
"Apa, Nan? Tu-tunangan?"
"Ya. Ada apa? Gak ada salahnya, kan? Kamu sendiri bilang mau kasih kesempatan buat hubungan kita."
"Nanda, aku rasa ini masih terlalu cepet. Aku tau kita udah cukup lama bersama, tapi buat tunangan ... Maaf, Nan, aku masih butuh waktu."
"Berapa lama lagi?"
"Aku ... Aku belum bisa pastiin itu."
"Apa kamu masih berharap bisa kembali lagi sama Al?"
"Kamu kenapa bawa-bawa dia lagi? Kalo aku masih berharap sama dia, aku gak mungkin kasih kesempatan buat hubungan kita, Nan."
Dera agak kesal karena lagi-lagi harus ada perdebatan karena Nanda membawa-bawa nama Al. Melihat raut Dera yang mulai berubah, Nanda segera ambil tindakan. Nanda tak mau malam mereka yang romantis mendadak berubah menjadi dramatis--berakhir tragis.
Nanda menangkup wajah Dera dengan kedua tangannya. Ia menatap mata Dera dalam-dalam.
"Sayang, oke, aku minta maaf ya. Aku gak mau kamu jadi bete sekarang. Hm, gak masalah. Buat permintaan aku yang tadi, aku masih bisa nunggu kok. Aku lebih pengin di saat kamu bilang iya nanti, kamu bener-bener yakin. Gak ada keraguan lagi di hati kamu."
"Makasih, Nan. Dan ... Maaf."
"Gapapa. Jangan minta maaf ya! Sekarang kamu istirahat ya, biar cepet baikan. Semoga waktu bangun besok kamu bisa lebih seger. Bobok gih, aku jagain kamu di sini kok."
"Kamu yakin mau tidur di sofa?"
"Iyaa. Kenapa cemasin itu sih? Udah kubilang aku bisa di mana aja, kan. Stop! Selamat malam, Nyonya! Selamat tidur!"
Nanda membaringkan Dera di ranjangnya, memasang selimut dengan rapi hingga tubuh Dera tertutup dengan baik.
---
__ADS_1
"Nat, apa yang harus kita lakuin? Persiapan pernikahan kita bahkan udah sejauh ini, tapi apa pun yang coba kita lakuin gak bisa ubah keputusan keluarga kita."
"Al, aku juga gak ngerti. Kadang aku ngerasa apa pun yang kita lakuin buat nentang perjodohan ini cuma akan sia-sia. Mungkin akan lebih baik kita mundur, aku pasrah aja, Al."
"Mundur? Pasrah? Nat, come on! Apa maksud kamu? Maksudnya kita harus terima ini gitu aja? Apa kamu gak pengin perjuangin cinta kamu?"
"Mungkin memang harus kayak gini aja, Al."
"Kenapa kamu nyerah, Nat? Kamu masih inget komitmen kita dari awal, kan? Aku gak akan bisa pasrah begitu aja. Aku masih mau perjuangin cinta aku. Dera ... Aku gak bisa lepasin dia gitu aja."
"Kamu masih keras kepala, Al? Kamu sendiri udah nunjukkin ke aku, foto-foto kemesraan Dera sama pria itu, mereka udah mulai hubungan yang lebih serius. Dera udah milih buat lupain kamu. Lalu, kamu mau apa lagi?"
"Aku yakin Dera gak serius sama Nanda. Aku tau siapa Dera. Dia bukan seseorang yang mudah pindah ke lain hati. Hati dia masih buat aku."
"Mungkin dia bukan takdir kamu, Al."
Al tak habis pikir mengapa Natasya bisa menyerah semudah itu. Rasanya kini perjuangannya akan makin sulit, terlebih Natasya tak lagi berpihak padanya.
"Aku gak terlalu ambil pusing soal itu. Karena ... Jujur Al, mungkin karena aku udah terbiasa sama kamu, aku mulai nyaman sama kamu."
"Astaga, Nat--"
"Aku gak keberatan lagi sama perjodohan ini."
Akhirnya, masalah baru pun dimulai. Natasya mulai nyaman bersama Al dan ia jadi lebih menginginkan perjodohan ini karena tak mau sampai kehilangan Al.
"Natasya, apa pun itu ... Aku gak bisa nyerah gitu aja. Maaf Nat, tapi cinta aku ke dia gak main-main. Cinta aku buat Dera bukan hal yang mudah datang-pergi dan aku lupain gitu aja. Dia segalanya buat aku."
"Kenyataannya dia udah bisa bahagia tanpa kamu, dia udah milih jalan hidupnya yang baru. Kenapa kamu masih harus terjebak sama perasaan kamu yang mungkin gak akan bisa berbalas lagi, Al?"
"Oke. Terserah Nat! Kalo kamu mau lupain komitmen kita, silakan. Yang jelas jangan pernah ganggu perjuangan aku. Aku akan berjuang sendiri. Aku akan kembaliin hubungan aku, kebahagiaan aku sama Dera."
__ADS_1
---
Hari ini Al dan Natasya pergi ke butik langganan keluarga untuk melakukan fitting baju pernikahan. Sudah bisa dipastikan Al sangat tidak bersemangat untuk hal ini, lain halnya dengan Natasya yang mulai antusias mengenai gaun pengantinnya.
"Menurut kamu gimana, Al? Gaunnya cantik, kan?" tanya Natasya.
"Ya, cantik."
"Kalo aku pake ini kamu suka, kan?"
"Kenapa kamu harus tanya pendapat aku? Kamu yang pake, kan? Ya suka-suka kamu, terserah kamu, terserah apa pun mau kamu."
Mendengar jawaban ketus dari Al, Natasya merasa sedikit kecewa.
"Aku tau kenapa kamu begini, Al. Tapi ini udah harus terjadi. Kamu pun gak bisa lakuin apa-apa buat nolak orang tua kamu, kan?"
"..."
"Al?"
"..."
"Al, kenapa kamu diem aja?"
"Terus aku harus bilang apa? Kamu pun gak akan peduli sama pemikiran aku, kan? Aku udah jelasin ke kamu berkali-kali kalo aku gak berminat sama pernikahan ini, tapi kamu gak ngerti."
"Aku ... Al--"
"Kamu tau, aku lebih suka kalo liat Dera yang pake gaun itu buat aku. Aku udah selesai. Aku akan tunggu di luar. Cepet selesaiin masalah gaun kamu itu, aku gak berminat lama-lama di sini."
Al keluar dari butik dengan rasa emosi. Sementara Natasya hanya bisa menatap kepergian calon suaminya. Jika untuk pasangan yang akan menikah pada umumnya kegiatan fitting baju pengantin adalah hal menyenangkan, untuk pasangan satu ini sepertinya itu mustahil terjadi. Hanya raga Al yang di samping Natasya, namun hatinya masih berada jauh bersama Dera-nya.
__ADS_1
"Al, andai kamu bisa lupain dia," desah Natasya agak kecewa.