
Dokter sudah memberikan penanganan terbaik untuk Dera. Setelah Nanda selesai berbincang dengan dokter, ia menemui Dera yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Dera, kamu udah bangun, Sayang?" ucap Nanda sembari mengusap puncak kepala Dera.
"Nanda," sahut Dera yang berusaha bangun dari pembaringan.
"Hey, jangan bangun dulu, jangan banyak gerak dulu, Ra. Kamu berbaring aja. Ehm, apa yang kamu rasain sekarang? Masih sakit kah?"
"Gak sesakit tadi Nan."
"Syukurlah. Dera, dokter bilang asam lambung kamu naik. Mungkin karena kamu terlalu stress, banyak pikiran. Kamu pasti juga belum makan kan?"
Dera mengangguk pelan.
"Aku udah beliin makanan kesukaan kamu. Sekarang kamu makan dulu ya. Sini, biar aku suapin." lanjut Nanda sambil membuka bungkusan makanan yang tadi sempat dibelinya.
Nanda menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke mulut Dera. Dera yang semula ragu-ragu menerima suapan Nanda akhirnya menurut juga.
"Nan," ucap Dera di sela-sela makannya.
"Kenapa Sayang?"
"Aku bisa makan sendiri kok."
"Ah, udah gapapa. Biar aku aja yang suapin."
"Harusnya kamu balik ke kantor kan?"
"Gak kok. Meeting aku dah selesai."
"Terus kerjaan kamu yang lain?"
"Ra, aku gak terlalu sibuk hari ini. Soal kerjaan udah ada yang handle. Jadi aku bisa nemenin kamu sampe kamu pulih. Makan lagi yuk!"
"Ehmm, Nanda--"
"Apa lagi, Sayang?"
"Maaf.."
"Buat apa?"
"Karena sekali lagi aku ngerepotin kamu. Aku--"
"Kenapa bilang gitu sih? Gak ada yang ngerepotin. Lagi pula kalo terjadi sesuatu sama kamu, itu juga tanggung jawab aku."
"Kenapa?"
"Karena kamu sekretaris aku dan ini masih jam kerja. Tapi kalo di luar jam kerja, aku pun tetep punya tanggung jawab, karena aku kekasih kamu."
"Nanda, kamu--"
"Ssstt! Udah ya, bicaranya nanti lagi, sekarang kamu habisin dulu makanan kamu."
Dera terdiam dan kembali menerima suapan Nanda. Dalam hatinya, Dera kembali merasakan dilema. Sekali lagi Nanda menunjukkan perhatian dan rasa sayang yang begitu besar padanya, tapi hingga detik ini mengapa Dera masih begitu sulit memberikan hatinya pada Nanda. Justru hanya Al yang terus menguasai hati dan pikirannya.
Selesai dengan makannya, Nanda memaksa Dera kembali beristirahat. Setelah Dera memejamkan mata, Nanda melayangkan satu kecupan di dahi Dera dan ia pun keluar dari ruang rawat Dera.
.
Nanda kembali ke ruang rawat. Saat ia mengusap pipi Dera, Dera pun membuka matanya.
__ADS_1
"Eh Sayang, aku pikir kamu tidur."
Dera menggeleng.
"Kamu dari mana?"
"Aku habis urus administrasi."
"Nan, kapan aku bisa pulang? Aku udah gapapa."
"Ehm, nanti yaa. Kamu istirahat bentar dulu di sini. Nanti aku tanya sama dokter kapan kamu boleh pulang."
Nanda melepas jasnya, menyampirkannya di sofa. Setelah menggulung lengan kemejanya, Nanda meraih pisau dan beberapa buah di atas nakas.
"Sayang, aku kupasin buah buat kamu ya."
Setelah beberapa potongan buah tersaji di atas piring, Nanda mulai menusukan garpu pada potongan kecil buah-buahan dan menyuapkannya untuk Dera. Kali ini Dera menerima tanpa banyak protes. Dera mengunyah buahnya sambil memandangi wajah Nanda. Sementara yang dipandangi hanya terus menampakan senyuman manisnya.
Sepiring buah pun tandas.
"Mau aku kupasin lagi, Sayang?"
"Gak Nan. Aku udah kenyang."
"Oke, sekarang kamu istirahat lagi ya!"
Nanda yang tengah menuju ke sofa mendadak menghentikan langkahnya sebab merasakan ada yang tiba-tiba menahan tangannya.
Suara lembut yang menyebut namanya seketika terdengar, "Nanda.."
Nanda pun menoleh dan kembali mendekat ke arah Dera.
"Iya Sayang. Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"
"Oke, kamu mau bilang apa, Sayang?" Nanda mengusap lembut tiap helaian rambut Dera.
"Aku--"
"Iyaa??"
"Nanda, kamu--bisa gak, mulai sekarang kamu jauhin aku? Aku juga akan berusaha menjauh dari kamu."
"Maksudnya? Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu bilang begini?"
"Akan lebih baik kalo kita saling menjauh mulai sekarang, Nan."
"Dera--"
"Aku gak mau terus ada di situasi macem ini. Semuanya terlalu rumit. Nan, apa kamu gak capek sama situasi kita yang kayak gini?"
"Kayak gini gimana? Kenapa Sayang? Kita baik-baik aja selama ini kan?"
"Sampe kapan? Sampe kapan kamu mau nunggu kepastian yang gak pernah jelas adanya dari aku? Nan, mau aku coba sekeras apa pun, aku gak bisa. Aku gak bisa mencintai kamu seperti kamu mencintai aku."
"Ra, aku yakin suatu saat pasti bisa kok. Aku siap nunggu selama apa pun. Yang terpenting kita tetep sama-sama."
"Tanpa status hubungan yang jelas?"
"Kamu sekretaris aku, Sayang!"
"Tapi apa yang kamu harapkan lebih dari itu kan?"
__ADS_1
"Apa aku salah kalo ngarepin sesuatu?"
"Gak salah. Tapi sebaiknya harapan kamu itu bukan aku."
"Sayang??"
"Tolong Nan, jangan buat aku makin ngerasa bersalah setiap saat dengan semua perhatian kamu, apa pun yang kamu lakuin buat aku. Cukup Nanda!"
"Hey, kenapa begini sih?"
"Aku ngerasa jadi orang yang paling jahat Nan. Kamu selalu perhatiin aku, selalu ada buat aku, lakuin apa pun buat aku, tapi aku justru gak pernah bisa hargain perasaan kamu."
"Aku lakuin semuanya karena aku sayang sama kamu. Aku cinta kamu, Ra. Aku tau kamu butuh waktu. Gapapa Dera. Aku mohon jangan minta aku menjauh, itu sulit."
"Pak Nanda, kamu pria baik, kamu tampan, mapan, kamu sempurna. Kamu bisa dapetin gadis sempurna manapun. Gak sulit buat kamu, Nan."
"Kalo aku memang sesempurna itu, kenapa seorang Dera gak bisa cinta sama aku? Hm?"
"Kamu terlalu baik buat aku, Nan. Kamu terlalu sempurna."
"Hah.. Alasan klise."
"Nanda.. Bisa kan, kita akhirin kontrak kita sekarang? Bebasin aku Nan. Kita gak perlu lanjutin hubungan semu ini lagi. Lagi pula sekarang terserah kamu, aku gak peduli kamu mau berbuat apa pun ke Al, Darmajaya group atau siapa pun. Itu bukan urusan aku lagi. Aku rasa semuanya cukup sampe sini, Nan. Kamu gak perlu peduliin aku lagi."
"Gak bisa semudah itu, Ra. Mau aku berusaha kayak apa juga, jiwa aku tetep bakal nolak buat lupa dan gak peduli sama kamu. Perasaan aku bukan rasa sesaat yang bisa hilang gitu aja. Cinta aku buat kamu itu lebih dari apa pun."
"Tapi Nan--"
"Jangan Dera! Kita gak akan bisa jauh. Kamu sekretaris aku."
"Kalo gitu aku akan segera resign dari kantor kamu. Kamu bisa cari sekretaris baru, Nan."
"Gak! Gak bisa! Aku cuma mau kamu yang jadi sekretaris aku. Aku gak butuh orang lain. Posisi kamu gak bisa digantiin sama siapa pun."
"Apa aku gak berhak milih jalan aku sendiri, Nan?"
"Kita akan selalu ada di jalan yang sama, Sayang. Sebab sampe kapan pun, Nanda Armandito gak akan pernah semudah itu lepasin Nona Dera."
Dera mengulurkan tangannya ke arah Nanda. Ia menyentuh wajah Nanda dengan tatapan memohon. Nanda yang merasakan sentuhan lembut tangan Dera di pipinya hanya bisa memejamkan mata sebab Dera sangat jarang menyentuh Nanda seperti itu.
"Nan, aku mohon.."
Nanda meraih tangan Dera yang masih menempel di wajahnya. Ia genggam tangan itu erat-erat.
"Gak bisa, Ra. Aku gak bisa, Sayang. Tolong jangan paksa aku! Aku sayang kamu."
"Nanda.."
"Jangan bantah bos kamu, Dera!"
Dera melepaskan tangannya dari genggaman Nanda seraya mengalihkan pandangannya, menoleh ke sisi lain.
Nanda pun beralih meraih wajah Dera, membuat mereka kembali beradu pandang. Dera yang hampir bangun dari posisi berbaringnya tercegah oleh Nanda.
"Kamu mau ke mana? Kamu masih butuh istirahat, Sayang."
Kini Dera hanya bersandar di kepala ranjang dengan bantalnya.
Sekali lagi pandangan mereka membuat Nanda tak bisa menahan diri. Hingga akhirnya kembali terjadi pertemuan antara bibir mereka. Nanda seakan ingin benar-benar menyalurkan rasa takut kehilangannya. Sementara Dera tak kuasa melawan Nanda.
Mereka sama-sama kehabisan napas. Nanda melepaskan ciumannya. Ia beralih menyatukan dahinya dengan dahi Dera sembari mengatur napasnya. Kedua tangannya menangkup wajah Dera.
__ADS_1
"Maaf, sekali lagi aku gak bisa kendaliin diri aku. Aku mohon, jangan ada lagi pembicaraan kayak tadi ya! Aku cinta sama kamu, aku sayang banget sama kamu. Maaf Sayang, tapi sampe kapan pun aku tetep akan nolak kalo kamu minta kita berakhir."