
Keesokan harinya, Nanda dan Dera pergi ke kantor bersama seperti biasanya. Sesampainya mereka di kantor, mereka masuk ke ruangan masing-masing. Desas-desus hubungan spesial antara CEO dan sekretarisnya itu sudah beredar di kalangan para pegawai.
Banyak yang mendukung hubungan Dera dan Nanda karena mereka merasa Dera dan Nanda adalah pasangan serasi. Namun, tak sedikit juga yang mengutuk hubungan itu. Beberapa memandang rendah Dera dan menilai Dera sebagai wanita rendahan yang menggoda bosnya demi uang.
"Dera..." Nanda berbicara lewat ponselnya.
"Iya ada apa Pak? Kan Bapak bisa pake telepon kantor. Kenapa hubungin ponsel saya?"
"Ya gapapa dong. Suka-suka saya. Lagi pula saya hubungin pacar saya sendiri. Emang gak boleh? Oh ya, kenapa kamu panggil saya 'Pak' lagi Sayang??"
"Pak Nanda, ini kan di kantor."
"Terus?"
"Yaa--"
"Kan kita cuma bicara berdua Sayang. Jangan panggil saya 'Pak' yaa!"
"Eh iya Pak-ah maksudnya iya Nanda. Ada perlu apa?"
"Ehm kamu ke ruangan saya sekarang ya!"
"Baik Pak-eh Nanda."
Dera bergegas menuju ruangan bosnya. Sesampainya di sana, Dera mengetuk pintu. Karena tak kunjung ada jawaban dari Nanda, Dera memilih langsung masuk.
Di sana Dera heran, ia tak mendapati Nanda. Tadi Nanda meminta Dera ke ruangannya, tetapi sekarang entah berada di mana dia.
"Nanda... Ehm Pak Nanda!! Nanda kamu di mana?"
Tiba-tiba dari belakang Dera dikejutkan oleh seseorang yang baru datang. Orang itu mendekap Dera dari belakang.
"Ehh--"
"Saya di sini Sayang. Kamu cari saya kan? Hmm?"
"Nanda. Kamu dari mana?"
"Gak kok. Saya cuma ambil pesenan sebentar di luar tadi. Kamu dah lama nunggu saya?"
"Eh gak. Saya barusan ke sini."
"Oke Dera. Hmm, kamu temenin saya di sini yaa!"
"I-iya Nanda, tapi lepasin dulu!"
"Kenapa Sayang? Kamu gak suka saya peluk kayak gini?"
"Uhm i-ini di kantor Nan."
"Saya tau, ini kan kantor saya. Udah gapapa Sayang. Gak akan ada yang ganggu kita di sini kok."
"Nanda..."
"Hmm? Apa Sayang?" Nanda mengeratkan pelukannya, ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Dera yang menjadi aroma favoritnya sekarang.
"Please Nanda!"
"Oke-oke Sayang." Nanda melepaskan pelukannya. "Sayang, sekarang kamu duduk dan temenin saya makan. Kita makan bareng. Nih saya tadi dah pesen makanan."
"Tapi kan ini belum jam makan siang Nan!"
__ADS_1
"Terus kenapa Sayang? Saya lapernya sekarang terus saya gak boleh makan gitu?"
"Yaa kalo kamu sih bebas. Ini kantor kamu juga."
"Yaudah kan."
"Iya tapi saya masih harus kerja, saya juga gak bisa makan sekarang."
"Siapa yang bilang?"
"E-ehh.."
"Udah, anggep ini perintah dari bos kamu. Sekarang ayo makan!"
Dera akhirnya menerima ajakan Nanda untuk makan bersama di ruangannya.
"Gimana? Kamu suka kan?"
"Iya ini enak Nan. Saya suka kok."
"Hemm oke deh. Eh Sayang?"
"Kenapa Nanda?"
"Mulai sekarang bisa kan kalo kita gak seformal itu lagi."
"Maksudnya?"
"Gak perlu 'saya', kita bicara santai aja-ehm pake aku-kamu. Okee?"
"Tapi Nanda, saya--"
"Ayolah Dera! Aku mohon!"
"Yey, makasih Sayang. Yaudah, abisin makannya yaa..."
Akhirnya mereka selesai makan.
"Makasih Nanda buat makan siangnya, aku dah kenyang sekarang. Kamu juga udah selesai kan? Kalo gitu aku balik ke ruangan aku ya."
"Eits Sayang, kok buru-buru? Jangan dulu ya! Aku masih pengin kamu di sini."
"Nanda aku harus kerja. Kerjaan aku banyak."
"Ntar aku bantuin deh. Kerjaan itu kan juga dari aku. Jadi jangan protes lagi ya! Kamu di sini dulu."
"Nanda--"
"Dera... Sini deh!"
"Hah? Maksudnya apa?"
"Sini!" Nanda menepuk-nepuk pahanya, ia meminta Dera duduk di pangkuannya.
"Apa sih Nan? Gak ah. Kamu tuh--"
"Udah gapapa sini!" Nanda akhirnya berhasil membuat Dera duduk di pangkuannya.
"Nanda? Kamu--"
"Kenapa? Aku suka kayak gini. Kita jadi bisa lebih deket."
__ADS_1
"Tapi Nanda..."
"Kamu suka banget protes yaa. Mending kamu diem aja deh, dan jangan gerak-gerak gitu. Kamu tau gak, kalo kamu kayak gitu kamu tuh jadi bikin aku--"
Dera refleks menutup mulut Nanda.
"Hei, kenapa Sayang?" Nanda berhasil menyingkirkan tangan Dera yang menutupi mulutnya.
"Aku tau arah pembicaraan kamu Nan."
"Oke, makanya diem dong. Gak usah gerak-gerak."
"Iya ini aku udah diem kok."
"Hehe, iya-iya..."
Nanda mulai menyentuh wajah Dera, ia mengusap lembut pipi Dera.
"Dera Sayang, bisa gak sih sehari aja kamu gak semanis ini? Kamu bikin aku diabetes tau."
"Ihh kamu lebay banget sih Nan. Gombalan kamu alay tau gak sih."
"Aku gak ngegombal kok. Pacar aku ini emang manis banget, kelewatan manisnya."
"Nanda..."
"Dera aku sayang sama kamu. Aku seneng karena kita bisa sama-sama sekarang. Kamu juga sayang sama aku kan?"
"..." Dera mengalihkan pandangannya dari Nanda.
"Sayang??"
"..."
"Dera!!" Nanda menahan wajah Dera, ia berhasil membuat Dera menatapnya sekarang.
"Sayang kamu kenapa? Hmm?"
"Gak Nanda. Aku--"
"Jadi kamu gak sayang sama aku?"
"Nanda--"
"Aku tau Dera, ini masih sulit buat kamu. Hubungan kita bahkan berawal cuma dari sebuah kesepakatan. Mungkin kamu juga sulit buat lepasin Al. Tapi kamu harus tau, aku serius sama kamu. Aku sayang kamu. Aku mau kamu nyaman dan bahagia sama aku Sayang."
"..."
"Hahh, gapapa Dera. Kamu gak perlu takut. Aku gak marah kok. Aku yakin suatu saat kamu juga bisa punya rasa sayang yang sama buat aku. Aku akan tunggu kamu. Aku akan buat kamu bener-bener jatuh cinta sama aku."
Nanda tak bisa menahan perasaannya. Ia pun refleks mengecup bibir Dera. Dera yang tak bisa berontak hanya bisa menggenggam kuat jas yang Nanda kenakan.
Ketika Nanda melepas kecupannya, mata mereka kembali bertemu.
"Dera Sayang, aku sayang kamu. Aku cinta sama kamu. Ehmm, sekarang kamu telepon Al, ajakin dia ketemuan!"
"Ahh buat apa Nan?"
"Aku mau kita jelasin soal hubungan kita ke dia. Biar kamu bisa bener-bener lepas dari dia."
"Nanda??"
__ADS_1
"Aku cuma mau semuanya clear secepatnya Sayang. Aku gak mau terus ada bayang-bayang dia di antara hubungan kita. Aku mau kamu segera jadi milik aku seutuhnya Sayang!"