DEALLOVE

DEALLOVE
17 | Menyesal?


__ADS_3

"Dera? Kamu kenapa? Kamu dari tadi diem aja. Hm,"


Nanda membelai rambut Dera yang tergerai dengan tangan yang satunya masih fokus pada setir mobil.


"Nan, aku gapapa."


"Kamu masih mikirin Al? Apa kamu nyesel sama keputusan kamu?"


"Gak ada yang perlu disesalin kan? Semua juga udah terjadi. Gak akan bisa berubah lagi."


"Jadi kamu masih berharap semuanya bisa berubah?"


"Nanda. Aku gak mau bahas ini lagi. Aku capek, aku mau pulang."


"Oke Sayang, sekarang kita pulang."


Setelah Dera sampai ke rumah, Nanda pun pulang ke apartement-nya. Hari ini sungguh jadi hari yang berat untuk Dera. Ia harus membohongi perasaannya sendiri. Dera masih sangat mencintai Al, ia bahkan tak berniat sama sekali untuk mengakhiri hubungannya dengan Al. Keadaan yang telah memaksanya melakukan hal ini.


Dera mulai mengalirkan air matanya. Ia mengingat kenangan indah bersama Al sambil memandangi beberapa potret gambar yang masih ia simpan rapi. Ia tak menyangka hubungannya dengan Al harus berakhir seperti ini.


"Al, maafin aku. Aku gak bermaksud nyakitin kamu. Sebenernya aku masih mau berjuang sama kamu. Tapi aku gak bisa Al, aku harus lakuin ini demi keluarga kamu. Aku gak mau Nanda nyakitin kamu dan keluarga kamu. Aku akan selalu sayang sama kamu Al."


Dera menangis sejadi-jadinya. Ia hanya bisa melampiaskan kesedihan dan kekesalannya dengan tangisan malam ini.


---


Sementara di lain tempat, Al terus mengumpat dan memukul-mukulkan tangannya ke dinding. Ia masih tak percaya dengan kejadian ini. Ia masih berharap ini semua mimpi, tetapi apa daya semuanya memang nyata. Pikirannya melayang ke saat-saat indahnya bersama Dera.


"Dera.. Apa salah aku Sayang? Kenapa kamu buat aku jadi kayak gini? Kamu bener-bener buat hati aku remuk berkeping-keping. Rasanya sakit Ra. Kamu berhasil buat aku mati rasa sekarang Sayang. Aku gak akan biarin ini semua. Aku tau kamu takdir aku. Aku gak akan semudah itu lepasin kamu."


Al sangat mengenal Dera. Ia tahu Dera tak mungkin bersikap seperti itu tanpa alasan. Al berjanji akan mencari tahu kebenarannya dan membuat Dera kembali ke pelukannya.


•••


Dera sedang berada di ruangan kantor, ia masih berjibaku dengan dokumen-dokumen penting yang harus dia pelajari dan dia rekap. Ia hanya mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian semalam.


Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari seseorang.


"Masuk." Dera menyahut tanpa beranjak dari tempat duduknya.


Dera tak memperhatikan orang yang masuk ke ruangannya. Ia terkejut setelah merasakan orang itu mengecup pipinya.


"Nanda?"


"Hai Sayang. Apa kabar? Lagi sibuk banget ya?"


"Nan, aku lagi banyak kerjaan sekarang."


"Oke-oke. Biar aku bantuin sini. Aku harus ngerjain apa?"


"Gak usah Nan, kamu apaan sih? Ini tugas aku."


"Tugas ini juga dari aku kan? Kalo aku bilang gak usah kerjain ini berarti itu perintah buat kamu."


"Nanda udah deh. Kalo kamu gak pengin aku kerjain apa pun, terus buat apa aku masih ada di sini? Mending aku pulang kan?"


"Sayang kamu kenapa sih? Kenapa sensitif banget hari ini? Kamu lagi PMS?"


"..."


"Atau ini semua karena Al?"

__ADS_1


"Nanda please--"


"Apa? Kenapa Sayang? Apa aku bener?"


"..."


"Hmm, Sayang dengerin aku," Nanda membimbing Dera berdiri dari tempat duduknya. "Kamu milik aku, cuma milik aku Dera. Please, kamu lupain Al. Dia cuma masa lalu kamu. Masa depan kamu cuma sama aku."


Dera sama sekali tak ingin menatap Nanda. Nanda pun mulai membelai lembut pipi Dera. Ketika Dera memejamkan mata, Nanda lebih mendekatkan wajahnya dengan wajah Dera. Bibir Nanda hampir saja bersentuhan dengan bibir Dera, tetapi tidak terjadi karena Dera langsung memundurkan diri sehingga kembali ada jarak antara mereka berdua.


"Sayang," Nanda agak kesal karena niatnya telah gagal.


"Maaf Nan, aku mau ke toilet dulu. Permisi."


Dera keluar dari ruangannya. Sementara Nanda hanya berdecak kesal dan mengembuskan napas panjang.


---


Hari itu Nanda mengajak Dera berkunjung ke rumah orang tuanya. Sebenarnya Dera menolak untuk ikut, tetapi kata-kata Nanda sukses membuat Dera menurut.


"Oke Sayang. Kita udah sampe."


Nanda memencet bel rumah mewah di hadapannya. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya dengan gaya sosialita terlihat membukakan pintu dan menyambut mereka dengan hangat.


"Nanda.."


"Ma, apa kabar?"


"Mama baik kok Sayang. Kamu tumben ke sini! Gak ngomong dulu sama mama lagi."


"Yah Ma, kan Nanda kangen sama Mama. Oh ya Ma, papa mana?"


"Papa masih ada urusan di perusahaan cabang. Nan, kamu dateng sama siapa? Apa ini calon menantu mama yang sering kamu ceritain?"


Dera menjabat tangan mama Nanda.


"Dera, Tante."


"Oh iyaa. Tante--mamanya Nanda. Jadi kamu yang namanya Dera. Nanda sering cerita tentang kamu ke tante. Pantes aja Nanda selalu tergila-gila sama kamu, ternyata gadisnya semanis ini."


Dera hanya menanggapi dengan senyuman.


"Jadi gak boleh masuk nih Ma?"


"Eh iya masuk-masuk. Dera, jangan sungkan ya Sayang. Anggep aja ini rumah kamu sendiri. Sering-sering aja main ke sini, tante bakal seneng banget. Nanda juga jarang banget dateng ke sini."


"Ma,"


"Iya deh iya, mama tau kalo anak mama ini super sibuk. Maklum lah, CEO kan?"


"Apaan sih Ma?"


---


Mereka pun larut dalam obrolan hangat. Mama Nanda sangat merasa cocok dengan Dera. Dera berhasil menarik hati mama Nanda, tentunya beliau tak ragu lagi untuk menjadikan Dera sebagai menantu.


Mereka melanjutkan obrolan sambil makan siang.


"Ayo Dera! Dimakan ya Sayang. Jangan sungkan."


"Iya Tante."

__ADS_1


"Iya Sayang, makan yang banyak. Masakan Mama pasti enak kok."


... ... ...


"Gimana Dera? Kamu suka Sayang?"


"Iya. Ehm, ini enak kok Tante."


"Tante seneng kalo kamu suka. Oh ya, Dera.. Nanda kalo di kantor gak galak kan?"


"Ma, kok nanya gitu ke Dera sih?"


"Ya mama pengin tau aja gimana pendapat Dera Sayang. Ayo Dera, kasih tau tante! Tapi yang jujur yaa."


"Hm, sebenernya Nanda kalo di kantor dingin banget sih Tante."


"Tapi kan aku gak kayak gitu sama kamu Sayang."


"Tetep aja, kalo lagi gak sama aku, di hadapan pegawai lain kamu selalu bersikap dingin."


"Dera, kamu jangan heran ya! Nanda emang orangnya kayak gitu. Dia bisa bersikap hangat dan lepas cuma sama orang-orang terdekat, orang-orang yang dia sayang. Kalo dia bisa bersikap hangat sama kamu, itu tandanya kamu termasuk orang yang dia sayang. Nanda sayang sama kamu."


Dera hanya terdiam.


"Ma, udah lah."


"Loh bener kan? Nanda, kenapa kamu masih biarin Dera kerja jadi sekretaris kamu? Dia kan calon istri kamu."


Dera langsung tersedak mendengar perkataan mama Nanda.


"Sayang. Kamu baik-baik aja kan? Minum dulu Sayang! Pelan-pelan yaa.." Nanda membantu Dera untuk minum.


"Tante gak salah ngomong kan Dera?"


"..."


"Ma, jangan bahas pernikahan sekarang lah. Aku gak mungkin pecat Dera juga kan Ma. Aku masih butuh Dera di kantor."


"Mama kan cuma pengin bisa segera menyaksikan pernikahan anak mama. Kamu juga sayang sama Dera kan? Kamu udah pasti mau serius sama Dera kan? Gak ada salahnya kalo kalian segera menikah. Kalian udah sama-sama dewasa."


"Mama, Nanda masih mau fokus ngurus perusahaan papa dulu."


---


Dera melamun di balkon rumah orang tua Nanda. Nanda pun datang menghampiri gadisnya di sana. Nanda mengerti pasti saat ini Dera sedang memikirkan perkataan mama Nanda tadi.


Nanda memeluk gadisnya dari belakang.


"Dera.."


"Nan!"


"Kamu kenapa Sayang? Mikirin omongan mama tadi ya?"


"..."


"Aku pikir mama bener juga. Gak ada salahnya kan kalo kita segera menikah? Aku akan segera nemuin orang tua kamu buat lamar kamu."


"Nanda kamu--" Dera menghadap ke arah Nanda.


"Kenapa Sayang? Aku sayang sama kamu. Aku sangat mencintai kamu. Aku udah siap lahir batin buat jadi suami kamu."

__ADS_1


"..."


"Apa kamu belum bisa kasih cinta kamu buat aku? Kamu gak sayang sama aku Dera?"


__ADS_2