
Rapat sudah berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Masing-masing perwakilan perusahaan sudah menyampaikan penawarannya, termasuk juga Dera yang mewakili Nanda dalam pertemuan itu.
"Maaf, Nona Dera ini perwakilan dari Armandito group?" tanya seorang pria dari pihak Adikara group.
"Iya, Pak. Saya sekretaris Pak Nanda. Kebetulan Pak Nanda berhalangan hadir karena sedang kurang enak badan."
"Oh, baiklah. Jujur saya cukup tertarik dengan sistem dan penawaran Armandito group yang baru Nona sampaikan tadi. Saya pun sudah sangat tahu bagaimana kredibilitas Pak Nanda dalam menjalankan bisnis. Beliau CEO yang cukup kompeten. Jadi, saya pikir saya tidak akan menyesal kalau memberi kontrak kerja sama ini pada Armandito group."
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."
"Namun, seperti kesepakatan saya di awal tadi, Nona. Kali ini Armandito group harus bekerja sama dengan perusahaan lain juga karena saya butuh dua partner perusahaan. Dan ... Setelah saya lihat dari keseluruhan di sini, pihak ketiga untuk kontrak ini saya berikan pada--perwakilan tepat di samping Nona, dari Darmajaya group."
"Terima kasih untuk kesempatannya, Pak." ucap Al.
Dera benar-benar tak habis pikir. Bagaimana mungkin Armandito harus disatukan dengan Darmajaya dalam satu proyek. Apa Nanda bisa menerima ini? Sempat terpikir di benak Dera untuk melepaskan kesempatan kontrak ini, namun ia kembali ingat Nanda yang begitu antusias dan bersemangat dengan kontrak ini, ia sangat berharap Armandito group bisa mendapatkannya. Tak mungkin Dera melepas ini begitu saja setelah kesempatan terbuka lebar untuk perusahaannya, Dera tak mau Nanda kecewa.
"Bagaimana Nona? Apa kita bisa sepakati ini?"
"E-ehh baik, Pak. Saya terima."
"Baiklah. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk semua perusahaan yang sudah hadir berpartisipasi hari ini. Keputusan sudah disepakati, jadi kita bisa akhiri pertemuan ini. Selamat sore."
Para perwakilan perusahaan mulai bubar satu per satu. Dera pun sudah ingin kembali ke hotel. Namun, baru dua langkah Dera berlalu, Al menghentikannya.
"Dera, tunggu!"
"Maaf, ada perlu apa ya?"
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," ujar Al sambil mengulurkan jabat tangannya.
Karena tak ingin berlama-lama dan terlalu basa-basi, Dera menjabat tangan Al dan merespons singkat.
"Tentu. Aku harap kita bisa sama-sama profesional."
Tak semudah itu, Dera sulit melepaskan tangannya dari genggaman Al.
"Al, tolong lepasin!"
"Kenapa? Kamu buru-buru mau nemuin CEO kamu yang lagi sakit?"
"Aku gak mau berdebat sama kamu lagi."
"Kenapa harus debat sih? Aku juga gak pernah ngajakin debat, kan? Kita bisa bicara baik-baik, Sayang."
"Kita gak perlu bicarain apa pun lagi selain urusan kontrak ini. Dan soal kontrak ini nanti kamu bisa bahas sama Nanda aja."
__ADS_1
"Aku lebih suka bahasnya sama kamu aja. Tapi, kali ini aku bukan mau bicara kontrak. Aku mau bicara soal kita."
"Al udahlah, aku mohon."
"Dera.. Akan lebih baik kita jernihin semua kesalahpahaman, kita lurusin permasalahan antara kita sebelum kerja sama kita jalan, kan?"
"Gak ada permasalahan apa pun lagi di antara kita, Al."
"Gak, Ra. Kalo gak ada masalah, kita gak mungkin sampe terpisah jalan sendiri-sendiri kayak gini."
"Permisi, Al."
"Dera, tolong ikut aku sebentar. Aku cuma mau kita bicara, gak lebih. Ayo, Ra!"
Al menggandeng tangan Dera, mengajak Dera masuk ke mobilnya dan menuju ke sebuah hotel.
Hotel itu tempat yang sama dengan lokasi menginap Dera dan Nanda. Al masih menggenggam tangan Dera sampai di depan sebuah kamar--tempat Al menginap. Kebetulan kamar mereka ternyata ada di lantai yang sama, hanya saja tak begitu dekat jaraknya.
"Ayo masuk, Ra. Kita bicara di dalem."
"Kamu nginep di sini juga? Al, kamar aku sama Nanda juga ada di lantai ini."
"Aku tau."
"Apa? Kamu ngikutin aku sama Nanda?"
Tanpa basa-basi, Al menarik tangan Dera perlahan dan mengajaknya masuk.
Di dalam, pembicaraan tentang cinta mulai melantun, beruntun.
"Jadi, apa Al?"
Masih menggenggam erat tangan Dera, Al pun mulai bicara, "Aku rindu kamu. Sangat rindu!"
"Al--"
"Mari kita kenang masa lalu, terlalu banyak kenangan indah kita, kan? Berapa persen yang udah kamu lupa?"
"Masih aku usahakan biar segera seratus persen. Tapi sialnya kamu terus muncul dan ganggu aku."
"Itu berarti dunia gak dukung kamu buat lupa. Pertemuan kita selalu, itu takdir. Sedang perpisahan yang kamu buat sepihak, itu rasanya seakan ngelawan takdir. Pada akhirnya takdir yang pasti menang, Ra."
"Kamu salah. Kita begini sekarang, ini udah jelas karena apa, karena dunia gak dukung kita buat bersama. Gak perlu muluk-muluk bawa dunia deh, keluarga kamu sendiri aja gak ngedukung kok."
"Jadi kamu masih berharap keluarga aku bisa dukung kita, Sayang?"
__ADS_1
"Gak lagi, Al. Aku udah gak peduli soal itu. Lagi pula aku sekarang bersama Nanda. Aku gak butuh yang lain lagi. Nanda bisa buat aku ngerasa lebih dari cukup."
"Aku yakin kamu gak serius sama Nanda. Aku tau kamu, Ra. Kamu bukan orang yang semudah itu pindah lain hati. Kamu belum bisa lupa aku."
"Gak usah terlalu PD, Al!"
"Lebih baik optimis daripada pesimis, kan?"
"Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Tolong inget itu!"
"Kita berpisah, ya, mungkin keliatannya di luar memang begitu, tapi sebenernya di dalemnya gak begitu, kan, Ra? Hati kita masih menyatu. Hati kamu masih cuma buat aku."
"Lebih baik kamu fokus urus pernikahan kamu. Udah tinggal beberapa hari lagi, kan?"
Mendengar Dera yang terus membantah dan mendebat perkataannya, Al langsung menarik Dera ke dekapannya.
"Al, apa yang--"
"Husstt! Aku bener-bener rindu pelukan ini."
"Aku harus pergi sekarang. Nanda pasti udah nunggu aku."
"Nanda-Nanda-Nanda! Bisa kan kamu gak perlu bahas dia terus? Sekarang di sini cuma ada kita berdua."
"Seenggaknya Nanda lebih baik, Al. Dia bisa buat aku ngerasa aman, nyaman, dan terlindungi."
"Cuma itu, kan? Tapi ... Gimana tentang cinta? Apa kamu juga bisa rasain itu buat Nanda?"
"..."
"Kamu diem, kan? Sayang, aku tau situasi kita ini bener-bener rumit. Tapi satu hal, dengerin aku, aku bisa pastiin pernikahan itu gak akan terjadi. Aku gak ada apa-apa sama Natasya. Di depan semua orang, dia memang tunangan aku. Tapi kenyataannya aku cuma milik kamu. Aku cuma akan menikah sama kamu, aku janji."
"Aku udah terlalu sering denger janji kamu, Al. Kamu gak perlu terus berjanji begitu. Aku gak peduli lagi."
"Gak. Aku tau kamu masih peduli. Sayang, kamu bisa pegang omongan aku. Memang saat ini aku belum bisa lakuin apa pun, tapi percayalah suatu saat aku akan buktiin ke kamu kalo aku sungguh mau berjuang buat cinta kita. Aku akan datang, bawa kamu kembali. Rebut kamu lagi dari Nanda."
"Kamu gak bisa lakuin itu!"
"Bisa. Pasti bisa. Dera ... Di sini cuma ada kita. Kamu gak perlu takut jujur sama aku. Kamu gak perlu takut nyakitin Nanda atau siapa pun. Bilang sama aku, Ra, kamu juga rindu aku, kan? Kamu masih sayang sama aku."
"..."
"Sayang, bicaralah. Cinta itu masih ada dan akan selalu ada. Kamu masih cinta sama aku."
Masih dalam pelukan Al, Dera pun berucap, "Ya, Al. Aku juga rindu kamu."
__ADS_1
Al mengeratkan pelukannya, "Hahh.. Itu yang aku tunggu dari tadi, Sayang."