DEALLOVE

DEALLOVE
36 | Business Meeting


__ADS_3

Nanda menemui Dera di ruangan kantornya. Seperti biasa, ia tak pernah bisa jauh-jauh dari kekasihnya walau telah disuguhi urusan pekerjaan kantor sekalipun.


"Sayang ... Ehm, aku--"


"Eh Nan, kamu butuh sesuatu?"


"Ya. Ehm aku ... Aku cuma mau cek keadaan kamu. Beberapa hari lalu kamu gak enak badan, jadi aku cemas aja, aku gak mau kamu terlalu lelah dan sakit lagi."


"Astaga. Seperti biasa. Kamu tuh gak berubah juga ya, Nan. Aku gak akan kenapa-napa. Aku bisa jaga diri. Sekretaris kamu ini bukan anak kecil, Pak Nanda."


"Ya, wajar aku khawatir. Kamu memang bukan anak kecil, tapi kamu tuh suka keras kepala, bandel kalo dibilangin. Kamu suka maksain diri walau kamu udah lelah, gak pernah mikirin diri kamu sendiri. Ya mau gak mau aku harus siaga 24 jam buat jagain sekretaris aku ini, kan?"


Dera tak bisa mendebat Nanda lagi. Karena tak dipungkiri apa yang Nanda katakan memang benar. Sudah berkali-kali Dera jatuh sakit akibat terlalu lelah atau asam lambung naik karena telat makan. Ujungnya, Nanda juga yang dibuat repot atas kejadian itu. Namun, sejatinya sendiri Nanda tak pernah merasa direpotkan jika menyangkut urusan kekasihnya. Nanda lebih mencemaskan keadaan Dera. Jika tahu Dera sedang tak baik-baik saja, Nanda sudah pasti tak kan bisa tenang.


Mendadak Dera teringat sesuatu.


"Eh iya, Nan. Kebetulan kamu di sini. Tadi pagi sempet ada email dari Adikara group, ada kiriman dokumen semacam proposal bisnis gitu. Udah aku cetak kok, bentar kuambil dulu."


Dera beranjak dari tempat duduknya. Ia membolak-balik beberapa dokumen dan mengambil satu dokumen dengan map berwarna merah. Ia langsung menyerahkannya pada Nanda.


Nanda mulai membaca isi proposal tersebut. Kemudian rautnya berubah, lebih bersemangat.


"Ra, besok lusa kamu ikut aku ya!"


"Ikut ke mana?"


"Perjalanan bisnis, ke luar kota. Sesuai proposal ini. Kamu tau, ini kesempatan buat Armandito group dapetin kontrak besar dan deal kerja sama sama Adikara group."


"Jadi besok lusa kita harus pergi?"


"Ya. Aku rasa aku butuh kamu di sana buat nemenin aku. Jadi, kamu harus ikut ya!"


"Oke, Nan. Kalo ini buat urusan kerjaan, aku pasti mau pergi."


"Nanti aku aja yang minta izin sama ayah ibu kamu. Tapi aku yakin sih, mereka pasti gak masalah karena kamu kan perginya sama aku."


"Hmm. Jelas PD lah. Udah jadi kesayangan ayah ibu."


"Hehe. Tapi Sayang, kamu juga tetep harus jaga kesehatan ya. Aku gak mau sampe di sana nanti kamu ada apa-apa."


"Siap Pak Bos! Aku akan mulai siapin semuanya."


---


Dera dan Nanda berangkat ke Yogyakarta untuk perjalanan bisnis. Mereka menginap di sebuah hotel, memesan satu kamar dengan double bed. Karena mereka tiba di hotel pada malam hari, mereka memutuskan langsung beristirahat setelah merapikan beberapa pakaian yang mereka bawa. Pertemuan bisnis dengan Adikara group dan perwakilan perusahaan lainnya akan diadakan esok hari.


Ketika pagi tiba, Dera yang bangun tidur lebih dulu kini sudah selesai bersiap-siap. Ia bahkan sudah memesan sarapan untuk Nanda dan dirinya sendiri lewat layanan kamar. Namun, saat ia akan membangunkan Nanda, Dera terkejut mendapati suhu badan Nanda yang meninggi. Sepertinya Nanda sedang kurang sehat hari ini.


"Astaga Nanda, kamu demam!"

__ADS_1


Nanda pun terbangun.


"Ra ... Sayang, kamu udah bangun. Astaga ini udah jam berapa?"


"Ini hampir jam delapan, Nan. Aku mau bangunin kamu buat sarapan, tapi ternyata kamu sakit."


Nanda berusaha bangun dan duduk di ranjangnya.


"Sayang, aku gapapa kok."


"Tapi demam kamu cukup tinggi. Mana mungkin gapapa!" Dera tampak begitu panik.


"Aku juga gak tau kenapa tiba-tiba begini. Ehh aku cuma agak pusing kok, istirahat bentar pasti nanti juga baikan."


"Kita harus panggil dokter, kan?"


"Gak usah, Sayang. Aku gapapa. Nanti aku cukup minum obat aja."


"Nanda! Ah oke bentar ... Aku ambil sesuatu buat kurangin demam kamu."


Dera bergegas pergi ke toilet, ia menaruh air dingin dalam sebuah wadah dan menyiapkan handuk kecil untuk mengompres Nanda.


"Nan, aku kompres dulu ya. Seenggaknya biar demam kamu turun dulu."


Dera merawat Nanda dengan telaten. Melihat kepanikan di wajah Dera, Nanda justru senyum-senyum sendiri.


"Ihh kok bilangnya begitu sih? Kamu mikir aku kena gangguan jiwa?"


"Yah abisnya itu kamu senyum-senyum sendiri, padahal gak ada yang lucu."


"Memang gak ada. Bukan lucu, tapi sweet. Wajah panik kamu itu, aku suka cara kamu khawatirin aku, perhatian kamu ke aku. Tau begitu aku rela deh kalo harus gak enak badan tiap hari."


"Husstt! Gak boleh ngomong gitu! Nan, kamu gak perlu sakit dulu kalo cuma buat dapet perhatian dari aku. Aku ... Aku akan berusaha lebih perhatian sama kamu mulai sekarang."


"Makasih, Sayang."


"Ehm sambil kamu sarapan dulu ya."


"Kamu suapin, kan?"


"Hahh. Hm, ya deh. Aku suapin. Yang penting kamu habisin sarapannya."


Dera menyuapi Nanda perlahan. Di tengah kegiatan sarapannya, Nanda spontan mengatakan sesuatu.


"Memang calon istri idaman," celetuk Nanda.


"Kenapa Nan? Kamu bilang sesuatu?"


"Ahh gapapa kok, Sayang."

__ADS_1



Sampai siang menjelang sore tiba, kondisi Nanda masih belum benar-benar pulih walau demamnya sudah turun.


"Nan, kondisi kamu masih belum begitu baik. Ehm.. Pertemuannya sebentar lagi."


"Aku udah gapapa, Sayang. Kita akan tetep pergi karena itu tujuan kita ke sini, kan?"


"Tapi Nanda, kamu ... Gak bisa Nan, kamu masih sakit. Percuma kalo kamu maksain diri, kamu gak akan bisa konsen di sana. Kondisi kamu juga bisa makin buruk."


"Sekretarisku Sayang, ini kan cuma pertemuan bisnis, aku bukannya mau lari maraton. Aku masih kuat."


"Tetep gak bisa, Nanda."


"Terus gimana dong?"


"Oke, aku yang akan handle kali ini. Biar aku aja yang dateng sendiri sebagai perwakilan Armandito group. Kamu istirahat aja."


"Sayang, kamu yakin?"


"Ya. Serahin semuanya sama aku. Itu gunanya kamu ajak sekretaris kamu ke sini."


"Hm, oke lah. Aku percayain hari ini sama kamu ya. Kalo ada apa-apa nanti kamu bisa hubungin aku aja."


"Siapp!"


Dera mulai bersiap. Ia merapikan penampilannya dan menyiapkan beberapa berkas serta laptopnya.


"Sayang, jangan dandan cantik-cantik. Nanti banyak tertarik loh."


"Astaga.. Apa sih, Nan? Oke, aku udah siap. Aku berangkat sekarang ya."


"Oke Sayang. Semoga berhasil ya! Armandito group ada di tangan kamu. Udah ada sopir di bawah yang akan anter kamu."


"Aku akan berusaha, Nan. Biar kita dapetin kontrak kerja samanya. Kamu bantu doa aja dari sini dan cepet sembuh yaa!"


"Iyaa. Good luck, Sayangku! Semangat!" Nanda memberikan kecupan di kening Dera. "Love you, Sayang."


---


Dera sampai di restoran tempat pertemuan bisnis yang telah diatur oleh pihak Adikara group. Sudah ada perwakilan dari berbagai perusahaan yang datang dan berkumpul.


Mendekati meja pertemuan, Dera baru terpikirkan suatu hal. Jika ini pertemuan bisnis yang menyatukan berbagai perwakilan perusahaan, sudah tentu pihak Darmajaya group juga tak ketinggalan. Ia mulai berpikir tidak-tidak. Takut kalau-kalau ia harus berpapasan dengan Pak Darma sehingga terpicu kekacauan baru--mengingat sangat tak sukanya Pak Darma padanya. Terlebih tak ada Nanda di sisinya, tak ada yang bisa membelanya seperti biasa.


Dera mengambil posisi duduk di salah satu kursi. Parahnya ia tak menyadari suatu hal. Setelah ia duduk manis barulah ia mengerti. Dera sudah mengambil duduk di samping perwakilan Darmajaya group. Bukan Pak Darma seperti dalam pikirannya tadi, melainkan orang lain.


"Selamat sore, Nyonya Armandito, ups--maksudnya Nyonya Dera Darmajaya!" sapa pria di samping Dera.


Dia ... Al Putra Darmajaya.

__ADS_1


__ADS_2