Demi Kasih

Demi Kasih
19


__ADS_3

Sudah tiga bulan kandunganku berjalan. Selama itu, aku tidak memberi tahu Mas Aji ataupun keluarganya tentang kabar ini.


Lagi pula, kami sudah jarang bertemu. Mas Aji datang ke sini mengunjungi anak-anak, hanya 2 bulan satu kali. Itu pun terhitung sering, apalagi jarak antara Jakarta-Garut kan lumayan.


Selama itu pun, aku masih sering melakukan komunikasi dengan keluarga Mas Aji. Dengan Ayah, Bunda, dengan sepupu-sepupunya, juga dengan Omanya.


Hubungan kami memang masih sebaik itu. Dan aku sangat bersyukur.


Tapi hari ini, aku mendadak gelisah. Seseorang dengan nomor yang tak dikenal, mengirimiku beberapa pesan. Pesan yang membuat kepalaku pening bukan main.


Ini penyakit tersulit yang ada di muka bumi. Predator ganas. Baru saja keluar dari lumpur, malah terjun lagi ke lumpur yang sama.


Isi pesannya begitu. Dengan disertai beberapa kiriman foto yang tak lain dan tak bukan adalah Ayah dari anak-anakku. Mantan suamiku. Mas Aji.


Di dalamnya, dia tampak sedang bersama dengan seorang perempuan. Keluar dan masuk ke sebuah hotel dan restoran.


Ku amati dengan teliti, seperti aku tahu siapa perempuan itu. Ya, perempuan yang sama, yang menjadi alasan kami mengalami kehancuran. Cynthia.


Dadaku sesak, dan persendianku mendadak melemas. Entah kenapa, meskipun kami sudah berpisah tapi tetap saja mengetahui fakta bahwa Mas Aji masih suka bermain gila, membuat diriku hancur. Persis seperti saat pertama kali aku tahu kalau dia berselingkuh.


Bicara soal cinta? Jujur saja, aku masih sama cintanya seperti dulu kepada Mas Aji. Tapi kupikir ... untuk apa cinta, kalau ujung-ujungnya hanya berakhir derita?


Dan melepaskan adalah jawaban terbaik.


Adek bayi di dalam perutku ini, mungkin juga menjadi alasan kenapa aku bisa sesakit dan segelisah ini melihat foto-foto itu.


Karena jujur saja, beberapa hari terakhir ini, perasaanku sedang ingin bersama Ayah dari anak-anak. Walau itu sangat mustahil.

__ADS_1


Maka untuk menjawab dan menghilangkan segala kegundahanku, aku menghubungi Karel. Pria yang yang sudah tiga bulan ini, selalu ada di sampingku.


Dia selalu siap saat aku butuhkan. Dia selalu ada saat aku tertekan. Dia bahkan rela berpindah tugas dari rumah sakit Jakarta, menjadi di rumah sakit yang ada di Bandung. Dengan alasan, supaya lebih dekat denganku.


Jangan berpikiran yang macam-macam soalku dan Karel. Karena demi apapun, aku dan dirinya hanya terlibat dalam status pertemanan.


Karel murni menolongku. Dan dia, tidak ada tujuan lain selain itu.


"Iya, tunggu aja, ya? Bentar lagi aku nyampe. Kamu mau dibawain apa?" ucap Karel di seberang sana saat aku menelponnya.


"Gak perlu, Rel. Kamu ke sini aja udah bantu banget."


"Oh, oke-oke. Ya udah deh, tunggu, ya. See you."


"Ya, see you too."


"Baik-baik aja kan, (Nam)?"


Aku mengangguk. "Baik, kok."


"Yakin?"


Aku mengangguk kembali.


Karel menghela napas. "Kalau ada apa-apa cerita, ya? Kamu ingat kan aku ini siapa?"


Ya, tentu saja aku ingat, Karel. Kamu itu termasuk orang yang berpengaruh terhadapku sampai saat ini.

__ADS_1


"Iya. Aku pasti cerita sama kamu. Makasih ya, Rel."


Karel tersenyum. "Btw, si baby gimana kabarnya? Rewel gak?"


"Enggak, Alhamdulillah. Dia baik untungnya."


"Gak kangen Ayahnya?" tanya Karel.


Aku yakin kalau pertanyaannya merupakan sebuah candaan. Tapi, tiba-tiba saja pikiranku tertuju pada pesan misteri itu.


Aku mendadak diam.


"(Nam)? Are you okay?"


Menghela napas, kemudian, "Rel, ada orang yang ngirim ini." Akhirnya aku menceritakan itu. Kusodorkan handphoneku padanya.


Karel meneliti dengam detail setiap fotonya. "Ini foto baru?"


Aku menggidikkan bahu. "Mungkin iya foto baru. Dikirim tadi pagi. Entah siapa yang kirim aku juga gak tahu."


Karel mengangguk-anggukkan kepala. "Kamu curiga sama seseorang?"


"Iya. Cynthia, maybe?" kataku, "sebenarnya gak peduli sih mau kelakuan Mas Aji kayak gimana juga. Tapi, yang aku bingungin, kenapa orang itu harus kirim ke aku? Padahal udah jelas hubungan kami selesai. Kalo mau deketin Mas Aji lagi, ya silakan."


"Orang yang kirim ini, pasti punya maksud tertentu sama kamu. Tapi kamu tenang aja, jangan terlalu pikirin soal ini. Biar masalah ini aku yang urus. Yang terpenting sekarang, kamu harus baik-baik aja. Jangan mudah terprovokasi. Ingat anak-anak sama diri kamu sendiri. Kalau kamu sampe down lagi, usaha kita selama ini pasti sia-sia, oke?"


Aku mengangguk mendengar ucapan Karel. Itu memang benar, kalau sampai aku jatuh lagi, usaha yang aku lakukan bersama Karel pasti akan terasa sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2