
Mobil Nanda berhenti di depan sebuah bangunan tinggi menjulang yang cukup mewah. Nanda menarik paksa tangan Dera. Mereka menaiki lift hingga tiba di lantai dua puluh. Nanda kembali memaksa Dera untuk masuk ke dalam suatu kamar yang diperkirakan Dera sebagai kamar apartement Nanda.
Apartement itu cukup mewah, tentunya harga untuk tinggal di sana sangat fantastis. Namun, Dera tak heran. Melihat tampak apartement itu sudah cocok bagi seorang CEO seperti Nanda, harga pasti tak jadi masalah untuknya.
Karena terpesona dengan keindahan apartement itu, Dera sampai lupa memikirkan nasibnya sendiri sekarang. Pertanyaannya belum terjawab dari tadi. Untuk apa Nanda membawanya ke sana, apa yang akan Nanda perbuat kali ini. Dera hanya tahu saat ini Nanda begitu emosi karena kesalahan kecil Dera, Dera telah salah menyebut Nanda dengan nama Al.
"Pak Nanda... Ke-kenapa kita ke sini? Harusnya kita kembali ke kantor kan?" Dera mencoba memberanikan diri membuka suara.
Tak ada jawaban dari Nanda. Nanda hanya menatap Dera dengan tatapan tajam. Dera sendiri makin gugup dan ketakutan. Tapi ia memberanikan diri untuk mulai bertanya lagi.
"Pak Nanda, kenapa ajak saya ke sini? Saya--" belum selesai Dera berbicara, Nanda menempelkan jari telunjuknya di bibir Dera.
"Sstt, kenapa Sayang? Kamu takut sama saya?"
"Pak..."
"Panggil nama saya, Dera Sayang!"
"Nanda. Oke, saya minta maaf. Saya tau kamu marah karena tadi saya salah sebut nama kamu. Tapi saya beneran gak sengaja."
"Hmm, good girl! Jadi kamu udah tau kesalahan kamu. Saya gak perlu jelasin apa pun sekarang."
"Saya mohon, maafin saya Pak-eh Nanda..."
__ADS_1
"Maafin kamu ya?? Ehm gimana ya?" Nanda tampak berpikir kemudian ia terus mendekat pada Dera, berusaha mengikis jarak di antara mereka.
Dera yang makin gugup terus melangkah mundur hingga ia terhenti, tubuhnya menabrak tembok. Nanda tetap makin mendekat. Tubuh mereka kini sudah menempel. Nanda mengurung tubuh Dera dengan kedua tangannya.
"Nan kamu mau apa?"
"Gapapa Sayang!" Nanda menggunakan satu tangannya untuk mengelus lembut pipi Dera.
"Kamu tau Sayang? Saya bener-bener gak suka kamu sebut saya dengan nama itu. Itu tandanya kamu belum bisa lupain dia? Apa saya bener?"
"Nanda saya tau saya salah, tapi saya kan udah minta maaf."
"Tapi kamu telanjur lukain hati saya Dera."
"Hmm. I see... Saya gak akan perpanjang masalah ini, tapi kamu harus janji gak akan lakuin kesalahan itu lagi dan kamu harus lupain lelaki bernama Al itu. Kamu bisa janji sama saya?"
"I... Iya saya janji. Saya janji Nanda."
"Good!! Saya harap kamu bisa tepatin janji dan kesepakatan kita tempo hari. Kalo gak, jangan salahin saya lagi kalo Darmajaya group--"
"Nanda please, saya kan udah janji. Kamu juga udah janji gak akan ganggu perusahaan Pak Darma lagi kan?"
"Itu semua tergantung kamu Sayang."
__ADS_1
"Saya mohon Nanda!" Dera mulai meneteskan air matanya.
"Hei Sayang! Sstt.. Kenapa kamu nangis? Saya bahkan gak terlalu kasar sama kamu kan? Husstt! Oke, saya maafin kamu kok. Dan saya akan tetep tepatin janji saya. Kamu jangan sedih lagi ya Dera! Saya sayang kamu." Nanda mencoba menghapus air mata Dera.
Mereka tertahan dengan posisi seperti itu. Hingga akhirnya Nanda mencuri kesempatan untuk merasakan manisnya bibir Dera. Perlahan Nanda mulai mendekatkan bibirnya ke arah bibir Dera hingga mereka benar-benar berciuman.
Dera tak kuasa melepaskan diri dari Nanda. Ia hanya bisa memejamkan mata mencoba menerima dan merasakannya. Dera meremas kemeja yang dikenakan Nanda.
Dengan posisi yang masih lemas, Nanda melepaskan ciumannya dan membopong Dera. Nanda kemudian meletakkan tubuh Dera di ranjangnya. Ia mulai mendekati Dera lagi, berusaha memeluk tubuh Dera yang sedang terbaring.
Namun, dengan sekuat tenaga Dera mendorong tubuh Nanda hingga Nanda sedikit menjauh darinya. Dera bangun dan mencoba menghindari Nanda. Nanda menghampiri Dera yang tampak ketakutan lebih dari sebelumnya.
"Nanda berhenti atau saya teriak!"
"Sayang!!"
Nanda terus mendekat hingga akhirnya ia bisa mencapai tubuh Dera. Nanda langsung memeluk Dera erat.
"Lepasin saya Nanda! Tolong... Saya mohon."
"Maafin saya Sayang, saya gak akan coba lakuin hal itu lagi. Saya gak akan macem-macem sama kamu kecuali kamu juga mau lakuin itu sama saya. Saya minta maaf Dera. Jangan takut lagi Sayang!"
Mendengar permintaan maaf Nanda, Dera hanya bisa pasrah dengan pelukan Nanda sekarang.
__ADS_1