
Nanda menghentikan mobil tepat di depan apartement-nya. Apartement yang sudah dikunjungi Dera berkali-kali karena Nanda sering mengajaknya ke sana.
"Nan, kamu ngapain ajak aku ke sini? Harusnya aku pulang sekarang."
"Dera.. Kamu di sini dulu ya, sebentar aja, Sayang. Setelah kamu lebih tenang, baru aku anter kamu pulang. Aku gak mau bawa kamu pulang dalam keadaan begini. Nanti disangkanya ayah ibu kamu, aku yang ngapa-ngapain kamu."
"Aku udah gapapa Nan. Aku pulang aja. Ayah ibu aku gak akan mikir macem-macem ke kamu kok. Aku janji, jadi--"
"Ssstt! Stop Dera! Tolong, jangan bantah aku sekarang ya. Anggep aja ini perintah CEO kamu."
"Ini udah bukan jam kerja, Nanda. Kamu gak bisa--"
"Eitss. Kamu jangan lupa, Ra. Di sini aku bosnya, jadi jam kerja kamu cuma aku yang bisa nentuin."
"..."
"Udah, yuk masuk!!"
Dera diajak Nanda masuk ke apartement. Mau menolak sekeras apa pun, tetap saja Dera tak akan mudah mendebat kemauan Nanda. Apalagi jika Nanda sudah membawa-bawa soal status jabatan bos dan sekretaris.
"Dera, kamu duduk dulu ya Sayang. Aku ke belakang sebentar."
Dera mengangguk lalu mengambil posisi duduk di sofa panjang berwarna krem milik Nanda. Terduduk sendiri membuat Dera kembali melamun dan memikirkan acara yang baru saja ia hadiri--pertunangan Al.
Tanpa sadar tetes air mata mengalir lagi di pipi Dera. Segera setelah itu, isakan Dera terdengar, makin lama makin kencang.
Dera sungguh tak kuasa menyembunyikan rasa sakitnya akibat ditinggal tunangan oleh pria yang pernah ia cintai yang mungkin bahkan hingga kini masih dicintainya.
Nanda kembali dari dapur, setelah melepas jasnya dan melipat lengan kemejanya hingga sesiku, Nanda dengan lihai membuat kopi untuk Dera dan dirinya sendiri.
Begitu ia membawa dua cangkir kopi itu ke tempat Dera saat ini, Nanda pun melihat wajah gadis yang amat dicintainya lagi-lagi berhiaskan tangis.
Nanda meletakkan kopi di atas meja, lalu ia duduk di samping Dera.
"Ra.. Kok nangis lagi?" Nanda mengulurkan tangannya, mencoba menghapus air mata Dera.
"Mm-maaf Nan."
"Sstt.. Udah Sayang, mau sampe kapan kamu nangis begini? Air mata kamu terlalu berharga buat nangisin cowok macem dia."
"..."
"Dera.. Dia udah buktiin ke kamu seberapa besar rasa sayang dan perjuangannya buat kamu, kamu liat, ternyata gak ada apa-apanya kan? Dia udah ngelupain kamu dan mulai hidup barunya. Jadi kamu harus bisa lakuin hal yang sama. Lupain dia, Sayang!"
Nanda menarik Dera ke dekapannya. Di dekapan Nanda, tangis Dera justru makin kencang.
"Oke, kalo kamu masih pengin nangis, keluarin semuanya sekarang. Kalo ini bisa buat kamu lega, kamu bisa nangis sepuas kamu. Tapi, setelah ini kamu harus coba terima kenyataan dan lupain air mata ini ya!" ucap Nanda sambil mengusap lembut punggung Dera.
"Kenapa? Hehh.. Hehh.. Kenapa rasanya sesakit ini Nanda?" ungkap Dera di tengah tangisnya.
"Aku ngerti Sayang. Ini karena kamu masih sia-siain perasaan kamu buat dia. Gak seharusnya kamu peduli lagi sama urusan hidupnya kan? Kamu tau Ra, ini sama dengan yang aku rasain saat liat kamu berdua sama dia, kamu masih mikirin dia bahkan setelah hubungan kalian berakhir, apa yang aku rasain? Sakit.. Sesakit perasaan kamu sekarang, bahkan mungkin lebih dari itu."
Dera melepaskan pelukan Nanda.
"Sayang??"
"Ma-af.. Aku.. Aku tau Nan, selama ini aku udah nyakitin kamu dan gak pernah bisa turutin permintaan kamu. Bukannya aku gak mau ngertiin perasaan kamu, Nanda. Tapi-tapi aku juga bingung sama diri aku, kenapa aku sampe detik ini belum bisa cinta sama kamu seperti kamu mencintai aku?? Maaf Nanda, maafin aku.." jelas Dera tanpa meninggalkan isaknya.
"Udahlah Ra, aku paham kok. Ini bener-bener gak mudah buat kamu. Aku masih sanggup nunggu kamu, Sayang. Aku cuma gak mau aja liat kamu begini. Rasanya sakit banget Dera, di saat aku harus liat air mata kamu buat pria lain."
Perlahan Dera mulai agak tenang. Nanda pun meraih secangkir kopi yang sedari tadi terletak di atas meja. Ia menyodorkan kopi yang masih hangat itu pada Dera.
"Ehm, Sayang. Aku udah buatin kopi buat kamu. Espresso.. Aromanya mungkin bisa buat kamu lebih tenang. Diminum ya. Ini udah gak begitu panas kok."
"Makasih Nan."
"It's okay, Ra."
Dera mulai menyeruput kopinya pelan-pelan setelah cukup lama menghirup aromanya dalam-dalam.
"Gimana Sayang?"
"Hah? Ehm, ini enak kok Nan."
"Kamu lebih tenang sekarang?"
Dera mengangguk.
Nanda pun ikut menyeruput kopinya. Setelah itu, ia kembali merangkul sekretarisnya.
"Jangan sedih lagi ya! Manis wajah kamu jadi berkurang kalo keliatan sedih gitu. Aku cuma mau liat senyuman kamu, Sayang."
"..."
"Loh, ayo dong! Show me your sweetest smile."
Dera memaksakan satu senyuman untuk Nanda.
"Gitu dong. Tapi akan lebih baik kalo senyumnya gak kepaksa gitu. Yaa?" ucap Nanda lalu mengecup puncak kepala Dera.
"Nan--"
"Dera.. Kamu pasti capek kan? Kamu bisa istirahat dulu di sini. Ayo, aku anter ke kamar aku yuk!"
Dera tak berkata apa pun, Nanda merangkul bahu Dera dan mereka pun masuk ke kamar Nanda.
Nanda mendudukan Dera di ranjangnya. Ia menatap sekretaris kesayangannya dalam-dalam. Seakan sudah jadi gerakan refleks, tangan Nanda bergerak naik turun mengusap samping kepala dan pipi Dera.
"Kamu bisa istirahat dulu, Sayang! Aku tau kamu pasti capek habis kuras air mata cukup lama."
"Nanda aku--"
"Cukup Ra, sekarang kamu istirahat aja. Kita bisa lanjutin pembicaraan kita kapan aja kan?"
Dera terdiam. Kini ia beradu pandang dengan Nanda. Pandangan Dera seakan seperti magnet yang mampu menarik keinginan Nanda. Nanda makin mendekati wajah Dera. Hingga mereka pun tak sadar kapan bibir mereka sudah menyatu. Ciuman itu makin dalam, Nanda menekan belakang kepala Dera agar Dera lebih mendekat padanya dan sulit melepaskan diri dari Nanda. Sementara Dera hanya meremas kemeja Nanda.
Seiring ciumannya, Nanda menggiring Dera hingga menjatuhkan badannya di ranjang. Kini mereka terbaring dengan posisi Nanda menindih Dera tanpa sedikitpun memberi celah Dera untuk lepas dari ciumannya.
Mungkin Nanda benar-benar bisa melewati batasnya hari ini kalau saja Dera tak berusaha mendorong tubuh Nanda sekuat tenaga hingga Nanda cukup menjauh dan terpental ke sisi lain ranjang yang kosong.
Dera segera kembali duduk dan sedikit merapikan pakaian serta tatanan rambutnya. Nanda pun bangun dari posisinya, ia ikut terduduk di samping Dera, memasang raut penyesalan.
__ADS_1
"Ra, maaf Sayang.."
"Kamu harus belajar kendaliin diri kamu, Nan!"
"Iya. Aku minta maaf, Sayang."
"Tolong anter aku pulang sekarang, Nanda. Aku udah gapapa. Aku mau pulang aja."
"Dera.. Kamu-kamu nginep di sini aja. Biar aku telepon ayah ibu kamu. Mereka pun pasti ngizinin kamu di sini malem ini. Aku akan kasih tau mereka kalo kamu nginep di apartement aku."
"Jangan Nanda! Gak! Aku cuma mau pulang, sekarang." Dera merebut ponsel di tangan Nanda yang akan digunakannya untuk menghubungi orang tua Dera.
"Oke Sayang. Aku akan anter kamu pulang."
.
Mereka sudah sampai di depan pintu rumah Dera. Dari dalam keluarlah ibunda Dera.
"Eh Dera udah pulang kamu, Nak. Nak Nanda," tukas ibu Dera.
"Malem Tante. Maaf ya Tante, Dera kemaleman saya anter pulangnya."
"Gapapa Nak Nanda. Kalo perginya sama Nak Nanda, ibu gak khawatir sama Dera. Nak, ayo masuk dulu, nanti biar ibu bikinkan minum."
"Eh gak usah, Tante. Ini udah malem, saya langsung pamit pulang aja. Lagi pula Dera pasti butuh istirahat."
"Ya udah terserah Nak Nanda aja. Hati-hati pulangnya ya Nak."
"Iya Tante."
Begitu Dera dan ibunya beranjak masuk rumah, Nanda kembali memanggil Dera. Langkah Dera pun terhenti, sementara ibunda Dera tetap masuk dan membiarkan Dera bicara berdua dengan Nanda.
"Apa lagi Nanda?"
Nanda menarik Dera dalam pelukannya.
"Nan--"
"Semoga hati kamu cepet sembuh ya. Semoga Tuhan juga bisa mempertajam pandangan kamu biar kamu segera bisa liat sebesar apa cinta aku."
"Nanda, kamu--"
"Ssstt! Take your time! Kamu pasti butuh waktu buat tenangin diri kamu kan? Besok gak usah ke kantor dulu ya. Aku kasih kamu waktu cuti satu hari."
"Tapi Nanda--"
"Aku masih bisa handle semuanya Sayang. Jangan mikirin soal kerjaan dulu. Oke?"
Nanda melepas pelukannya. Ia pun mengacak rambut Dera.
"Aku pulang ya. Good night, dear! Have a nice dream."
---
Dera terbangun dari tidurnya semalam. Ia pun begitu kalang kabut, tergesa-gesa untuk bersiap ke kantor. Ini tak biasanya, Dera bangun tidur kesiangan. Padahal Dera sudah terbiasa bangun pagi-pagi.
Melihat waktu yang ditunjukkan jam dinding di kamarnya saat ini, Dera tahu bahwa sekarang sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor. Namun, baginya lebih baik ia terlambat daripada tak pergi sama sekali.
Dera pergi ke kantor naik taksi. Karena merasa sudah sangat terlambat, Dera berjalan masuk kantor terburu-buru. Akhirnya ia menabrak seseorang.
"Ma-maaf Pak!" ucap Dera pada pria yang ditabraknya sampai seluruh berkas yang dibawa pria itu berserakan di lantai.
Dera ikut membantu memunguti berkas-berkas itu.
"Sekali lagi saya minta maaf Pak," ucap Dera lagi.
"Iya Mbak, saya juga minta maaf ya, ini juga salah saya karena gak hati-hati."
"Gak kok Pak. Saya yang salah karena buru-buru jadi gak fokus liat jalan."
"Iya gapapa Mbak, saya permisi dulu."
Pegawai yang ditabrak Dera tadi pun keluar dari kantor. Segeralah Dera berbalik ingin beranjak ke ruangannya. Baru saja berputar seratus delapan puluh derajat, Dera kembali menabrak seseorang. Namun, berbeda dari yang tadi, orang yang ditabrak Dera kali ini justru menarik pinggang Dera hingga jarak mereka berdua makin dekat.
"Ada apa ini?"
"Maaf, tadi aku nabrak pegawai lain karena buru-buru. Aku tau aku udah telat dua jam, jadi--ehm.. Maaf aku--"
"Bukan soal itu. Tapi soal kenapa kamu ada di sini sekarang? Aku udah bilang sama kamu kan, kamu lupa apa yang aku bilang semalem?"
"E-ehh Nan, aku-aku. Aku gak perlu cuti, aku udah gapapa. Aku bisa kerja kok hari ini."
"Jadi kamu beneran gak mau dengerin aku??"
"Nanda tolong, aku gak bisa di rumah aja. Kalo kamu biarin aku cuma di rumah gak ngapa-ngapain, aku malah jadi terus inget sama--"
"Husstt! Oke, kalo itu mau kamu, kamu boleh kerja hari ini. Tapi aku gak maksa kamu, Sayang. Lakuin apa yang kamu mau di sini."
"Makasih Nanda."
"Anything for you, my dear!"
"Aku ke ruangan dulu ya!"
Nanda mengangguk dan membiarkan Dera pergi ke ruangannya.
.
Dera berusaha fokus dengan dokumen-dokumen di atas mejanya. Namun, begitu sulit ia berkonsentrasi. Hingga dering ponselnya berbunyi.
"Ngapain kamu hubungin aku lagi? Setelah semuanya yang terjadi, kamu harusnya bisa jaga perasaan tunangan kamu. Tolong, jangan ganggu aku lagi!!"
"Sayang, kamu tau kalo ini bukan keinginan aku kan? Dera.. Aku gak ada apa-apa sama Natasya."
"Gak ada apa-apa? Tapi kamu udah tunangan sama dia, Al!"
"Ini-ini cuma karena orang tua kami. Kamu pernah denger sendiri dari Natasya kan? Dia juga gak terima perjodohan ini. Aku sama dia lagi berusaha cari cara buat gagalin perjodohan ini. Aku mohon, tunggu aku ya Sayang!"
"Cukup Al! Kita udah berakhir. Al, tolong biarin aku mulai hidup baru seperti apa yang kamu lakuin."
"Dera, Sayangku.. Kamu masih gak percaya sama aku? Aku udah bilang kan, pertunangan ini gak ada artinya buat aku. Lagi pula ini cuma pertunangan, aku janji gak akan ada pernikahan aku selain sama kamu. Aku cuma akan menikahi kamu. Karena kamu satu-satunya wanita yang aku cinta lebih dari apa pun."
__ADS_1
"Berhenti Al!"
"Ra, kita harus ketemu. Aku mau kita bicara empat mata, berdua, dari hati ke hati. Aku akan jelasin semuanya secara detail ke kamu. Temuin aku di tempat kencan pertama kita, Sayang! Kamu masih inget kan?"
"Gak. Aku gak mau."
"Kalo gitu, biar aku yang nemuin kamu. Kamu pasti sekarang ada di kantor kan? Aku ke kantor Nanda sekarang."
"Jangan! Jangan pernah kamu berani dateng ke sini."
"Tapi kita harus ketemu, Sayang. Aku juga rindu sama kamu, Dera-ku."
"Aku gak mau liat kamu lagi Al! Stop!! Jangan hubungin aku lagi!"
"Tapi aku sayang kamu, Dera."
"CUKUP AL! CUKUP!!"
Dera mematikan ponselnya, membantingnya ke sofa ruangan. Ia terkulai lemas di lantai sambil terus menangis dan berteriak.
"AAAAHHHH! AKU BENCI KAMU, AL! Kamu-kamu bohong. Buat apa selama ini kamu yakinin aku buat tetep bertahan di sisi kamu? Bersikeras gak mau hubungan kita berakhir? Tapi kamu justru udah mulai hidup baru kamu sama wanita pilihan orang tua kamu! Apa artinya kata-kata cinta kamu itu Al? APA??"
Nanda yang sedari tadi hanya menyaksikan pembicaraan Dera di telepon lewat depan jendela ruangan kini bergegas masuk dan meraih tubuh Dera yang terkulai.
"Dera.. Are you okay? Kenapa kamu begini? Siapa yang telepon kamu barusan? Hm?"
"D-dia. Dia hubungin aku lagi, hahh hah." ucap Dera terisak.
"Al? Aku akan kasih pelajaran ke dia. Aku akan temuin dia sekarang."
Dera mencegah Nanda yang hampir beranjak keluar dengan menahan tangan Nanda.
"Nanda gak usah. Tolong, jangan temuin dia!"
"Sayang.."
"Tolong, aku mohon."
Nanda kembali berjongkok.
"Oke, terserah kamu. Sekarang kamu bangun dulu, jangan duduk di sini ya."
Nanda mendudukan Dera di sofa.
"Aku gak akan biarin siapa pun nyakitin kamu lagi, Sayang. Termasuk pria bajingan itu!"
"Nanda--"
"Sssttt! Tenanglah Sayang!" Nanda memeluk erat Dera.
Dera mulai tenang di pelukan Nanda. Cukup lama tubuh mereka bertaut. Sepertinya Nanda mulai ahli membuat Dera nyaman.
"Ehm, Dera Sayang, aku masih mau nemenin kamu, tapi sepuluh menit lagi aku ada meeting."
Dera melepaskan pelukan Nanda.
"Maaf Nanda."
"Kamu udah gapapa kan?"
Dera mengangguk.
"Aku.. Aku harus nemenin kamu meeting kan?"
"Ehh gak usah Sayang. Kali ini biar aku aja yang handle semuanya. Kamu tenangin diri dulu. Gapapa kan kalo aku tinggal sebentar? Kamu di sini aja, jangan ke mana-mana. Aku janji gak akan lama. Setelah selesai meeting, aku akan ajak kamu jalan-jalan. Biar kamu bisa lupain semua masalah kamu."
Nanda meninggalkan Dera sendiri di ruangan.
...
Selesai meeting, Nanda kembali ke ruangan Dera. Namun, ia terkejut karena mendapati ruangan yang kosong. Ketika ia mencoba menghubungi Dera, ternyata ponsel Dera masih tergeletak di sofa. Nanda bingung, di mana Dera sekarang?
Nanda mencoba keluar, bertanya pada tiap pegawai yang ditemuinya adakah yang melihat Dera atau tahu Dera kini di mana. Namun, tak ada satu pun jawaban memuaskan yang didapat Nanda.
Sampai ketika ada salah satu pegawai wanita yang menghampirinya.
"Maaf Pak, saya--"
"Ada apa? Oh ya, kamu liat Dera gak?"
"Justru itu Pak. Dera--"
"Dera di mana sekarang?"
"Dera di toilet, Pak. Dan saya rasa Dera butuh Bapak sekarang."
"Memang apa yang terjadi? Dera kenapa?"
"Ehm Dera--"
Dengan penuh kepanikan, Nanda bergegas berlari ke toilet. Sesampai di sana, ia mendapati kerumunan pegawai wanita.
"Maaf, permisi." ucap Nanda.
Setelah beberapa pegawai menyingkir dan memberi Nanda akses jalan, Nanda terperanga melihat pemandangan di depannya. Terlihat Dera tak berdaya, terduduk di lantai dengan kesakitannya.
Nanda langsung mendekati Dera. Sementara pegawai lain memilih bubar.
"Dera.. Dera, Sayang.. Are you okay? Hey kamu kenapa?"
Tak ada jawaban dari Dera. Dera masih berurai air mata sambil meringis kesakitan. Mungkin untuk bicara saja saat ini ia sudah tak sanggup.
"Ra.. Kenapa Sayang? Ka-kamu sakit? Apa-apanya yang sakit Sayang? Hm?" tanya Nanda lagi.
Nanda sudah membawa Dera dalam dekapannya. Ia terus mencoba bertanya perihal apa yang terjadi pada Dera.
"Na-Nan.. Ss-sakit!" ungkap Dera sambil meremas perutnya.
"Oke, kita ke rumah sakit ya. Kamu tenang dulu. Aku janji semua akan baik-baik aja. Kamu tahan dulu ya."
Nanda berusaha berdiri dengan membopong Dera. Namun, saat itu Dera malah tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sa-Sayang? Kamu--Dera.. Bangun Sayang!! Ra, kamu masih denger aku kan? Sayang, buka mata kamu! DERAAA!!" Nanda makin panik melihat Dera pingsan. Ia segera bangun, berlari keluar kantor sambil membopong Dera.