DEALLOVE

DEALLOVE
38 | Dilema Dera


__ADS_3

Al melepaskan pelukannya. Ia kini menatap Dera begitu dekat. Kedua tangannya sudah beralih menyentuh kedua pipi Dera.


"Aku bener-bener sayang sama kamu, Ra."


"Aku tau, meskipun kita bisa bilang saling rindu, kita tetep gak akan bisa kembali kayak dulu lagi."


"Bisa. Jangan pesimis, Sayang. Kita masih punya takdir. Aku tau, takdir gak mau bener-bener pisahin kita. Buktinya di manapun itu, kita selalu dipertemukan. Ya, kan?"


"Al--"


"Udah cukup, Sayang. Kalo kamu cuma mau bicara tentang keraguan kamu, lebih baik cukup! Sekarang kamu duduk dulu di sini ya. Aku ambilin minum dulu. Kita masih bisa obrolin banyak hal. Aku masih pengin bicara berdua sama kamu."


Al meminta Dera duduk di ranjang kamar hotelnya. Sementara ia menuju ke kulkas untuk mengambil minum.


"Ini, Ra. Minum dulu."


Dera menerima sebotol minuman ringan dari tangan Al.


"Hm, kita bisa bicara apa pun. Udah lama kita gak bisa duduk dan berbincang berdua kayak gini, kan?" ucap Al sambil ikut duduk di samping Dera.


"Al, pernikahan kamu--"


Belum sampai Dera selesai, telunjuk Al sudah membungkam mulutnya.


"Sstt! Bicara yang lain aja ya, Sayang. Ehm.. Kamu inget kan, kencan pertama setelah kita jadian dulu? Aku penasaran apa sekarang tempat itu masih sama ya? Kapan-kapan kita ke sana lagi yuk!"


"Ehm--"


Al kembali bernostalgia, menceritakan segala yang ia ingat tentang kenangannya bersama Dera. Terlalu banyak, terlalu panjang. Al masih mengingat tiap detailnya.


"Lalu, Sayang, kita dulu juga--"


"Al.. Aku rasa aku harus pergi sekarang."


Al mengusap lembut rambut di kepala bagian samping Dera.


"Kamu segitu khawatirnya sama dia? Dia bukan anak kecil yang butuh kamu setiap saat, kan?"


"Kamu gak ngerti, Al. Aku udah terlalu lama bicara sama kamu dari tadi. Nanda pasti cari aku."


"Kamu masih gak bisa pilih antara aku atau Nanda? Hm?"


"Entahlah, Al. Perasaan aku sekarang, aku gak ngerti. Ini ... Ah, ini terlalu membingungkan buat aku. Yang jelas aku gak pengin nyakitin Nanda, aku gak mau dia kecewa. Aku udah bilang sama dia kalo aku mau kasih kesempatan buat hubungan kami."


"Ini salah aku. Harusnya sejak awal aku gak biarin kamu deket sama dia. Sekarang aku sendiri yang kewalahan harus mikirin cara buat singkirin dia dari hidup kamu."


"Maaf Al, aku harus pergi."


"Oke, gak masalah. Biar aku yang pikirin cara buat hubungan kita kembali kayak dulu, tanpa ada siapa pun yang usik kita. Seenggaknya kita sekarang gak perlu bersitegang lagi waktu jalanin kontrak kerja sama proyek itu, kan?"


"Oke Al, lebih baik aku pergi sekarang."


Dera beranjak dari ranjang tempatnya duduk. Sebelum ia berhasil keluar, Al sempat menahannya sebentar.


"Tunggu, Sayang!"


Dengan begitu tenang, Al memberikan sebuah kecupan di kening Dera.


"Love you! See you, Sayang!"

__ADS_1


---


Dera menuju ke kamar hotelnya. Dalam hatinya mendadak timbul rasa bersalah. Ia pikir harusnya ia tak bersama Al tadi hingga meninggalkan Nanda sendiri terlalu lama. Apalagi dengan kecupan Al di keningnya tadi, ia spontan teringat sebelum pergi ke pertemuan, Nanda juga melakukan hal yang sama. Tepat di bagian sana, pun dengan ucapan cinta yang sama.


Nanda melihat Dera yang baru saja kembali. Terpancar raut penasaran di wajahnya.


"Ra, pertemuannya lama banget ya? Kamu baru balik sekarang."


"I-iya, Nan."


Tak ada pilihan lain bagi Dera selain menjawab iya. Mana mungkin ia beri tahu pada Nanda kalau alasannya lama tak kembali bukan perihal waktu pertemuan yang terlalu lama melainkan karena ia sempat menghabiskan waktu dulu untuk mengobrol dengan Al.


"Kamu pasti lelah ya. Apa acaranya ngebosenin? Sini, duduk dulu," Nanda mengajak Dera duduk di ranjang.


"Nan, gimana keadaan kamu?" tanya Dera kemudian.


"Aku udah baikan kok. Aku gapapa. Terus ... Gimana hasil rapatnya?"


"Kita dapet kontraknya, Nan."


"Oh ya? Serius nih? Sayang, makasih yaa. Aku tau kamu bisa handle ini dengan baik." Nanda langsung memeluk Dera dengan erat saking senangnya.


Kemudian Nanda melepas pelukannya. Namun, melihat wajah Dera saat ini, Nanda jadi heran.


"Dera, kamu kenapa, Sayang? Kita dapet kontraknya, harusnya kamu seneng, kan? Tapi kok--"


"Sebenernya ada hal lain, Nan."


"Kenapa, Sayang?"


"Jadi Adikara group bukan cuma kasih kontrak itu ke Armandito group, Adikara group mutusin buat rekrut dua partner perusahaan."


"Masalahnya, perusahaan lain itu ... Darmajaya group."


"Apa?" sekarang Nanda baru terkejut. "Kok bisa sih, Ra?"


"Entahlah. Itu keputusan pihak Adikara sendiri."


"Kenapa harus Darmajaya sih? Aku bahkan gak pernah kepikiran mau kerja sama lagi sama ... Tunggu, jadi tadi di sana kamu ketemu Pak Darma? Apa dia tadi cari gara-gara atau ganggu kamu lagi? Coba aja kalo ada aku di sana."


"Gak, Nan. Sebenernya tadi yang dateng jadi perwakilan Darmajaya itu bukan Pak Darma, tapi ... Putranya."


"Al?? Jadi, dia tadi ada di sana?" tanya Nanda geram.


Dera pun merespons dengan anggukan.


"Dia pasti berusaha ganggu kamu lagi, kan?"


"Gak kok, Nan. Semuanya baik-baik aja."


"Hadehh.. Apa lagi sekarang?"


"Maaf, Nan. Tadinya aku juga sempet bingung mau terima penawaran ini atau gak. Aku tau kalo kamu gak akan suka, kalo harus kerja sama bareng Darmajaya group. Hampir aja aku lepasin kesempatan ini. Tapi ... Aku inget lagi betapa penting kontrak ini bagi kamu, aku takut kamu juga bakal kecewa kalo aku sia-siain kesempatan ini. Jadi, akhirnya tetep aku terima. Maaf kalo keputusan aku ini salah, Nan."


"Gak, Sayang. Kenapa kamu minta maaf? Keputusan kamu ini udah tepat kok. Justru aku bener-bener berterima kasih karena berkat kamu, Armandito group bisa dapetin kontrak ini. Masalah Darmajaya, biar aku yang urus ya. Aku juga gak rela kehilangan kontrak ini cuma karena gak suka kerja sama bareng Darmajaya group."


"Jadi ... Beneran gak masalah, Nan? Aku--"


"Ssttt! Udahlah, Sayang. Ya udah, gak usah dipikirin lagi ya. Buat urusan kerja sama ini selanjutnya, aku yang akan urus. Biar kamu gak perlu lagi berurusan sama Al Putra Darmajaya. Oke!"

__ADS_1


Dera mengangguk mengerti.


"Aku pesenin makan malem ya. Kamu pasti juga udah laper, kan? Kamu pengin makan apa?" lanjut Nanda.


"Apa aja, terserah kamu aja, Nan. Aku ganti baju dulu deh ya."


Setelah makan malam mereka tiba, mereka makan bersama sambil berbincang. Dera masih saja mengkhawatirkan kondisi Nanda, ia terus bertanya dan memastikan apakah Nanda benar-benar tidak butuh dokter. Mereka pun membahas perihal kegiatan mereka besok. Kerja sama antar tiga perusahaan akan dimulai dari esok hari dan Nanda memastikan ia juga akan hadir dalam pembahasan bisnis itu, ia tak ingin membebankan semua pada Dera lagi.


Selesai makan malam, mereka segera beranjak ke ranjang masing-masing untuk beristirahat. Besok mereka harus bangun pagi untuk pertemuan bisnis.


Sekitar pukul satu dini hari, Dera terbangun. Sudah pasti ia sulit memejamkan matanya lagi sebab ada sesuatu yang masih mengganjal dalam pikirannya. Ia melihat ke sisi ranjang sampingnya, tampak Nanda masih terlelap. Dera pun pergi ke balkon kamar, meski udara malam masih terasa amat dingin. Dera berdiri di balkon, menatap langit malam sambil melamunkan suatu ihwal.


Perihal yang mengganggu ialah rasa dilema yang kembali menyembul. Setelah pertemuannya dengan Al hari ini, dilema itu makin nyata. Dibilang rindu, ya, Dera memang juga masih merindukan Al persis seperti pengakuannya tadi. Namun, ia tak bisa lupa, di sisi lain ada Nanda yang amat memuja dan mencintainya. Harapan Al sama dengan kekecewaan bagi Nanda.


Acara melamun Dera mendadak terhenti oleh dekapan tangan kekar dari belakangnya.


"Sayang, di sini dingin loh. Kamu kenapa gak tidur?"


"Nanda, kamu kok bangun?"


"Hm, kamu aja yang jawab pertanyaan itu buat diri kamu. Kenapa bangun jam segini?"


"Aku ... Ehm, tadi kebangun dan gak bisa tidur lagi. Jadi, aku ke sini."


"Mikirin sesuatu?"


"Bukan apa-apa kok, Nan."


"Jangan terlalu cemasin soal kontraknya, Sayang."


Nanda tak tahu saja, bukan kontraknya yang membuat Dera begitu kepikiran, melainkan orang yang terlibat dalam kontrak itu.


"Iya, Nan. Ehm, kamu tidur aja lagi. Besok kamu harus bangun pagi loh, ntar kesiangan."


"Lah kamu?"


"Aku belum bisa tidur lagi, tapi aku janji gak akan kesiangan deh."


"Kalo kamu belum bisa tidur, itu artinya aku harus nemenin kamu dulu sampe kamu ngantuk. Aku juga gak perlu khawatir bakal kesiangan dong, kan pasti ada kamu yang bangunin aku."


"Nanda--"


"Kamu bisa bicara sama aku sampe kamu bosen dan ngantuk. Aku siap nemenin kamu seumur hidup."


Mereka terus bicara dengan topik dominan perihal kontrak bisnis.


" ... Itu sebabnya aku antusias banget sama kontrak ini, Ra. Kamu gak perlu terlalu cemasin apa pun lagi ya."


"Semoga kerja sama kita sama Adikara bisa berjalan lancar ya, Nan."


"Ya, semoga aja."


"Ehm, kita tidur aja yuk, Nan."


"Udah ngantuk nih?"


Dera mengangguk.


"Oke. Selamat istirahat, Sayang. Jangan lupa bangunin aku besok yaa! Hehe."

__ADS_1


Dera dan Nanda kembali tidur. Entah apakah Dera masih bisa tidur nyenyak malam ini? Sementara dilemanya masih terus menuntut putusan yang pasti.


__ADS_2