
Setelah acara makan sama mami dan om Hendra di tempat makan om Anwar. "Kita kemana lagi?" tanyaku
"An mau kemana?" tanya mami
"An lagi pengen ke mall yang belum sempat kita pergi saat waktu itu" kataku
"Siap Tuan Putri" kata om Hendra
Dari tempat makan, mobil di bawa om Hendra ke mall yang baru buka 3 minggu lalu. Sampai diparkiran "Om dan mami. An duluan turun ya. Ada yang mau An beli" kataku dan turun dari mobil
"An jangan lari" kata mami. "Ih, anak itu" kata mami lagi.
Sebelum masuk di dalam mall, aku sempet ke atm dulu ngecek saldo tabunganku. Karena aku lagi pengen beli sesuatu yang udah lama banget aku pengen. Dan tararaaaa, saldo atm ku masih cukuplah. Keluar dari atm, aku dikagetkan dengan tangan yang tiba-tiba menarikku.
"Eh, ada apa ini?" tanyaku. "Siapa kamu?" tanyaku lagi
"Maafkan aku ya" suara wanita itu.
"Ha, Jesica" kataku
"Ia, aku" kataku
"Kenapa?" tanyaku
"Aku, aku mau minta maaf sama kamu" kata Jesica terbata-bata. "Maafkan aku karena menjambak rambutmu dan maafkan aku karena penggalan video itu" katanya lagi
"Sudahlah, Jes. Aku udah lupa malah" kataku sambil mengelus bahunya. "Tapi aku benar-benar nggak ada hubungan apa-apa dengan Adrian, Jes. Kami hanya berteman dan kebetulan Adrian adalah ajudan om aku. Tepatnya calon suami dari tanteku" kataku lagi
"Semua memang kebodohanku, An. Aku nggak bisa menjaga yang seharusnya aku pertahankan dan sudah banyak kekecewaan yang dirasakan Adrian terhadapku" kata Jesica
"Sudahlah Jes. Kalau kamu butuh temah, aku siap kok dengar curhatan kamu" kataku
"Beneran An" kata Jesica dan kujawab anggukan
"Terima kasih, An" kata Jesica sambil meluk aku
"Kamu kesini dengan siapa, Jes?" tantaku
"Sendiri, An. Bosan dirumah. Daripada aku menangisi kebodohanku mendingan aku jalan-jalan" jawab Jesica. "Kamu sama siapa, An?" tanya Jes
"Aku bereng mami dan calon suaminya" jawabku
"Ya, udah. Aku mau jalan duluan ya. Terima kasih udah mau terima permintaan maafku" kata Jesica dan berlalu pergi. "Sampai jumpa lagi ya, An" kata Jesica
Aku langsung berbalik arah ke salah satu outlet yang ada di dalam mall tersebut. Dan barang aku inginkan ternyata masih bertengger di etalse outlet itu.
"Ada yang bisa kami bantu kakak?" tanya karyawan outlet
"Aku mau liat sepatu yang itu, kak" jawabku
"Yang warna cokelat atau maroon kak?" tanya karyawan itu
"Dua-duanya aja, kak. Biar aku bisa cocokin dulu" jawabku
Dua sepatu sama model beda warna itu langsung di ambil dari rak outletnya dan diberikan kepadaku. 'Cantik banget' batinku saat sepatunya mulai aku pake.
"Gimana kak, mau yang warna apa?" tanya karyawan itu
"Pengen duan-duanya, kak. Tapi mikir dulu, karena harganya selangit, kak. Maklum mahasiswa kak" jawabku nggak ada jaim-jaimnya membuat si kakaknya senyum-senyum
__ADS_1
"Ambil aja dua-duanya. Katanya nanti di bayarin" tiba-tiba suara mami terdengar
"HAh, mami" kataku. "Dua-duanya?" tanyaku dengan melotot
"Ia. Dua-duanya" jawab mami
"Mahal loh ini" kataku
"Mau nggak dibayarin?" tanya mami
"Beneran om?" tanyaku ke om Hendra
"Ia, sayang. Masa mami bo'ong" kata om Hendra
"Mbak, di bungkus ya dua-duanya" kata om Hendra ke karyawan outlet
"Mi itu harganya mahal loh. Sepasang aja udah 1juta lebih, mi" bisikku ke mami
"Nggak papa, An. Hitung-hitung om pelan-pelan lunasin janji om ke kamulah" kata om Hendra
"Jangan kayak gitulah om kan An malu. Belum juga om nikahin mami, belum juga belnjain mami malah belanjain An loh" kataku dengan wajah sendu
"Mami kamu sih, udah dibelanjain dari dulu sayang" kata
"INi pak, Terima kasih telah berbelanja di outlet kami" ucap sang kasir
"Sama-sama mbak. Mari" balas om Hendra. "Ini anggaplah hadia dari om dan mami" kata om hendra untukku
"Makasih ya, om" kataku
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
"Oh, itu. Jesica, mi" jawabku
"Jesica siapa?" tanya om Hendra
"Mantan tunangannya Adrian, om?" jawabku
"Eh, mantan? Darimana tahu kalau sudah jadi mantan?" tanya om Hendra
"Dari Jesica sendiri, om. Tadi pas dipuskesmas, ada tantenya Adrian juga yang bilang ke An" jawabku
"Berarti bisa pepet ni Adrian, Yang" kata mami
"Mami jangan ngaco deh omongannya" kataku
"Ngaco gimana? Lah kan, Adrian udah sendiri. Berati ada peluang dong buat kamu dan Adrian bersama menjalin hubungan kan, Yang" kata mami ke om
"Yang penting kalian berdua nggak punya hubungan dengan siapa-siapa dan kalian bisa menjaga diri itu yang lebih baik" kata om Hendra
"Om dan mami sayang. Untuk sekarang ini, An nggak lagi pengen menjalin hubungan dengan siapapun. Kali ini An lagi pengen fokus dengan kuliah dan masa depan An" kataku
"Tapi sama Adrian juga merupakan masa depan yang harus dipikirkan sayang" kata mami
"Mi" kataku. "An nggak mau memulai sebuah hubungan atas dasar keterpaksaan. An juga sedang berusaha untuk berubah" kataku lagi
"Berubah kenapa? Berubah untuk siapa?" tanya mami
"Ya, berubah untuk lebih baik lagi. Dan berubah untuk diri sendirilah yang penting, mami dan om" jawabku
__ADS_1
"Ya ampun. Ternyata anak mami ini sudah dewasa ya" kata mami
"Emangnya dari kemarin-kemarin itu Ane belum dewasa ya, Mi?" tanyaku
"Belum sayang bahkan sampe sekarngpun" kata mami sambil menahan tawanya
"An masih sama seperti dulu. Mau bertambah umur menjadi dewasa tapi bagi mami dan om, An masih tetap jadi anak kecil kesayangan kami" kata om Hendra
"Yang begini-ini, yang nggak bakalan jadi dewasa" kataku
"Tapi akhirnya mami tenang juga. Karena kamu nggak lagi sama si k*** k*pr*t itu" kata mami
"Yang, kenapa kata-katanya kok gitu?" kata om Hendra
"Ia. Sejak awal aku udah nggak suka sama dia, Yang" kata mami
"Emangnya kenapa sampai nggak suka sama dia?" tanya om Hendra
"Pokokya nggak suka aja, Yang" kata mami
"Ya, sudah" kata om Hendra
"Mami dendam sama dia, om" kataku tertawa. "Orangya udah bahagia, mi. Lagi ngurus surat-surat buat pengajuan nikah kantor tuh" kataku lagi
"Waaah, hebat dia" kata om Hendra
"Gimana nggak hebat, om. Ane yang pacaran sama dia hampir 3 tahun aja nggak diapa-apain sama dia. Eh, pindah tugas ke sana. Baru juga setengah tahun, anak orang udah hamil sama dia. Hebat kan om" kataku
"Oh, jadi berharap diapa-apain sama dia begitu ceritanya" kata mami
"Ih, apaan sih mami. Ane hanya bicara kek gitu aja, mami ngegas. Om awas remnya masih bagus kan?" tanyaku
"Tenang sayang. Mobilnya baru om servis kemari jadi aman" jawab om Hendra sambil senyum-senyum
"Apaan sih Yang" kata mami
"Lagian sekarang An udah nggak sama dia lagi. Jadi nggak usah sebel sama dia. Yang harus kita mikirin ini bagaimana kita" kata om Hendra
"Denger tu mami, apa kata om Hendra" kataku
"Bawel" kata mami
"Kita mau kemana lagi nih?" tanya om Hendra
"Terserah kamulah Yang" kata mami malas
"Loh kok gitu sih" kata om Hendra
"Om, anterin An pulang dulu. Biar om sama mami bisa jalan lagi" kataku
"Lah kok mau pulang sih?" tanya mami
"An cape mi. Besok ada kegiatan senam jantung sehat buat para lansia di puskesmas" kataku
"Ya, sudah. Kalau gitu om anterin pulang" kata om Hendra
"Makasih ya om sudah beliin An sepatu, dua lagi" kataku
"Nggak papa sayang" kata om. "Kan jarang-jarang om beliin An" kata om Hendra lagi
__ADS_1
Akhirnya sampe rumah juga. "makasih ya om, mami. Sampai jumpa besok ya. An masuk" kataku pamit dan keluar dari dalam mobil