DEALLOVE

DEALLOVE
31 | Perkara Ponsel dan Melupa


__ADS_3

"Tapi Nanda--"


"Sstt! Cukup. Udah cukup, Ra. Aku gak mau denger apa pun lagi. Sekarang kamu istirahat dulu ya. Aku keluar sebentar ketemu dokter, sekalian aku tanyain kapan kamu bisa pulang."


Nanda keluar dari ruang rawat Dera dengan perasaan campur aduk. Ia terduduk lesu di kursi tunggu.


"Kenapa Dera? Kamu gak bisa pahamin rasa aku sedikit aja? Aku sayang sama kamu. Kenapa kamu berniat akhirin semua di antara kita? Apa yang harus aku lakuin buat kamu biar tetep bertahan di sisi aku? Sesulit itu kah buat kamu?" Nanda mengoceh sendiri.


Setelah Nanda menemui dokter, Dera akhirnya diperbolehkan pulang. Nanda pun mengantarkan Dera ke rumah. Meski Dera bersikeras untuk kembali ke kantor, Nanda tak mempedulikan keinginan Dera. Nanda hanya ingin hari ini Dera bisa beristirahat total tanpa memikirkan pekerjaan.


Sesampai di rumah Dera, Nanda menjelaskan semuanya pada orang tua Dera. Setelah itu, Nanda langsung pamit dan meminta Dera istirahat.


"Dera, aku pamit ya. Kamu pokoknya harus istirahat, jangan mikirin apa pun. Oke?"


Dera mengangguk pelan.


Nanda mengendarai mobil menuju kantor. Meski sudah hampir malam, Nanda masih enggan kembali ke apartement-nya. Ia memilih melanjutkan pekerjaannya di kantor.


Baru saja ia sampai di tempat parkir kantor, Nanda menyadari ponsel Dera masih ada padanya begitu merogoh saku jasnya. Ia ingat, tadi sewaktu mencari Dera di ruangan kantor, Nanda menemukan ponsel Dera tertinggal di sofa dan ia pun menaruhnya di saku jas.


"Astaga. Dera pasti bingung cari ponselnya sekarang," gumam Nanda.


Nanda berniat untuk kembali ke rumah Dera dan mengembalikan ponsel Dera. Namun, entah mengapa sebelum itu dirinya tergerak untuk memeriksa ponsel itu karena kebetulan tidak di-password.


"Eh, gak di-password. Apa aku--ahh tapi ini privasi Dera kan? Ehm, tapi kayaknya gak ada salahnya." ucap Nanda.


Nanda mulai kepo dengan ponsel Dera. Saat ia memeriksa bagian kontak, Nanda lega dapat memastikan Dera sudah tak menyimpan nomor Al, tetapi ia agak kecut begitu melihat nomornya tersimpan di kontak ponsel itu dengan nama 'Pak Nanda - CEO'. Padahal di ponsel Nanda, nomor Dera dinamainya 'Nyonya Dera Armandito'. Terlihat bertolak belakang dan kesannya Dera memang masih menganggap Nanda hanya sebatas bosnya, CEO di perusahaan tempatnya bekerja.


Nanda mencoba tak mempermasalahkan hal itu. Ia berpikir mungkin Dera tak sempat menggantinya dan lagi pula itu bukanlah hal penting. Nanda pun tergerak memeriksa galeri foto di ponsel itu. Ia begitu terkejut ketika melihat beberapa potret Dera bersama Al masih ada di sana. Dera belum sempat menghapusnya atau memang tak ingin menghapusnya?


Nanda merasa sedikit sesak karena hal itu.


"Dera.. Kenapa? Kamu bisa bilang kamu benci sama dia. Kamu bilang gak peduli lagi kalo aku berbuat sesuatu ke Al atau perusahaan keluarganya. Lalu, ini apa? Kenyataannya kamu belum bisa coba buat lupain dia. Padahal kalian udah jelas-jelas berakhir. Al udah punya hidup barunya, terus kenapa kamu gak bisa punya hidup baru sama aku? Ra, aku sayang kamu."


Ia melajukan mobilnya kembali ke rumah Dera.


"Loh Nak Nanda, kok balik lagi?"


"Ehh iya Tante, maaf ini saya mau kembaliin ponselnya Dera. Baru sadar kalo masih kebawa sama saya, Tante."


"Oh. Ehm Nak Nanda langsung kasih ke Dera aja ya. Dera masih di kamar."


"Ehm iya Tante."


Nanda dipersilakan masuk ke kamar Dera yang kebetulan tak dikunci.


Dera terkejut melihat Nanda datang.


"Nanda?"


Nanda pun tersenyum dan mendekat ke arah Dera. Ia mengambil posisi duduk di samping Dera di ranjang Dera.


"Nanda kamu--"

__ADS_1


"Sayang, kamu pasti bingung cari ini kan?" Nanda menyerahkan ponsel Dera.


"Ponsel aku, ternyata ada di kamu."


"Gimana keadaan kamu, Sayang?"


"Nan.. Aku baik-baik aja. Aku udah gapapa."


Sejenak keduanya terdiam. Kemudian Nanda mencoba bicara lagi.


"Ra, ehm sebelumnya aku minta maaf. Jujur aku tadi sempet periksa ponsel kamu karena kebetulan gak di-password."


"A-apa?"


"Maaf Dera, tapi aku gak ada maksud apa pun. Aku gak liat yang lain selain kontak sama galeri kamu."


Dera pun menyadari akan isi galerinya. Ia langsung gugup. Terlihat pula raut wajah Nanda agak berubah.


"Nan-Nanda.. Soal foto di galeri--"


"Hussst!" Nanda menempelkan telunjuknya di bibir Dera. "Jangan mikirin apa pun dulu. Gak perlu bahas apa pun ya. Aku cuma pengin kamu istirahat."


Dera pun terdiam.


"Oke Sayang, aku langsung pamit ya. Udah malem. Aku gak mau ganggu istirahat kamu. Kalo ada apa-apa kabarin aku aja ya!" Nanda mengecup kening Dera. "Besok gak usah ke kantor dulu ya, please. I love you, Sayang."


Nanda pamit dari rumah Dera. Ia memilih tetap kembali ke kantor, memutuskan untuk lembur, menyibukan diri dengan pekerjaan. Nanda hanya ingin mengalihkan pikirannya sejenak dari perihal yang sempat mengusik hatinya tadi.


Nanda pulang ke apartement larut malam. Sampai di sana pun Nanda tak bisa tidur. Yang ada di benaknya hanyalah Dera.


---


Baru akan mencapai pintu, Nanda bertabrakan dengan seorang wanita.


"Astaga, kamu--"


"Ehm maaf."


"Sayang, kamu kok bandel banget sih? Udah aku bilang jangan ke kantor dulu hari ini. Kamu gak bisa turutin aku sekali aja apa?"


"Nanda, tapi aku udah gapapa. Aku gak bisa terus-terusan lepas tanggung jawab dari kerjaan aku. Aku gak suka makan gaji buta, Nan."


"Hey, cuma satu hari, Sayang. Apa salahnya kamu istirahat dulu? Aku cuma--"


"Gak ada gunanya kamu angkat aku jadi sekretaris kamu kalo kamu justru ngelarang aku kerja. Apa lebih baik aku resign dan--"


"Husstt! Stop! Oke, kamu bisa kerja hari ini. Tapi inget aku gak mau liat kamu kenapa-napa lagi."


"Aku janji, Nan."


Nanda akhirnya pasrah mengizinkan Dera bekerja hari ini. Ia tak berdaya, apalagi jika Dera sudah membawa-bawa soal resign.


---

__ADS_1


Jam makan siang pun tiba. Nanda menemui Dera di ruangannya.


"Ra, ayo makan siang!"


"Nanda, bentar lagi deh. Ini tanggung--"


"NO!" Nanda merampas berkas yang tengah diperhatikan Dera. "Taruh dulu! Lanjutin nanti! Kamu harus ikut aku makan siang sekarang. Memangnya kamu mau masuk rumah sakit lagi karena asam lambung naik?"


Dera hanya mengangguk pelan. Ia pun mengikuti perintah Nanda.


Mereka pergi menuju ke sebuah restoran untuk makan siang. Dalam perjalanan, Dera sempat membuat suasana kembali tegang.


"Nanda?"


"Iya. Kenapa, Ra?"


"Aku mau bilang soal--ehm foto di galeri ponsel aku itu--"


"Sayang.. Aku gak mau bahas itu."


"Tapi aku tau apa yang kamu pikirin setelah liat itu."


"Dera--"


"Maaf. Aku akan segera hapus semuanya."


"Aku gak perlu tau itu, Sayang. Aku pun gak akan tanya atau bahas tentang itu lagi. Itu gak penting. Buat aku yang terpenting adalah sekarang, sampe detik ini kamu masih di sisi aku. Dan urusan hati kamu, aku yakin, suatu saat itu akan seutuhnya milik aku."


Lalu, apa lagi? Dera speechless.


Sesampai di restoran, mereka memesan beberapa hidangan. Begitu hidangan mereka tiba, mereka fokus menyantap hidangan masing-masing tanpa ada sepatah kata pun.


Di sela-sela makannya, Dera tiba-tiba tersedak setelah menatap ponselnya.


"Dera! Astaga kamu kenapa? Nih minum dulu, pelan-pelan ya."


Nanda membantu Dera minum.


"Makasih, Nan."


"Kamu kenapa sih?"


"Gak--gapapa Nanda. Aku--"


Nanda tak mau banyak tanya lagi, ia langsung mengambil alih ponsel Dera. Sekali lagi ponsel itu mengusik hati Nanda, di sana Nanda melihat sebuah postingan dari akun sosial media Al. Tampak foto Al yang tengah melakukan segala persiapan pernikahan dengan Natasya. Ternyata itu yang membuat Dera tersedak tadi. Namun, mengapa begitu? Apa Dera memang belum rela melepas Al? Kali ini Nanda kembali dibuat panas dingin.


"Na--Nanda.. Aku gak--"


"Dera, bisa kan kalo lagi makan gak usah buka-buka ponsel dulu!" ungkap Nanda dengan nada agak ketus.


"Ma-maaf Nanda."


"Sekarang lanjutin makan kamu, habis itu kita balik ke kantor."

__ADS_1


Nanda mematikan ponsel Dera dan meletakkannya di sisi meja yang agak jauh dari Dera.


"Ra, kapan kamu bisa bener-bener lupain pria itu?" pikir Nanda sembari kembali menyantap steak-nya dan sesekali menatap gadis di hadapannya dengan penuh harap.


__ADS_2