
Aku di ajak jalan ke mana aja aku mau, asal bisa jalan bareng mereka. Semua Mall yang ada di kotaku di jabanin sama Mami dan calon papiku ini.
"An, mau nggak yang ini?" tanya Om Hendra.
"Nggak ah, Om. Lagi nggak ada uang buat beli" jawabku
"Om yang bayar!" kata Om Hendra.
"Mi?" suaraku ke mami.
"Nggak papa kok. Itung-itung Om bayarin janji waktu kamu masih kecil. Kamu nggak inget ya?" kata Om Hendra.
"Janji? Emang Om pernah janji sama An?" tanyaku penasaran.
"Sudah, pilih dulu kesukaan kamu" kata Om Hendra dengan kebiasaannya mengusap kepalaku.
"Memangnya dulu aku pernah meminta atau membuat janji dengan Om Hendra? Kayaknya nggak deh? Ah, sudahlah" kata hatiku.
Aku mulai pilih beberapa kaos cewek dan celana jeans yang aku suka (tapi aku selalu cari yang ada discountnya atau yang ada promo beli 2 gratis 1, biar uangku nggak tekor 😀)
"Hatiku adem kalau melihat mami tertawa bahagia seperti ini" kataku tanpa tahu kalau ada seseorang di belakang ku yang tiba-tiba menggenggam tanganku.
"Kita juga bisa begitu, kalau kamu mau jadi pacarku" kata lelaki itu di telingaku.
"Adrian?" kataku dan melepaskan tangannya tapi semakin mencoba dilepaskan, tanganku makin di genggam erat.
"Aku akan seperti ini, bila perlu aku akan menyeret kamu ke hadapan mami dan komandanku" kata Adrian.
"Hah, komandan?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Ia, Komandanku. Iptu Hendra Siswono, SH. MH" jawab Adrian.
"Terus?" tanyaku lagi.
"Komandan yang suruh aku kemari buat temani kamu" jawabnya.
"Jangan asal-asalan kamu. Tahu nggak, kalau Om Hendra itu Om aku juga. Nggak mungkin kalau Om Hendra nyuruh kamu" kataku.
Tiba-tiba Om Hendra datang dan berkata ke Adrian.
"Kamu sudah datang?" tanya Om Hendra.
"Siap, Dan" jawab Adrian.
"Nggak usah panggil saya formal begitu. Panggil saja saya, Abang. Tapi kalau mau sama keponakan saya ini, kamu akan bersiap-siap memanggil saya Bapak atau Papa" kata Om Hendra dengan gayanya yang suka mengodai aku.
"Hahahahahaaa, kamu itu dari dulu nggak ilang-ilang kalau di godain pasti begini. Om kangen kamu yang masih kecil selalu bkin kangen" kata Om Hendra.
"Sudah selesai pilih-pilihnya, An?" tanya mami.
"Sudah mi" jawabku.
"Ini kartunya, sayang" kata Om Hendra ke mami sambil memberikan kartu ATM.
"Nggak usah, Yang. Aku aja yang bayarin.
"Jangan! Itu keinginanku, lagian sudah lama banget aku nggak beliin dia apa-apa" kata Om Hendra.
"Ih, manis banget" kataku tanpa sadar.
__ADS_1
Senyum terlempar dari kedua orang yang aku sayang ini.
"Sudah cocok kan?" tanya Om Hendra sambil meluk mami.
"Sudah. Jangan buat mami kecewa ya, Om" kataku tanpa sadar air mataku menetes.
"Belum ingat janji Om?" tanya Om Hendra tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Masih diingat-ingat lagi, Om" jawabku.
"Ya, sudah. Diingat lagi dulu" kata Om Hendra memelukku di hadapan mami dan Adrian.
Aku dan mami berjalan ke kasir untuk bayarin apa yang aku pilih tadi.
"Mi, kenal Om Hendra di mana sih?" tanyaku sambil ngantri.
"Di asrama dulu tempat tinggal kamu" jawab mami.
"Ah, nggak percaya" kataku.
"Mana ada percaya. Kamu aja masih kecil kok" kata mami.
"Oh, jadi dulu waktu Om Hendra dan mami masih sama-sama kuliah ya?" tanyaku.
"Mana ada? Om Hendra kuliah di mana, mami di mana? Mami dan Om Hendra kan Karang taruna di asrama" jawab mami
"Nggak inget An" jawabku.
"Diingat-ingat lagilah" kata mami.
__ADS_1