
Aku kembali ke kamar. Setelah sebelumnya memastikan bahwa anak-anak sudah tidur dengan nyenyak.
Sampai kamar, aku menatap Mas Aji yang sedang mengobati luka lebamnya sendiri. Aku mengambil alih handuk yang dia pegang. Duduk di pinggir ranjang, lalu mulai mengompres lebam demi lebam di wajah Mas Aji.
Mas Aji menatapku sangat lekat. Tanpa bicara, tapi dari matanya aku tahu banyak makna yang tersimpan di dalamnya.
"Mas benar-benar gak rela harus pisah sama kamu," katanya.
Aku yang masih mengompres luka lebamnya menjawab, "Maka belajar untuk merelakan, Mas."
"Mas cinta sama kamu. Mas ..."
"Aku juga," potongku cepat.
Mas Aji mengambil tanganku yang berada di wajahnya. Kemudian dia kecup dengan lembut.
"Mas gak yakin akan bisa hidup tanpa kalian, sayang."
Aku menatapnya. Menarik tanganku yang berada di pipinya. "Aku yakin kamu bisa, Mas. Setelah itu juga kamu bisa kembali menikah lagi dengan wanita lain. Wanita yang lebih sempurna."
Mas Aji berdecak. "Yang aku butuhkan cuma kamu, sayang. Bukan perempuan lain."
Aku terkekeh geli mendengarnya. "Iyakah? Bukannya kemarin-kemarin justru kamu jauhin aku dan cari perempuan lain?"
Mas Aji terdiam. Dia menunduk dalam.
"Udahlah, Mas. Jangan bicarain itu lagi. Semua udah selesai," kataku sangat tenang.
Mas Aji menggeleng. Menyatukan jemarinya dan jemariku. "Gak. Semuanya belum selesai. Ayo kita bicara lagi, kita selesaikan dengan cara lain, bukan dengan perceraian."
Aku tersenyum tenang. Lalu duduk di atas ranjang, saling berhadapan. "Mau bicara apa lagi? Toh ujung-ujungnya aku tetap akan minta cerai juga."
Mas Aji menutup mututku dengan tangannya. Memintaku untuk jangan mengatakan itu lagi.
Aku menurunkan tangannya. Lalu menghela. "Oke Mas, kalau begitu. Let's talk, tapi sebagai seorang teman yang mengenal kata kompromi di dalamnya. Ayo kita cari jalan keluarnya, aku lelah, Mas kalau harus terus-terusan begini. Sekarang aku tanya, mau kamu seperti apa?"
Mas Aji menatapku tak pernah lepas. "Mas mau kita mulai lagi dari awal. Mas janji akan perbaiki semuanya. Mas janji gak akan mengulangi hal itu lagi. Mas janji, sayang. Percaya sama Mas."
Aku menghela napas, lelah. "Tapi terlalu sulit bagi aku buat percaya lagi."
__ADS_1
Mas Aji memejamkan matanya lama sebelum akhirnya membukanya lagi dan pandangan kami beradu kembali. "Mas harus lakukan apa lagi agar kamu bisa percaya? Mas gak mau pisah sama kamu dan anak-anak, Mas rela lakukan apapun asalkan hal itu gak terjadi."
"Aku dan anak-anak ingin melanjutkan hidup, dengan berpisah ... mungkin lebih baik," kataku.
Mas Aji terperangah. Detik selanjutnya menangis kembali. Aku menariknya ke dalam pelukan. Cengeng sekali dia ini.
"Mas cinta sama kamu. Mas sayang sama kamu."
Aku juga, Mas. Aku juga.
Aku membelai lembut rambutnya. Niat hati tak ingin menangis, namun tetap saja air mata keluar dengan sendiri.
"Jangan terpaku sama aku lagi, Mas. Mulai sekarang harus dibiasakan apa-apa tanpa aku. Keputusanku sudah mutlak, aku tetap ingin ... bercerai."
Mas Aji melepaskan diri dari pelukanku. Dia menatapku sendu. "Gak ada kesempatan kedua buat, Mas? Kenapa?"
Tanganku terangkat untuk menyentuh pipinya. Sejenak, Mas Aji memejamkan mata. "Menjernihkan air yang keruh lebih sulit daripada meneteskan nila pada belangga susu, Mas."
Mas Aji diam dengan pandangan yang menunduk. "Aku tahu. Semua itu butuh perjuangan. Maka aku siap, aku akan berjuang sampai sejauh manapun untuk bisa membuat airnya jernih kembali."
"Mas akan tinggalkan Cynthia demi kamu dan anak-anak. Atau kalau perlu ... Kita bisa tinggal di kota lain buat buka lembaran baru. Maka izinkan pernikahan kita supaya bisa berlanjut kembali."
Bisakah kamu melakukan itu? Benarkah kalau kamu tidak pernah merasakan sedikit pun cinta pada diri wanitamu itu?
Apakah Cynthia tak berarti apa-apa walaupun kamu sudah 6 bulan bersamanya?
Kalaupun kita membuka lembaran baru di kota baru, apakah tidak akan ada Cynthia lain nantinya?
Berbagai pertayaan saling bersahutan di pikiranku.
Aku terpaku. Suaramu yang parau dengan mata yang merah merona diselubungi duka nestapa, agak membuat hatiku jadi bimbang.
Tapi ... Bukankah ini resiko yang harus diterima Mas Aji atas apa yang sudah dilakukannya?
Mas Aji kemudiam mencium keningku lamat sebelum akhirnya memelukku erat. Menyalurkan desiran hangat pada setiap sel syaraf tubuhku.
Aku lelah.
• • •
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 00.20 dini hari. Tapi mata kami tak kunjung terpejam.
Aku dan Mas Aji sedang rebah di atas ranjang, dengan pandangan yang tertuju pada langit-langit kamar.
Mas Aji sejak tadi mendekapku erat. Tangannya tak mau lepas barang sejenak dari tubuhku.
Pembicaraan alot kami tak kunjung menemukan titik terang. Aku yang ingin berpisah dan Mas Aji yang ingin bertahan, membuat semuanya seakan sulit menemukan garis akhir.
Tangannya semakin erat memeluk pinggangku. Mas Aji mendekat, menghirup leher dan rambutku dalam-dalam.
Dia mendekatkan bibirnya pada telingaku. Kemudian berkata, "Apa Mas sudah kamu maafkan?"
Aku menahan napas sesaat. Suaraku mendadak tercekat. Apa aku harus semudah itu memaafkannya? Apa masalah ini harus segampang itu selesai? Tidak! Ada rasa sakit yang aku rasakan selama ini. Tidak mungkin aku memaafkannya semudah membalikkan telapak tangan. Jangan!
Mas Aji mengelus pipiku sangat lembut. Bibirnya kemudian mengirimkan kehangat pada bibirku. Yang tentunya memberikanku gelenyar dan desiran aneh pada tubuh. Di setiap kecupan, di setiap sentuhan, ada kerinduan di dalamnya. Ada hasrat yang menggelora menerobos keluar dari dalam raga ini.
Aku berusaha menolak. Bayang-banyangmu ketika selingkuh, membuatku berontak. Walau tak bisa dipungkiri, kalau aku pun sama rindunya, Mas.
Sentuhan dan belaian hangatmu, membuatku jatuh dan terlena pada gairah surga duniawi. Bibir yang biasa kamu gunakan merayu Cynthiamu itu, kini dengan lembut mengalunkan namaku dari setiap desahannya, dan menuntunku terbang melayang ke awan, jatuh terjerembab ke dalam nirwana.
Ada cinta di bola matanya. Ada binar yang selama ini hilang antara kita berdua. Di balik lampu temaram kamar ini, Mad Aji seakan kembali pada hal yang sesungguhnya. Yaitu, padaku. Pada dekapanku dan pada kuasaku. Aku balas merengkuh tubuhnya, mengerang dan mengalunkan irama yang sama indahnya, pertanda aku menyerah.
...• • •
...
Tepat pukul 3 dini hari, aku terbangun karena dering suara telepon Mas Aji.
Mas Aji masih tertidur, setelah tadi kami sama-sama mendaki merasakan kembali apa yang telah hilang.
Napasku tercekat saat aku membaca pesan yang masuk. Dari Cynthia, wanita itu lagi.
Napasku memburu kemudian, ada nafsu yang kembali membumbung tinggi. Mas Aji terbangun, menatapku keheranan. Dia ambil alih ponsel di tanganku saat aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Sulit aku berkata kalau, "Dia hamil, Mas."
Benar, menjernihkan air keruh tak akan mudah. Apalagi air itu ditambah lumpur sekarang.
Keputusanku bulat, aku menyerah.
__ADS_1