DEALLOVE

DEALLOVE
40 | De-Al Love Never End


__ADS_3

"Nan, udah selesai pertemuannya?"


"Ya. Lebih ke ngobrol santai aja kok. Kamu belum tidur?"


"Belum ngantuk, Nan."


"Ra, aku bawain ini buat kamu." Nanda menyerahkan kantung yang dari tadi dibawanya pada Dera.


"Apa ini? Wah, es krim! Yah, tapi udah meleleh."


"Mungkin tadi kelamaan di jalan."


"Gapapa deh. Aku taruh kulkas sebentar ya, biar beku lagi."


Setelah Dera menaruh es krim di kulkas, Nanda mengajak Dera duduk berdua untuk bicara.


"Sayang, kamu beneran belum ngantuk, kan?"


Dera mengangguk.


"Kalo gitu kita bisa bicara, kan? Seperti rencana kita waktu itu. Kamu mau kasih tau semua tentang kamu yang belum aku tau."


"Hm, oke. Kita mulai dari mana? Ehm--"


"Ceritain aja apa pun tentang kamu, apa yang kamu suka dan gak suka."


Dera mulai mengoceh panjang lebar tentang dirinya yang ia pikir belum Nanda ketahui. Sementara Nanda mendengarkan dengan saksama.


"Kayaknya udah sih, Nan. Apa lagi ya? Btw, aku juga belum tau banyak tentang kamu, selain yang ada di daftar yang kamu kasih waktu aku pertama kali jadi sekretaris kamu."


"Di daftar itu udah cukup lengkap kok. Buat yang lain, mungkin kamu akan tau seiring berjalannya waktu. Makanya kita harus selalu sama-sama. Ehm, dari kamu apa gak ada lagi? Itu aja yang belum aku tau?"


"Ya. Itu aja sih, Nan. Aku sendiri juga bingung mau bilang apa lagi."


Nanda menggenggam tangan Dera, "Serius? Kalo soal hati kamu, soal perasaan kamu, gimana?"


"Nan??"


"Sayang, apa yang harus aku lakuin? Aku cuma pengin kamu juga punya rasa rindu yang sama buat aku. Seperti rasa kamu buat Al."


Dera sungguh terkejut, perasaannya sudah tak enak. Ia sudah mengira kalau Nanda mengetahui kejadian waktu itu, antara dirinya dan Al selepas pertemuan.


"A-aku ...."


"Kamu masih sayang sama Al? Kamu masih berharap bisa kembali sama dia?"


Dera menggeleng.


Sedangkan raut wajah Nanda mulai sendu, bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Kamu bahkan milih bicara sama Al setelah rapat waktu itu, sementara aku nunggu kamu sendirian di sini."


"Maaf, Nan."


"Apa yang Al bilang itu bener? Kamu juga rindu sama dia?"


"Nanda.. Gak gitu. Oke, maaf soal itu, Nan. Aku juga gak ngerti sama perasaan aku sendiri. Aku masih berusaha, bener-bener berusaha lupain dia dan cuma fokus sama kamu, tapi--"


Nanda menyentuh wajah Dera dan mengusap pipinya perlahan, "Sayang.. Aku cuma gak mau kehilangan kamu. Kamu mau kasih kesempatan buat aku, buat hubungan kita, kan? Aku akan bantu kamu biar bisa bener-bener lupa sama masa lalu kamu. Aku janji."


"Maafin aku."


"Oke. Cukup! Aku gak mau perpanjang masalah ini. Mulai sekarang jangan jauh-jauh dari aku dan jangan pernah sembunyiin apa pun lagi dari aku, ya."


Ketegangan itu seketika mereda. Namun, tak dapat dipungkiri, dalam hatinya Nanda masih menyimpan kekhawatiran cukup besar. Perihal hati Dera yang belum seutuhnya jadi miliknya, Nanda tak bisa mengabaikan itu. Nanda takut kesempatannya justru bisa benar-benar hilang.


---


Setelah urusan proyek mereka di Yogyakarta selesai, Nanda dan Dera memutuskan untuk pulang. Untuk kontrak dengan Adikara lebih lanjut bisa diurus dari kantor Nanda. Sebelum kembali ke kota mereka, Nanda mengajak Dera berjalan-jalan, menikmati beberapa tempat wisata sebelum benar-benar meninggalkan Yogyakarta. Tak lupa membeli beberapa oleh-oleh untuk mama Nanda dan keluarga Dera.


"Nan, aku rasa ini udah cukup. Kamu udah beli banyak banget buat ayah ibu aku. Apalagi kamu gak mau aku potong gaji aja buat ini."


"Sstt, gapapa. Lagi pula kita kan jarang-jarang ke sini. Kamu pun udah bantu aku pilih oleh-oleh buat mama. Jadi, sekarang biarin aku belajar jadi calon menantu idaman buat ayah ibu kamu."


"Astaga.. Nanda!"


"Sayang, ntar kamu temenin aku kasih oleh-oleh ini buat mama ya. Sekalian biar mama bisa ketemu kamu, katanya mama kangen sama kamu."

__ADS_1


---


Nanda mengajak Dera ke rumah orang tuanya. Mama Nanda sangat senang dengan hadiah baju dan kain batik yang dipilihkan oleh Dera sebagai oleh-oleh dari Yogyakarta. Mama Nanda pun mengajak Dera membuat kue kesukaan Nanda.


"Ra, udah lama banget ya, tante tuh kangen masak-masak bareng kamu lagi."


"Iya, Tante. Dera juga kangen masak bareng Tante."


"Kamu sama Nanda baik-baik aja, kan?"


"Ahh i-iya, Tante."


Sambil membuat kue di dapur, mama Nanda bercerita panjang lebar tentang anaknya serta menyampaikan harapan besarnya untuk segera meminang Dera sebagai pasangan sehidup semati bagi putra satu-satunya. Sontak Dera pun makin merasa kepikiran dan terbebani. Begitu berat rasanya jika ia nantinya sampai mengecewakan harapan mama Nanda, tetapi untuk seutuhnya bersama Nanda apalagi sampai mengikat janji sehidup semati, Dera masih tak siap dan entah kapan ia akan benar-benar siap, ia sendiri pun tak dapat memastikan.


Hingga Dera pun tak menyangka, di hari itu juga Nanda menyampaikan keinginannya untuk bertunangan dengan Dera, di depan kedua orang tuanya. Tak ada hal lain selain mama dan papa Nanda yang ikut membujuk Dera agar tak menolak. Dera terjebak di situasi yang tak diinginkannya. Melihat antusiasme keluarga Nanda, bibir Dera terbujuk untuk berkata iya. Sejak hari itu persiapan pertunangan Nanda dan Dera dimulai.


---


Di menit-menit menjelang acara pertunangannya, keraguan Dera justru makin memuncak. Meski ini belum pernikahan, rasanya tetap saja Dera tak siap. Ia berharap andai waktu bisa diundur lagi, tapi nyatanya sudah tak bisa bahkan Dera sadar benar gaun pertunangan yang indah sudah terpasang apik di tubuhnya.


Begitu Dera sudah berdiri di samping Nanda, disaksikan banyak pasang mata tamu acara dan Nanda mulai bersiap dengan cincin pertunangannya, tiba-tiba Dera oleng. Tubuh Dera limbung, Dera tak sadarkan diri. Nanda langsung sigap menangkap tubuh itu, menggendongnya dan membawanya ke kamar untuk dibaringkan.


Nanda begitu panik. Dokter pun segera tiba setelah Nanda menghubunginya.


Beberapa menit setelah dokter pergi, Dera tersadar.


"Sayang, syukurlah kamu udah bangun. Kamu tadi pingsan. Harusnya kamu bilang sama aku kalo memang lagi kurang sehat."


"Nan, maaf."


"Gapapa Sayang, kita bisa lanjutin pertunangan ini setelah kondisi kamu membaik."


Dera pun berusaha bangun dari posisi berbaringnya.


"Sayang, kamu jangan bangun dulu. Kamu masih lemah."


"Gak, Nan. Aku mau bicara sama kamu."


"Oke, tapi gak harus sekarang, kan? Kamu istirahat dulu, Ra."


"Tolong, Nanda. Ini penting."


"Aku gak bisa tunangan sama kamu."


"Iya aku tau. Kita gak akan tunangan sekarang, Sayang. Kondisi kamu masih--"


"Bukan, maksud aku bukan cuma untuk sekarang. Sampai kapan pun aku gak akan bisa."


"Ra??"


"Nanda.. Aku gak mau terus jebak kamu dalam hubungan semu. Kenyataannya aku gak akan pernah bisa bales cinta kamu. Aku gak bisa mencintai kamu, Nan. Aku mau kita udahin semua ini sebelum makin jauh. Aku bener-bener ngerasa bersalah kalo terus pertahanin hubungan gak jelas ini. Aku gak mau terus siksa kamu dengan cinta sepihak. Akan lebih baik kamu lupain aku mulai dari sekarang."


"Astaga Ra, kamu kenapa tiba-tiba begini? Ini mungkin karena kondisi kamu jadi kamu terlalu overthinking. Sayang, semuanya--"


"Nanda, aku serius. Maaf karena harus buat kamu dan keluarga kamu kecewa berat. Harusnya aku tolak permintaan kamu buat pertunangan ini sejak awal. Walaupun terlambat, akan lebih baik kalo ini gak terjadi."


"Tapi aku sayang kamu, aku cinta kamu, Dera! Please, jangan begini! Kita bisa, Ra, mungkin cuma butuh waktu, ya kan? Aku bisa--"


"Aku mohon, aku gak bisa. Jangan paksa aku, Nan. Silakan, kamu boleh marahin aku, caci maki aku, ungkapin semua kekecewaan kamu buat aku, bahkan kamu mau pecat aku, aku akan terima. Aku memang bukan sekretaris dan kekasih yang baik. Aku percaya kamu akan dapetin kebahagiaan kamu juga, tapi bukan dari aku, Nan. Sorry to hurt you, but i think this is better for us."


Nanda hanya terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya memerah, bahkan matanya telah basah. Karena tak sanggup lagi menghadapi Dera, Nanda memilih keluar meninggalkan Dera.


Dera sungguh merasa bersalah karena telah mengecewakan keluarga sebaik keluarga Nanda. Ia pun merasa tak enak jika harus berlama-lama di tempat itu. Akhirnya Dera memutuskan berusaha bangun dari ranjang. Sesampai di luar kamar, ia bertemu orang tua Nanda.


"Dera, kamu mau ke mana? Kamu masih butuh istirahat, Nak," tukas mama Nanda.


"Tante, maaf. Dera harus pulang sekarang. Dera--"


"Nak, Nanda udah cerita semuanya. Apa pun keputusan kamu, tante akan coba ngerti. Tante juga gak bisa maksa kamu, kan? Walau tante agak kecewa karena kehilangan calon menantu seperti kamu, tapi lebih baik kamu jujur daripada jalanin semua dengan terpaksa. Tante tau saat ini Nanda pasti terluka, tapi tenang aja, lambat laun pasti dia akan sembuh dengan sendirinya."


"Sekali lagi Dera minta maaf, Tante, Om. Dera harus pulang dan jelasin semuanya ke ayah ibu."


"Ya udah, biar Nanda anter kamu ya. Dia juga gak akan biarin kamu pergi sendiri dalam kondisi begini. Nanda ada di depan."


Begitu Dera sampai di depan, ia melihat Nanda dengan raut kecewanya. Dera sangat mengerti keadaan hati Nanda saat ini pasti benar-benar kacau.


"Nan, aku pamit pulang ya."

__ADS_1


"Harus sekarang? Kamu gak bisa nunggu sebentar lagi? Seenggaknya sampai kondisi kamu pulih dulu."


"Aku udah gapapa."


"Oke terserah. Aku anter kamu."


Baru saja mereka hendak masuk mobil, seseorang memarkirkan mobilnya di depan kediaman orang tua Nanda. Pria itu turun dari mobil dengan setelan tuksedo rapi.


"Dera!"


"Al? Kamu ngapain di sini?"


"Ra, kamu tau kan, hari ini pernikahan aku sama Natasya. Dan sekarang aku buktiin sama kamu, janji aku, aku gak akan nikah sama dia atau siapa pun. Aku lari dari pernikahan itu."


"Apa? Kamu kabur? Tapi Natasya itu udah jadi tunangan kamu, harusnya kamu gak ninggalin dia gitu aja."


"Aku gak peduli yang lain, buat aku yang terpenting itu perjuangan aku buat kita."


"Al--"


"Apa kamu beneran udah tunangan sama Nanda?"


"Pertunangan kami batal, dan ... Gak akan pernah terjadi." Nanda menepuk bahu Al. "Gue ngaku kalah, gue gak bisa maksa Dera. Dia gak akan bahagia sama gue. Jadi, kalo lo beneran cinta sama Dera, tolong jaga dia dengan baik, perjuangin dia, jangan buat dia nangis lagi."


"Nan, lo ... Gue gak akan buat Dera kecewa lagi, gue janji. Ra, kamu mau ikut aku sekarang? Ayo kita menikah!"


"Apa? Gak mungkin Al, tanpa persetujuan orang tua kita?"


"Dera, kalo kamu memang sayang sama Al, apa pun itu, kamu harus perjuangin cinta kamu. Pergilah!" ucap Nanda.


Dera akhirnya mengikuti Al. Di tengah perjalanan ternyata mobil keluarga Al berhasil membuntuti mobil Al. Setelah cukup berusaha menghindar dari kejaran keluarganya, Al harus berhenti ketika mobil keluarganya berhasil mengepungnya.


Al mengajak Dera turun dari mobil. Pak Darma dan istrinya, serta beberapa anggota keluarga besar lainnya ikut turun dari mobil hendak mengejar Al. Merasa tak ada pilihan lagi, Al menciptakan drama di depan keluarganya. Kebetulan mereka berada di jembatan layang dan lokasi itu dimanfaatkan oleh Al untuk meyakinkan orang tuanya.


"Berhenti! Kalo Papa sama Mama mendekat, aku akan loncat!"


"Al! Apa kamu udah gila! Kenapa kamu kekanakan begini?" sahut Pak Darma.


"Selama ini Papa sama Mama gak pernah bisa ngertiin perasaan aku. Kalo aku gak bisa bersama Dera, aku pun gak bisa bersama siapa pun, lebih baik aku pergi selamanya."


"AL!!"


"Al, kamu jangan nekat. Kenapa harus begini?" tukas Dera yang ikut takut.


"Sayang, gak ada cara lain. Maafin aku. Sekarang biar semuanya terserah mereka. Kamu mundur ya, aku gak mau kamu jatuh juga."


Perdebatan alot nan panjang pun terjadi antara Al dan kedua orang tuanya. Al makin menunjukkan kenekatannya dan pernyataannya yang tidak main-main. Al benar-benar akan loncat. Pada akhirnya, Pak Darma pun memutuskan.


"Baik Al. Papa gak akan larang kamu sama Dera. Kamu mundur dari sana sekarang!"


"Papa serius? Setelah ini Papa gak akan berubah pikiran, kan? Papa sama Mama gak akan nyakitin Dera dan keluarganya lagi, kan?"


"Ya. Asal kamu jangan pernah gegabah lagi kayak gini."


Al langsung menghampiri kedua orang tuanya, tak lupa ia menggandeng Dera.


"Pa, Ma, aku tau, gimanapun juga kalian ini tetep orang tua aku. Kalian pasti cuma mau liat aku bahagia, kan? Dan kebahagiaan aku saat ini cuma ada sama Dera. Papa gak usah khawatir, aku akan bantu jelasin semuanya, kasih pengertian ke keluarga Natasya dan juga ayah ibu Dera."


Al dan Dera melaksanakan pernikahan hari itu juga. Dengan persiapan super kilat, hanya dihadiri kedua keluarga serta beberapa tamu yang tadinya menjadi tamu undangan pernikahan Al dan Natasya. Pernikahan yang selama ini mereka pikir mustahil, kini benar-benar terjadi.


Sementara Nanda yang menyaksikan berita pernikahan dadakan Al dan Dera lewat media sosial hanya bisa tersenyum getir. Separuh hatinya bahagia karena melihat Dera-nya akhirnya tersenyum bahagia setelah mendapatkan cintanya. Separuh hatinya yang lain pun menangis karena menyadari detik itu juga ia sudah benar-benar kehilangan cintanya.


Sehari setelah kejadian itu, Nanda memutuskan pergi sejenak, menenangkan diri di negara lain. Untuk sementara waktu, urusan perusahaan ia serahkan pada bawahannya. Dera pun sudah mengirim surat pengunduran dirinya ke kantor Nanda.


---


"Dera.. Sayang, sekarang kamu percaya, kan? Kita memang ditakdirkan bersama." ucap Al.


"Ya walau agak maksa kesannya."


"Bukan maksa, tapi itu perjuangan kita. Yang jelas sekarang cinta Dera dan Al gak akan pernah berakhir. Dera cuma ditakdirkan untuk Al dan Al memang cuma buat Dera."


Dera dan Al berpelukan sembari menikmati langit senja berdua.


•••


Dalam akhir tiap kisah, pasti ada pihak yang bahagia, ada pula pihak yang menderita. Siapa yang akhirnya bahagia atau menderita, itu sejatinya dalam kuasa takdir. Namun, penderitaan tak akan selamanya. Sebab Tuhan tak menciptakan makhluk-Nya hanya untuk menderita di dunia. Ada alasan dan sudah pasti ada bingkisan kebahagiaan yang telah disiapkan. Hanya saja waktu pemberian hadiah itu berbeda-beda untuk tiap orang. Insan hanya bisa berusaha menjalani apa yang ada dan membiarkan takdir yang berbicara.

__ADS_1


-END-


__ADS_2