
Jam 8 pagi, aku udah siap – siap ke puskesmas buat praktek.
Drrt, drrttt, drrrttt.
“Hallo” sapa yang diseberang.
“Hai” jawabku.
“Udah siap ya?” tanyanya.
“Ini lagi siap – siap” jawabku.
“Mau di anterin nggak?” tanyanya.
“Ya, ampun. Puskesmasnya, deket kok dari rumah” jawabku.
“Ntar siang, makan bareng ya? Aku jemput” ajaknya.
“Kayaknya nggak bisa deh. Aku ada perlu sama seseorang ntar makan siang” kataku.
“Lain kali ya” kataku
“Oke deh. Lain kali ya? Janji loh” katanya.
“Iya. Janji” jawabku.
“Jam berapa jalan?” tanyanya.
“Kalau kamu masih ngomong ya, berarti nggak pergi – pergi akunya” jawabku.
“Hahahahahahahaaaa” ketawanya membuat telingaku berdengung.
“Telingaku bisa pecah loh” kayaku.
“Maaf ya. Ya udah. Dadadadahhh” salamnya menutup telepon.
@@@@@@@@@@@@@@@
Pas jam makan siang tiba, aku nungguin sms dari Roni yang katanya mau ketemuan denganku. Tapi sampai jam makan siang selesai dia nggak dateng.
Jam 3 kurang, Hpku bergetar.
Drrrttt, ddrrrrtt.
“Hallo” sapanya.
“Hallo” jawabku.
“Maaf ya. Aku nggak bisa makan siang bareng kamu, Yank. Urusan di kantor baru aja selesai. Boleh nggak kita ketemuan sekarang?” tanyanya.
“Aku masih di puskesmas dan ini belum jam pulang. Masih ada setengah jam lagi” jawabku.
“Aku nungguin kamu ya?” tanyanya.
“Nggak usah” jawabku.
“Nggak aku nungguin kamu. Sekarang aku jalan ke tempat praktek kamu” katanya.
“Udah. Nggak usah. Nanti aku ke tempat ketemuan aja” kataku.
Setengah jam berlalu. Jam dinas puskesmas berakhir. Semua bergesas pulang.
“An” panggil salah satu bidan di puskesmas.
“Ya, Bidan” jawabku.
“Tuh, ada yang nungguin di depan” katanya.
“Pacar ya?” tanya Bidan.
“Ah, ya Bidan” jawabku.
“Duluan ya, Bidan” kataku.
__ADS_1
“Hati – hati ya” kata Bidan.
“Kan udah dibilangin nanti ketemu di tempat makan aja” kataku.
“Aku kangen liatin wajah kamu” kata Roni
‘Kangen? Bukannya punya yang lain?’ desis batinku.
“Aku pakaikan helmnya” katanya.
Aku pasrah aja dipakaikan helm sama dia.
Nggak ada ceritanya jalan sambil ngobrol dan peluk – peluk seperti biasa.
“Kamu kenapa, Yank?” tanyanya.
“Nggak” jawabku.
Sesampainya di mall, kita cari tempat makan yang biasanya kita datengin. Dan duduk agak pojokkan.
“Kenapa duduknya disini?” tanyaku.
“Aku pengen duduk sama kamu di tempat ini biar bisa puasin ngeliatin wajah kamu” katanya.
“Aku pesanankan makan dulu ya” kataku.
“Nggak. Biar aku aja” jawabnya.
Tanpa aku sadari Adrian sedari tadi ngikutin aku dan Roni.
“Kamu dimana?” pesan singkat yang masuk dari Adrian.
“Lagi sama temen” jawabku.
“Diana dan Joan?” tanyanya.
“Bukan” jawabku.
“Ya, udah. Nggak penting juga aku tahu. Kamu baik – baik aja kan?” katanya.
‘Nih orang bikin baper deh’ batinku.
“Sms’an sama siapa?” tanya Roni.
“Oh, sama kakak” jawabku.
“Kakak yang mana?” tanyanya.
“Emang ada berapa kakakku?” tanyaku.
“1” jawabnya.
“Ya, itu tahu” kataku.
“Ayo, makan dulu” ajaknya.
Dia mulai memakan makanannya sedangkan aku hanya minum air mineral.
“Kenapa hanya minum aja?” tanyanya
“Kamu pesannya nggak nanya – nanya” kataku.
“Kan itu kesukaanmu” katanya.
“Sejak kapan aku suka makan beginian?” tanyaku seketika membuat dia melongo.
“Baru sadar atau lagi mimpi atau pikirnya lagi sama pacar kamu yang diseberang?” tanyaku.
“Yank” ucapnya.
“Sambi kamu makan, dan aku dengerin apa yang ingin kamu katakan. Aku duluan yang ngomong” kataku
“Kamu mau ngomongin apa Yangk?” tanyanya.
__ADS_1
“Kita putus aja” kataku membuat dia menghentikan makannya sejenak memandangiku.
“Yank, kamu becanda kan?” tanyanya.
“Nggak” jawabku serius.
“Kamu liat aku becanda? Nggak kan?” tanyaku.
Dia menghentikan makannya dan menggenggam tanganku.
“Yank jangan main – main dong” katanya.
“Aku nggak lagi main – main. Aku seriusan. Sudah saatnya kita putus. Aku sudah malas dan capek berjuang sendiri dan mengorbankan waktu dan cintaku buat menunggu sesuatu yang nggak bakalan bisa disatuin” kataku.
“Kamu nggak mau nungguin aku lagi? Kamu punya pacar baru? Kamu udah ada yang gantiin aku?” tanya Roni.
“Nggak, nggak ada yang gantiin kamu. Kamu hanya ingin putus, aku capek, aku lelah, aku males, aku bosan jadi cewek yang setia dengan cintanya. Tapi cowok yang dicintainya yang nggak setia dan nggak pernah mikirin ceweknya” kataku.
“Maksud kamu?” tanya dia.
“Tanya diri kamu sendiri, kenapa sampe aku bisa berkata seperti ini” kataku.
“Yank. Aku nggak mau putus dari kamu” katanya.
“Tapi aku mau putus sama kamu” kataku.
“Aku nggak mau” katanya.
“Terus mau kamu kemanain dia yang di seberang?” tanyaku.
“Nggak. Aku hanya main – main saja sama dia” jawabnya.
“Main – main kamu bilang. Berarti kalau dia nanya tentang aku, pasti kamu jawab juga yang sama” kataku.
Nggak Yank, nggak” jawabnya.
“Sudah lah, Ron. Aku mau kita putus sekarang juga” kataku.
“Aku bilang nggak, ya nggak” jawabnya sedikit tinggi.
“Aku heran sama kamu. Dateng ke ambon ngurusin berkas – berkas buat nikah sama orang lain tapi malah nggak mau putus sama pacarnya” kataku.
“Sudahlah Ron. Hubungan kita sampai disini saja. Dan jangan pernah hubungi aku lagi. Selamat berbahgia dan menanti kelahiran anak kalian” kataku membuat Roni seketika berdiri mengejarku.
Adrian yang melihatku keluar dari tempat makan itu segera menyusulku.
“Kamu kenapa, An?” tanya Adrian.
Tanpa aku sadari, aku langsung memeluknya tanpa memperdulikan orang – orang yang sedang ramai di dalam mall.
“Tolong antarkan aku pulang” pintaku.
“Ayo” ajaknya.
“Kita naik mobil ya” katanya
“Hmmm” jawabku.
Sampai parkiran, dia langsung mengarahkanku masuk ke subuah mobil jeep toyota.
Dan tangiskupun pecah di dalam mobil.
“Menagislah jika itu bisa membuatmu tenang” katanya.
“Maafkan saya” kataku.
“Nggak papa, An” jawabnya.
Ketika hendak keluar dari pintu keluar parkiran. Kami melihat Roni yang keluar dengan wajah gelisah mencari – cari aku.
“Kamu mau turun menemui dia lagi?” tanya Adrian.
“Nggak. Aku mau pulang” jawabku.
__ADS_1
“Oke. Kita pulang” katanya.