Demi Kasih

Demi Kasih
22


__ADS_3

Jika kedua orang tua beserta adiknya sudah pulang, berbeda dengan Aji. Pria itu, masih berada di Garut. Menginap di salah satu hotel yang letaknya tak jauh dari kediaman Salwa.


Dan pagi ini, pria itu sudah berada di rumah Salwa.


"Aku kira, kamu ikut pulang sama yang lain kemarin," ucap Salwa.


Mereka berdua sedang mengobrol di saung kecil yang letaknya di halaman belakang rumah.


Karena anak-anak masih tidur, jadi waktunya Aji gunakan untuk mengobrol dengan Salwa.


"Mas masih pengin di sini soalnya."


Salwa menganggukkan kepala.


"Kamu bahagia di sini?"


Salwa menganggukkan kepala lagi. "Iya. Bahagia bisa dekat sama Bapak Ibu. Suasananya juga tenang, segar, enak."


"Gak kangen Jakarta?"


Salwa menoleh sebentar ke arah Aji sebentar. "Kadang iya. Apalagi anak-anak lahir dan besar kan di sana."


"Mau balik ke Jakarta?"


"Ngapain? Aku udah gak punya tujuan ke sana lagi."


Mereka berdua kemudian terdiam.


"Karel, suka datang ke sini, ya?" tanya Aji kemudian.


Salwa mengangguk. "Iya."


"Buat apa?"


"Mampir, main sama anak-anak."

__ADS_1


Ada rasa cemburu di hati Aji saat mendengar jawabannya. Dia sangat berterima kasih jikalau ada orang yang baik kepada anak-anaknya. Tapi, di satu sisi dia juga tidak senang kalau ada pria lain yang dekat dengan anak-anaknya.


Mereka, terdiam lagi. Meresapi perasaannya masing-masing.


"Wa, kita ke pasar, yuk?"


Salwa mengernyit. "Ke Pasar?"


Aji mengangguk. "Iya. Beli mangga. Gak tahu kenapa tiba-tiba pengin makan mangga." Aji cengengesan, "macam orang ngidam, ya?"


Salwa terdiam. Dalam pikirannya, kenapa momen bisa se-pas ini. Saat ini, dirinya juga sedang sangat ingin memakan mangga. Apalagi mangga muda.


Dan untung saja, Aji juga merasakan hal yang sama.


***


Siang hari.


Dua pasangan yang terikat masa lalu itu, sedang duduk lesehan sambil mengawasi anak-anak.


Mereka tampak ceria, jelas bahagia. Apalagi momen ini sudah jarang sekali mereka lakukan.


"Wa, anak-anak kelihatan bahagia banget."


Salwa mengangguk.


"Kamu mau anak-anak seperti ini terus, kan?"


"Tentu."


Aji beringsut. "Maka beri Mas kesempatan kedua, izinkan Mas buat memperbaiki semuanya. Ayo, kita mulai lagi dari awal."


Salwa menatap Aji heran.


"Beri Mas kesempatan kedua." Aji berkata sekali lagi. Walau wajahnya terlihat sendu, tapi ada ketegasan di nadanya.

__ADS_1


"Wa," panggil Aji saat Salwa hanya diam saja.


"Anak-anak masih bisa bahagia, walaupun kita ..."


"Mas sungguh-sungguh. Beri Mas kesempatan kedua!" tegas Aji lagi.


Salwa menatap Aji lagi. Memang betul, ada kesungguhan di kedua bola matanya.


"Apa alasan aku harus memberi Mas kesempatan kedua?" tanya Salwa akhirnya.


"Demi anak-anak. Demi kebahagiaan mereka juga kamu."


"Yakin aku dan anak-anak akan bahagia saat bersama kamu?"


Aji mengangguk yakin.


"Kejadian Cynthia tidak akan terulang lagi?"


Tegas, Aji menggeleng.


"Kalau begitu," Salwa mengeluarkan ponselnya. "Ini ... apa?" Kemudian, memperlihatkan foto kiriman orang misterius itu kepada Aji.


Tepat seperti dugaan Salwa, Aji tersentak kaget.


"Ini ... dapat dari mana foto ini?"


Salwa menggeleng. "Orang yang gak dikenal, kasih tahu aku, kalau buaya akan tetap jadi buaya."


Aji memandang Salwa panik. "Jangan percaya apa pun yang orang lain katakan. Mas sudah berubah, Wa. Itu foto lama. Tolong percaya sama, Mas."


"Foto lama? Lantas kenapa orang itu baru kirim sekarang?"


Aji menggeleng. Tatapannya melirih. "Mas gak tahu. Mungkin ada orang yang berniat membuat hubungan kita semakin hancur. Atau, ada orang yang ingin menjatuhkan Mas dalam pekerjaan. Percayalah, Wa. Mas gak seperti itu sekarang."


Aji mendesah gelisah saat Salwa diam saja. Tak menjawab apa pun.

__ADS_1


"Perbaiki diri kamu dulu, Mas, kalau mau memulai lagi," ucap Salwa akhirnya yang menjadi angin segar bagi Aji.


__ADS_2