
Di ruangan sekretaris yang saat ini ditempati oleh Dera, Dera sedang memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sungguh tak nyaman dengan situasi ini. Menjadi sekretaris pribadi Nanda bukanlah hal menarik untuknya.
Meski dengan itu berarti ia naik jabatan dari yang sebelumnya pegawai biasa kini menjadi sekretaris kepercayaan Nanda dan otomatis gajinya di perusahaan itu jadi lebih tinggi, Dera tetap tak menginginkan hal itu. Karena jujur saja, sampai detik ini ia masih merasa canggung dan takut pada Nanda.
Lamunan Dera seketika terpecah begitu terdengar suara dering telepon di ruangannya.
"Halo Dera, ini saya Nanda."
"Oh, halo Pak. Ee... I.. Iya Pak Nanda ada apa?"
"Kamu ke ruangan saya sekarang ya!"
"Baik Pak."
Dera bergegas menuju ke ruangan Nanda yang berjarak tak begitu jauh dari ruangannya. Setelah ia mengetuk pintu dan Nanda menyuruhnya masuk, ia mulai menghampiri Nanda yang sedang duduk di kursi kebesarannya sebagai CEO.
"Maaf Pak, ada apa ya Pak?"
"Dera, satu jam lagi kamu nanti temenin saya meeting ya."
"Saya Pak?"
"Iya saya minta kamu, dari tadi saya ngomong sama kamu kan?"
"Ya tapi kenapa harus saya Pak?"
"Karena kamu sekarang sekretaris saya. Udah... Gak perlu banyak tanya lagi. Nanti kamu tinggal ikut saya. Ini kamu pelajari berkas ini dulu sebentar."
"Baik Pak."
Satu jam kemudian, Dera menemani Nanda untuk meeting dengan kliennya di sebuah restoran yang cukup mewah. Klien tersebut menyetujui sebuah kontrak besar dengan perusahaan Nanda. Nanda sangat puas dengan kinerja Dera karena dalam meeting itu Dera sangat membantu meyakinkan sang klien agar menyetujui kontrak tersebut.
"Dera... Makasih buat bantuan kamu tadi. Kerja kamu bagus."
"Ah saya gak ngapa-ngapain kok Pak."
"Kamu itu mempermudah saya buat dapetin kontrak sama klien saya tadi Dera. Kamu tau, itu kontrak yang besar dan bener-bener menguntungkan buat perusahaan kita."
"Pak Nanda bisa dapetin kontrak itu karena usaha Pak Nanda kok."
"Oke, terserah kamu. Yang jelas saya sangat berterima kasih."
"Ya udah Pak. Kita bisa kembali ke kantor sekarang?"
"Heemm, Dera. Ini mau jam makan siang, jadi sekalian kita makan siang di sini aja ya."
"Makan siang? Ehh, Bapak aja ya. Saya bisa makan siang di kantin kantor kok Pak. Kalo gitu, saya duluan balik ke kantor ya Pak.."
"Siapa yang ijinin kamu pergi Dera?? Kamu harus temenin saya makan siang di sini."
__ADS_1
"Tapi Pak..."
"Cukup Dera! Kamu ini ternyata suka banget protes yaa. Udah, kamu nurut aja sekarang. Saya traktir kamu makan siang hari ini. Anggep aja ini hadiah dari saya karena kontrak yang tadi."
Saat Dera hampir membuka mulutnya untuk kembali menolak ajakan Nanda, dengan cepat Nanda memotong reaksi Dera.
"Sstt Dera, gak ada tapi-tapi lagi. Gak ada protes lagi. Sekarang kamu duduk!"
Dera tak memiliki daya lagi untuk menolak permintaan Nanda. Akhirnya mereka makan siang berdua.
Dera tetap tak nyaman dan merasa canggung, ia buru-buru menghabiskan makanannya agar bisa segera pergi dan terbebas dari situasi itu.
"Dera kamu udah laper banget ya? Pelan-pelan aja makannya. Kenapa buru-buru gitu? Nanti kamu bisa tersedak loh."
"Emm... Maaf Pak. Abisnya makanannya enak. Saya belum pernah makan yang se-enak ini." Dera berusaha mencari alasan sekaligus ingin membuat Nanda ill feel.
Namun, bukannya ill feel, Nanda justru makin gemas dengan sikap dan kepolosan Dera.
"Haha, Dera.. Dera. Kamu ini ada-ada aja!" Nanda berkata sambil tertawa kecil melihat tingkah Dera.
"..."
Dera tak menjawab Nanda. Pipinya kini merona karena malu telah ditertawakan oleh Nanda.
"Oke Dera. Kamu gak perlu malu gitu. Gini deh, kalo kamu suka makan di sini, saya bisa ajak kamu ke sini tiap hari."
"Gapapa kok Dera. Ohh iya, dari yang kamu bilang tadi, boleh saya tanya sesuatu? Emang pacar kamu itu gak pernah ajakin kamu makan di tempat kayak gini?"
Dera tersedak mendengar kata-kata Nanda.
"Maaf Dera, saya gak bermaksud buat--"
"Gak masalah kok Pak. Kalo Pak Nanda mau tau, pacar saya bahkan sempet lamar saya di sebuah cafe yang cukup mewah. Kami sering makan bareng atau dinner bareng di beberapa restoran. Cuma saya lebih suka habisin waktu sama pacar saya di tempat-tempat sederhana yang indah dan penuh suasana romantis. Gak perlu tempat yang mahal kan Pak, yang penting ada quality time-nya. Kalo tempat kayak gini mah cuma level Pak Nanda aja. Kami lebih suka yang sederhana."
Perkataan Dera yang panjang lebar itu membuat hati Nanda terkoyak. Dengan santainya Dera menceritakan kebersamaannya dengan Al di depan muka Nanda, pria yang saat ini benar-benar menginginkan cinta Dera.
Nanda terlihat emosi tetapi masih berusaha menahannya agar tak meledak di depan semua orang.
"Maaf Pak. Saya terlalu ngelantur ya? Mungkin saya salah bicara. Maafin saya Pak Nanda, saya... Saya gak bermaksud apa-apa kok."
"Udah. Gapapa kok Dera. Sekarang kita lanjutin makan aja yaa."
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
•••
Saat jam pulang kantor, Nanda bermaksud mengantar Dera pulang.
"Dera...!"
__ADS_1
"Eh Pak Nanda,"
"Kamu pulang sama saya aja ya! Saya anter kamu sampe ke rumah."
"Ah gini Pak. Gak enak kalo Pak Nanda anter saya pulang, Pak Nanda kan bos saya."
"Memang kenapa Dera? Aturan mana yang ngelarang bos pulang sama sekretarisnya?"
"Gak ada sih Pak."
"Nah kan! Udah ayok!!"
"Emm Pak maaf, tapi kayaknya pacar saya udah jemput saya di depan. Saya gak mau dia salah paham."
"Ohh gitu. Yaa, mungkin lain kali aja ya kita pulang bareng. Tapi, btw kamu gak mau kenalin bos kamu ini ke pacar kamu?"
"Hah?? Ee... Lain kali aja deh Pak! Ya udah Pak, saya udah ditungguin. Permisi Pak."
Dera berlari ke arah Al, meninggalkan Nanda di tempatnya saat ini.
"Haii Sayang!!"
"Al, kamu kok jemput aku?"
"Emang gak boleh? Kamu ada janji pulang bareng sama yang lain?"
"Ahh gak kok Al. Biasanya juga aku bisa naik bus."
"Kamu punya pacar Sayang!! Masa' lebih seneng pacaran sama sopir bus??"
"Apaan sih Al? Receh deh..."
"Ya udah..." Al mendekatkan tubuh Dera ke tubuhnya. Ia mulai menyentuh Dera dan mengecup puncak kepala Dera. "Kamu pasti capek kerja seharian kan? Kita pulang sekarang!"
"Iya Al, tapi..."
"Apa lagi Sayang?"
"Temenin aku makan malem dulu ya! Aku laper..."
"Uhh kasihan, pacar aku sampe kelaperan gini. Ya udah kita makan dulu. Kita cari makanan kesukaan kamu."
"Beneran Al?? Oke ayok!!"
Mereka tertawa bersama. Al menggandeng tangan Dera menuju ke mobilnya.
Al dan Dera tak menyadari sepasang mata sedang menatap kebersamaan mereka dari tadi dengan tatapan penuh amarah. Api cemburu menyala-nyala dalam hati si pria pemilik sepasang mata itu, Nanda.
"Aku akan pastikan, kemesraan kalian itu gak akan bertahan lama. Dera hanya milik aku. Aku akan gantiin posisi orang itu di hati Dera. Tunggu aku Dera!! Kamu akan segera jadi milik aku seutuhnya Sayang..." gumam sang CEO dalam hati.
__ADS_1