
Seperti dugaan sebelumnya, Dera yang bangun lebih awal. Meski semalam ia terjaga sampai larut, ia tetap bisa bangun pagi. Setelah Dera bersiap, ia bergegas membangunkan bosnya yang masih asyik berkelana di alam mimpi.
"Dera, hahh.. Aku kesiangan ya?"
"Hampir, kalo aku gak bangunin kamu. Tapi belum kok."
"Makasih ya, Sayang."
"Ya udah, kamu cepet siap-siap gih!"
"Siapp Nyonya."
Sementara Nanda mandi, Dera menyiapkan segalanya, pakaian dan keperluan Nanda hari ini.
"Nan, tadinya aku mau pesen sarapan sekalian dari layanan kamar, tapi baru aja aku dapet kabar kalo CEO Adikara ngajakin kita sarapan bareng di hotel ini sebelum pertemuan."
"Oh gitu. Oke, Sayang. Abis ini kita bisa langsung turun," sahut Nanda yang masih mengancingkan jasnya.
Mereka ke bawah, mencari meja yang sudah Pak Tristan--CEO Adikara pilih.
"Pak Tristan bilang udah di sini?" tanya Nanda memastikan.
"Iya Nan. Dia tadi bilang udah duluan ke sini. Tapi meja mana yah? Apa aku coba hubungin dia aja kali ya?"
"Bentar-bentar ... Eh, itu di sana, Ra. Yuk!"
Akhirnya Dera dan Nanda bertemu dengan Pak Tristan yang sudah menunggu. Terjadilah saling sapa antar ketiganya. Pak Tristan menanyakan kondisi Nanda yang Dera bilang sempat kurang enak badan kemarin sampai tak bisa hadir di pertemuan. Tawa Pak Tristan dan Nanda mendadak terhenti begitu hadirnya seseorang yang juga akan bergabung untuk kegiatan sarapan kali ini.
"Maaf, saya agak terlambat."
"Silakan, Pak Al. Pak Nanda dan sekretarisnya juga baru sampai beberapa menit lalu. Belum mulai sarapannya," sahut Pak Tristan.
Tatapan Nanda menuju ke arah pandang Al. Sementara Dera yang duduk diapit oleh dua lelaki itu hanya bisa terdiam, agak gugup. Atmosfer mulai terasa panas.
Mereka mulai memesan menu. Ketika Dera menyebutkan pesanannya, Al spontan menyela.
"Ehh tunggu, buat pesenan dia jangan ada campuran udang ya. Dia alergi," ucap Al pada pelayan yang mencatat pesanan.
Mendengar hal itu, Nanda seketika kesal. Ia sendiri bahkan belum tahu soal alergi dan apa saja yang Dera tidak bisa makan karena selama ini Dera tak pernah bercerita. Pak Tristan pun makin bingung. Ia pun memberanikan diri menanyakan perihal Al, Dera, dan Nanda yang terlihat sudah saling mengenal lama untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Iya, Pak. Saya dan Dera memang pernah cukup dekat, kami--" respons Al tertahan.
"Dera hanya kebetulan 'mantan' kekasih Pak Al Putra Darmajaya," sela Nanda dengan menekankan nada bicara saat mengucap kata 'mantan'.
"Oh, sekarang saya mengerti. Dan sekarang ini Nona Dera ini bekerja sebagai sekretaris Pak Nanda," tukas Pak Tristan.
"Sekaligus dia sebagai kekasih saya sekarang, Pak," sahut Nanda mantap.
"Wah. Oke, sudah jelas sekarang. Astaga, pagi-pagi begini saya sudah disuguhi drama cinta segitiga yaa," canda Pak Tristan. "Kebetulan sekali kalian harus disatukan di kontrak ini. Ya, saya harap semoga saja semua bisa berjalan lancar. Tidak ada konflik begitu berarti yang dapat mempengaruhi kerja sama ini."
"Tentu Pak, dalam hal bisnis, Armandito group akan tetap menjunjung profesionalitas."
"Darmajaya group juga pasti melakukan hal yang sama."
Perang dingin antara Al dan Nanda benar-benar mengusik Dera saat ini. Bagaimana mungkin Dera bisa tenang bekerja bersama mereka berdua?
---
Sarapan selesai. Satu jam lagi mereka akan melanjutkan pertemuan dan pembahasan kerja di kantor Adikara. Sebelum itu, Nanda mengungkapkan keluh kesahnya perihal Al ketika mereka kembali sebentar ke kamar hotel untuk menyiapkan beberapa berkas.
"Sayang, aku pengin tau semua hal tentang kamu, yang belum pernah kamu ceritain ke aku, seperti halnya alergi kamu, makanan yang kamu suka dan gak suka, apa pun itu. Aku kesel banget tadi, kenapa harus dia yang bilang."
"Nanda, maaf.. Tapi aku gak pernah cerita memang karena gak ada moment yang ngeharusin aku bilang soal itu ke kamu selama ini."
"Harusnya aku lebih sering wawancara detail tentang kamu ya, biar aku tau semuanya."
"Gak begitu, Nan."
"Dera, oke gini deh, nanti setelah pekerjaan kita selesai, aku pengin kita punya q-time. Kita ngobrol berdua. Kamu bisa bilang ke aku semuanya yang belum aku tau tentang kamu. Bisa, kan?"
"Oke Nanda. Ya udah, kita berangkat sekarang yah!"
Kesibukan Dera dan Nanda di perusahaan Adikara group pun dimulai. Sejauh ini urusan pekerjaan berjalan dengan lancar. Sesekali perhatian Nanda teralih ke sekretarisnya. Ia tak ingin kecolongan, ia tak mau mantan kekasih sekretarisnya berulah lagi dan mencari kesempatan. Namun, Nanda tentu tak bisa mengawasi Dera tiap menit, fokusnya juga diperlukan untuk membahas proyek bersama Pak Tristan.
Tiba saat Dera sendiri, Dera baru saja dari ruang dapur kantor dan akan kembali menemui Nanda. Namun, ia harus terhenti sebab berpapasan dengan Al.
"Hai, Sayang! Kamu dari mana?"
"A-aku dari dapur. Maaf Al, aku harus--"
Al membuat Dera makin kikuk. Al justru sengaja menggoda Dera dengan makin mendekati Dera.
"Al, kamu ... Please, aku--ahh!"
Punggung Dera menabrak pintu gudang dan mereka pun terjerembab ke dalam. Al dan Dera terjatuh ke lantai gudang dengan posisi Al menindih tubuh Dera di atasnya. Pintu gudang pun tertutup.
Posisi mereka membuat jantung keduanya berdegup lebih kencang. Hanya ada mereka berdua dan irama dua detak jantung yang menyatu.
"Ra.."
"Al, kamu--"
"Aku sayang kamu,"
Bibir mereka pun mulai menyatu.
Namun, sedetik kemudian Dera berusaha menjauhkan wajah Al dari dekatnya. Mungkin Dera teringat Nanda.
"Sayang?"
__ADS_1
"Al.. Bangun! Aku mohon bangun, Al!!"
Mereka pun berdiri dan menyeka debu lantai gudang yang menempel di baju mereka.
Dera hendak bergegas keluar, tapi sialnya pintu gudang tak bisa dibuka. Mereka terkunci di dalam.
"Astaga, ini kenapa susah dibuka yah! Gimana nih??"
"Kenapa, Sayang?"
"Al, pintunya gak kebuka. Gimana kita keluar dari sini?"
"Masa' sih?"
Al mencoba membuka pintunya, benar saja ia pun tak bisa membuat pintu itu terbuka.
"Beneran ternyata."
"Jadi kita beneran kekunci di sini? Astaga, sekarang gimana? TOLONG! SIAPA PUN DI LUAR, TOLONG BUKA PINTUNYA! DI SINI ADA ORANG." teriak Dera sambil menggebrak-gebrak pintu.
"Ra, kamu ngapain? Udah deh, kamu tenang dulu. Nanti juga ada yang lewat dan bukain pintunya. Kita pasti bisa keluar dari sini."
"Ya tapi kapan? Kita harus nunggu berapa lama di sini?"
"Sayang, mungkin takdir sengaja lakuin ini biar kita bisa berduaan di sini dulu."
"AL! Gak usah mulai lagi deh."
Dera mencoba mengecek ponselnya.
"Astaga! Gak ada jaringan."
"Kamu mau ngapain?"
"Hubungin seseorang buat bukain pintunya."
"Siapa? Kamu mau telepon Nanda?"
"Aku gak mau lama-lama di sini Al. Nanda pasti cari aku."
"Hahh!"
"Ada jendela," seru Dera sambil menuju ke arah jendela. "Kebuka, tapi kok tinggi banget ya! Gimana kita bisa keluar dari sini?"
"Ra, kamu mau apa? Hey, nanti kamu jatuh!"
"Siapa tau di deket sini ada jaringan, Al."
"Jangan, Dera!"
Al menarik tangan Dera dan menahan Dera dalam dekapannya.
"Aku bilang jangan! Kamu kenapa sih? Kalo kamu jatuh gimana? Aku gak mau kamu kenapa-napa."
"Apa? Jangan gegabah ya. Gak perlu manjat-manjat jendela. Kita pasti keluar dari sini, kamu tenang aja ya. Sayang, kamu tau kan, aku gak bisa tenang kalo terjadi sesuatu sama kamu."
Dera terdiam mendengar kekhawatiran Al padanya. Ia pun pasrah kala Al memeluknya lebih erat.
Sesi pelukan mereka terhenti begitu ada suara pintu terbuka. Seorang karyawan kantor berniat mengecek gudang.
"Akhirnya, pintunya kebuka Al!"
"Ternyata ada orang di dalam. Maaf, pintunya memang sering macet," ungkap karyawan itu.
Dera bergegas keluar dari gudang diikuti Al yang menyusulnya.
"Dera tunggu!"
"Apa lagi sih, Al?"
Mereka tak sadar, perdebatan mereka di depan gudang kini disaksikan oleh Nanda yang kebetulan lewat di arah sana saat itu juga.
"Dera.. Kamu di sini? Aku cari kamu dari tadi, dan dia--"
"Nanda.."
Karyawan tadi keluar dari gudang, "Permisi, sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Pintu gudangnya memang suka macet."
"Maksudnya?" tanya Nanda.
"Iya Pak, mereka tadi terkunci di dalam. Sekali lagi mohon maaf, mari." karyawan itu berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Sayang, kamu ... Berdua sama dia, kekunci di dalem? Sejak kapan?"
"Ehh mungkin ada tiga puluh menitan, Nan."
"Kenapa? Kamu gak coba minta tolong atau hubungin aku?"
"Udah Nan, tapi di dalem jaringannya--"
"Tuan Nanda Armandito! Kenapa dibesar-besarin sih? Santai, gue sama Dera gak ngapa-ngapain. Atau lo takut Dera berubah pikiran dan lebih pilih gue? Seperti seharusnya."
"Tutup mulut lo!" Nanda mulai emosi.
"Al, Nanda udah.. Kalian gak mau ribut di kantor orang, kan?" lerai Dera.
Nanda meninggalkan Al dan Dera tanpa berucap apa-apa lagi. Dera tahu apa yang dipikirkan Nanda dan bagaimana suasana hati Nanda sekarang.
"Ra.. Udahlah."
__ADS_1
"Al, aku harus kejar Nanda. Dia salah paham."
"Biarin aja. Apa pentingnya kamu jelasin ke dia sih?"
"Al.. Sekarang aku sama Nanda. Sebisa mungkin aku harus jaga perasaan dia."
Dera meninggalkan Al, ia berlari mengejar langkah Nanda yang sudah hampir jauh.
"Nanda! Nan, tunggu!"
Nanda tak memedulikan suara Dera yang terus memanggilnya. Hatinya kini masih benar-benar terusik. Ia terus melangkah keluar kantor Adikara.
Dera hampir lelah dan menyerah. Ia tak kuat berlari mengejar Nanda lagi. Dalam posisinya sekarang, Dera berdiri terhenti dan berteriak sekali lagi.
"Nanda.. Aku mohon, aku gak kuat lari kejar kamu lagi!"
Nanda pun berhenti. Ia mematung di posisinya sekarang. Jujur saja ia tak tega, ia tak mau Dera sampai kelelahan hanya karena mengejarnya.
Melihat Nanda tak lagi melangkah, Dera merasa punya kesempatan. Ia langsung melangkah cepat ke arah Nanda. Dera pun sampai di hadapan Nanda.
"Hahh.. Hah.. Makasih kamu mau berhenti," Dera masih agak terengah-engah. "Nanda, aku harap kamu ngerti. Kamu jangan salah paham. Aku gak sengaja kekunci di sana sama Al. Aku udah coba hubungin kamu, tapi di dalem sana ponsel aku gak ada jaringan. Aku gak ngapa-ngapain sama Al." Dera meraih tangan Nanda.
"..."
"Maaf Nan, aku tau kamu marah, kamu kesel, tapi aku udah berusaha keluar dari gudang itu, aku bahkan hampir mau lewat jendela gudang, tapi ketinggian. Aku tau kamu pasti cariin aku. Maafin aku, Nanda.. Aku--"
Nanda langsung merengkuh Dera begitu erat.
"Sayang, aku gak mungkin bisa marah lama-lama sama kamu. Aku cuma gak mau kehilangan kamu. Jangan jauh-jauh lagi dari aku ya."
Kesalahpahaman mereka sirna begitu saja. Nanda memutuskan mengajak Dera makan siang di luar hotel. Dera justru merekomendasikan warung angkringan pinggir jalan untuk tempat mereka makan siang. Meski tak terbiasa, Nanda tetap mengikuti kemauan Dera.
"Rame juga ya, Ra."
"Iya Nan, karena gudeg di sini tuh emang enak banget."
"Kamu pernah ke sini?"
"Pernah, waktu acara outclass SMA dulu. Hehe.. Tapi dulu aku ke sini waktu malem."
"Oh ya? Ya udah yuk, kita ehm cari tempat duduk."
Mereka pun dapat tempat lesehan. Setelah Dera memesankan dua porsi nasi, mereka langsung menikmati makan siangnya.
"Nan, maaf ya kalo kamu jadi gak nyaman. Kamu pasti gak biasa, kan?"
"Hey, gapapa Sayang. Kalo buat kamu dan buat gudeg seenak ini mah aku rela. Kamu bener, ini enak banget deh. Lanjut makan aja yuk."
Dera tersenyum melihat Nanda menyukai makanannya.
Selesai makan, mereka sempat berjalan-jalan sebentar. Di sekitaran jalan yang mereka lalui, banyak pedagang aksesori menjajakan dagangannya. Nanda tertarik membeli sepasang gelang. Ia pun memasangkan salah satu gelang di pergelangan tangan Dera.
"Nanda.. Kamu nih, kita bukan ABG lagi tau, ini--"
"Husstt, biar. Jangan dilepas ya. Sekarang, pakein yang satu ke aku."
"Hm, oke."
"Bagus, kan? Lucu tau, couple-an gini. Karena aku baru ketemu kamu setelah kita dewasa, gak masalah kalo kita buat masa remaja rasa kita sendiri, kan? Coba aja aku bisa kenal kamu dari dulu."
"Memangnya?"
"Ya, aku gak akan lama-lama dapet gelar jomlo es batu."
"A-apa? Jomlo--es batu??" Dera tertawa terbahak-bahak.
"Nah, kamu aja ngetawain, kan?"
"Abisnya ... Haha, astaga oke, sorry-sorry. Lagian kamu Nan, ohh jadi kamu dingin ke orang-orang itu udah tabiat dari dulu ya? Pantes aja, es batu.. Hihihi."
"Ra.. Kamu ya! Terus aja! Kayaknya cuma kamu sekretaris yang bisa ngecengin bosnya sendiri deh."
"Oke, ampun Pak CEO, maap. Aku penasaran aja, sedingin apa kamu sampe dikatain es batu, kamu beda kalo sama aku."
"Masalahnya aku gak mungkin bisa dingin sama orang yang paling aku sayang, Nona!"
---
Malam harinya, Nanda pergi keluar hotel untuk bertemu dengan Pak Tristan dan rekan bisnis yang lain, termasuk ada Al juga di sana. Mereka membuat pertemuan sekaligus untuk bicara bisnis dengan santai. Kali ini Nanda tak mengajak Dera. Nanda pikir ini sudah terlalu malam dan lebih baik Dera istirahat di hotel.
Namun, setelah pertemuan santai itu berlalu, hati Nanda justru kian merapuh karena mendengar ucapan Al.
"Lo lebih baik jangan terlalu percaya diri, Nan."
"Al, gue gak minat ngeladenin omongan lo sekarang."
"Lo yakin? Gue tau lo pasti bakal berubah pikiran kalo ini soal Dera, soal apa yang gue yakin lo pasti gak tau."
"..."
"Dera--dia masih sama, Dera gue yang dulu. Apa lo pernah tanya ke Dera berapa persen dia bisa lupain gue? Dia bahkan masih punya rasa rindu ke gue."
"Udah deh Al, omong kosong lo itu gak penting."
"Tapi itu kenyataan yang gue denger langsung keluar dari bibirnya. Kata rindu itu, bahkan anggapan dia tentang lo. Lo mungkin bisa buat Dera ngerasa aman, nyaman, terlindungi, tapi jatuh cinta ... Nothing."
"AL PUTRA DARMAJAYA!"
"Sebelum lo emosi ke gue, apa lo gak mau denger kisah lengkapnya? Lo gak heran kenapa pertemuan putusan kontrak waktu itu terlalu lama buat Dera? Bukan soal rapatnya, tapi asal lo tau, setelah rapat itu dia sempet habisin waktu sama gue, dan di situ rindu itu terungkap."
__ADS_1
"CUKUP AL! Gue gak akan biarin lo ada di kehidupan Dera lagi, gak akan."
Nanda begitu kecewa, mengapa waktu itu Dera tak cerita apa-apa padanya. Atau Dera memang sengaja menutupi itu dari Nanda. Nanda kembali ke hotel dengan penuh tanya yang tak sabar ia lontarkan pada sang pemilik jawaban--Dera.