
Hari yang kutunggu akhirnya datang juga. Adiknya mama yang biasa kupanggil mami, datang juga ke Ambon.
Handphone ku bergetar berulang kali. Dan berulang kali juga telingaku panas. Karena di tempat lain, ada emak bawel alias mamiku yang udah nungguin.
"Nih, anak. Kebiasaan deh, nggak pernah on time. Udah mandi dan make up-nya lama bikin kesel deh nih anak" gerutu mami.
"Habis gue, bakalan kena Omelan mami nih karena lama" batinku.
Kukendarai motorku dengan kecepatan yang sedikit kencang untuk sampai di salah satu mall ternama di kota Ambon.
"Mami di sebelah mana? An udah di parkiran" tanyaku.
"............" kata mami.
"Oke" jawabku.
Aku jalan sedikit berlari menuju tempat mami menunggu.
"Maafkan An, ya mami" kataku.
"Iya, sudah. Ayo, cari tempat makam. Mami udah lapar nungguin kamu" kata mami.
"Kita ke tempat biasa aja, ya mami" kataku.
Dan kami menuju ke tempat makan, yang biasanya kami tuju ketika ada acara keluarga ada sekedar makan-makan bersama.
"Mi, rame tempatnya. Kita makan KFC dululah buat ganjel laparnya, mami" kataku.
"Ya, terserah kamu deh. Yang penting hilangin laparnya mami" kata mami.
"Siap bosku" jawabku.
__ADS_1
Kita berdua jalan ke KFC untuk makan. Mami duduk dan aku ke tempat pemesanan. Sementara berdiri, tiba-tiba ada yang menyapaku dari blakang.
"An" suara orang di belakang ku, dan aku menoleh.
"Kamu" jawabku.
"Sama siapa? Sendiri?" tanya Adrian.
"Nggak. Sama mamiku" jawabku.
"Mana?" tanya dia.
"Itu" jawabku sambil nunjukin arah mami yang sementara duduk dan melihat ke arahku.
Adrianpun menunduk dan melempar senyum kepada mami. Tapi mami dengan sikap yang agak angkuh hanya memberi senyum sinis dan kemudian kembali memainkan handphone.
"An, aku bisa mati berdiri" kata Adrian.
"Pandangan dan senyuman mamimu itu" jawabnya.
"Ya, emang begitu orangnya. Agak-agak sinis dan arogan" kataku bohong.
"Ya, udah. Aku mau bawakan makanan, mami udah laper" kataku lagi.
"Oke deh. Salam ya, buat mami" katanya.
Aku berlalu dan menuju tempat duduk mami. Sambil makan, mami nanya-nanya tentang Adrian. Aku jawab seadanya seperti yang terjadi. Mami juga nanya tentang Roni yang sebenarnya aku malas untuk membahas dia.
"Ya, sudah kalo kamu nggak mau bicara. Ntar mami nanya sendiri ke Roni. Dan dia harus jawab dengan jujur. Kalo nggak, dia bakalan rasakan akibatnya" kata mami.
"Mi, sudahlah. An udah nggak mau dengar namanya juga berurusan sama dia lagi" jawabku.
__ADS_1
Sambil makan, aku liatin mami otak-atik handphonenya dan tiba-tiba.
"Hallo" sapa mami.
"......."
"Kamu di mana? Ada waktu?" tanya mami.
"......"
"Ntar malam di kosannya mami. Jam 7, mami tungguin ya" kata mami.
"......."
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Setelah makan dan di manjakan mami dengan dibelikan beberapa barang. Akhirnya aku dan mami pulang ke kosan mami.
"Kenapa mami nggak tinggal di rumah aja sih? Kenapa harus di kosan kek gini?" gerutuku.
"Bukannya mami nggak mau. Kamu tahukan hidup di asrama tentara itu nggak bisa bebas dan papa kamu sama kakak-kakaknya mami terlalu banyak aturan. Kalau tinggal sendiri, mami bisa ngatur hidup mami dengan santai" kata mami.
"Tapi kan bisa terlindungi, mi" kataku.
"Ya, pastinya. Tapi ada kalanya, sebagai adik. Mami juga harus tahu diri kan" kata mami dengan wajah yang berbeda.
"Ya, sudah" jawabku. " Mi, aku antarkan saja ya. Nggak sempat mampir, aku ada tugas yang mau dikerjakan" kataku.
"Belajar yang rajin dan tekun, ya. Banggakan orang tuamu dan juga diriku. Hati-hati bawa motornya" kataku.
"Oke, mi" jawabku sambil berlalu dengan motorku melewati jalanan kota Ambon.
__ADS_1