
Dera melepaskan sentuhan Al. Ia harus sadar hubungannya dengan Al memang sudah berakhir. Bahkan Al sudah mau menikah dengan Natasya.
"Gak Al. Aku gak bisa."
"Ada apa Sayang? Kamu kenapa?"
Al mendekat ke arah Dera.
"Please Al, stop! Jangan deketin aku!"
Al bersikeras, ia kini menggenggam kedua tangan Dera.
"Ra, kenapa sih? Kita dah lama gak ketemu. Kamu tau kan, aku kangen banget sama kamu."
"Ini salah Al."
"Apa yang salah? Cinta gak pernah salah kan?"
"Udah gak ada cinta di antara kita Al. Kita udah selesai. Kamu harus inget itu."
"Siapa bilang? Kita selesai menurut kamu, gak buat aku, Sayang. Bagi aku, kamu tetep Dera-ku yang dulu, Dera yang sama, Dera yang aku cinta dan cinta sama aku."
"Lepasin aku Al!"
"Gak akan pernah lagi."
"Al aku mohon. Aku bener-bener gak bisa."
"Oh ya? Jadi cinta kamu buat aku bisa hilang secepat itu? Gimana caranya? Kasih tau aku Ra! Ajarin aku! Ajarin aku cara buat buang jauh rasa cinta aku ke kamu ini!"
"AL---"
"Dera.. Tatap mata aku Sayang! Sekarang liat mata aku dan bilang kalo kamu gak cinta sama aku! Ayo Ra!"
"Al.. Aku gak cinta sama kamu. Kita udah berakhir," ucap Dera lantang sambil menatap mata Al.
Setelah mengatakan itu, Dera berlalu meninggalkan Al.
Sementara Al terus mengoceh sendiri, "Hah.. Kenapa Dera? Aku tau kamu bohong, Sayang. Mata kamu bicara. Kamu gak bisa bohong sama aku. Kamu masih cinta sama aku. Kita masih saling sayang. Aku tau hati kamu masih milik aku, Dera!"
---
Dera pergi ke kamar Nanda untuk mengecek apa Nanda butuh sesuatu atau tidak. Begitu sampai di kamar Nanda, ia tak mendapati siapa pun.
__ADS_1
"Nanda ke mana ya? Apa dia belum selesai ketemu kliennya ya," pikir Dera.
Dera bahkan sudah bertanya pada ayah ibunya, tetapi mereka pun tak tahu keberadaan Nanda.
Sementara itu, Nanda yang tengah dicari-cari oleh Dera justru sedang tak sadarkan diri. Nanda sudah berada di bar sejak tadi. Ia dalam keadaan mabuk berat saat ini. Sudah beberapa gelas minuman ditegaknya, itu pun masih terasa kurang baginya. Nanda terus meminta dan meminta tambah lagi.
Nanda memutuskan menghabiskan waktu di bar setelah melihat kemesraan Dera dengan Al di pinggir pantai tadi. Nanda sungguh tidak terima, ia cemburu, ia murka. Ia tak bisa melihat gadis yang ia cintai disentuh pria lain, apalagi pria itu mantan kekasihnya.
"Kenapa? Apa kurangnya aku? Dera, kamu bahkan gak bisa liat seberapa besar cinta aku. Kamu gak peduli sama hati aku. Rasanya sakit Dera! Sakit," racau Nanda di bar.
Nanda masih terus minum dan meracau tak jelas.
...
Ponsel Dera berbunyi. Dera terkejut begitu tahu itu panggilan dari Nanda. Namun, ketika Dera mengangkatnya, bukan Nanda yang bicara melainkan salah satu pelayan di bar yang memberitahu saat ini Nanda mabuk berat. Pelayan itu menghubungi Dera karena nomor Dera ada di daftar panggilan cepat pertama ponsel Nanda.
Dera panik mendengar kabar itu. Ia langsung pergi ke bar dan memastikan ayah ibunya tidak tahu soal ini.
Sesampainya Dera di bar, benar saja ia mendapati Nanda sedang duduk meringkuk dengan kepala tergeletak di atas meja bar sembari terus mengamuk dan meracau minta minuman lagi. Nanda pun terdengar menyebut nama Dera.
"Nanda.. NANDA CUKUP!"
"Ehh kamu.. Ngapain kamu di sini? Pergi sana! Aku tau kamu sama sekali gak peduli sama aku. Tinggalin aku! Biarin aku di sini!"
"Kenapa? KENAPA? HA? Peduli apa kamu? Hehh, siapa aku? AKU BUKAN SIAPA-SIAPA BUAT KAMU KAN!"
"NAN, udah Nan! Ayo kita pergi dari sini!"
"Gak Dera. Aku gak mau."
"Nanda udah ayo! Jangan begini!"
"Aku bilang gak ya gak. Cukup Dera! Biarin aku di sini. Lagi pula kamu gak perlu sok peduli kayak gini. Sana pergi! Pergi yang jauh! Temuin itu mantan terindah kamu--putra Darmajaya itu."
Dera terdiam sejenak. Sepertinya ia tahu mengapa Nanda bersikap seperti sekarang. Nanda pasti melihat Dera bersama Al tadi.
"Nanda.. Maaf. Aku bisa jelasin semuanya. Tapi tolong kamu ikut aku ya, kita pergi dari sini, kita balik ke hotel."
"****.. Aku gak butuh penjelasan apa pun. Kamu bahkan gak bisa ngertiin aku. Hati aku, rasa aku, cinta aku, Dera.. Kamu gak pernah peduli."
"Maaf Nan, aku mohon kita balik ya!"
Dera berhasil membawa Nanda kembali ke kamar hotel. Ia meminta bantuan salah satu pelayan bar untuk memapah Nanda. Beruntung Nanda sudah mulai hilang kesadaran, itu sebabnya ia bisa dibawa kembali ke hotel tanpa perlawanan.
__ADS_1
Setelah melepaskan sepatu dan jas Nanda yang berbau alkohol, Dera menyelimuti Nanda. Dera lalu berniat kembali ke kamarnya, membiarkan Nanda beristirahat. Namun, tak diduga, tangan Nanda menarik tangan Dera begitu kencang hingga Dera terjatuh ke ranjang dan terbaring di samping Nanda.
"Ahh.. Dera.. Kamu mau ke mana, Sayang? Temenin aku di sini ya! Aku mau bicara banyak hal sama kamu. Ini perintah dari CEO kamu, kamu gak boleh nolak!"
"Nan.. Kamu mau apa? Kamu masih belum sadar, kamu masih mabuk, Nanda. Kita bisa bicara besok. Biarin aku pergi sekarang!"
Nanda menggeleng, ia pun mengeratkan pelukan pada tubuh Dera dengan posisi mereka yang masih terbaring berdua dalam satu ranjang.
"Dera. Aku punya pertanyaan. Banyak banget pertanyaan yang harus kamu jawab. Jadi, kamu jawab ya!"
"Nanda--"
"Pertanyaan pertama, siapa aku di mata kamu?"
"..."
"Kenapa diem? Hm? Apa terlalu sulit jawabannya? Oke, pertanyaan kedua, apa kamu masih cinta sama Al?"
"..."
"Hah, pertanyaan ketiga, apa kamu setuju sama kesepakatan kita dulu cuma demi Al? Bisa gak sih kamu lupain kesepakatan itu?"
"..."
"Pertanyaan keempat, apa kamu cinta sama aku? Atau kamu cuma anggep aku ini bos kamu, CEO kamu, seseorang yang cuma bisa merintah kamu?"
"..."
"Dera ayolah! Sampe kapan mau diem aja begini? Oke, pertanyaan kelima, apa kamu bahagia jadi sekretaris aku? Kamu nyaman deket sama aku?"
"Nanda aku--"
"Kenapa ragu-ragu? Hm? Tinggal jawab aja kok. Dera, pertanyaan keenam, kapan kamu bisa mencintai aku seperti aku cinta sama kamu? Sampe kapan aku harus nunggu? Apa selamanya cuma bakal begini?"
"..."
"Astaga.. Ini pertanyaan bonus buat kamu. Pertanyaan ketujuh, Dera, kalo aku serius, aku mau lamar kamu di depan ayah ibu kamu sekarang, apa kamu akan terima aku? Will you marry me?"
"Gak Nanda. Aku gak bisa."
"Wow, dari semua pertanyaan aku, kamu cuma bisa jawab pertanyaan terakhir, pertanyaan bonus. Itu pun kamu bisa selantang itu. Terus pertanyaan yang lain, mana? Kamu lebih pilih bungkam. Kamu diem aja."
"Nanda tolong .... "
__ADS_1
"Tolong Dera! Oke. Sekarang kamu diem aja! Biarin aku yang bicara dan kamu dengerin semuanya. Kamu cukup dengerin aja. Jangan bilang apa pun. Jangan jawab apa pun, kamu diem! Diem aja ya!"