
Dera dan Nanda telah menjalani hubungan baru mereka hampir satu bulan. Bahkan sepertinya perlahan Nanda mulai berhasil membuat Dera lupa pada Al. Dera tak lagi mau peduli, apa yang akan dilakukan Al, bagaimana kelanjutan persiapan pernikahannya dengan Natasya, atau apa pun itu. Bisa jadi nantinya Nanda akan sepenuhnya menjadi pengganti Al dalam hidup Dera.
Selama bersama Nanda dengan status baru, banyak hal berbeda yang Dera rasakan. Tiada sedetik pun Dera lewati tanpa perhatian dari CEO-nya. Sebagai sekretaris yang merangkap jadi seorang kekasih, Dera harus memposisikan dirinya sesuai situasi dan kondisi. Namun, seorang Nanda tetaplah Nanda. Ia begitu tak dapat menahan perasaannya. Mau di kantor atau di luar kantor, Dera tetap diperlakukan sebagai kekasih prioritasnya.
Bersama Nanda, bisa dibilang Dera tak pernah kekurangan kasih sayang dan cinta sama sekali. Ia bahkan mendapatkan hal yang tak bisa ia dapat dari hubungannya dengan Al. Keluarga Nanda yang menghargainya, sangat jauh berbeda dibanding keluarga Darmajaya. Rasa tenang dan aman yang pernah ia dambakan terjadi ketika dengan Al dulu, kini sudah ia dapat dari Nanda.
Nanda menemui Dera di ruangan kerjanya.
"Hai, Sayang."
"Nan.. Kamu butuh sesuatu?"
"Ya, aku cuma butuh bicara sama kamu."
"Bicara? Soal apa?"
"Soal apa aja, Sayang. Soal kita, soal cinta, soal hubungan kita, apa pun itu."
"Astaga. Aku pikir kamu mau bicara penting soal kerjaan, Nan."
"Aku tau kita lagi di kantor, tapi ya udahlah. Sekali-kali jangan terlalu serius mikirin kerjaan mulu dong."
"Hm, apa pun kata kamu deh, Nan. Ini masih jam kerja dan aku gak pernah bisa debat perkataan Pak Bos. Gitu kan?"
"Hahaha.. Ra, kamu tuh. Aku tuh jadi makin gemes sama kamu tau gak. Ehh udah hampir malem, Sayang. Gak perlu lembur ya, apa pun yang belum kelar lanjutin besok aja. Habis ini kita bisa pulang."
"Oke Nanda."
"Ehm, sebelum aku anter pulang, kamu mau jalan dulu sama aku gak? Udah lama kita gak buat suatu kencan yang romantis kan?"
"Nan.. Maaf nih ya, bukannya aku gak mau jalan sama kamu, tapi mungkin bisa ditunda lain kali dulu ya. Aku.. Sebenernya aku ngerasa agak kurang sehat sekarang. Tadinya aku juga baru mau izin pulang lebih awal sama kamu."
"Sayang, ya ampun, kenapa gak bilang dari tadi? Jadi kamu lagi sakit?"
Nanda lebih mendekat ke arah Dera, ia menyentuh wajah Dera lembut dengan raut khawatir.
"Aku cuma agak pusing aja, Nan."
"Iya Sayang. Astaga, kamu juga agak demam ternyata. Kamu pasti terlalu lelah, Ra. Oke, kita pulang sekarang aja ya. Biar kamu bisa istirahat. Ah, atau ke dokter dulu, ya Ra?"
"Gak usah. Kamu langsung anter aku pulang aja ya Nan, aku cuma butuh istirahat sebentar kok."
"Ya udah, yuk kita pulang. Kamu nih, lain kali langsung bilang ke aku ya. Jangan begini, oke!"
Nanda mengantar Dera pulang sesuai keinginan Dera. Ketika mereka sampai di rumah Dera, rumah itu terlihat sepi.
"Aku anter sampe ke dalem ya."
"Makasih Nan."
__ADS_1
"Sayang, kok sepi banget. Ayah ibu kamu gak ada di rumah?"
"Iya Nanda. Kebetulan ayah sama ibu lagi nginep di tempat sepupu. Ada acara di sana. Mereka bilang baru bisa balik besok siang atau sore."
"Jadi kamu sendirian di sini? Kalo gitu biar aku temenin kamu ya. Kamu gak boleh sendiri apalagi lagi sakit begini. Yuk, aku anter ke kamar kamu dulu."
Dengan perlahan Nanda mendampingi Dera menuju kamarnya.
"Kamu istirahat ya, ehm ayok kamu berbaring dulu."
"Nanda, aku bisa sendiri kok. Gapapa."
"Hussstt! Udah, gapapa Sayang."
Nanda memang seperti itu. Ia akan sangat khawatir bahkan bisa dibilang berlebihan kalau tahu Dera merasa sakit sedikit saja.
"Nanda.."
"Iya Sayang, kamu butuh sesuatu?"
"Gak, bukan Nan. Aku cuma.. Ehm, kamu bisa pulang aja kok. Aku beneran gapapa."
"Gak akan, Ra. Aku gak akan pergi. Malem ini biarin aku nginep di sini ya. Aku mau jagain kamu."
"Tapi Nan--"
Dera tak bisa menghalangi keinginan Nanda lagi. Lagi pula akan lebih baik jika ada yang menemaninya sekarang.
Nanda merawat Dera dengan baik. Ia memanggil dokter untuk Dera karena bagaimanapun Nanda tetap merasa khawatir dengan kondisi Dera. Setelah itu, Nanda menyuapi Dera makan dengan makanan yang ia pesan dari luar.
"Ehm.. Aku dah kenyang, Nan."
"Kamu baru makan dikit, Sayang. Sekali lagi ya."
"Gak Nan. Aku udah. Ehh kamu juga harus makan, Nan."
"Ya udah. Iya ntar aku juga makan kok."
Nanda membereskan bekas makan Dera dan menyempatkan diri untuk makan malam juga.
"Sayang.. Kamu istirahat aja ya. Tidur aja, Ra. Udah malem, Sayang."
Tiba-tiba turun hujan cukup deras. Udara malam ini jadi terasa begitu dingin. Tak hanya suara gemericik deras, sesekali petir juga menggelegar.
"Sayang, kok belum tidur?"
"Ehm.. Aku belum ngantuk Nan. Eh kamu kalo ngantuk bisa tidur di--ehm di mana ya. Apa di kamar ayah ibu aja ya, mumpung kosong."
"Gak usah dipikirin, Ra. Aku bisa di mana aja kok. Lagi pula aku mau di sini aja jagain kamu, ehm kalo aku mau tidur--ya ntar di sofa itu juga bisa kok."
__ADS_1
"Maaf Nan, aku jadi buat kamu repot dan gak nyaman begini."
"Apa sih? Gak ada masalah buat aku kok."
Setelah petir kembali menyambar, listrik di rumah Dera pun padam. Semuanya gelap, dan Dera pun agak ketakutan. Nanda meraih tubuh Dera dan mendekapnya.
"Dera.. Aku di sini, Sayang. Kamu gapapa kan?"
"Iya Nan. Ehm sebenernya udah biasa kalo lagi hujan deres begini tiba-tiba listriknya mati. Aku harus cari lilin dulu."
"Eh eh biar aku aja ya. Kamu tunggu di sini aja. Ehm kamu taruh di mana lilinnya?"
"Biasanya ada di laci kecil di deket sofa depan."
"Oke, biar kucari dulu ya."
Nanda menyalakan lampu ponselnya. Begitu ia menemukan lilinnya, ia pergi ke dapur mencari pemantik. Lalu, Nanda menyalakan lilinnya dan membawanya ke kamar Dera.
"Sayang, aku udah dapet lilinnya. Ehm, aku taruh di sini ya."
Setelah menaruh lilin, Nanda kembali mendekati Dera.
"Kamu jangan takut ya, aku di sini kok." ucap Nanda sambil mengelus sayang kepala Dera.
"Hujannya makin deres, Nan."
"Iya. Gapapa.. Semua akan baik-baik aja ya."
Petir menyambar lagi. Dera yang terkejut langsung memeluk Nanda yang ada di dekatnya. Nanda justru tersenyum senang.
"Maaf Nan.."
"Eh ehh Sayang, udah jangan dilepas. Begini aja, gapapa. Aku suka kok." Nanda mencegah Dera melepas pelukannya dan justru memeluk Dera dengan lebih erat.
"Nan--"
"Kamu tau, Sayang, ini bahkan lebih romantis dari kencan kita sebelumnya kan? Malem ini, cuma ada cahaya lilin, dan cuma kita berdua di sini. Aku nyaman banget kayak gini sama kamu, Sayang."
"Nanda, kamu tuh ... "
"Ra.. Aku boleh bilang sesuatu?"
"Apa?"
"Kayaknya gak perlu lama-lama lagi. Kita udah saling kenal cukup lama. Meski hubungan baru kita baru berjalan kurang lebih sebulan, aku rasa gak masalah kalo kita segera seriusin ini kan?"
"Maksudnya Nan?"
"Nyonya Nanda Armandito, kamu harus segera jadi tunangan aku."
__ADS_1