Dari Sahabat Menjadi Cinta

Dari Sahabat Menjadi Cinta
Senyumnya


__ADS_3

“Sudah sampe rumah, An” kata Adrian.


“Makasih ya, udah mau nganterin pulang” kataku.


“Buat kamu, aku bisa apa aja” katanya.


“Ah, kamu bisa saja” kataku.


“Aku suka senyum kamu. Jadi jangan nangis buat sesuatu yang nggak bisa membuatmu bertahan” katanya.


“Nggak. Aku udah lepasin dia. Aku juga udah terbiasa sendiri tanpa dia jadi pasti bisa kok” kataku.


“Ya, udah. Masuk gih” katanya.


“Nggak mau mampir dulu?” tanyaku.


“Kalau nggak ngerepotin?” dia balik nanya.


“Ayo” ajakku.


Kami turun dari mobilnya. Dan masuk ke dalam rumah.


“Syaloom, ma” sapaku.


“Syaloom sayang” jawab mama.


“Eh, ada nak Adrian” kata mama.


“Syaloom tante” sapanya.


“Syaloom juga. Duduk Nak” kata mama.


Adrianpun ngikutin mama duduk di sofa. “Barengan pulang sama An atau ketemu dimana, Nak?” tanya mama.


“Kebetulan tadi ketemu An di mall, tante. Katanya nyariin buku buat ngerjain tugasnya, tamte” jawab Adrian.


“Tante buatin teh atau kopi?” tanya mama


“Nggak usah repot – repot tante. Tadi udah habis makan di mall” jawabnya.


“Nolak ni” kata mama.


“Air putih aja deh, tante” kata adrian.


‘kalau gue nolak, bakalan nggak dikasih ijin dekatin anaknya lagi’ batin Adrian.


“Biar An yang anterian, ma” kataku keluar dari kamar dan mengambil baki berisi segelas air putih.

__ADS_1


“Loh, tantenya mana?” tanya Adrian.


“Mama di dapur, biasa lagi buatin kue. Besok papa dateng dari tempat tugasnya.


“Tapi aku bisa kan main kesini, besok?” tanya dia.


“Bisa kok” jawabku.


“Apa papa kamu nggak marah? Kan aku bukan Rony” katanya.


“Papa nggak pernah ngelarang aku buat temenan sama siapa saja. Asalkan nggak neko – neko dan sopan juga bisa saling menjaga” kataku.


“Kalau papa dan mama kamu nanyain Rony gimana?” tanyanya


“Ntarlah aku jelasin ke mereka. Dan kalau papa tahu tentang Rony, aku nggak tahu reaksinya seperti apa? Karena yang tadi aku pahami adalah. Orang tua Ronypun belum ada yang tahu. Adek – adeknya juga” kataku.


“Terus?” tanyanya lagi.


“Boleh aku minta bantuan?” tanyaku dan dijawab dengan anggukan.


“Aku mau pulangin beberapa barang pemberian Rony. Besok boleh anterin aku? Tapi itu kalau kamu nggak piket” kataku.


“Besok, aku nggak piket. Jam berapa aku jemput” tanyanya.


“Besok jam 10, bisa?” tanyaku


“Aku pamit ya, udah malam. Aku juga harus istirahat” katanya


“Oke. Selamat malam” kataku.


“Sampai jumpa besok ya” katanya.


@@@@@@@@@@@@@@@


Adrian Pov


“Malam, bro” sapa Adrian.


“............”


“Besok, lo ngapain?” tanyanya.


“............”


‘Besok gantiin gue piket dong” pintanya.


“...........”

__ADS_1


“Gue ada urusan. Penting” katanya.


“.............”


“Oke, Makasih ya bro” kata Adrian menutup sambungan teleponnya.


Ting, ting, ting.


[Udah tidur?] tanya Anandita


[Nggak bisa tidur] jawab Adrian.


[Kenapa?] tanya An lagi.


[Mikirin kamu] jawab Adrian.


[ ☺ ] bales An.


[Tidur gih! Aku juga mau tidur] kata An.


[Oke. Selamat malam. Selamat tidur. Mimpi yang indah ya] kata Adrian.


[ 😴 ]] bales An.


‘Ya Tuhan. Apa aku benar – benar jatuh cinta sama dia? Tapi ada Tania. Apa aku salah? Tapi aku merasa teduh ketika melihat senyum tulusnya itu’ batin Adrian.


Drrrtt, drrrtt. Hp bergetar.


“Hallo” sapa Adrian.


“..........”


“Kamu nggak pernah bilang ke aku kalau itu syarat untuk menikah dengan kamu” kata Adrian.


“...........”


“Aku sayang sama kamu tapi bukan berarti aku harus memenuhi syarat seperti itu” jawab Adrian.


“..............”


“Nggak. Bukan maksudku seperti itu. Tepi terkesan seakan – akan keluargamu menjualmu kepadaku dan keluargaku” kata Adrian.


“..............”


“Kalau mas kawin, iya aku ngerti dan aku tahu. Bahkan aku dan orang tuaku bersedia kan memberinya dan juga menanggung semua biaya pernikan kita” kata Adrian.


“..............”

__ADS_1


“Sudahlah aku capek. Aku butuh istirahat. Besok aku ada urusan” kata Adrian kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


__ADS_2