DEALLOVE

DEALLOVE
26 | Mistake


__ADS_3

Nanda masih meracau tak jelas di hadapan Dera. Dera belum bisa lepas dari cengkeraman Nanda yang memeluknya begitu erat.


"Dera.. Kamu tau apa yang aku rasain sekarang? Rasanya sakit banget, Dera. Sakit! Aku gak nyangka, ternyata mencintai seseorang rasanya sesakit ini. Kamu gak pernah paham perasaan aku. Cinta aku ke kamu.. Kamu gak pernah peduli. Mau kamu apa? Kamu mau kembali sama mantan terindah kamu itu? Al Putra Darmajaya, yang udah jelas-jelas keluarganya selalu ngerendahin kamu, gak terima kamu. Aku kurang apa Dera? Ha?"


"Nanda, aku gak bermaksud .... "


"Sstt.. Aku udah bilang kamu diem aja! Ini saatnya aku yang bicara. Tadi aku udah kasih kamu kesempatan buat jawab semua pertanyaan aku, tapi kamu gak pake kesempatan itu. Sekarang giliran aku yang bicara. Jangan ngebantah CEO kamu!"


Dera langsung terdiam. Ia tak berani lagi membuka mulut. Saat ini amarah Nanda sudah mencapai puncaknya. Meski Nanda sedang tidak sadar, tetap saja ia begitu menakutkan bagi Dera.


"Aku cuma CEO biasa yang jatuh cinta sama sekretaris aku. Tapi, apa yang aku dapet? Cuma sakit hati. Sekretaris aku yang paling aku sayang sama sekali gak peduli masalah hati aku. Dia gak pernah mau kasih aku kesempatan. Sampe kapan aku harus nunggu dia? DERA, AKU SAYANG KAMU. AKU CINTA SAMA KAMU!!"


Nanda begitu kecewa, mukanya merah padam. Bahkan ia mulai terisak. Matanya basah. Seorang Nanda, CEO yang terkenal dingin dan disegani, kini menitikkan air mata hanya karena seorang wanita.


"Maafin aku Nanda," ucap Dera dalam hati.


Nanda tak lagi berteriak. Ia seperti kehabisan tenaga sekarang. Namun, pelukannya pada tubuh Dera masih begitu erat.


"Jangan pergi Dera! Jangan tinggalin aku ya! Aku sayang sama kamu. Kamu bisa tetep di sisi aku kan? Aku gak mau jauh dari kamu." Nanda mencium kening Dera begitu lama, ciuman yang begitu dalam hingga ia terlelap.


Nanda memejamkan matanya dengan tetap memeluk kesayangannya. Dera masih berusaha lepas dari dekapan Nanda.


---


Nanda terbangun di pagi hari. Sebenarnya bukan pagi lagi, ini sudah hampir pukul 10.00. Nanda merasakan kepalanya begitu berat, mungkin karena efek terlalu banyak minum semalam. Sang CEO itu mencoba mengingat apa yang terjadi. Satu hal yang ia ingat, semalam Dera sempat bersamanya.


"Astaga, Dera.. Apa aku udah berbuat hal buruk ke kamu? Apa yang terjadi tadi malem?" Pikiran Nanda jadi tak karuan.


Nanda segera bangun, ia bersiap sendiri. Setelah itu, ia bergegas keluar menuju ke kamar hotel Dera. Nanda ingin memastikan sesuatu.


Kebetulan pintu kamar Dera tak terkunci, tanpa basa-basi, Nanda membuka kenop pintu. Tampak Dera sedang membereskan baju-bajunya. Melipatnya dan memasukannya dalam koper.


"Dera?"


"Nanda---"


"Maaf, aku gak ketuk pintu dulu. Aku .... "


"Gapapa kok Nan."

__ADS_1


"Dera, aku mau tanya, soal semalem.. Apa aku---"


"Nanda, aku lagi beres-beres. Hari ini kita harus balik kan? Maaf Nan, aku sibuk, habis ini aku juga harus bantuin ayah ibu beresin barang-barangnya. Kamu udah beres-beres juga? Setelah ini, aku bantuin kamu beres-beres."


"Dera, aku cuma mau tanya soal---"


"Udah Nan, tolong kamu pergi dulu! Aku lagi sibuk."


Nanda pasrah. Ia keluar dari kamar Dera. Pikirannya makin kacau. Ia bertanya-tanya mengapa Dera seakan tak ingin membahas kejadian semalam. Apa sudah terjadi sesuatu antara mereka? Apa Nanda sudah menyakiti Dera semalam?


Nanda dan Dera sudah selesai bersiap. Kini mereka berada di pesawat. Kondisinya masih sama, Dera masih berdiam diri. Tak ingin bicara, bahkan tak ingin menatap Nanda. Nanda masih berusaha mencari tahu apa sebabnya.


"Dera, kamu makan dulu ya!"


"Iya nanti aku makan."


"Sekarang aja, Ra. Nanti kamu sakit."


"Aku lagi gak pengin makan sekarang, Nan."


"Kamu kenapa sih, Ra? Kalo aku salah, aku minta maaf. Jujur aku gak inget kejadian semalem. Apa yang udah aku lakuin, Dera?"


"Dera, jangan diem aja! Tolong jawab aku! Kamu tau, pikiran aku bener-bener kacau sekarang."


"Tolong Nan, jangan tanya apa-apa lagi soal semalem. Gak usah dibahas lagi, Nanda."


Dalam perjalanan penerbangan mereka kembali ke tempat pekerjaan, Dera tertidur. Nanda menatap wajah tenang Dera yang tengah terlelap. Nanda melepaskan jasnya, menggunakannya untuk menutupi tubuh Dera. Nanda pun menyandarkan kepala Dera di bahunya agar posisi tidurnya lebih nyaman.


"Dera Sayang, sebenernya apa yang terjadi? Kamu gak mungkin begini kalo gak ada apa-apa kan? Maafin aku Dera, aku bener-bener gak inget apa pun. Harusnya kamu jelasin ke aku semua kesalahan aku," gumam Nanda yang tentunya tak kan didengar Dera.


Akhirnya mereka pun sampai ke tempat tujuan. Nanda membangunkan Dera dengan lembut dan perlahan.


"Ra.. Bangun yuk! Kita udah sampe," bisik Nanda sambil mengusap pipi Dera.


Dera terbangun. Ia terkejut dengan posisinya yang sedekat itu ke Nanda. Dera pun langsung bergerak menjauh.


"Ayo Dera, habis ini kamu bisa istirahat dulu di apartement aku. Aku harus ketemu klien sebentar."


"Gak usah Nan, aku langsung balik aja ke kantor."

__ADS_1


"Aku gak minta kamu langsung kerja lagi hari ini, Ra!"


"Nanda--"


"Di sini siapa bosnya? Nurut aja kenapa sih?"


Mereka turun dari pesawat, mobil pribadi Nanda sudah terparkir rapi di pelataran bandara. Ketika mereka berdua berjalan menuju ke mobil, hak sepatu Dera seperti tersandung sesuatu. Dera pun oleng dan hampir terjatuh. Nanda dengan sigap menangkap Dera.


"Ahh,"


"Dera, kamu gapapa?"


"Maaf, kaki aku kesandung sesuatu tadi."


"It's okay. Gapapa kok."


Dera masih berpegangan pada lengan Nanda. Tangannya masih mencengkeram kuat lengan kemeja Nanda.


"Aduh," pekik Dera kesakitan.


"Ra, kaki kamu sakit kah? Kayaknya kamu terkilir. Kita ke klinik dulu ya, obatin kaki kamu. Bisa jalan gak?"


Dera tampak ragu menjawab.


"Aku anggep jawaban kamu iya. Kaki kamu masih sakit."


Tanpa aba-aba, Nanda menggendong Dera agar mereka bisa segera mencapai mobil.


"Nan,"


"Sstt, udah gapapa. Kaki kamu sakit kan?"


Mereka masuk ke mobil. Sesampai di depan klinik, Nanda kembali menggendong Dera ala-ala pasangan pengantin baru.


Kaki Dera sudah diobati. Memang rasanya masih agak sakit dan Dera masih kesulitan untuk berjalan. Namun, kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Nanda membantu Dera berdiri. Setelah Dera berhasil berdiri, Nanda justru memeluk Dera dengan begitu erat.


"Dera.. Maaf. Maafin aku atas segala kesalahan yang udah aku perbuat ke kamu. Kalo menurut kamu aku ini gak pantes buat dimaafin, hukum aku, Ra! Kamu boleh hukum aku apa pun, tapi satu hal, tolong jangan diemin aku begini. Jangan cuekin aku! Please Dera, aku butuh kamu. Jangan dingin lagi ya!"

__ADS_1


__ADS_2