DEALLOVE

DEALLOVE
32 | Chance for Us


__ADS_3

Makin hari air mata Dera makin terkuras habis. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Air matanya selama ini hanya terjadi karena satu nama, 'Al'. Entah apa yang dipikirkan Dera. Di hatinya seperti masih ada harapan kecil untuk ia bisa kembali menjalani ikatan cintanya dengan Al. Namun, realitanya hal itu tentu tetap sulit terjadi.


Sekali lagi hati Dera serasa terkoyak. Ia mendengar kabar beredar di mana rencana pernikahan Al dan Natasya sudah semakin matang. Segala persiapan terus dilakukan. Dera tak pernah melewatkan kabar itu karena Al adalah putra tunggal Darmajaya. Keluarga Darmajaya selalu menyiarkan kabar bahagia mereka ke seluruh dunia sebisa mungkin.


Dera tak mengerti. Apa ini arti janji-janji Al selama ini? Di depan Dera, Al selalu mengaku amat mencintainya. Al selalu meyakinkan Dera bahwa ia ingin berjuang untuk cinta mereka. Namun, hingga kini hasilnya nihil. Justru serasa makin tak mungkin. Apa Dera harus tetap menunggu Al? Sampai kapan? Menunggu ketidakpastian bukanlah hal yang menyenangkan.


Sementara di sisi lain, perhatian sang CEO tak pernah putus. Sekalipun berkali-kali rasa kecewa merasuk di diri Nanda akibat sikap Dera yang gagal move on, Nanda selalu ada di samping Dera, mendukungnya, menemaninya, menghiburnya, dan mencintainya tanpa memaksa Dera membalas semua itu. Padahal dalam diri Nanda, ia amat ingin Dera mengerti perihal rasanya yang tulus itu.


Dera dan Nanda tetap bersama di kantor. Mereka menjalani hubungan profesional antara bos dan sekretaris sebagaimana mestinya sesuai keinginan Dera. Ya.. Hanya keinginan Dera sebab keinginan Nanda sebenarnya memang lebih dari itu.


"Hai, Ra!" sapa Nanda setelah memasuki ruangan Dera.


"Nan? Kamu perlu sesuatu?"


"Hm, sebenernya aku perlu dokumen kerja sama proyek kita sama Sanjaya group."


"Oh. Bentar aku cariin. Tapi Nan, kamu bisa telepon aja kan tadi? Biar aku yang anter ke ruangan kamu."


"Gapapa lah, Ra. Aku sekalian mau liat keadaan kamu sekaligus pastiin kerjaan kamu gak perlu banyak-banyak."


"Kok gitu Nan? Percuma aku jadi sekretaris kamu kalo gak ada kerjaan."


"Bukan gak ada, Sayang. Tapi jangan terlalu banyak. Aku tuh khawatir banget sama kamu. Akhir-akhir ini kamu sering banget jatuh sakit, makanya aku gak bisa biarin kamu capek-capek lagi. Sumpah Ra, kalo kamu kenapa-napa, aku jadi super panik tau gak sih. Hm, hari ini kamu gak perlu lembur ya."


"Ini dokumennya, Nan."


"Oke. Nanti sebelum jam tujuh malem, aku bakal anter kamu pulang."


•••


Nanda rela bolak-balik ke ruangan Dera hanya untuk mengecek keadaannya. Tak peduli harus memecah konsentrasinya antara pekerjaan dan gadis kesayangannya. Meski Dera agak tak nyaman, ia tak bisa membantah maunya sang atasan.


"Nanda? Kok ke sini lagi?"


"Eh emang gak boleh ya? Waduh, masa' aku dilarang masuk ke sini? Padahal ini kan kantor aku sendiri."


"Apaan sih? Bukan gitu, Nan. Maksud aku, kamu tuh dari tadi bolak-balik ke sini. Kalo butuh sesuatu bisa telepon aja kan?"


"No. Biarin aja kenapa sih? Aku pengin sekalian olahraga. Btw, aku bawain sesuatu buat kamu. Nih."


Nanda menyerahkan paper bag yang sedari tadi dibawanya pada Dera.


"Ini apa? Roti?"

__ADS_1


"Iya, Sayang."


"Aku tadi udah makan siang, Nan. Dan ini juga belum waktunya makan malem."


"Terus?"


"Ya aku masih kenyang."


"Gapapa, Dera. Makan itu gak akan buat kamu gemuk seketika kok. Udah, makan aja. Aku inget kata dokter, kamu itu harus makan meski sedikit-sedikit tapi sering. Biar perut kamu gak kosong dan asam lambung kamu gak naik. Sambil buat nyemil aja gapapa kok, Ra."


Tak ada lagi perdebatan. Bila Nanda sudah bertitah, Dera hanya bisa menurut jika tak ingin buang-buang tenaga dan mulutnya lelah tanpa hasil.


---


Rutinitas yang sama terus berlalu. Pekerjaan di kantor, Nanda yang selalu mengisi hari Dera, itu semua membuat Dera berpikir keras. Mungkinkah ia salah besar karena sudah menyia-nyiakan cinta dari lelaki sebaik Nanda. Bila gadis lain yang mendapat kesempatan itu pasti tak akan berpikir dua kali lagi untuk menerima CEO tampan itu.


Sulit melupa. Itu pun sebabnya Dera sulit memulai yang baru bersama Nanda. Haruskah terus seperti itu?


Malam ini seperti biasa Nanda mengantar Dera sepulang dari kantor. Mereka sudah sampai di depan rumah Dera. Nanda pun ikut turun dari mobil untuk mengantar Dera sampai ke depan pintu.


"Nanda?"


"Aku mau sekalian pamit sama ayah ibu kamu."


"Gak usah Nan, biar aku aja yang salamin ke mereka."


"Ya gapapa."


"Hm, ya udah deh. Kamu istirahat ya. Besok aku jemput kamu lagi," ucap Nanda sembari mengusap lembut bagian samping kepala Dera.


Nanda pun berlalu menuju ke mobilnya. Belum sampai ia membuka pintu mobil, langkahnya terhenti begitu mendengar suara lembut kembali memanggilnya.


"Nanda ...."


Nanda berbalik, ia mendapati Dera sudah berdiri di dekatnya.


"Loh, Sayang? Ada apa lagi, hm?" tanya Nanda heran.


"A-aku.. Aku mau--"


"Iya. Kenapa Dera? Kamu mau bilang sesuatu?"


Dera mengangguk, ia pun meraih tangan Nanda dan menggenggamnya. Sudah pasti Nanda makin heran. Selama ini Dera tak pernah seperti itu. Hanya untuk berpegangan tangan saja harus Nanda yang memulai. Lalu kali ini apa?

__ADS_1


"Nanda, aku.. Aku mau bilang kalo mungkin gak ada salahnya. Maksud aku, setelah aku pikir-pikir, aku mau coba kasih kesempatan buat hubungan kita."


"Ra, ini apa? Maksudnya? Aku masih gak paham."


"Nan.. Aku mau coba jalanin hubungan itu sama kamu. Seperti apa yang kamu mau. Maaf, karena aku baru mau berusaha ngertiin perasaan kamu itu sekarang, bukannya lebih awal. Aku justru sering buat kamu kecewa padahal selama ini kamu selalu ada buat aku, rela lakuin apa pun demi aku."


"Sayang, apa pun yang aku lakuin selama ini cuma karena aku sayang sama kamu."


"Aku ngerti, Nan. Dan aku juga mau coba sayang sama kamu seperti kamu sayang sama aku."


"Astaga. Ini--aku beneran lagi gak salah denger kan?"


Dera menggeleng. Langsung saja ia mendekap tubuh Nanda. Nanda yang begitu terkejut pun membalas dekapan Dera lebih erat.


"Ra? Are you sure? Kamu serius?" tanya Nanda lagi masih tak percaya.


"Aku serius, Nan. Apa kamu keberatan?"


"Yang bener aja, Sayang? Mana mungkin aku keberatan. Aku cuma--aku terlalu bahagia dan masih agak sulit percaya. Akhirnya.. Akhirnya saat ini tiba. Saat yang paling aku tunggu sejak lama. Aku bisa denger dari bibir kamu secara langsung kalo kamu--kamu mau kasih kesempatan buat hubungan kita, buat cinta di antara kita. Sayang, malem ini jadi malem yang paling indah buat aku. Makasih, Dera."


Mereka berpelukan begitu erat. Nanda selalu merasa nyaman tiap kali memeluk Dera seperti itu. Kini Dera pun akan mencoba merasa nyaman dengan pelukan Nanda.


"Nanda--"


"Aku mencintai kamu, Dera. I love you, my girl!"


"Love you too, Nanda."


Inilah awal kisah hubungan cinta mereka. Hubungan baru tanpa dasar kesepakatan atau perjanjian apa pun. Dera ingin mencoba melupakan perihal kesepakatan mereka dulu, seperti keinginan Nanda. Detik ini hati seorang sekretaris yang sebelumnya terkunci hanya untuk satu nama perlahan terbuka hingga memberi celah bagi CEO Armandito group untuk memasuki hati yang pernah patah itu.


Sudah cukup lama pelukan mereka terjadi, Dera akhirnya melepaskan tubuh Nanda perlahan.


"Nanda.. Lebih baik kamu pulang sekarang. Ini udah malem."


"Hmm.. Oke deh. Sayang, sekali lagi makasih buat hadiah spesial malem ini ya. I'm so happy for this. Jadi, aku pulang sekarang nih?"


Dera mengangguk.


"Baiklah Nyonya Dera Armandito, sampe jumpa besok." Nanda mengecup kening Dera sebelum pergi pulang dengan mobilnya.


Sementara Dera hanya bisa tersenyum lega mengingat apa yang baru saja terjadi.


•••

__ADS_1


Nanda amat bahagia, ia tak bisa berhenti tersenyum bahkan hingga ia sampai di apartement-nya.


"Nanda Armandito, finally, you've get it. I love you so much Dera Ananda Putri. Now, you're mine! Mimpi apa semalem, hari ini bisa dapet kejutan sehebat ini? Sayang, kamu bikin aku gak bisa tidur malem ini." gumam Nanda yang tengah berbaring telentang di ranjangnya sambil menatap potret Dera di ponselnya.


__ADS_2