
"Nanda kamu ngapain? Lepasin aku!"
"Aku mohon sama kamu Dera. Aku gak ngerti harus apa sekarang. Aku bener-bener gak bisa kalo kamu giniin aku, Ra."
"..."
"Ra, please.. Maafin aku."
Dera terdiam sejenak. Setelah itu ia mengangguk perlahan. Melihat respons Dera, Nanda sungguh merasa lega.
"Makasih Sayang," ucap Nanda sembari mempererat pelukannya.
Nanda dan Dera dalam perjalanan menuju ke apartement Nanda.
"Kita ke apartement dulu ya, Ra! Biar kamu bisa istirahat dulu. Kaki kamu juga masih sakit kan?"
"Nan, aku gak mau ke sana. Aku langsung ke kantor aja."
"Kamu masih mau ngebantah aku sekarang?"
"Nanda-- "
"Sstt.. Tolong Ra, nurut aja yaa!"
Mereka pun sampai di apartement Nanda. Begitu mereka turun dari mobil, Nanda langsung membopong Dera menuju ke kamar apartement-nya. Tentu saja Dera sudah berusaha terus meminta agar Nanda menurunkannya, tapi Nanda sama sekali tak peduli.
"Oke, Sayang kamu istirahat dulu di sini yaa. Aku pergi sebentar, aku harus ketemu klien. Nanti aku balik lagi ke sini."
"Tapi Nanda, aku--"
"Udah lah, kamu gak mau kena sanksi dari CEO kamu kan? Makanya jangan ngajak debat lagi ya!"
Nanda meninggalkan Dera sendiri di apartement sementara ia harus menemui kliennya di suatu resto. Dera hanya bisa pasrah atas perintah Nanda. Jika bisa sebenarnya Dera lebih baik pulang ke rumah atau ke kantor saja daripada harus berada di apartement Nanda.
---
Nanda akhirnya selesai dengan meeting pentingnya, ia segera kembali ke apartement untuk menemui Dera.
Ketika Nanda sampai, Dera masih tertidur. Nanda begitu gemas melihat wajah tenang Dera yang sedang tidur.
"Hai Sayang, kamu memang manis, bahkan kalo lagi tidur begini. Jangan salahin aku kalo aku sampe begitu tergila-gila sama kamu," kata Nanda sambil mengusap lembut puncak kepala Dera.
Dera yang merasakan sentuhan Nanda seketika terbangun. Ia kaget melihat Nanda sudah ada di hadapannya. Dera langsung spontan bergerak bangun dan menjaga jarak posisinya terhadap Nanda.
"Eh Nan, kamu kapan balik?"
"Barusan kok, Sayang."
"Maaf aku ketiduran."
"Hm, Sayang. Kenapa minta maaf? Aku yang minta kamu istirahat di sini tadi kan?"
"Ehm Nanda, aku mau ke kantor aja, atau kalo gak ya mending aku pulang ke rumah. Aku gak mau di sini."
"Why? Kamu gak nyaman ada di sini?"
"E-ee.."
"Atau kamu takut aku bisa macem-macem sama kamu, hm?"
"Gak gitu kok Nan, aku cuma gak biasa aja nginep di sini."
"Ya udah kalo gitu aku anter kamu pulang aja yaa. Hari ini gak usah ke kantor dulu. Aku mau kamu istirahat sampe kaki kamu sembuh. Lagi pula kamu pasti capek kan habis perjalanan jauh tadi?"
"Kaki aku udah gapapa Nan. Kalo aku gak ke kantor, terus kerjaan aku .... "
"Sstt.. Gak usah mikirin kerjaan dulu ya Sayang."
Nanda mengantar Dera pulang ke rumah. Nanda benar-benar mengkhawatirkan kondisi Dera terlebih karena insiden kakinya yang terkilir tadi. Nanda sama sekali tak mengizinkan Dera menginjakkan kaki di kantor untuk hari ini. Ia hanya mau Dera istirahat.
---
Hari ini Dera sudah bisa kembali ke kantor. Kakinya sudah dapat digunakan dengan normal. Ia kembali menjalani rutinitasnya sebagai sekretaris andalan Nanda Armandito.
__ADS_1
Dera harus memeriksa beberapa berkas terkait proyek perusahaan Nanda, apalagi sudah beberapa hari ini Dera tak tahu perkembangan proyek akibat tak pergi ke kantor.
Kesibukannya membuat ia sampai terkejut ketika ada yang membuka pintu ruangannya.
"Hai Ra.."
"Astaga, Nanda! Kamu bikin kaget aja."
"Makanya jangan terlalu serius gitu lah, Sayang. Maaf ya, aku gak ketuk pintu dulu."
"Kamu emang kebiasaan begitu. Mentang-mentang yang punya kantor, jadi suka-suka aja gitu."
"Forgive me, honey! Kopi?" Nanda mendekat ke arah meja kerja Dera dan menyodorkan satu cup kopi buatannya pada Dera.
"Makasih. Ngapain repot-repot sih? Kamu gabut banget ya? Gak ada kerjaan?"
"Ihh kok bilangnya gitu sih Sayang? Aku kan cuma mau perhatian sama pacar aku yang lagi super sibuk ini. Masa' gak boleh?"
"Hmm, oke lah. Udah aku terima kok perhatian kamu."
"Kamu tuh selalu bisa bikin aku gemes, makanya kamu itu ngangenin banget buat aku."
"Ehm, kamu butuh sesuatu? Ada yang bisa aku bantu? Kalo udah gak ada keperluan, mending balik ke ruangan kamu deh."
"Loh kok ngusir? Ada ya sekretaris berani ngusir CEO-nya?"
"Maksud aku emang kamu gak ada kerjaan lain? Aku harus periksa semua ini Nan. Kalo kamu di sini, aku jadi gak bisa fokus."
"Wah, jadi aku ternyata bisa ngalihin perhatian kamu dari kerjaan itu ya?"
"Jangan ke-PD-an! Maksud aku kamu tuh ganggu konsentrasi aku, Nanda."
"Hm, tapi aku memang lagi butuh sesuatu Sayang."
"Kamu perlu apa? Perlu aku cariin berkas dokumen apa?"
"Bukan," Nanda mendekati Dera yang tengah berdiri di samping rak tempat beberapa dokumen. "Aku butuh kamu, Sayang," kata Nanda seraya mendekap Dera dari belakang.
"Kenapa Ra? Aku tau ini kantor, terus kenapa? Di sini kan cuma ada kita berdua."
"Nanda, aku mau kita profesional kalo lagi di kantor."
"Maksudnya?"
"Ya kita jaga jarak. Layaknya sekretaris dan bos pada umumnya."
"Hah.. Jangan siksa aku begitu, Sayang. Itu terlalu sulit."
"Aku gak mau urusan kantor jadi keganggu sama urusan pribadi kita."
"Hm, okay. Tapi, kasih aku waktu yaa! Aku perlu penyesuaian karena pasti bakal sulit banget buat aku gak deket-deket sama kamu. Tapi kamu gak adil Sayang, intensitas ketemuan kita yang paling dominan itu di kantor. Kalo kamu batesin aku begini, terus kapan kita bisa punya quality time berdua, hum?" Nanda melayangkan satu kecupan di pipi Dera.
"Ehm .... "
"Konsekuensinya kalo kamu mau kita profesional sesuai pemikiran kamu, kamu harus bikin kita punya waktu berdua di luar kantor. Gimana? Hmm, kalo gitu, kita kencan malem ini. Okay?"
"Nan, aku--"
"Eits, gak boleh nolak kalo kamu mau kesepakatan kita yang tadi itu berjalan. Tenang aja Sayang, aku akan minta izin dulu sama orang tua kamu."
"Kamu PD karena mereka pasti ngizinin, ayah ibu aku gak mungkin nolak permintaan kamu. Tapi kita mau ke mana sih, Nan?"
"Hehe.. Liat aja nanti ya Sayang!"
Malam ini Nanda mengajak Dera pergi kencan. Diawali dengan sebuah dinner romantis di restoran super mewah. Sesungguhnya Dera merasa tak nyaman ada di tempat seperti itu.
"Kamu suka makanannya kan Sayang? Atau mau pesen yang lain?"
"Gak usah Nanda, udah cukup ini aja. Nan, lain kali kalo mau ajak aku dinner gak perlu di tempat yang semewah ini ya."
"Memang kenapa Sayang?"
"Aku kurang nyaman aja."
__ADS_1
"Hm, oke deh kalo gitu. Maafin aku ya Sayang. Lain kali aku akan buat kencan kita lebih berkesan, dan bikin kamu ngerasa nyaman. Aku janji."
Setelah menghabiskan makan malam mereka, Nanda mengajak Dera ke rooftop restoran di mana dari sana dapat terlihat pemandangan malam kota yang begitu indah di bawah.
"Ternyata kalo diliat dari sini bagus juga ya," ungkap Dera terkagum.
"Iya. Malem ini bener-bener indah, terutama karena kamu ada di sisi aku sekarang."
"..."
"Dera.. Kamu kedinginan?"
"Ahh gapapa kok Nan."
Nanda segera melepaskan jasnya dan memakaikannya pada tubuh Dera, "Pake ini dulu ya Sayang, biar kamu gak dingin."
"Nanda.. Gak usah."
"Ssttt! Gapapa Sayang, okay!"
Setelah jas itu terbalut di tubuh Dera, Nanda mendekap erat Dera dari arah belakang.
"Ehm, Nan--"
"Jangan protes lagi Sayang! Ini bukan kantor kan? Tolong, aku mau bicara sesuatu sama kamu."
"..."
"Dera.. Kita ini sekarang apa?"
"Maksud kamu?"
"Aku bisa bersama kamu setiap saat, kita bisa kencan kayak gini, aku bisa peluk kamu senyaman ini, dan aku pun bisa panggil kamu 'sayang' kapan pun. Terus kita ini namanya apa? Apa kamu masih anggep hubungan kita ini cuma sebatas sekretaris dan bos? Bagi kamu sampe detik ini apa aku cuma sekedar CEO kamu?"
"Tolong Nan, aku gak mau bahas hal itu sekarang."
"Kenapa Sayang?"
"Nanda.. Ini udah malem, lebih baik kita pulang."
"Please, jangan alihin pembicaraan kita dulu, Sayang. I need your answer."
Dera tetap bergeming. Ia tak mengerti harus menjawab Nanda seperti apa. Jujur saja sampai detik ini Dera tak bisa melupakan kalau hubungannya dengan Nanda adalah konsekuensi atas kesepakatan mereka terkait nasib Darmajaya group.
"Kenapa kamu diem aja, Sayang? Sesulit itukah jawab pertanyaan aku?"
"Nanda maaf--"
"Ra, apa aku seburuk itu sampe kamu sulit terima aku dan cinta sama aku?"
"Bukan gitu Nanda, tapi aku .... "
"Apa hati kamu masih jadi milik Al?"
"Tolong Nan, aku gak mau bahas ini." Dera mencoba melepaskan dekapan Nanda.
Nanda tak tinggal diam, ia lebih mengeratkan pelukannya.
"Dera.. Kasih aku kesempatan buat buktiin keseriusan aku sama kamu! Please, lupain semua kesepakatan kita waktu itu. Aku mau kita mulai semuanya dari awal, mulai hubungan kita tanpa perjanjian apa pun. Tulus dari hati kita. Karena dari dulu semenjak pertemuan pertama kita, aku udah cinta sama kamu tulus dan aku ada niat serius sama kamu. Kesepakatan yang aku buat itu cuma biar aku punya kesempatan selalu ada di sisi kamu."
"Nanda, tolong kamu ngertiin aku. Buat aku, ini gak semudah yang dikira."
"Maaf Dera. Oke.. Aku akan lebih sabar buat nunggu hati kamu terbuka buat aku. Aku gak akan nyerah, aku gak akan lelah nunggu kepastian hubungan kita."
Nanda melepas dekapannya dan beralih berhadapan dengan Dera. Nanda menjamah wajah Dera perlahan dan seketika memberi ciuman pada bibir Dera. Itu tak berlangsung lama karena baru sebentar saja Dera sudah melepaskan diri dari Nanda. Ia menjauhkan wajah Nanda dari dekatnya.
"Sayang .... "
"Nan, aku mau pulang sekarang."
"Hm, oke Sayang, ayo aku anter kamu pulang."
Kencan mereka malam ini berakhir seperti biasa dengan perasaan Nanda yang masih terus digantungkan oleh sekretaris kesayangannya.
__ADS_1