
Di lain tempat
"Kamu benar-benar sudah putus sama pacar kamu?" tanya Om Hendra ke Adrian.
"Sudah, bang. Tapi dia masih nggak mau terima" jawab Adrian.
"Saya nggak maksain kamu untuk bersama dengan keponakan saya, tapi saya hanya ingin yang terbaik baginya dan juga kamu. Jangan sampai akhirnya keponakan saya akan bernasib sama" kata Om Hendra nggak dilanjutin lagi.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@
"Gimana, hubungan kamu dengan siapa yang tadi itu?" tanya mami.
"Adrian mi? An dan dia hanya berteman, mi. Nggak ada pacaran-pacaran kok, mi" jawabku.
"Tapi kata Om. Dia serius sama kamu, An" kata mami.
"Ih. Pasti Om Hendra nanya-nanya kedia deh. Atau jangan-jangan dia yang bilang ke Om deh" kataku curiga.
"Waktu mami urusan di kantor walikota. Om juga ada pengamanan di kantor kejaksaan kan. Nah, itu Om liatin kalian. Mami juga nggak tahu, pas ketemu kemarin sore. Om cerita sama mami" kata mami.
Aku terdiam mendengar apa yang mami katakan. Aku masih takut membuka hati untuk orang baru.
"Mi, apa bisa. An mengenal dia dulu. Karna An masih sulit menerima orang baru untuk dijadikan pacar" kataku.
"Semua terserah kamu, Sayang. Mami hanya menginginkan yang terbaik buat kamu. Karena kamu itu harta mami yang sulit di bayar dengan apapun selain cinta, kasih dan sayang" jawab mami.
"An sayang mami, pake banget deh" kataku manja sama mami.
Semua orang yang lagi antri disitu pada liatin sikapku ke mami padahal kalau mau dilihat aku dan mami seperti adik dan kakak 😀.
Tanpa sadar 2 lelaki itu melihat sikap manjaku ke mami sambil tersenyum manis.
"Anaknya ya, Bu" tanya seorang pengantri.
"Ia, mbak" jawab mami tanpa malu.
"Sudah gede tapi manja banget" kata yang satu lagi
__ADS_1
"Biarin. Bukan mami orang kok" jawabku.
"Hus. Nggak boleh gitu" kata mami
"Sayang sudah?" tanya Om Hendra mengagetkan aku dan mami.
"Seperti yang kamu lihat, Yang" jawab mami
"Bisa bantuin lihat kemeja ngga?" tanya Om Hendra.
"Terus antrian ini?" tanyaku.
"Nanti, Adrian yang temani An ya" jawab Om Hendra. "Papi pinjam maminya bentar" kata Om Hendra
"Nggak ah, An nggak mau" kataku.
"Adrian, bantuin Tante ya" kata mami.
"Siap, Bu" jawab Adrian.
"Papi pinjam maminya bentar doang, sayang" kata Om Hendra.
"Anak dan papinya sama manjanya ke mami mereka" kata pengantri itu.
"Jadi iri deh" kata satu lagi.
"Ngapain sih, kamu ikutin aku Mulu" kataku ke Adrian.
"Saya nggak ngikutin kamu, An. Ini perintah" jawabnya.
"Nggak bisa, bilang nggak gitu" kataku.
"Kamu mau saya di hukum di Mall ini?" tanya Adrian.
"Om juga pake bilang papi segala" sungutku.
"Mereka mau menikah, An. Apa kita menikah juga ya, ikutin Komandan dan Tante kamu?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Jangan asal-asalan kamu ya" kataku sambil mencubit punggannya
"Auh, akh. Sakit An" kata Adrian
"Biarin" jawabku.
Setelah bayar di kasir. Aku dan Adrian nyariin mami dan Om Hendra.
"Dimana juga mereka berdua ini?" tanyaku.
"Mudah-mudahan sudah pulang. Biar aku bisa berduaan dengan pujaanku" kata Adrian pelan.
"Jangan menghayal kamu" kataku.
Sementara berjalan tiba-tiba rambutku dijambak dari belakang dan di tampar membuatku kaget dan jatuh. Dan ditonton orang.
"Kamu apa-apaan" sentak Adrian.
"Kamu ya, perebut tunangan orang. Akan ku buat malu kamu disini" kata cewek yang adalah pacar Adrian.
"Kamu jangan sembarang ngomong ya" kataku sambil berdiri.
"Jangan ngeles kamu. Memangnya mataku buta apa?" tanya cewek ini.
"Jes, kamu gila ya. Ini keponakan komandanku, kamu mau kena tindakan" kata Adrian.
"Bodoh amat. Siapa suruh putusin aku cuma buat cewek nggak jelas ini" kata Jesica.
"Apa kamu bilang? Kamu kira anak saya seperti kamu yang nggak punya malu? Beraninya main Jambak dan tampar anak orang nggak jelas" kata mami
"Maaf, Bu. Maaf Komandan" jawab Adrian
"Ingat ya. Sekali lagi saya tahu kamu lakukan hal seperti ini, akan saya laporkan kamu ke polisi atau saya bikin orang tuamu yang menghadap atasan mereka" kata mami sedikit mengancam.
Wajah Jesica sedikit berubah ketika mami ingin membuat orang tuanya menghadap atasan mereka.
"Semua yang merekam kejadian tadi, segera menghapus rekamannya. Atau saya akan segera melaporkan tim cyber crime untuk melacak handphone yang merekam kejadian tadi" kata Om Hendra.
__ADS_1