DEALLOVE

DEALLOVE
33 | Make a Perfect Beginning


__ADS_3

Dera baru saja terbangun pagi ini. Kali ini ia tak terlambat bangun lagi. Sebelum mandi dan bersiap ke kantor, Dera pergi ke teras untuk sekadar menikmati udara sejuk pagi hari sambil sedikit olahraga senam kecil.


Ketika Dera tengah membentangkan tangannya sembari menghirup udara dalam-dalam, matanya terpejam. Begitu ia membuka mata kembali, seketika ia terkejut setengah mati melihat seseorang tiba-tiba ada di hadapannya.


"ASTAGA! KAMU .... "


"Selamat pagi, Nyonya!"


"Kamu ngapain di sini?"


"Jemput kamu lah, kan juga biasanya kita pergi ke kantor bareng."


"Oke, tapi gak sepagi ini juga kan? Kamu gak liat ini masih jam berapa ya? Atau jam kamu yang ngaco hari ini. Aku bahkan belum mandi, Nan."


"Ehehe.. Gak kok, Sayang. Aku sadar ini masih terlalu pagi. Tapi aku emang sengaja ke sini sekarang. Jujur Ra, semalem aku gak bisa tidur tau. Kamu udah bikin aku gak bisa tidur, mungkin saking senengnya aku, Sayang."


"Ya ampun Nan, kamu ini ada-ada aja."


"Ehm, tapi Sayang, yang semalem itu, ehh kamu serius kan? Aku harap kamu hari ini gak berubah pikiran."


"Hahaha.. Nan, please deh. Aku gak mungkin berubah pikiran lah. Aku pun gak suka permainin perasaan orang."


Seketika Nanda langsung mendekap Dera erat-erat.


"Makasih ya Sayang. Aku janji gak akan kecewain kamu."


"I-iya Nan, aku tau. Tapi.. Ehm lepasin dulu, aku tuh belum mandi, Nan."


"Gapapa kok. Aku nyaman-nyaman aja peluk kamu meski kamu belum mandi."


Setelah mereka bicara dan berpelukan hampir lima menit, Dera melepaskan pelukan Nanda.


"Ya udah Nan, masuk yuk. Aku mandi dulu. Kamu tunggu di dalem aja."


"Oke Sayang."


Nanda disambut hangat oleh orang tua Dera. Sementara Dera bersiap, ayah ibu Dera tak membiarkan Nanda bosan.


Mereka pun sarapan bersama. Datang ke rumah Dera sepagi itu, sudah pasti Nanda belum sempat sarapan. Nanda menerima tawaran Dera untuk sarapan bersama meski dengan menu yang sederhana.


Nanda dan Dera pergi ke kantor bersama. Hari ini raut wajah Nanda begitu semringah. Bahkan, ia yang biasanya dingin dengan semua pegawai mendadak berubah ramah. Para pegawainya berharap itu tak cuma sehari saja, Nanda bisa seterusnya seperti itu.


Nanda hanya tak ingin ada yang merusak hari bahagianya, ini hari pertama Nanda memulai hubungan barunya dengan Dera.


"Aku ke ruangan dulu ya." ucap Dera.


"Iya. Ehm, nanti makan siang bareng ya."


"Oke Nan."


---


Siang harinya mereka makan siang bersama. Nanda mengajak Dera makan di cafe dekat kantor. Padahal Dera tadinya ingin makan di kantin kantor saja.


"Nanda.. Kenapa sih? Di kantin kantor kan juga banyak makanan enak. Sekali-kali gapapa kan kalo makan siang di sana aja."

__ADS_1


"Dera, aku tau. Tapi aku pengin makan di luar aja. Kalo di kantin kantor, banyak pegawai lain di sana. Aku ngerasa gak bebas aja, aku pengin tempat yang lebih private sama kamu. Lagi pula kamu juga pasti risih kan kalo mereka liatin kita lagi berduaan?"


"Ih, kan niatnya cuma mau makan doang."


"Hmm, ya ya."


"Oke, iya maap. Terserah kamu aja, Pak CEO."


"Udah yuk, kita pesen aja ya."


Selesai mereka makan, Nanda dan Dera akan kembali ke kantor. Namun, Nanda harus tertahan di cafe itu karena kebetulan bertemu klien bisnisnya di sana. Karena tak ingin terlibat dengan pembicaraan mereka, Dera memutuskan untuk keluar duluan dan menunggu di mobil Nanda.


Belum sampai di mobil Nanda, Dera terpaku begitu berpapasan dengan seorang pria.


"Dera.." sebut pria itu.


"Iya. Maaf, permisi."


Sebelum berhasil beranjak, pria itu menahan tangan Dera.


"Al tolong!"


"Ra, semenjak terakhir kali kita ketemu waktu itu, kita gak pernah bicara lagi. Aku mohon, Dera, kasih sedikit waktu buat kita bicarain semuanya."


"Bicara? Apa lagi yang mau dibicarain sih Al? Kamu mau tanya apa pun soal kita, jawaban aku tetep sama."


"Dera please.. Kita bicara sebentar. Aku cuma mau kita perbaikin semuanya, Sayang."


"Apa Al?"


"Kamu harus bisa. Apa kamu mau ingkarin persiapan pernikahan yang udah dipamerin keluarga Darmajaya?"


"Justru itu, aku mau kamu percaya sama aku. Pernikahan itu gak akan terjadi. Aku gak bisa nikah sama Natasya."


"Udah Al. Mau sampe kapan sih kita ungkit-ungkit hal yang udah jelas harus berakhir? Kamu harus bahagia sama Natasya, karena aku sekarang juga udah bahagia sama Nanda. Aku udah mutusin mau kasih kesempatan buat hubungan aku sama Nanda."


"Itu gak mungkin. Kamu masih cinta sama aku, hati kamu masih buat aku. Kamu gak bisa lupain semua tentang kita begitu aja. Aku kenal baik siapa kamu, Ra."


"Kamu gak kenal aku yang sekarang, Al. Dera-kamu yang dulu udah gak ada."


"Aku percaya kita bisa kembali seperti dulu, Sayang."


"Gak Al, tolong lepasin. Biarin aku pergi."


"Sayang--"


"Tuan Al Putra Darmajaya, bisa tolong Anda lepaskan kekasih saya!"


"Elo gak usah ikut campur dulu. Ini masalah gue sama Dera."


"Mohon maaf, Pak. Yang Anda ajak bicara itu kekasih saya. Jadi, saya berhak ikut campur di sini."


Karena tak ingin suasana makin memanas, Dera mencoba menghentikan perdebatan Al dengan Nanda.


"Nanda, udah. Kita pergi aja ya."

__ADS_1


"Dia duluan yang cari gara-gara kan, Sayang."


"Ra, aku cuma pengin kita bicara sebentar. Dengan suasana yang tenang. Biar kamu bisa pikirin keputusan terbaik buat kita."


"Eh Al, maksud lo apa? Lo mau bilang kalo dengan Dera sama gue sekarang itu karena dia salah ambil keputusan? Lo bisa gak sih gak usah usik gue sama Dera lagi! Urus aja hidup lo sendiri, urus keluarga lo, urus tuh calon istri lo."


"Udah Nan, ayo. Kita balik ke kantor aja. Gak akan ada habisnya kalo kalian terus ribut di sini."


Akhirnya Dera dan Nanda memutuskan kembali ke kantor, meninggalkan Al di sana.


"RA, TUNGGU..."


---


"Nanda.. Udah dong. Kamu jangan kesel gitu. Please, lupain aja. Aku juga gak mau ada urusan lagi sama dia kok."


"Aku gak suka aja, Ra. Dia udah ngerusak hari ini. Harusnya tadi aku dengerin kamu, kita makan siang di kantin kantor aja. Jadi kita gak perlu ketemu sama tuh orang kan."


"Ya udah Nanda, udah. Gak usah dibahas lagi ya."


"Sayang, kalo dia masih ganggu kamu lagi, kamu harus kasih tau aku ya. Tolong."


"Oke Nan."


Meski sudah mendapat persetujuan Dera untuk hubungan baru mereka, Nanda masih saja khawatir perihal Al. Nanda tahu, Dera masih dalam tahap berusaha untuk sepenuhnya melupakan Al. Nanda tak ingin Al kembali mengusik Dera dan menghancurkan harapan Nanda.


---


Malam harinya, Nanda mengajak Dera makan malam romantis di sebuah restoran yang sudah ia pesan khusus hanya untuk mereka berdua.


"Nanda.. Ini kok tempatnya sepi banget? Cuma ada kita."


"Memang cuma buat kita, Sayang. Aku sengaja reservasi tempat ini malem ini cuma buat berdua sama kamu."


"Astaga Nanda, kenapa harus kayak gini segala? Ini--"


"Sayangku.. Aku cuma mau menutup hari ini dengan sempurna. Karena siang kita tadi agak kacau karena--ya itulah. Makanya aku gak mau malem ini juga berlalu begitu aja. Aku mau malem ini jadi moment yang indah antara kamu dan aku. Okey!"


Dera tak ada niatan melawan keinginan Nanda lagi. Lagi pula ia harus terbiasa bersama Nanda mulai sekarang.


Mereka pun makan malam dengan suasana santai dan tetap romantis. Senyum terpancar dari wajah keduanya. Selesai dengan makanannya, Nanda mengajak Dera berdansa.


"Nanda.. Gak deh. Aku gak bisa."


"Ayolah, Sayang. Aku juga gak jago kok. Kita santai aja, pelan-pelan, ikutin musiknya, yuk!"


Mereka sudah berhadapan. Kedua tangan Dera sudah terletak manis di bahu Nanda. Sementara tangan Nanda sudah merangkul pinggang Dera dan ia mulai mengarahkan langkah mereka.


"Sayang, aku bener-bener bahagia malem ini. Semoga waktu berjalan lambat ya, biar kebersamaan kita gak terasa singkat."


"Nan.."


"Please, jangan pernah berubah pikiran ya. Aku sayang sama kamu, Ra."


"Aku juga sayang kamu, Nanda."

__ADS_1


__ADS_2