
Setelah makan siang, hasil masak bersama. Kita berdua lalu merapikan semua pakaian ke dalam ransel yang mau Adrian bawa ke tempat tugas.
"Segini aja, isian yang mau di bawa?" tanyaku
"Ia. Segini aja" jawab Adrian
"Obat sama vitamin yang kemarin beli, mana?" tanyaku
"Itu ada di dalam kantong yang kemarin beli. Kan kamu sendiri yang udah masukin pas di mobil kemarin" kata Adrian
"Ini mau dimasukin di mana lagi?" tanyaku
"Ada ransel kecil yang aku bawa juga. Nanti di masukin situ aja, Yang" jawab Adrian.
"Oke. Semua beres kan?" tanyaku
"Siap bu bos. Semuanya sudah beres" jawab Adrian
Walau lelaki tapi kamar kosannya Adrian termasuk paling amat rapi dan bersih. Aku yang perempuan aja, jadi minder dengan kebersihan kamarnya. Tanpa sadar, aku ketiduran di tempat tidurnya Adrian.
"Aduh jam berapa nih?" tanyaku kaget dari tidurku. Yang bikin aku tambah kaget adalah Ardrian yang juga tidur di sampingku dengan wajahnya yang memang berhadapan dengan wajahku
"Adrian" panggilku sambil menepuk lengannya. "Yang" panggilku
"HHhhmmm" jawab Adrian sambil mengeliatkan tubuhmya
"Aku mau pulang" kataku
"Sudah jam berapa ini?" tanya Adrian kaget dari bangun
"Sudah jam 4 sore" jawabku
"Haaaaa\, m*mp*s aku" kata Adrian bangun dan berlari ke kamar mandinya. "Aku mandi ya\, Yang biar aku antar pulang." Teriak Adrian dari dalam kamar mandi
"Ia, sayang. Aku juga mau cuci muka" kataku
Setelah Adrian keluar dari kamar mandi. Aku juga masuk dan mencuci mukaku.
"Bisakah kita menikah setelah aku kembali dari tugasku di papua?" tanya Adrian
"Adrian, aku masih harus menyelesaikan kuliahku dan ingin bekerja dengan mandiri" kataku
Adrian menggenggam tanganku dan mengatakan "Aku akan menunggumu sampai kamu siap untuk menikah denganku" kata Adrian. "Aku serius ingin menikahimu, Aninditta" kata Adrian lagi sambil mencium keningku
"Maafkan aku ya" kataku. "mari kita jalani semuanya seperti air mengalir ya" kataku lagi
"Baiklah. Aku akan menunggumu sampai kau siap" kata Adrian. "Ayo, aku antar pulang. Jangan samapi papa dan mama menunggumu" kata Adrian lagi
"Kamu yang terus menahanku, pak pacar" kataku lalu mencubit perutnya
"Auch. Sakit sayang" kata Adrian meringis
"Kamu sih" kataku
__ADS_1
"Ayo, kita jalan" kata Adrian
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
"Selamat sore, Om. Maaf saya terlambat mengantarkan An" kata Adrian saat kami sampai dirumah
"Om percaya sama kamu" kata papa
"Terima kasih om. Atas kepercyaan yang om berikan kepada saya" kata Adrian
"Tante percayakan anak satu-satunya kami kepada kamu, Adrian" kata mama
"Terima kasih, tante" kata Adrian
"Jangan panggil om dan tante. Mulai hari ini panggil kami papa dan mama" kata papa membuatku kaget
"apa-apaan papa dan mama. Sejak kapan Adrian jadi anak papa dan mama?" tanyaku
"Kan nanti juga jadi anak papa dan mama. Jadi harus biasakan diri dengan panggil papa dan mama" kata mama
"Seingatku, yang kemarin nggak disuruh panggil papa dan mama deh" kataku
"Ya kan, beda dong" jawab mama
"Oh, ia. Ada yang Adrian mau sampaikan ke papa dan mama" kata Adrian
"Apa yang mau disampaikan?" tanya papa
"Kamu hati-hati disana ya. Jangan lupa berdoa. Hatimu harus benar-benar bersih ketika kamu di sana" kata papa
"Ia, pa" jawab Adrian
"Papua adalah tempat yang paling indah dan juga jika hatimu bersih, banyak hal indah yang akan kamu temui disana. Beda dengan apa yang kamu lihat diberita-berita tentang konflik disana" kata papa lagi
"Baik pa. Nasehat papa akan saya ingat" kata Adrian.
"Kamu tahu pepatah dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung" kata papa
"Adrian akan mengingat semua pesan papa" kata Adrian
"Jangan pulang dulu ya, Adrian. Kita makan malam bersama" kata mama
"Nggak repot, ma" kata Adrian
"Nggaklah" jawab mama. "An bantu mama yuk di dapur" ajak mama
Setelah acara makan malam bersama. Adrian pamit pulang. Dan aku mengantarnya sampai depan.
"Aku jalan ya" kata Adrian sudah di mobil
"Hati-hati bawa mobil ya" kataku
"Siap sayangku" kata Adrian
__ADS_1
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Tiba harinya Adrian dan teman-temannya berangkat ke Papua. Aku diminta Adrian untuk ikut ngaterin dia bareng mama dan adiknya. Sampe di parkiran bandara tempat keberangkatan pasukan Adrian.
"Ma, Della" sapaku ke mama Adrian dan Della adiknya
"An" balas mama Tessa
"kak An" sapa Della
"Mama san Della udah lama nunggunya?" tanyaku
"Nggak juga sayang. Baru aja nyampe" jawab mama
"Kakak masih dibriving sama komendannya, kak An" kata Della melihat mataku mencari-cari sosok Adrian
"Ah, ia" jawabku.
Ini bukan kali pertama aku hadapin situasi seperti ini. Aku pernah beberapa kali temani mama nganterin papa bertugas. Dan aku pernah nangis dan nggak tidur bisa tidur karena nggak ada papa yang pergi tugas berbulan-bulan bahkan ada yang 1 tahun lebih.
"Hai" tiba-tiba suara Adrian dibelakang aku
"Ah, siapa?" tanya aku kaget langsung meluk mama Tessa
"Kamu ngagetin An, nak" kata mama
"Kakak. Kenapa pake tugas ke Papua segala sih? Kenapa nggak disini saja? tanya Adrian
"Ini tugas negara, adikku yang bawel" kata Adrian sambil mencubit pipi Della
Tiba-tiba aku merasa hawa panas menjalar di seluruh tubuhku. Dan mataku terasa penuh dengan air mata.
"Kamu kenapa, nak?' tanya mama Tessa
"Nggak kenapa-napa, ma" jawabku
"Kalau mau nangis, nangis aja nak" kata mama
Aku tersenyum kecut sambil menahan air mata yang hampir luluh "Sini aku peluk" kata Adrian menarik tanganku dan memelukku di depan mama dan Della
"Malu Adrian" kataku di dalam pelukannya
"Nggak usah malu, sayang. Dipeluk pacar sendiri kok" kata Adrian
"Adrian pasti pulang An" kata mama sambil mengelus pundak belakangku
"Maafkan An, ya ma" kataku masih dalam pelukan Adrian.
Della yang melihatku nangis malah ikut pelukin Adrian dan nangis bareng
Tiba waktunya Adrian dengan rekan-rekannya harus berangkat. "Jaga diri di sana, jangan lupa berdoa. Ingat pesan papa ya, Yang" kataku mengingatkan Adrian lagi
"Siap sayangku. Jangan lupa sering-sering main ke rumah. Temani mama dan Della ya. Aku titip mereka berdua" kata Adrian masih tetap memelukku.
__ADS_1