
Sore itu Dera masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor sebagai sekretaris. Ia tengah memeriksa beberapa dokumen penting sebelum nantinya ia berikan pada Nanda.
Di tengah kesibukannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Iya, masuk!" sahut Dera dari dalam.
Terlihat seorang pria membuka pintu dan memasuki ruangan Dera. Ternyata CEO-nya yang datang.
"Nanda?"
"Hai Sayang, ehm--kamu lagi sibuk ya?"
"Lumayan."
Nanda pun lebih mendekat ke posisi Dera sekarang.
"Dera.. Aku sebenernya mau tunjukkin sesuatu ke kamu."
"Oh ya, apa?"
"Maaf Ra, tapi aku rasa kamu juga perlu tau soal ini." Nanda menyerahkan sebuah kartu seperti undangan.
Dera pun menaruh dokumen yang sedari tadi ia pegang ke atas meja kerjanya dan beralih melihat sesuatu yang diberikan oleh Nanda. Begitu ia membuka dan membaca isinya, ia sungguh tak bisa berkata-kata. Seperti hanya sesak yang terasa di dadanya kini. Sebab kartu yang ia pegang dan ia lihat saat ini adalah undangan acara pertunangan Al dan Natasya.
Nanda merangkul bahu Dera dari samping dan mengusapnya pelan. Ia tahu kini Dera pasti sedang merasa tak enak hati.
"Ra, are you okay? Udah lah, kamu lupain dia ya!"
"..."
"Sayang?"
Dera seperti berusaha menahan tangis yang harusnya sudah mengalir dari matanya sejak tadi.
"Aku-aku gapapa kok Nan."
Nanda pun membawa Dera dalam dekapannya. Dera hanya bisa menerima itu dan bergumam dalam hati.
"Dera, kamu ini kenapa? Harusnya kamu seneng kan! Sekarang Al bisa bahagia sama hidupnya sendiri, dia udah move on dari kamu. Dia udah nemuin pilihan hatinya yang terbaik sesuai keinginan orang tuanya. Terus apa lagi? Mungkin kamu juga harus bisa bahagia sama pria baik yang lagi peluk kamu sekarang."
"Sayang, aku minta maaf ya. Aku gak bermaksud rusak suasana hati kamu hari ini. Tapi, aku gak mungkin gak kasih tau kamu. Acaranya besok malem."
"Kamu mau dateng ke acara itu?" tanya Dera masih dalam pelukan Nanda.
"Mereka udah undang aku secara khusus, di sana juga akan ada banyak klien aku. Sebenernya kalo aku harus dateng, aku mau ajak kamu buat dampingin aku. Tapi, kalo kamu keberatan, kita gak perlu ke sana kok."
Dera pun melepaskan pelukan Nanda.
"Kita bisa dateng ke sana kok," ucap Dera dengan lantang.
"Are you sure? Kamu yakin gapapa?"
"Nanda.. Aku gapapa kok. Kita harus hargain niat baik mereka undang kita kan?"
"Tapi, aku cuma gak mau kamu makin sakit kalo kita dateng ke sana nanti. Kalo gak bisa, jangan dipaksain Sayang. Gak masalah kalo kita gak dateng."
"Aku janji. Aku akan baik-baik aja Nan."
"Oke kalo gitu, terserah kamu aja."
---
Esok harinya, setelah selesai dengan pekerjaan di kantor, mereka bersiap untuk hadir ke acara itu.
Malam itu Dera terlihat begitu anggun dengan dress warna pastelnya, serta rambut panjangnya yang tersanggul rapi. Make-up yang natural makin membuat wajahnya lebih bersinar dan segar.
Tatapan Nanda pun tak bisa beralih sejak pertama melihat penampilan Dera saat itu.
"Ayo Nan, aku udah siap."
"Ini bukan mimpi kan? Aku kayak lagi liat bidadari di hadapan aku sekarang."
"Nan--"
"Kamu cantik banget malem ini Dera. Aku yakin deh, bahkan kamu nanti bakal lebih cantik dari yang punya acara."
__ADS_1
"Kamu tuh suka berlebihan kalo puji orang."
"Cuma ke kamu doang kok."
"Oke. Kita jadi berangkat sekarang kan?"
"Iya Cantik. Ayo!!" Nanda menggandeng tangan Dera menuju ke mobilnya.
Mereka akhirnya sampai ke tempat acara. Keluarga Al menyewa sebuah hotel mewah khusus untuk acara pertunangan itu. Sebenarnya Al pun pastinya merasa terpaksa menjalani itu semua. Namun, mungkin Al tak punya pilihan lain.
Dera dan Nanda memasuki tempat acara. Terlihat dekorasi yang indah, penuh bunga-bunga, tapi tetap terlihat elegan. Segala macam hiasan dan penataan furniture membuat acara itu terkesan lebih mewah. Terlihat di sana pun banyak orang-orang penting yang hadir.
"Sayang, gimana? Kita tetep di sini atau kita pulang aja sekarang?"
"Nanda.. Kita baru sampe sini. Masa' iya mau pulang lagi? Aku gapapa Nanda."
Tangan Nanda bahkan tak bisa lepas dari pinggang Dera. Ia terus merangkul Dera sejak tadi.
Tak lama kemudian, ada seorang klien yang menghampiri Nanda.
"Pak Nanda, Anda datang juga ternyata?"
"Ah iya Pak Doni. Sudah lama kita gak ketemu ya."
"Iya. Terakhir kali saya ingat itu waktu pertemuan di Lampung itu ya. Sudah beberapa bulan yang lalu. Lama sekali."
"Oh ya. Betul itu Pak."
"Anda gak datang sendiri, jadi sudah ada pilihan yang cocok nih nampaknya. Gadis cantik di samping Anda ini--"
"Oh saya sampai lupa kenalkan dia. Dia Dera, sekretaris saya."
"Sekretaris?"
"Ya.. Sekretaris sekaligus kekasih saya."
"Wah.. Sudah saya duga. Gak mungkin cuma sekedar sekretaris. Sepertinya Pak Nanda ini juga korban cinta lokasi yaa."
"Kurang lebih begitu Pak. Anda sendiri datang sendirian atau ...."
"Oh pasti Pak."
"Kalo begitu saya permisi dulu."
Dera dan Nanda melanjutkan berkeliling hotel menikmati suasana pesta. Nanda tak sedikitpun membiarkan Dera sendirian atau bosan.
"Sayang, gimana kalo kita ke sana? Di sana gak terlalu rame. Aku tau kamu bukan orang yang suka keramaian."
Dera pun mengangguk.
Ketika Dera mengikuti Nanda, seketika pandangan matanya bertemu dengan mata Al yang tengah berdiri di panggung, dengan didampingi Natasya. Tatapan mereka seperti mengisyaratkan kegalauan masing-masing.
"Sayang, kamu di sini? Kenapa kamu harus ada di sini? Aku gak sanggup berbuat ini di depan kamu, Sayang." gumam Al dalam hati.
"Al kamu kenapa?" tanya Natasya.
"Nat.. Kamu yakin kita harus lakuin ini? Sumpah aku gak bisa Nat, aku gak sanggup, Dera ada di sana."
"Mau gimana lagi Al? Kamu juga gak mungkin ngerusak acara ini kan? Kita bisa pikirin rencana kita selanjutnya setelah ini. Lagi pula kita cuma tunangan sekarang. Ini bukan pernikahan."
Tamu-tamu secara bergantian menghampiri Al dan Natasya untuk mengucapkan selamat.
"Dera, kamu mau tunggu di sini? Aku mau nemuin mereka dulu, sekalian ucapin selamat dan kasih hadiah kita ke mereka. Setelah itu, kita bisa pulang."
"Nan, aku ikut kamu aja."
"Apa? Kamu yakin? Sayang, kamu gak perlu--"
"Aku yakin. Aku gapapa. Aku juga harus ngucapin selamat ke mereka kan?"
Dera dan Nanda menemui Al dan Natasya bersama. Nanda tak lupa tetap tak melepaskan tangan Dera dari gandengannya.
Suasana pun mulai tegang ketika dua pasangan itu berhadapan.
"Tuan Al Putra Darmajaya, saya ucapkan selamat atas pertunangan Anda. Semoga kalian diberi kelancaran sampai pernikahan nanti. Saya harap juga setelah ini Anda ingat untuk tidak mengganggu kekasih saya lagi. Oh ya, ini ada hadiah kecil dari kami." ucap Nanda dengan percaya dirinya.
__ADS_1
Setelah itu hening. Tak ada yang bicara sampai akhirnya Dera pun buka suara.
"Selamat Al. Aku seneng liat kalian sekarang."
Al menggeleng. Ia pun spontan meraih jemari tangan Dera dan menggenggamnya erat.
"Ra, kamu tau kan? Aku sama sekali gak pengin kita kayak gini, Sayang."
"Tolong Al, lepasin aku!" Dera berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Al.
"Lepasin Dera sekarang!!" Nanda mendorong Al dan memaksa agar tangannya terlepas dari tangan Dera.
"Eh masalah lo apa??" murka Al pada Nanda.
Natasya pun mencoba menenangkan Al, "Udah Al. Cukup! Kamu gak boleh gegabah."
"Ayo Sayang," Nanda merangkul Dera dan membawa Dera menjauh dari sana.
Setelah agak menjauh, Nanda kini menatap Dera dalam-dalam.
"Kamu gapapa?"
Dera menggeleng.
Nanda mendekap Dera begitu erat.
"Nan, aku gapapa."
Nanda melepaskan pelukannya dan beralih meraih wajah Dera agar lebih mendekat dengannya. Seketika ciuman lembut Nanda mendarat di bibir Dera.
Mereka tak sadar kalau Al sedari tadi masih memperhatikan mereka.
Di tengah ciuman itu, Dera masih sempat bicara pada Nanda.
"Nan, di sini banyak orang."
"Aku tau Sayang. Terus kenapa? Mereka gak akan usik kita sekarang. Mereka tau kalo kita pasangan."
"Ehmph--tapi Nanda--"
Nanda melepaskan ciumannya dan kembali mendekap Dera erat. Ia menghirup leher Dera dalam-dalam, merasakan aroma tubuh Dera perlahan.
Sementara Al yang menyaksikan pemandangan itu sudah merasakan kemurkaan hingga ubun-ubun. Ia tak terima pria lain menyentuh bahkan mencumbu gadis kesayangannya. Tangan Al sedari tadi bahkan sudah mengepal. Ia sempat mengumpat dan hampir menghampiri Dera dan Nanda.
"****! Sialan tuh orang!" Al hampir beranjak.
"Al, kamu mau ke mana? Inget Al, jangan cari ribut di sini!"
Niat Al tercegah oleh Natasya.
... ... ...
Nanda mencoba menenangkan Dera yang tengah dilanda kegundahan saat ini. Dalam pelukannya, Nanda pun berucap, "Kita bisa pergi sekarang, kita gak perlu lama-lama di sini."
Nanda mengajak Dera keluar dari hotel tempat acara itu. Sesampai di dekat mobil Nanda, Dera mendadak melepaskan gandengan Nanda.
"Sayang??"
"Nan, aku--" air mata Dera mulai mengalir.
"Ra.. Sayang, are you okay?"
"Nanda maaf--"
"Dera??"
"Nan, kamu bisa kan tinggalin aku sekarang? Aku lagi pengin sendiri."
"Astaga. Gak Ra, aku gak mungkin biarin kamu sendiri sekarang."
"Aku mohon Nanda. Tolong.."
"Gak. Aku gak bisa Sayang. Gak akan."
Nanda kembali mendekap erat Dera. Dera pun menangis di pelukan Nanda.
__ADS_1
"It's OK. Kamu boleh nangis sepuasnya di pelukan aku kapan pun kamu mau, Dera."