Dari Sahabat Menjadi Cinta

Dari Sahabat Menjadi Cinta
Rencana Mami dan Om Hendra


__ADS_3

"Selamat pagi, pa" sapaku


"Selamat pagi, kesayangan papa" Jawab papa


"Mama di mana pa?" tanyaku


"Kayakya di depan, An" jawab papa


"Kenapa An? Mama belanja sayur di depan, kebetulan abang sayurnya lewat" kata mama


"Nggak sekalian ke pasar aja, ma?" tanyaku


"Mama mager" jawab mama


"Mager? Sejak kapan mama mager?" tanyaku


"Ya, sejak pagi inilah" jawab mama santai


"Oh, ia. An tahu. Pasti papa yang bikin mama mager" kataku


"Nah itu tahu" jawab mama cengengesan


"Kelamaan ditinggal sama papa akhirnya sekali ketemu pasti magernya minta ampun" kataku. "Papa sih pake tugasnya jauh segala" kataku lagi


"Belum tahu dia, ma. Ditinggal suami tugas jauh itu gimana rasanya" kata papa


"Ah, pa. An nggak mau bahas yang begituan. Kuliah aja belum beres" kataku. "Mending aku ke puskesmas" kataku lagi


"Papa antarin ya?" tanya papa


"Beneran pa?" tanyaku balik


"Beneran, anak papa" jawab papa


"Oke deh kalau gitu. An habisin sarapan, kita otw ya pa" kataku berbinar


@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@


Samapai di depan puskesmas, aku turun dari boncengan papa. Dan papa bukain helm yang aku pakai.


"Hati-hati ya anak papa" kata papa sambil mengelus kepalaku dan mencium pipiku


"Papa juga hati-hati bawa motornya ya" kataku. "Papa nggak jemput kan?" tanyaku


"Katanya mau jalan sama mami?" tanya papa


"Oh, ia. An lupa pa" jawabku


"Ya udah. Papa balik ya" kata papa. "Da da, anak papa" kata papa sambil melambaikan tangan


"Da da, pa" balasku


Ciieeee, ciieee sapa tu?" suara khas seorang laki-laki muncul di belakangku


"Selamat pagi. dok" sapaku


"Selamat pagi, Ane" balas dokter Herru (dokter muda) yang bertugas di puskesmas. "Siapa tuh? tanya dokter Herru


"Itu papa saya, dok" jawabku


"Ah, yang bener kamu An? Masih muda itu?" tanya dokter Herru kaget


"Ia, dok. Itu papa saya" jawabku. "Papa dan mama menikah muda, dok" kataku lagi


"Pantesan" kata dokter Herru seakan-akan mengerti kata-kataku


"Saya masuk ya dok" pamitku


"Oh, ia An" kata dokter Herru


Aku masuk ke dalam ruangan administrasi dan disana sudah ada BiNa (Tantenya Adrian). BiLus (Bidan Lusi), Suster Tari (Biasa ku panggil dengan sebutan Bunda) dan Paman Agus (Pak mantri).


"Ah, calon mantuku sudah datang" kata BiNa


"Ih, BiNa apaan sih" kataku risih


"Kamu gila BiNa" kata Bunda Tari. "Saya mau jodohin An dengan ponakan saya yang sekarang bertugas di Jakarta. Lulusan AKMIL TNI-AL loh" kata Bunda lagi


"Jangan dengarin mereka An" kata PaMan Agus. "Carilah jodohmu sendiri, nak. Atau berdoalah semoga didekatlan dengan jodohmu" kata PaMan Agus


"Ia, PaMan" jawabku. "Mungkin BiNa dan Bunda tadi kesambet hantu yang ada di pohon jeruk purut depan kiosnya Bu Haji" kataku lagi sambil senyum-senyum


"Tapi beneran loh, An. BiNa senang sekali. Akhirnya Adrian dan Jesica bubaran juga" kata BiNa dengan wajah yang gembira


"Jangan gitu dong BiNa. Mereka berdua kan udah lama banget bahkan udah tunangan juga kan?" kataku

__ADS_1


"Kemarin Jesica ke rumah dan ngobrol sama Adrian. BiNa dengar dari Cia, adiknya Adrian kalau Jesica sendiri yang membatalkan pertunangan mereka dan Jesica juga udah sampaikan ini ke orang tuanya" kata BiNa


"Kasihan Adrian" kataku


"Dan kamu tahu An?" tanya BiNa. "Setelah Jesica pulang, Adrian langsung menelepon BiNa dan bilang kalau dia udah bebas dan hatinya kini plong" kata BiNa lag


"Adrian keterlaluan banget sih. Jesicanya sedeih, eh malah dianya legaan" kataku


@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@


"Hallo" sapa mam


"..............."


"Dimana?" tanya mami


".................."


"Jadikan jalan hari ini?" tanya mami


"...................."


"Oke" jawab mami


Setelah pertemuan di kantor walikota bersama kadis pendidikan.


"Lama ya, Yang  nungguinnya?" tanya om Hendra


"Nggak juga Yang" jawab mami


"Mau kemana dulu?" tanya om Hendra


"Jemput An dululan Yang" kata mami


"Kita jalan ya" kata om Hendra


Kurang dari 20 menitan mobil om Hendra sampai di depan puskesmas tempatku praktek.


[Hallo sayang, mami sama om di depan puskesmas loh] bunyi pesan singgkat lewat whatsaap


[Mi, 10 menit lagi ya. An masih ngerjain beberapa kerjaan dulu] balasku


"Oke. Kalau gitu mami sama om nungguin di tempat makan rujak di samping puskesmas ya sambil liati ombak] pesan mami lagi


[Take your time with om Hendra, mi] balasku


"Oke deh. Semua beres. Saatnya pulang"kataku


"Udah selesai An?" tanya Bunda Tari


"Udah Bun" jawabku


"Mau pulang?" tanya Bunda lagi


"Ia, Bund. Udah dijemput sama adiknya mama" jawabku


"Jumat besok ada waktu nggak?" tanya Bunda


"Kayaknya An mau temani adiknya mama jalan-jalan, Bund" jawabku


"Tapi sabtu bisa kan?" tanya Bunda


"Bisa Bund" jawabku


"Kalau gitu sabtu, Bunda jemput ya" kata Bunda


"Mau kemana emangnya Bunda?" tanyaku


"Ada acara bakar-bakar sama keluarga Bunda dan ponakan-ponakan" jawabnya


"Oke Bund" jawabku. "An duluan ya Bund" kataku lagi dan berlalu ninggalin Bunda


'Anak yang sopan dan manis. All nggak mungkin nggak jatuh hati sama An' batin Tari


[Mami di mana?] pesanku


[Udah beres kerjaannya?] balas mami


[Udah mi. Ini udah di depan jalan] balasku


"Hai sayang" sapa om Hendra sambil nurunin kaca mobilnya


"Ih, om. Kirain ada om-om yang mau godain An lagi" kataku


"Emang pernah digodain om-om?" tanya om Hendra sat aku masuk dan duduk di bangku belakang.

__ADS_1


"Pernah" jawabku


"Kapan?" tanya mami


"Udahlah nggak usah dibahas, mi. Bikin bulu kuduk An jadi berdiri semua" jawabku


"Emang kenapa?" tanya om Hendra


"Seremlah om" jawabku


"Oke deh. Sekarang kita mau kemana nih Tuan Putri?" tanya om Hendra sambil melirik ke arahku


"Lah bukannya mami dan om Hendra yang mau ngajak jalan An?" tanyaku


"Kalau gitu kita makan dulu baru jalan lagi, gimana?" tanya om Hendra


"Oke Yang" jawab mami


Om Hendra menjalankan mobilnya menuju salah satu tempat makan yang biasa di datangi om dan mami dulu. Setibanya di pelataran parkir tempat makan itu, kami bertiga turun dari mobil dan di sambut karyawan di depan pintu dengan sapaan dan senyum manis pula. Ternyata tempat makannya full, beruntungnya kami sang pemilik tempat makan adalah kenalannya om Hendra.


"Penuh tempatnya, mi" kataku menggandeng tangan mami


"Tenang aja" kata mami


"Hendra" terdengar suara memanggil nama om Hendra


"Anwar" sapa om Hendra menjabat tangan dan memeluk orang tersebut. "Kenalin calon istriku dan ponakan kami" kata om Hendra mengenalkan kami


"Oh, ia. Ini Sany kan? dan yang ini pasti si gembul Anindita" kata om Anwar


"Masih kenal saya, mas?" tanya mami


"Ya, iyalah. Lah ni anak sableng sering ceritain kamu, dek" jawab om Anwar.


"Mi kok om itu bilangin Ane gembul sih" kataku merengek


"An nggak kenal sama om. Karena baru kali ini kita ketemu. Tapi kata gembul itu om dapet dari ini calon papi kamu" jawab om Anwar membuat mataku melihat kearah om Hendra dan di balas senyuman.


"Ayo ikut aku. Tempat kalian sudah aku siapkan" kata om Anwar. "Nah ini, duduklah" kata om Anwal lagi


"Makasih ya, mas" kata mami


"Nggak usah sungkanlah San. Kamu kayak nggak tahu saya aja" kata om Anwar. "Terus gimana rencan kalian? Kapan saya dapat undangannya?" tanya om Anwar ke mami dan om Hendra


"Dua hari lagi, saya dan sany akan pulang ke rumah mamanya Sany untuk bicara dulu mengenai rencana kami" jawab om Hendra


"Papa sama mama gimana?" tanya om Anwar


"Malah papa dan mama udah kebelet pengen punya cucu, War" jawab om Hendra


"Ya, udah. Rencana baik harus disegerakan" kata om Anwar. "Aku yang naggung bagian kateringnya" kata om Anwar lagi


"Janganlah mas. Nanti rugi loh" kata mami


"Nggak papa, San. Itung-itung itu hadiah buat kalian. Saya nggak bisa balas budi baik kalian sampe kapanpun" kata om Anwar


"Saya dan kak Hendra bantuin mas Anwar itu ikhlas, nggak ada maksud apa-apa kok" kata mami


"Mas akan tetap ngelakui ini. Nggak ada protes apapu dari kalian berdua" kata om Anwar


"Sudahlah, Yang. Biarin aja. Ringanin ongkos pernikan kita juga kan" kata om Hendra senyum-senyum membuat mami mencubit pinggang om Hendra


"Auch, sakit Yang" kata om Hendra


"Terima ya, San" kata om Anwar


"Makasih ya, mas" kata mami


"Ayo kita makan. Mumpung kalian bertiga datang ke sini. Saya juga belum makan, sekalian ya kita makan bersama" kata om Anwar. "Sasa, kesini bawa pesanan yang tadi saya pesankan" kata om Anwar ke salah satu karyawannya


"Baik pak" jawab karyawan tempat makan itu dan nggak sampe 5 menit semua makanan terhidang di deoan mataku.


"Wah, banyak banget" kataku


"Semua ini pesanan om kamu tu, An" kata om Anwar


"Kenapa sebanyak ini?" tanyaku


"Makan aja sayang. Kenyangkan dirimu dengan makan yang enak. Hempaskan yang buruk-buruk di hati. Selagi masih muda dan cantik, bahagiakan dirimu sayang" kata om Hendra seketika membuatku tertawa dan mengundang semua mata melihat ke arah kami.


"Ih, om Hendra kesambet setannya mami ya?" tanyaku


"Bukan sayang. Kesambet cinta mami kamu" jawabnya


"Ya Tuhan. Ternyata om Hendra sebucin ini sama mami" kataku membuat om Anwar bergantian tertawanya.

__ADS_1


"Ayo makan-makan" kata mami


__ADS_2