepertinya ada yang sedang mengawasiku. Aku berbalik tapi tak ada.
Setelah menghabiskan rujakku. Aku pamit dari ibu penjual rujak itu.
Sepanjang jalan pulang, hanya air mata yang terus mengalir deras dari mataku. Tapi aku berusaha mengemudikan motorku dengan baik.
Sesampainya dirumah. Aku langsung masuk nggak pake salam ke mama lagi.
“Eh, eh. Anak ini, nggak ada salam – salam ke orang tua langsung nyelonong aja” kata mama.
“An mandi dulu ya, ma. Ade capek” jawabku.
“Nggak biasanya kamu langsung mandi” kata mama.
“Udan bau ma, keringat bikin lengket ma” jawabku dari kamar mandi.
Drrtttt, drrttt.
“Sepertinya ada yang nelepon, An” kata mama.
“Siapa ma?” tanyaku.
__ADS_1
“Roni, sayang” jawab mama.
“Nggak usah di angkat, ma” kataku.
“Kenapa?” tanya mama.
“Nggak kenapa – napa, ma” jawabku.
Setelah mandi, aku menganti pakaianku. Maksudnya pengen tidur dikitlah. Ternyata Hpku bergetar lagi.
“Hallo” sapaku.
“Yank” ucap Roni.
“Hmm” jawabku.
“Kamu sakit?” tanyanya.
“Nggak” jawabku.
“Kamu marah ya?” tanyanya
“Nggak” jawabku.
“Sariawan ya?” tanyanya
“Nggak” jawabku.
“Kamu kok irit kali ngomongnya.
“Nggak, nggak dan nggak lagi. Kamu kenap sih, Yank?” tanya Roni.
“Nggak kenapa – napa?” jawabku.
Hatiku kesal, air mataku berderai, kecewa, sakit hati mendengar suaramu yang seakan – akan nggak terjadi apa – apa di antara kita.
“Besok, aku ke Ambon. Ada yang harus aku selesaikan di kantor. Kita bisa ketemu?”katanya.
“Nanti liat ya. Aku udah mulai praktek dan nggak bisa janji” jawabku.
“Diusahakan ya. Aku hanya 3 hari aja” pintanya.
“Nggak tahulah” jawabku.
“Kok jawabnya gitu sih, Yank” katanya.
“Ya, mau gimana lagi. Hanya kata – kata itu yang bisa keluar dari mulutku” nadaku sedikit meninggi.
‘Kamu kenapa, Yank? Kok suaranya seperti itu?” tanya Roni.
“Tanya sam diri kamu kenapa aku nadabicaraku bisa seperti ini” jawabku.
“Berarti kamu lagi marah sama aku?” tanya dia.
“Sudahlah, nggak perlu ditanyakan berulang – ulang. Aku capek, mau istirahat” jawabku.
__ADS_1
“Yank, ya-“ kata – katanya terputus seiring aku mematikan hubungan telepon kami.
Aku terbangun sekitar jam 8 malam. Dan ku cari keberadaan mama. Ternyata mama sedang duduk bersama seorang tamu.
“Sudah bangun ya, nona manis” kata mama.
“Tamu kamu udah nunggu lama tuh” kata mama lagi.
“Tamu?” tanyaku.
‘Berasa nggak ada deh yang janjian mau ke rumah’ batinku.
“Hai” sapanya.
“Kamu? Tahu dari mana rumahku?” tanyaku.
“Tante tinggalin kedalam ya, Nak” kata mama.
“Yang sopan dong An ngomong sama tamunya” kata mama kepadaku.
“Duduk” silahkanku.
“Makasih” jawabnya.
“Dari mana dapet alamatku?” tanyaku.
“Aku minta maaf ya. Tadi nggak sengaja ngikutin kamu dari tempat makan tadi siang” jawabnya.
“Kenapa ngikutin aku?” tanyaku.
“Aku khawatir aja sama kamu. Takutnya terjadi apa – apa sama kamu” jawabnya lagi.
“Makasih ya” jawabku. Dan sekilas terlihat senyum di bibirnya.
“Kamu kenapa malam – malam ke sini?” tanyaku.
“Hanya pengen tahu kamu baik – baik saja kan? Karena tadi kulihat di tempat makan rujak, kamu berusaha menyembunyikan sesuatu” katanya.
“Nggak kok. Aku baik – baik saja. Makasih untuk perhatiannya” kataku.
“Aku, Bara dan Roni sahabatan sejak SMP. Dan kami bertiga nggak pernah nyembunyiin apapun. Aku dan Bara sudah pernah ngingetin dia” katanya.
“Aku, aku, ak---“ kataku terhenti.
“Aku tahu kamu kecewa dengan sikapnya. Aku tahu kamu sakit hati. Tapi ada baiknya dibicarakan dulu seperti apa kelanjutan hubungan kalian” katanya.
“Makasih ya, udah jadi penasehat yang baik” kataku.
“Sama – sama” jawabnya.
“Kalau kamu nggak papa, aku pamit ya” katanya.
“Nggak kok” jawabku.
“Selamat malam” katanya.
__ADS_1