DEALLOVE

DEALLOVE
10 | Darmajaya Vs Armandito


__ADS_3

Pagi itu, telepon di ruangan Dera berdering. Dera bergegas mengangkat gagang telepon itu dan kini ia tersambung dengan seseorang yang sedang bicara dari ruangannya.


"Halo..."


"Dera, jangan lupa tiga puluh menit lagi kita meeting ya!"


"Baik Pak."


Tiga puluh menit kemudian, Dera menuju ke ruang rapat. Di sana Nanda sudah bersiap dengan presentasi yang telah Dera selesaikan dua hari yang lalu. Dera heran, hanya Nanda yang berada di ruangan itu, lalu di mana klien penting Nanda yang dijadwalkan meeting dengannya hari ini.


"Permisi Pak."


"Ah Dera, masuk!"


"Pak? Klien Bapak belum dateng?"


"Iya, mungkin klien kita lagi kejebak macet. Kita tunggu lima belas menit lagi, kalo dia gak dateng juga baru kita coba hubungin lagi."


"Oh baik Pak."


"Astaga... Dera, saya boleh minta tolong sama kamu sekarang?"


"Ada apa Pak??"


"Kamu bisa kan ambilin dokumen di ruangan saya, ada di map warna biru tua. Kita butuh dokumen itu buat meeting kali ini, saya lupa bawa tadi. Bisa kan? Tolong ya Dera!"


"Baik Pak Nanda, sebentar saya ambilin dokumennya."


"Makasih yaa."


Dera beranjak ke ruangan Nanda untuk mengambil dokumen yang dimaksud Nanda tadi. Beberapa menit setelah Dera meninggalkan ruang rapat, klien Nanda datang.


"Selamat siang Pak Nanda! Maaf saya agak terlambat, macet parah tadi di jalanan."


"Siang Pak. Tidak apa-apa, saya mengerti. Silakan duduk Pak!"


"Terima kasih. Jadi bisa kita mulai sekarang?"


"Ya, kita bisa mulai dulu sambil menunggu sekretaris saya datang membawa beberapa dokumennya."


Mereka mulai berbincang terkait dengan kesepakatan bisnis mereka. Beberapa saat kemudian Dera datang.


"Permisi Pak..."


"Nah itu sekretaris saya datang Pak. Masuk aja Dera! Duduklah!"


Dera begitu terkejut melihat orang yang ada di hadapannya sekarang, klien Nanda. Ia benar-benar tak menyangka bahwa klien Nanda adalah orang yang sangat dikenalnya.


"Kamu??" klien Nanda membelalakkan mata ketika melihat gadis di hadapannya.


"Om Darma..."

__ADS_1


"Dera, Pak Darma, jadi kalian udah saling kenal?" Nanda menimpali.


"Jadi gadis ini sekretaris Anda?"


"Iya Pak. Apa ada sesuatu di antara Anda dan sekretaris saya?"


"Ah tidak Pak. Mari kita lanjutkan saja pembicaraan bisnis kita."


"Ehm, baiklah."


Mereka bertiga membicarakan kerja sama yang penting antara Armandito group dan Darmajaya group. Perusahaan Nanda memang cukup berpengaruh di kota itu, itulah sebabnya Pak Darma tak ingin melewatkan kesempatan besar untuk bekerja sama dengan Nanda untuk menaikkan provit perusahaannya.


"Baiklah, kita sepakat! Semua akan berjalan sesuai rencana awal yang telah kita atur." Nanda mengawali kesepakatan itu.


"Terima kasih Pak! Senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda. Apalagi perusahaan ini berjalan di bawah pimpinan seorang CEO muda yang berkompeten seperti Anda, Pak Nanda."


"Ah Pak Darma terlalu melebih-lebihkan. Anda tentunya lebih berpengalaman dibanding saya."


Ketika Dera meninggalkan ruang rapat dan menyisakan Nanda berdua saja dengan Pak Darma di sana, Pak Darma sempat menyinggung soal Dera.


"Ehm Pak Nanda, sejak kapan sekretaris Anda itu bekerja dengan Anda?"


"Ohh Dera, sudah cukup lama, mungkin hampir satu tahun."


"Setahu saya, gadis itu hanya lulusan SMA dan belum mengambil pendidikan tinggi apa pun. Seharusnya Anda bisa mendapat sekretaris yang jauh lebih baik dari dia."


"Pak Darma, menurut saya Dera cukup kompeten. Selama ini dia bahkan banyak membantu saya sehingga saya bisa dapat beberapa proyek yang besar. Meski dia cuma lulusan SMA, kemampuannya tidak perlu diragukan."


"Memang kenapa ya Pak? Maaf, kalau boleh saya tahu, Anda ada hubungan apa dengan sekretaris saya? Sepertinya Anda sudah sangat mengenal dia?"


"Tidak Pak, saya hanya sekedar tahu. Yang saya tahu, gadis menengah ke bawah seperti dia bisa saja memanfaatkan posisinya. Jangan sampai Anda tergoda dengan rayuannya dan memberikan segalanya kepada dia!"


Nanda tak percaya dengan perkataan Pak Darma. Selama ini bukan Dera yang merayu atau menggodanya, melainkan justru Nanda yang sering mendekati Dera dan berusaha mengejar cintanya hingga detik ini karena Nanda begitu tergila-gila pada Dera tanpa Dera perlu menggodanya sedikitpun.


"Maaf Pak, sepertinya pembicaraan kita sudah melebar ke mana-mana. Sebaiknya kita sudahi saja. Satu lagi Pak, saya harap Anda tidak menjelek-jelekkan sekretaris saya di depan saya lagi karena saya tidak suka. Dera sekretaris saya, jadi urusan Dera dengan saya bukan dengan Anda."


"Baik Pak Nanda saya permisi!"


Nanda begitu tak terima mendengar seseorang menjelek-jelekkan gadisnya, yang sangat dicintainya.


•••


Nanda menghampiri Dera yang terlihat sedang menghapus air matanya. Kini hanya ada mereka berdua di taman halaman belakang kantor.


"Dera..."


"Emm Pak Nanda, iya ada apa Pak? Bapak perlu sesuatu?"


"Gak Dera. Saya cuma butuh jawaban kamu sekarang."


"Jawaban? Maksud Pak Nanda?"

__ADS_1


"Apa yang buat kamu sedih sekarang?"


"Pak, saya gapapa kok."


"Please Dera, kali ini saya tanya bukan sebagai bos kamu, tapi sebagai temen kamu. Sekarang kamu bisa cerita apa pun ke saya."


"..."


"Dera, tadi saya liat kamu bicara berdua sama Pak Darma. Apa yang kalian omongin? Apa dia yang buat kamu sedih?"


"..."


"Kamu gak denger pertanyaan saya Dera?"


"Denger kok Pak."


"Terus kenapa gak jawab?"


"Saya rasa itu gak penting buat Pak Nanda. Jadi saya gak perlu jawab semua itu."


"Siapa Pak Darma? Kamu ada hubungan apa sama dia? Jawab saya Dera!!" Nanda sedikit menaikkan nada bicaranya, ia kini menggenggam tangan Dera.


"Oke kalo Pak Nanda mau tau, Pak Darma itu ayahnya Al, pacar saya."


"Dan dia gak restu-in hubungan kamu sama anaknya itu??"


"Iya, tebakan Pak Nanda bener."


"Itu sebabnya dia gak suka sama kamu, bahkan dia sempet jelek-jelekin kamu di hadapan saya."


"Saya gak tau Om Darma ngomong apa aja ke Bapak, tapi kalo itu jadi buat Pak Nanda terganggu dan jadiin kerja sama itu berantakan, lebih baik saya mundur, saya gak akan ikut campur perihal kesepakatan Bapak sama Om Darma. Kalo pun Pak Nanda mau pecat saya, saya ikhlas Pak."


"Hei, kamu ngomong apa sih? Siapa yang mau pecat kamu?"


"..."


"Dera, alasan Pak Darma gak suka kamu pacaran sama Al itu apa?"


"Kenapa Pak Nanda tanyain hal yang udah cukup jelas? Saya sama Al, status sosial kami beda."


"Cuma karena itu?"


"Yaa. Buat Pak Darma itu hal yang penting."


"Kalo gitu buat apa kamu bertahan sama Al? Kamu cuma akan makin sakit karena perlakuan keluarganya."


"Saya sama Al masih saling sayang Pak."


"Dera jujur saya gak suka liat kamu sedih. Saya gak suka denger ada yang jelek-jelekin sekretaris saya kayak gitu."


"..."

__ADS_1


"Saya tau itu bukan hak saya karena ini urusan kamu sama keluarga pacar kamu. Tapi karena dia udah buat sekretaris saya sedih, saya akan kasih pelajaran ke dia. Darmajaya group bisa saya hancurkan cuma dengan satu petikan jari saya."


__ADS_2