Demi Kasih

Demi Kasih
8


__ADS_3

Anak-anak sedang diungsikan oleh Bi Lastri ke taman bermain. Sedang aku harus di rumah karena tamu agung yang sudah kutunggu-tunggu datang juga. Padahal aku pikir, dia mana berani datang.


Kami bertiga, aku, Mas Aji dan Cynthia sudah duduk di tempat masing-masing. Sejak tadi, kedua makhluk berbeda jenis itu tak ada yang berani bicara. Aku pun belum bertanya, sengaja menunggu mereka membuka suara, untuk minta maaf mungkin? Tapi nyatanya, tidak juga.


Aku menatap mereka bergantian. Mereka tertunduk malu. Ku lihat jemari Cynthia terus bermain di ujung kaosnya. Aku yakin kalau dia sedang gugup.


"Kalian berdua cocok ternyata," kataku.


Mereka berdua mendongak.


"Gak heran kalau kalian pacaran. Yang satu penggoda dan yang satu lagi mudah tergoda."


Mas Aji menggeleng dan menatapku sendu. "Sayang ..." katanya sambil ingin meraihku.


Aku mengangkat sebelah tangan mengisyaratkan agar dia tetap duduk.


"Kalau kamu panggil aku sayang, kasihan nanti pacarmu itu cemburu, Mas!" kataku satire.


"Cynthia." Aku memanggilnya. Pelan-pelan dia mendongak.


Pandangan kami bertemu sepersekian detik sebelum akhirnya dia menunduk takut.


Baiklah Salwa, mungkin inilah saatnya. Batinku menyemangati.


"Kamu itu cantik, lho. Tapi kenapa mau jadi selingkuhan suami orang?"


Dia diam. Mas Aji pun sama.


"Bahkan sampai rela bertelanjang di depannya. Eh, bukan cuma telanjang, tapi rela disetubuhi juga." Aku menggeleng-gelengkan kepala pura-pura kagum.


"Kamu tahu gak yang seperti itu namanya apa?"


Mereka masih terdiam. Aku menghela napas kasar.


"*******! Hanya ******* yang rela melakukan itu!" Tegas aku berkata.


Mas Aji tersentak kaget. Cynthia mulai menangis, bahunya sedikit bergetar.


"Cynthia bukan *******, sayang. Jangan sembarangan bicara!" Mas Aji berkata.


Aku menggeleng lirih. Hatiku seakan tercubit. Lelaki itu masih membelanya bahkan ketika di hadapanku.


Aku terkekeh sinis. "Bukan *******? Yang benar apa? Wanita yang rela bertelanjang di hadapan lelaki yang bukan suaminya harus aku sebut apa, Mas? Bidadari begitu?"


Mas Aji menyela, "Bukan begitu, sayang. Tapi tolong jaga ucapanmu. Gak baik."

__ADS_1


Aku memalingkan pandangan ke arah lain. "Gak baik katamu? Lalu yang kamu lakuin itu baik dan benar, begitu?"


Mas Aji diam membisu.


Aku tertawa sumbang. "Terserah apa katamu. Tapi yang jelas bagi aku Cynthia memang *******. Wanita murahan. Gak punya harga diri!"


Cynthia semakin terisak di tempatnya. Mas Aji dengan tanpa malu kemudian merangkulnya. Sialan!


Mataku mulai memanas. Napasku mulai tak beraturan. Aku jengah melihat ini semua.


Lalu, aku maju selangkah. Agar lebih dekat dengan Cynthia. Dengan gerakan tiba-tiba, aku menariknya agar berdiri. Kemudian,


Plak!


Tamparan cukup keras aku hadiahkan pada pipi mulusnya. Tak peduli kalau Cynthia akan kesakitan.


Mas Aji menatapku tak menyangka. Dia berdiri di hadapanku dengan tatapan murka.


"Jangan kurang ajar kamu, Salwa!"


Pertama kalinya aku mendengar lagi Mas Aji memanggilku Salwa. Napasku memburu. Pipiku sudah mulai basah dengan air mata. Tega sekali, Mas!


"APA?! AKU KURANG AJAR?! JUSTRU KAMU YANG KURANG AJAR, MAS! KAMU!" Aku berteriak sangat keras.


"SEORANG SUAMI YANG TEGA MAIN GILA SAMA PEREMPUAN LAIN, ITU YANG NAMANYA KURANG AJAR!"


"Mas memang kurang ajar! Mas akui kalau Mas salah. Tapi ... Gak seharusnya kamu main kekerasan, sayang." Mas Aji melunak.


"Memangnya kenapa? Rasa sakit yang Cynthia dapatkan gak sebanding dengan yang aku rasakan selama ini, Mas! Apa kamu pernah pikirkan soal itu, hm? Apa kamu peduli soal itu?" kataku. "ENGGAK, KAN?!"


Badanku lemas, aku terduduk di lantai. Mas Aji mencoba mendekapku. Tapi tubuhku refleks menolak.


"Stop! Jangan sentuh aku!"


Aku menatap nyalang ke arah dua manusia sialan di hadapanku.


"Sekarang, aku tanya," ucapku. "Apa kalian saling mencintai?"


Mas Aji menatapku. "Kenapa kamu tanya seperti itu?"


"Cukup jawab, Mas," kataku tegas.


Sejenak, Mas Aji menatap Cynthia.


"Mas ... Mas gak cinta sama dia."

__ADS_1


Ku lihat, Cynthia tampak terkejut mendengarnya. Aku? Biasa saja. Aneh, tidak ada perasaan lega atau senang atas jawabannya.


"Apa?!" Cynthia akhirnya bicara juga.


"Maksud kamu, selama ini kita ini hanya apa?" katanya lagi.


"Ya Cynthia, aku gak cinta sama kamu. Selama ini ... Yang aku lakukan, hanya sebatas ..." Mas Aji melirik ke arahku. "Hanya sebatas sex," katanya lirih di akhir kalimat.


Plak!


Cynthia menampar pipi Mas Aji.


"Brengsek kamu! Setelah aku kasih semuanya sama kamu, ternyata ini balasannya?" Cynthia makin menangis. Mas Aji terdiam tak membantah.


"Dulu kamu bilang kalau kamu cinta sama aku. Dulu kamu bilang kalau kamu lebih memilih aku daripada istrimu itu. Dulu kamu bilang akan menceraikan istrimu demi aku, tapi sekarang? Kenapa kamu bicara sebaliknya?" pekik Cynthia.


Aku terkejut mendengarnya. Menatap Mas Aji tak percaya. "Benar itu, Mas? Kamu cinta sama dia? Kamu akan menceraikan aku demi dia?"


"Sayang ..." Mas Aji meraih tanganku. Lagi, aku menepisnya keras.


"JAWAB, MAS!"


"Benar, Mbak. Dia pernah bilang kalau dia akan menceraikan Mbak karena saya! Tahu alasannya kenapa?" Cynthia terkekeh sinis sambil melihatku dari atas sampai bawah. "Karena Mbak gak ada apa-apanya dibanding saya. Mbak hanya seorang perempuan yang sibuk dengan mengurus rumah tangga tanpa mau memperhatikan penampilan. Pantas saja kalau suami Mbak selingkuh dengan saya, karena ternyata memang saya lebih unggul!"


Sialan, kenapa dia jadi berani seperti ini?


Sebelum aku menjawab, Mas Aji lebih dulu bertindak. Dia memberikan tamparan balasan di pipi perempuan muda itu. Sangat kencang. Jelas aku terkejut, padahal baru beberapa menit yang lalu dia melarangku untuk melakukan itu.


"Aku gak akan ceraikan istriku apapun alasannya. Tolong jaga mulutmu itu, jangan pernah menghina soal istri dan ibu dari anak-anakku!" kata Mas Aji sambil menujuk wajah Cynthia.


Cynthia tertawa lumayan keras dengan air mata yang juga semakin deras. "Aku menghina? Iyakah? Bukan malah sebaliknya? JUSTRU KAMU YANG MENGHINA ISTRIMU SENDIRI! KAMU BILANG BAHWA DIA GAK ADA BEDANYA DENGAN ASISTEN RUMAH TANGGA YANG ..."


"CUKUP CYNTHIA!" pekikkan Mas Aji memotong ucapan Cynthia.


"APA?! AKU BENAR, KAN? KALAU ISTRIMU ITU ..."


"CYNTHIA!" Mas Aji lagi-lagi memotong ucapannya.


Aku sudah tidak kuat lagi melihat dan mendengar drama menjijikkan ini. "CUKUP! TOLONG HENTIKAN!" teriakku. "Aku gak mau lagi dengar apa-apa dari mulut sialan kalian!"


Aku menatap Mas Aji dengan amarah. "Kamu, Mas! Kalau memang benar apa yang diucapkan wanita simpananmu itu, maka silakan lakukan, ceraikan aku!"


"Dan untuk kamu!" Aku menunjuk wajah Cynthia murka. "Kalau yang kamu inginkan adalah suamiku, silakan ambil saja! Silakan nikmati dia sepuasmu! Silakan kalian bersenang-senang kalau memang benar kalian berdua saling mencinta!" kataku penuh penekanan.


Mas Aji menggeleng lirih. Matanya sudah basah dengan air mata. "Sayang ... Jangan begitu, aku ..."

__ADS_1


"AJI!!"


Suara seseorang dari arah pintu utama mengalihkan atensi kami. Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang. Terlebih lagi Mas Aji dan Cynthia.


__ADS_2