
Perutku mulai nggak enak ditambah juga, urusan mami masih lama. Akhirnya aku ngirimin mami chat, kalau aku sudah ke hotelnya Om Anwar.
"An" suara orang memanggilku.
"Oh, kamu" kataku.
"Mau kemana?" tanya Adrian
"Aku mau ke hotelnya teman mami" jawabku.
"Sudah makan? Makan sama-sama yuk!" ajaknya.
"Aku harus buka kamar buat mami, sama pesan makanan. Lain kali aja ya, bisa kan" kataku.
"Oke baiklah" kata Adrian
*Aku jalan ya" kataku dan berlalu pergi.
Tanpa kami sadari, ada 2 mata yang melihat kami pada saat ngobrol tadi. Roni melihatku dan Adrian.
Sesampainya di hotel, aku disambut Om Anwar yang adalah sohib mami.
"Selamat datang princes Om" sapa Om Anwar.
"Hai, Om. An di suruh mami ke sini" kataku.
"Siap princes. Tinggal ikutin mbaknya ya, sayang" kata Om Anwar.
"Oke, Om. Sekalian sama makan siangnya kan Om" kataku.
"Ia, sayang" jawab Om Anwar.
__ADS_1
"An ke kamar ya, Om" kataku pamit.
Pintu kamar dibuka, dan mbaknya keluar. Aku mengunci kamar dan berjalan ke tempat tidur.
"Wow, makanannya lezat banget. An mau kirim fotonya ke mami dulu" kataku.
Dan foto pung dikirim ke mami.
"Makan aja, itu mami pesankan buat kamu. Kalau ngantuk, tidur aja. Ntar mami kabari papa dan mamamu" bales mami.
"Oke, mi" jawabku.
Aku makan dan langsung tertidur di tempat tidur. Kagetnya aku, mami sudah pulang dan lagi mandi.
"Sudah bangun non?" tanya mami.
"Kekenyangan mi" jawabku cengengesan.
"Ke mana, mi?" tanyaku
"Sana mandi. Mau kenalan sama temannya mami nggak?" tanya mami.
"Mau, mau, mau" Aku bangun dan langsung menuju kamar mandi.
"Mi, An nggak punya baju ganti" kataku lagi dari dalam kamar mandi.
"Mami sudah beli'in. Sekalian ********** juga nih" kata mami.
"Wah. Hanya ada 1 di dunia mami ku ini" kataku.
Celana jean sobek, kaos cewek plus flat shoes juga dalaman yang nggak nanggung harganya.
__ADS_1
"Ah, mami syurgaku" kataku.
"Sudah selesai?" tanya mami.
"Siap mi" jawabku.
"Motormu ditinggalkan aja di sini. Nanti Rasti bawa bawa pulang ke rumah. Tadi mami sudah kabari papa kamu" kata mami.
"Tinggalin aja itu. Nanti kita kembali lagi. Malam ini mami ada pertemuan di aula hotel ini" kata mami.
Aku keluar dari lift sambil menggandeng tangan mami. Ini menjadi kebiasaan ku dari kecil, selalu saja seperti ini.
"Dek" suara itu mengagetkanku.
"Ah, ia" kata mami.
"Om?" tanyaku.
"Hai anak kecil" sapa Om itu.
"Sudah? Kaget? Ini yang namanya kejutan" kata mami.
"Ih, mami. Ternyata ya. Pantesan papa sudah tahu. Kenapa sih, mi. Harusnya An yang tahu duluan" kataku sambil merengek.
Om Hendra lalu menggenggam tangan mami dan berkata "Gimana, sudah bisa jadi papi kamu kan?"
"Ih, kok bisa sih? Masih nggak percaya tahu" kataku lagi.
"Om nggak main-main kan? Kalau sampe mami nangis lagi, An akan mutilasi Om" kataku.
Om Hendra duduk di depan ku yang sudah terduduk di kursi hotel "Om janji dan ini adalah yang terakhir".
__ADS_1
"Om Hendra ini adalah anaknya Komandan papa dulu waktu masih bertugas di batalyon. Dan aku adalah anak kesayangan Opa dan Oma (papa dan mamanya Om Hendra)".