
Nanda dan Dera berjalan beriringan di sepanjang pasir pantai putih yang lembut. Angin membawa kesejukan dan sesekali membuat rambut panjang Dera yang tergerai melambai-lambai.
Nanda mencoba memecah kesunyian di antara dirinya dengan gadis di sisinya. Ia menautkan jemari tangannya pada tangan Dera, menggandengnya dengan kelembutan.
"Dera," panggil Nanda.
"Ya." Dera menoleh ke arah Nanda.
"Kamu dari tadi kok diem aja? Kenapa Sayang?"
"Hah? Ehm, aku gapapa kok Nan."
"Ada yang ganggu pikiran kamu?"
"Aku.. Aku cuma kepikiran ayah ibu."
"Dera, kamu tenang aja. Mereka aman kok. Aku jamin mereka suka sama paket perjalanan dan segala pelayanan yang udah aku siapin."
"Kenapa kamu harus lakuin ini sih, Nan?"
"Lakuin apa? Maksudnya soal yang mana? Karena aku siapin perjalanan buat orang tua kamu? Atau karena aku buat kamu jalan-jalan cuma berdua sama aku?"
"Semuanya Nan."
"Sayang, kamu dah sering tanya begitu ke aku dan aku pun udah kasih jawaban ke kamu berkali-kali pula. Kayaknya aku gak perlu ulang itu semua kan?"
Dera hanya diam.
Nanda menghentikan langkahnya. Ia mengubah posisinya. Kini ia berhadapan dengan Dera, ia menurunkan pandangannya agar matanya mampu menjangkau wajah cantik gadisnya yang berada tak lebih tinggi dari dirinya.
Nanda membingkai wajah Dera dengan kedua tangannya.
"Nanda,"
"My special secretary, boleh aku bicara?"
"Kenapa Nan?"
"Kamu cantik, kamu manis, kamu begitu mempesona. Gimana mungkin seorang Nanda--CEO Armandito group ini gak terpikat dan jatuh cinta sama kamu? Hm?"
"Nanda, kamu--" Dera mencoba melepaskan tangan Nanda dari wajahnya.
"Dera, kamu mau kan turutin satu permintaan aku sekarang?"
"Permintaan?"
"Ya. Permintaan. Gak sulit kok. Aku mau .... " Nanda belum menyelesaikan kalimatnya. Kini justru ibu jarinya mengusap bibir Dera dengan lembut.
Dera begitu gugup, ia berpikir Nanda ingin ....
"Ini. Aku mau liat senyum di bibir ini," lanjut Nanda.
"Nanda--"
"Sayang, aku pengin jadi laki-laki beruntung yang bisa buat kamu tersenyum setiap saat."
"Aku--"
"Sesulit itukah kamu senyum buat aku?"
Dera masih diam.
"Dera Sayang, aku mohon!"
Akhirnya Dera menampakkan senyuman manisnya.
"Gitu dong! Terus kayak gitu ya. Kamu makin cantik dengan senyum itu."
"Nanda, lusa kita pulang kan?"
"Iya Sayang. Kamu kenapa? Udah kangen kantor ya? Hm?"
__ADS_1
"Aku-aku cuma gak suka aja liburan lama-lama."
"Oke. Iya-iya Sayang. Lusa kamu bakal balik lagi ke kantor kok, sekretaris-ku yang paling manis."
"Nanda.. Apa aku boleh tanya sesuatu ke kamu?"
"Tentu Sayang, tanya apa pun boleh kok. Mau tanya apa?"
"Waktu kita buat kesepakatan, perjanjian di kantor kamu itu soal hubungan kita, kamu belum bilang kapan kontrak kita akan berakhir. Jadi, aku mau tanyain itu sekarang."
Hati Nanda serasa tertusuk pedang tajam begitu mendengar pertanyaan Dera. Kontrak? Ya.. Sampai detik ini Dera masih menganggap hubungannya dengan Nanda adalah sebuah kontrak. Kenyataannya memang hubungan mereka hanya suatu konsekuensi dari perjanjian atau kesepakatan yang Nanda buat.
Nanda menggenggam kedua tangan Dera.
"Kamu bisa gak, tolong lupain semua hal tentang kesepakatan, perjanjian, kontrak atau apa pun tentang itu! Aku tulus cinta sama kamu. Dera--"
"Maksud kamu gimana? Nan, aku ninggalin Al demi kesepakatan kita."
"Al-Al-Al, kenapa selalu dia yang ada di pikiran kamu? Apa kamu sedikitpun gak bisa liat cinta aku? Aku sayang sama kamu Dera!"
"Tapi Nan--"
"Aku akan lakuin apa pun buat buktiin rasa cinta aku ke kamu. Kamu cuma milik aku, Sayang!"
Nanda memeluk Dera begitu erat.
"Nanda,"
"Sstt.. Tolong, kamu diem aja sekarang. Jangan bicara lagi! Jangan bahas kontrak apa pun lagi. Satu hal yang perlu kamu inget, aku cinta kamu."
"Nanda, aku gak bisa. Al .... "
"Dera, Al bukan siapa-siapa kamu lagi. Kamu udah berpisah sama dia. Cuma ada aku di hidup kamu sekarang, Sayang."
---
Malam itu Dera berjalan keluar hotel sendirian. Nanda masih menemui kliennya yang kebetulan juga sedang ada di pulau itu.
"Kamu?"
"Hai Nona Dera, sekretaris Tuan Nanda yang terhormat."
"Al, kamu sengaja ngikutin aku ke sini?"
"Kalo iya kenapa? Gak boleh, hm? Ini tempat umum, Ra. Siapa pun boleh ada di sini kan?"
"Tapi kamu--"
Kalimat Dera terhenti begitu melihat seorang gadis cantik menghampiri Al.
"Al, kamu di sini ternyata," ucap gadis itu.
"Nat.. Iya. Aku cuma lagi pengin jalan-jalan. Kamu cari aku?"
"Hm, yaa.."
Dera bingung melihat pemandangan di depannya. Ia bertanya-tanya, apa Al sudah move on darinya? Al sudah punya kekasih baru?
Dera mencoba tak ingin peduli dengan masalah itu. Ia bahkan sudah berbalik dan ingin segera pergi dari tempat itu.
"Dera, tunggu!" Al menahan tangan Dera.
"Al, siapa dia?" tanya Natasya.
"Nat.. Dia Dera, gadis yang aku ceritain ke kamu waktu itu."
"Oh jadi dia pacar kamu?"
"Bukan kok. Aku udah gak ada apa-apa sama Al," sangkal Dera.
"Kenalin aku Natasya, aku ini---"
__ADS_1
"Dia wanita pilihan mama papa aku buat dijodohin sama aku," jawab Al cepat.
"Oh.. Selamat," ucap Dera memberi selamat atas perjodohan Al dan Natasya.
"Dera.." Al mendekat ke arah Dera. Ia menyentuh pipi Dera dengan lembut. "Jangan gitu. Kamu tau kan, aku gak mungkin lupain kamu. Aku memang dijodohin sama Natasya, tapi aku sama dia gak ada apa-apa. Bahkan kami sepakat buat tolak perjodohan ini. Natasya juga punya orang yang dia cintai di luar sana."
"Iya Dera. Kamu gak perlu salah paham ya! Aku gak ada apa-apa sama Al kok, ya udah Al aku rasa kalian butuh ngobrol berdua. Aku ke resto dulu ya, ada temen-temen aku di sana," sambung Natasya.
Natasya meninggalkan Al dan Dera berdua.
"Kamu percaya sama aku kan?" tanya Al.
"Huft, Al.. Buat apa kamu jelasin itu ke aku? Apa aku butuh penjelasan kamu? Apa perlunya buat aku tau itu?"
"Itu perlu. Kamu butuh tau itu. Aku cuma gak mau kamu salah paham. Karena sampe kapan pun, cinta Al cuma buat Dera."
Dera tak ingin melanjutkan perdebatan dengan Al lebih lama lagi, ia ingin pergi dari sana.
"Jangan pergi Dera!"
"Al kamu tau semua di antara kita udah berakhir kan? Jadi sekarang bebas terserah kamu mau sama siapa pun. Aku pun udah punya hidup aku sendiri. Saran aku, kamu terima aja perjodohan itu. Natasya gadis yang sempurna, sesuai kriteria mama papa kamu."
"Kita berakhir, tapi itu cuma menurut kamu, gak menurut aku. Bagi aku, saat ini kamu masih Dera yang sama. Dera-nya Al."
Dera hanya menggeleng.
Al memegang pundak Dera, "Jujur sama aku, Sayang, kamu masih cinta sama aku kan?"
"Gak. Aku udah gak punya perasaan apa pun sama kamu."
"Sstt.. Kamu gak pernah pinter bohong Sayang. Kamu tenang aja, aku masih tetep cuma milik kamu dan kamu milik aku. Kita gak akan terpisah apa pun yang terjadi. Aku janji, Ra."
"Biarin aku pergi. Aku gak mau liat kamu lagi."
"Hey, kenapa? Aku ini Al, satu-satunya pria yang kamu cintai baik itu dulu, sekarang, atau sampe kapan pun."
Al mendekap Dera, menghirup aroma tubuh Dera yang sudah lama sangat ia rindukan.
"Lepasin aku Al!"
"Kita berdua ada di sini sekarang karena cinta kita yang menyatukan kita."
"Al aku harus pergi."
"Ke mana? Tempat kamu cuma di sisi aku. Kamu gak boleh kembali ke sisi CEO sialan itu!"
Al melepaskan pelukannya. Ia membawa tubuh Dera lebih dekat dengannya. Menyatukan dahinya dengan dahi Dera.
"Aku rindu kamu, Sayang. I love you, more than anything."
"Gak Al."
"Kamu cinta aku Dera. Kamu masih sayang sama aku."
"Gak."
"Iyaa."
"Gak Al. Stop!"
"Hah, sampe kapan kamu bisa bohong, hm?"
Dera mencoba menggeleng, ia masih memungkiri perasaannya.
"I will do anything. Aku akan lakuin apa pun biar kita bisa bersama lagi. Aku janji.."
Al menghembuskan napas panjang, ia pun memaksa wajah Dera untuk makin mendekat dengan wajahnya. Satu ciuman pun mendarat di bibir Dera, ciuman yang panjang dan begitu dalam. Terlihat Al begitu merindukan gadisnya. Ia bahkan enggan melepaskan bibirnya dari Dera meski tahu Dera sudah hampir kehabisan napas.
Dera sama sekali tak melawan. Mungkin ia pun sama, sangat merindukan Al.
Kemesraan mereka terlihat jelas di bawah sinaran bulan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terbawa perasaan. Sama halnya dengan sosok yang tengah memperhatikan mereka dari jauh. Perasaan yang dirasakan sosok itu tak hanya iri atau cemburu. Rasa sesak begitu menyeruak di dalam dadanya. Ia sungguh murka.
__ADS_1